SFK > Haji Umrah > Bagian Kedua : Ibadah Umrah

⬅️

Bab 1 : Umrah Rasulullah SAW

➡️

Sebagaimana pada bagian pertama ketika membahas masalah haji kita mulai dengan memberikan latar belakang sejarah haji Rasulullah SAW, maka pada bagian kedua tentang Umrah ini kita akan bahas terlebih dahulu kisah Rasulullah SAW melakukan ibadah umrah ke tanah suci Mekkah Al-Mukarramah.

Berbeda dengan ibadah haji yang hanya sekali seumur hidup beliau lakukan, Rasulullah SAW tercatat pernah sampai empat kali pernah mengadakan perjalanan untuk melakukan ibadah umrah. Tiga diantaranya dilakukan pada bulan Dzul-Qa’dah tanpa berhaji, dan umrah yang keempat beliau lakukan bersamaan dengan ibadah haji di tahun kesepuluh hijriyah.

Hal itu sebagaimana disebutkan pada hadits shahih berikut :

اِعْتَمَرَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعَ عُمَر كُلُّهُنَّ فيِ ذِي القَعْدَةِ الَّتِي مَعَ حَجَّتِهِ

Rasulullah SAW melaksanakan ibadah umrah empat kali, semuanya di bulan Dzulqa’dah, bersama dengan perjalanan hajinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari keempat umrah yang beliau lakukan, satu kali gagal karena terhalang faktor keamanan. Jadi sebenarnya yang benar-benar terjadi beliau umrah hanya tiga kali saja.

Berikut ini kita rinci secara lebih mendalam masing-masing umrah yang beliau SAW lakukan.

A. Umrah Pertama

1. Tahun Keenam Hijriyah

Umrah beliau SAW yang pertama terjadi di tahun keenam hijriyah. Sebagian ulama menyebutkan bahwa pada tahun itu juga telah turun wahyu yang mewajibkan ibadah haji.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Siapa mengingkari, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.(QS. Ali Imran : 97)

Meski pun sudah ada perintah untuk mengerjakan ibadah haji, namun Rasulullah SAW tidak mengerjakannya. Justru saat itu beliau malah berangkat ke Mekkah dengan niat untuk mengerjakan umrah.

Namun sebagian ulama menyanggah pendapat bahwa ayat ini turun pada tahun keenam hijriyah.

Kisahnya, pada suatu pagi tatkala para shahabat sedang berkumpul di mesjid, tiba-tiba Nabi memberitahukan kepada mereka bahwa ia telah mendapat ilham dalam mimpi hakiki, bahwa insya Allah mereka akan memasuki Mesjid Suci dengan aman tenteram, dengan kepala dicukur atau digunting tanpa akan merasa takut.

Hal itu disebutkan di dalam Al-Quran :

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاء اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُؤُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَلِكَ فَتْحاً قَرِيباً

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. (QS. Al-Fath : 27)

Berita tentang mimpi beliau SAW itu kemudian serentak tersebar ke seluruh penjuru Madinah. Rasulullah SAW kemudian mengumumkan kepada orang ramai supaya pergi menunaikan ibadah haji dalam bulan Zulhijah yang suci.

Beliau juga mengirim utusan kepada kabilah-kabilah yang bukan dari pihak muslimin, dianjurkannya mereka supaya ikut bersama-sama pergi berangkat ke Baitullah, dengan aman, tanpa ada pertempuran.

Rombongan umrah ini berangkat dari Madinah menuju Mekkah dengan jumlah antara seribu empat ratus hingga seribu lima ratus orang peserta, pada bulan Dzul-Qa’dah sebagai salah satu bulan suci, dengan semua mengenakan pakaian ihram, sambil menarik ternak yang akan mereka sembelih di Mina, tanpa membawa senjata.

2. Gagal Umrah

Namun rombongan dicegat di daerah Hudaibiyah beberapa kilometer sebelum memasuki Mekkah. Para pemuka Quraisy tidak mengizinkan jamaah itu memasuki kota Mekkah, dengan alasan mereka masih dalam status berperang. Bahkan terdengar isyu bahwa para utusan yang dikirim oleh Rasulullah SAW untuk bernegosiasi telah dibunuh.

Maka situasi semakin tidak menentu. Tujuan mereka bukan untuk berperang, tapi semata-mata mau menjalankan ibadah haji. Tidak ada persiapan apa pun yang terkait dengan perang, beliau SAW dan para shahabat datang hanya berpakaian lembaran kain ihram, sama sekali tidak membawa senjata, bekal apalagi persiapan perang.

Namun pihak Quraisy justru ingin memanfaatkan momen ini, dan berniat untuk menghabisi semua umat Islam dalam sekali libas. Mumpung semua tidak bersenjata dan mumpung semuanya ada, membantai mereka di momen seperti ini dalam pikiran mereka, akan segera menyelesaikan persoalan.

3. Bai’at Ridhwan

Ancaman dari orang yang sedang kalap boleh jadi bukan hanya berhenti pada gertakan. Segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Untuk mengantisipasi situasi yang genting ini, serta menguatkan tekad para shahabat, maka Rasulullah SAW meminta masing-masing berbai’at kepada beliau SAW. Maka terjadilah Ba’iat Ridhwan yang dilangsungkan di bawah sebuah pohon. Peristiwa itu dicatat dengan turunnya wahyu untuk mengabadikannya.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang yang beriman ketika mereka berba’at kepadamu di bawah pohon, maka dia tahu apa yang ada di dalam hati-hati mereka dan Allah menurunkan rasa tenang kepada mereka dan memberi mereka balasan berupa kemenangan yang dekat. (QS. Al-Fath :19)

Akhirnya setelah bai’at berlangsung, didapat kesepakatan dengan orang-orang Quraisy untuk berdamai selama masa waktu 10 tahun.

4. Perjanjian Hudaibiyah

Di dalam sejarah, perjanjian ini dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah, mengacu kepada titik tempat dimana perjanjian itu disepakati.

Meski umrah saat itu gagal, ternyata malah menjadi pembuka pintu-pintu kemenangan di masa berikutnya.

B. Umrah Kedua

1. Tahun Ketujuh Hijriyah

Umrah yang kedua, terjadi setahun kemudian, tahun ke tujuh hijriyah. Umrah ini dikenal dengan sebutan umrah qadha’, karena menggantikan umrah sebelumnya yang gagal.

Umrah yang kedua ini terjadi ketika umat Islam telah melaksanakan perjanjian damai dengan pemuka Mekkah untuk rentang waktu 10 tahun. Selama masa itu, kedua belah pihak terikat perjanjian untuk tidak boleh saling berperang, saling membunuh dan saling mengkhianati.

Kedua belah pihak sepakat membolehkan umat Islam dari Madinah masuk dengan aman ke Mekkah dan menjalankan ritual agama yang sudah lazim di kalangan bangsa Arab, dan menjadi hak seluruh umat manusia untuk diterima dengan aman di kota Mekkah.

2. Dua Ribu Jamaah

Sejarah mencatat bahwa jumlah shahabat yang ikut dalam umrah qadha’ ini tidak kurang dari dua ribu shahabat. Mereka tidak lain adalah jamaah yang pada tahun lalu ikut dalam umrah yang gagal, sehingga menjadi kewajiban bagi mereka untuk mengulanginya. Dan dinamakan dengan mengqadha’ atau Umrah Qadha’.

Namun ada sebagian dari jamaah umrah sebelumnya yang tidak ikut dalam Umrah Qadha’ ini, yaitu mereka yang wafat atau mati syahid di medan Perang Khaibar.

Dalam umrah kali ini, Rasulullah SAW dan para shahabat melengkapi diri dengan senjata, untuk berjaga-jaga sekiranya pihak Quraisy berkhianat. Rasulullah SAW juga menempatkan dua ratus penunggang kuda di barisan depan untuk mengawal jamaah umrah.

3. Talbiyah Tauhid

Menarik untuk dicatat bahwa ketika dua ribu jamaah umrah memasuki pintu gerbang kota Mekkah, kumandang suara talbiyah yang hakikatnya mentauhidkan Allah tidak terputus. Buat kita di zaman sekarang ini, lantunan talbiyah ini mungkin terdengar biasa saja. Namun buat penduduk Mekkah yang kerjanya menyembah 360 berhala di seputaran Ka’bah, kumandang talbiyah ini jadi sangat kontras.

Bagaimana tidak, coba perhatikan lafadz talbiyah itu.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْك

Aku dengar panggilan-Mu ya Allah, Aku dengar panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya pujian, nikmat dan kerajaan hanya untuk-Mu.

Lafadz itu menegaskan bahwa tidak ada sembahan selain Allah saja. Padahal titik masalah yang menjadi cikal bakal permusuhan dan peperangan antara umat Islam dan penduduk Mekkah adalah masalah menyekutukan Allah.

C. Umrah Ketiga

1. Tahun Kedelapan Hijriyah

Umrah yang ketiga terjadi di tahun kedelapan hijriyah, yaitu bertepatan dengan peristiwa dibebaskannya kota Mekkah (fathu-makkah).

Pada saat peristiwa ini Rasulullah SAW datang ke Mekkah sambil melakukan umrah, dengan sebelumnya meruntuhkan berhala-berhala yang berada di seputar Ka’bah.

Tercatat sekali saja umrah di masa damai, tidak sampai dua tahun berjalan, tiba-tiba orang-orang Mekkah dan sekutunya tidak tahan untuk mencederai perjanjian itu. Maka segera saja Rasulullah SAW menyiapkan pasukan perang yang sangat dahsyat, tidak kurang dari 10.000 pasukan akhirnya terbentuk sepanjang perjalanan, di bawah pimpinan Khalid bin Walid yang baru saja menyatakan keislamannya dan membelot dari pihak kafir Mekkah kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Pengkhianatan Perjanjian Hudaibiyah

Peristiwa ini berawal dari terjadinya pengkhianatan atas perjanjian damai Hudaibiyah, yang dilancarkan oleh pihak Bani Bakar, sekutu kafir Quraisy, kepada Khuza’ah, sekutu pihak muslimin. Setidaknya ada 20 orang yang jadi korban pembunuhan, dimana sekutu kafir Quraisy Mekkah harus bertanggung-jawab.

Perjanjian Hudaibiyah yang seharusnya berlaku selama sepuluh tahun, ternyata baru dua tahun sudah dikhianati. Maka dengan demikian, putuslah perjanjian damai dan perang dapat dimulai kembali.

3. Mekkah Dibebaskan

Saat itu Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Mekkah dengan pasukan yang teramat besar untuk ukuran kota Mekkah. Tidak kurang dari 10.000 pasukan mengepung lembah kota Mekkah dari empat penjuru mata angin, sambil menabuh genderang perang dan lantunan takbir yang membahana.

Otomatis Mekkah dan penduduknya menyerah tanpa syarat. Tidak ada lagi yang bisa mereka jadikan sebagai alat pertahanan, sebab di seluruh bukit kota Mekkah, 10.000 pasukan itu menyalakan api unggun. Suasananya berbalik 180 derajat dari 2 tahun sebelumnya, ketika pasukan Mekkah mengepung 1500-an shahabat di Hudaibiyah.

Namun Rasulullah SAW bukan seorang pendendam. Misi suci yang dibawanya bukan untuk menjadi pemenang apalagi pembantai. Misi sucinya sekedar mengajak kepada iman kepada Allah dan berserah-diri kepada-Nya. Manakala manusia sudah mau menerima ajakannya, sudah selesai tugasnya, baik mereka beriman atau tidak beriman.

Sikap agung dan mulia inilah yang kemudian membuat nyaris hampir semuanya pada akhirnya masuk Islam. Peristiwa itu dicatat di dalam Al-Quran Al-Kariem dalam surat An-Nash.

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (QS. An-Nashr : 1-3)

Dalam kesempatan itu Rasulullah SAW memasuki kota Mekkah dengan berpakaian ihram, lalu beliau bertawaf di sekeliling Ka’bah, sebagai rukun ibadah umrah dan menyelesaikannya dengan mengerjakan sa’i antara Shafa dan Marwah.

Namun peristiwa ini bukan ibadah haji. Ibadah haji baru beliau lakukan pada tahun kesepuluh, dua tahun kemudian. Ibadah yang beliau lakukan hanyalah sebuah ibadah umrah, yang kalau diurutkan adalah umrah yang ketiga.

D. Umrah Keempat

1. Tahun Kesepuluh Hijriyah

Sedangkan umrah yang keempat atau yang terakhir, adalah umrah yang beliau lakukan bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji. Peristiwa itu terjadi di tahun kesepuluh hijriyah, atau tahun terakhir masa hidup Rasulullah SAW.

Umrah ini dilakukan bersamaan dengan ibadah haji. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berhaji dengan cara tamattu’, sebagian lagi berhaji dengan Qiran, dan ada juga yang berpendapat bahwa beliau berhaji dengan cara Ifrad.

2. Haji Perpisahan

Diriwayatkan saat itu Rasulullah SAW melakukan haji dan berangkat dari kota Madinah Al-Munawwarah. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa orang-orang yang mendengar khutbah di padang Arafah saat itu tidak kurang dari 124.000 shahabat.

Pada saat itu turun ayat yang menyatakan bahwa agama Islam telah turun secara sempurna, kenikmatan Allah SWT juga sudah paripurna, serta dinyatakan bahwa agama yang diridhai Allah SWT hanyalah agama Islam.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah : 3)

Tidak lama setelah peristiwa Haji Wada’ ini Rasulullah SAW kemudian dipanggil kembali ke sisi Allah SWT dalam usia 63 tahun menurut perhitungan tahun qamariyah, atau 61 tahun menurut tahun syamsiyah.

Seolah-olah peristiwa ibadah haji ini menjadi momentum terakhir pertemuan beliau SAW dengan umatnya. Maka peristiwa ini di kemudian hari dijuluki Haji Wada’, artinya haji perpisahan.

Haji perpisahan bukan bermakna haji yang terakhir, karena beliau SAW memang hanya sekali saja melakukan ibadah haji dalam seumur hidupnya. Maka haji beliau itu adalah haji pertama, haji terakhir dan haji satu-satunya. Beliau tidak pernah memperbaharui ibadah haji seperti yang banyak dilakukan orang.

Haji perpisahan adalah sebuah momentum perpisahan antara beliau SAW dengan para shahabatnya, yang kejadiannya pada saat berlangsungnya ibadah haji di tahun kesepuluh sejak beliau hijrah dari Mekkah, atau tahun keduapuluhtiga sejak beliau diangkat resmi menjadi utusan Allah.

Tahun

Umrah

Keterangan

6 H

Pertama

Gagal dan kembali ke Mekkah

7 H

Kedua

Diizinkan selama tiga hari

8 H

Ketiga

Bersamaan dengan Fathu Mekkah

9 H

-

Tidak mengadakan umrah

10 H

Keempat

Bersamaan dengan Haji Wada’

¨