Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Menikah Lagi dengan Sepupu Isteri? | rumahfiqih.com

Bolehkah Menikah Lagi dengan Sepupu Isteri?

Thu 9 November 2006 04:00 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 6.356 views

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya, apakah boleh seseorang menikah lagi dengan sepupu isterinya (anak dari adiknya ayah isteri) walaupun isterinya masih ada (hidup)? Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menduakan isteri di dalam Islam dibolehkan, selama memang terpenuhi syaratnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa': 3)

Namun ada larangan tegas untuk memadu dua wanita yang masih bersaudara langsung. Kecuali bila salah satunya sudah dicerai atau sudah meninggal dunia.

Adalah khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahu anhu dijuluki Dzun-Nurain. Artinya orang yang punya dua cahaya. Dua cahaya itu tidak lain adalah dua puteri Rasulullah SAW yang menjadi isteri-isteri beliau.

Namun kedua puteri Rasulullah SAW tidak dinikahinya dalam satu masa, melainkan pada dua zaman yang berbeda. Karena salah satunya sudah wafat, beliau menikahi saudari isterinya.

Sedangkan bila dinikahi dalam kurun waktu yang sama, hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah SWT:

Diharamkan atas kamu (untuk menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu, anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu, maka tidak berdosa kamu mengawininya, isteri-isteri anak kandungmu dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisa': 23)

Demikian juga menikahi bibi dari isteri, termasuk hal yang ikut diharamkan juga. Sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra. bahwa nabi SAW bersabda, "Janganlah dimadu antara seorang wanita dengan ammahnya (bibi dari pihak ayahnya) atau khalahnya (bibi dari pihak ibunya). (HR. Muttafaq 'alaihi)

Menikahi Sepupu Isteri

Saudara sepupu isteri memang masih terbilang famili juga, namun oleh syariah Islam dianggap sudah agak jauh hubungannya bila dibandingkan dengan saudara kandung isteri atau bibi dari isteri. Sehingga pada dasarnya tidak ada larangan bila seorang suami memadu isterinya dengan saudara sepupu isterinya itu dalam waktu yang bersamaan.

Meski secara psikologis mungkin kita merasa hubungan sepupu masih terlalu dekat, namun ukuran halal haram itu bukan didasarkan pada perasaan, melainkan pada ketentuan dari langit.

Betapa banyak orang-orang yang telah terlanjur menganggap sepupunya yang perempuan sebagai adik sendiri, sehingga dibolehkan saja berduaan tanpa mahram, bahkan bepergian bersama sampai menginap dan seterusnya.

Padahal dari sudut pandang syairah, laki-laki dan wanita yang sepupuan itu tetap bukan mahram, sehingga haram berkhalawat. Dan konsekuensi terbaliknya, justru mereka berdua dihalalkan untuk menikah menjadi sepasang suami isteri.

Ini menunjukkan bahwa hubungan sepupu adalah 'saudara jauh', maka wajar pula bila memadu dua wanita yang bersepupuan itu tidak dilarang dalam syariah.

Namun sesuatu yang hukumnya halal jangan dipelintir menjadi wajib. Halal adalah sekedar boleh, bukan sebuah keharusan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.


Baca Lainnya :

Mengapa Harus Salafi?
9 November 2006, 02:54 | Umum > pemikiran dan aliran-aliran | 14.137 views
Apa Arti Empat Bulan Haram?
9 November 2006, 00:53 | Al-Quran > Tafsir | 6.613 views
Cara Bersuci setelah Terkena Tinta, Tip-ex, atau Cat
7 November 2006, 22:43 | Thaharah > Air | 9.967 views
Asal Muasal Ka'bah
7 November 2006, 22:29 | Haji > Kabah | 7.978 views
Sikap Menghadapi Adat Istiadat di Sekitar Kita
7 November 2006, 03:49 | Aqidah > Sikap | 13.089 views
Jika Ada yang Masbuk dalam Shalat Ied
7 November 2006, 03:44 | Shalat > Shalat Hari Raya | 5.943 views
Cukup Menerima Dalil dari Ulama Zaman Dahulu?
6 November 2006, 05:21 | Hadits > Penerapan hadits | 7.322 views
Ketaatan Kepada Penguasa, Adakah Batasnya?
6 November 2006, 05:11 | Negara > Pejabat Penguasa Pemerintah | 7.558 views
Beberapa Hukum dalam Ibadah Haji
3 November 2006, 07:31 | Haji > Rukhshah Haji | 6.660 views
Saat Haidh Darah Terhenti 2 Hari Lalu Keluar Lagi, Hukumnya?
3 November 2006, 07:26 | Thaharah > Haidh Nifas Istihadhah | 7.297 views
Tindak Anarkis Buat Aliran Sesat
3 November 2006, 07:17 | Aqidah > Aliran-aliran | 5.858 views
Hukum Memakai Parfum Beralkohol
3 November 2006, 07:02 | Thaharah > Najis | 11.749 views
Sentuhan, Batal Kata Isteri Tidak Batal Kata Suami Lalu Cerai
3 November 2006, 03:37 | Pernikahan > Talak | 6.252 views
Apakah Menafkahi Orang Tua dan Adik-Adik Termasuk Zakat Mal?
2 November 2006, 03:17 | Zakat > Pengertian Zakat dan Batasannya | 9.722 views
Puasa Ikut 29 Sholat 'Ied Ikut yang Puasanya 30
19 October 2006, 03:17 | Puasa > Puasa berbagai keadaan | 7.418 views
Beda Dita'zir dengan Dicambuk
19 October 2006, 03:10 | Jinayat > Zina | 5.771 views
Lebih Baik Menjadi Muslim Miskin atau Kaya?
18 October 2006, 06:21 | Hadits > Syarah Hadits | 7.372 views
1 Syawal, 23 atau 24 Oktober?
18 October 2006, 04:23 | Puasa > Idul Fithr | 5.537 views
Sholat Tarawih ketika I'tikaf
17 October 2006, 06:38 | Shalat > Shalat Tarawih | 6.893 views
Berdoa Harus dengan Lafadz dari Hadis?
17 October 2006, 06:07 | Hadits > Penerapan hadits | 6.924 views

TOTAL : 2.299 tanya-jawab | 44,851,309 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

14-6-2021
Subuh 04:38 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:16 | Maghrib 17:50 | Isya 19:02 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih