Kemenag RI 2019:Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa Kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu tidak kufur, tetapi setan-setan itulah yang kufur. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanyalah fitnah (cobaan bagimu) ) oleh sebab itu janganlah kufur!” Maka, mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan (sihir)-nya, kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka benar-benar sudah mengetahui bahwa siapa yang membeli (menggunakan sihir) itu niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir jika mereka mengetahui(-nya). Prof. Quraish Shihab:Dan mereka (sekelompok orang Yahudi) mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada (masa) kerajaan Sulaiman²? * (dan mereka mengatakan bahwa Nabi Sulaiman as. itu melakukan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan (itulah) yang kafir. Mereka (setan-setan) mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil (yaitu) Harut dan Marut,²s sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum keduanya mengatakan: “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka, mereka (yang membangkang terhadap Harut dan Marut)mempelajari dari keduanya (para malaikat itu) apa (sihir) yang dengan itu mereka dapat menceraikan antara seorang dengan pasangannya. Dan mereka (para ahli sihir) tidak memberi mudharat (musibah atau bencana) dengannya (sihir) kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang mendatangkan mudharat (musibah atau bencana) dan tidak memberi manfaat bagi mereka. Dan demi (Allah)! Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa barang siapa benar-benar menukarnya (tuntunan Kitab Allah swt. dengan sihir itu), tidak ada baginya keuntungan di akhirat dan benar-benar jahatlah perbuatan mereka menjual diri mereka dengannya (sihir), jika seandainya mereka mengetahui. Prof. HAMKA:Dan mereka ikut apa yang diceritakan oleh setan-setan tentang Kerajaan Sulaiman, padahal tidaklah kafir Sulaiman, akan tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka ajarkan kepada manusia sihir, dan apa yang diturunkan kepada kedua Malak di Babil, Harut dan Marut. Padahal mereka berdua tidak mengajarkan seseorang melainkan sesudah keduanya berkata, "Kami tidak lain hanyalah suatu percobaan, maka janganlah kamu kafir!" Namun, mereka pelajari dari keduanya apa yang menceraikan di antara seseorang dengan istrinya. Dan tidaklah mereka dapat membahayakan seseorang dengan dia, melainkan dengan izin Allah. Dan mereka pelajari apa yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sesungguhnya mereka pun telah tahu bahwa orang yang membelinya tidaklah ada untuk mereka bagian di akhirat. Dan amatlah buruknya suatu harga yang dengan itu mereka menjual diri mereka, jikalau mereka tahu.
Ayat ke-102 ini lumayan panjang, tidak kurang dari 9 baris dari 15 baris dalam satu halaman. Nyaris memenuhi separuh halaman ke-16 juz pertama mushaf Al-Quran. Kalau kita membaca ayat ini secara sekilas, seolah ayat ini berdiri sendiri, setidaknya sudah pindah topik dari tema terkait orang-orang Yahudi ke masalah lain yaitu terkait dengan sihir. Padahal ayat ini tetap punya munasabah yang sangat erat dengan ayat-ayat sebelumnya.
Dasarnya bahwa ayat ini didahului oleh huruf waw athaf (و) yang fungsinya menyambungkan antara isi ayat ini dengan isi ayat sebelumnya. Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi telah mencampakkan ayat-ayat Allah SWT, termasuk keingkaran orang-orang Yahudi yang bermusuhan dengan malaikat Jibril, maka di ayat Allah SWT masih membicarakan kekufuran kalangan Yahudi dengan menceritakan bagaimaan mereka mengkafirkan Nabi Sulaiman alaihissalam sembari menuduhkan sebagai penyihir yang mengajarkan ilmu sihir kepada manusia.
Namun kenapa ayat ini turun, kita menemukan beberapa riwayat dalam hadits nabi. Salah satunya yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dimana para pemuka Yahudi mencemooh Nabi Muhammad SAW dengan ucapan mereka,”Lihatlah si Muhammad itu, masak dia mengatakan bahwa Sulaiman itu seorang nabi? Demi Allah Sulaiman itu bukan nabi tapi dia adalah seorang penyihir”.
Sementara Ath-Thabari meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab bahwa orang-orang Yahudi berkata,”Lihatlah Muhammad itu, pikirannya kacau mencampur-aduk antara hak dan batil, karena mengatakan Sulaiman itu seorang nabi. Padahal Sulaiman itu penyihir yang terbang naik angin”.
Memang sedikit agak mengherankan kalau ayat ini bicara tentang keingkaran Yahudi kepada Nabi Sulaiman, sebab yang kita tahu justru orang-orang Yahudi di masa kini malah membanggakannya. Di Israel konon sedang dilakukan penggalian untuk menemukan bukti-bukti kerajaan King Solomon alias Haikal Sulaiman.
Lalu kenapa ayat ini malah menceritakan permusuhan mereka dengan Nabi Sulaiman? Jawabnya bahwa yang bermusuhan dengan Nabi Sulaiman adalah sekelompok sekte dari yahudi yang sebenarnya masih keturunan dari Nabi Sulaiman juga.
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ
Lafazh ittaba’uu (وَاتَّبَعُوا) artinya : mereka mengikuti, maksudnya orang-orang yahudi. Dan yang dimaksud mengikuti pada dasarnya mereka mengerjakan. Sedangkan lafazh ma-tatluu (مَا تَتْلُو) artinya : apa-apa yang dibacakan. Asalnya dari (تلى - يتلو) artinya membacakan, maksudnya menceritakan.
Lafazh asy-syayathin (الشَّيَاطِينُ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu syaithan (الشيطان). Kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang dimaksud adalah syaithan dalam bentuk jin, namun ada juga yang mengatakan yang dimaksud justru syaithan dalam wujud manusia, sebagaimana pendapat kalangan muktazilah. Dan ada juga yang mengatakan bahwa mungkin saja syaithan dalam bentuk jin dan manusia.
Namun yang paling banyak diterima oleh kalangan mufassir adalah syaithan dalam bentuk jin. Hal itu karena para jin yang bisa meramal masa depan yang belum terjadi, dengan cara mereka terbang naik ke langit untu mencuri dengar berita-berita dari langit yang berisi perintah-perintah Allah SWT kepada para malaikat, lalu ditambahi dengan seribu kebohongan dan dibocorkan kepada tukang ramal. Mereka pun lantas menuliskannya dalam wujud kitab-kitab ramalan, juga mengajarkannya kepada manusia sebagai bagian dari sihir.
Praktek-praktek seperti ini semakin menggila di masa kerajaan Sulaiman, sampai dikenal bawha para jin itu mengajarkan ilmu ghaib kepada manusia. Dan karena para jin tunduk kepada Nabi Sulaiman, banyak orang mengira bahwa Sulaiman itulah yang mengkoordinir para jin sehingga bisa sampai ke puncak kekuasaan dan kejayaan. Semua berkat bantuan para jin dengan kekuatan sihirnya, demikian dituduhkan kepada Nabi Sulaiman.
Sedangkan yang menafsirkan bahwa syaithan itu dari golongan manusia, punya versi tersendiri sebagai landasan pendapat mereka. Mereka katakan bahwa ada sekelompok orang yang membongkar singgasana Sulaiman sepeninggalnya, dan mengeluarkan isinya yaitu ilmu sihir yang telah ditutup sebelumnya oleh Nabi Sulaiman.
Entah bagaimana ujung-ujungnya justru Nabi Sulaiman sendiri yang dituduh sebagai pengajar ilmu sihir nomor wahid, padahal justru Beliau bertujuan untuk menghilangkan ilmu sihir dengan menyimpannya di tempat paling aman, yaitu di bawah singgasananya sendiri. Karena itulah orang-orang itu dijuluki sebagai syaithan dalam wujud manusia.
Secara keseluruhan di awal ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa ada sebagian dari orang-orang Yahudi yang mengikuti dan meyakini kisah yang dikarang oleh para setan, terkait dengan kafirnya Nabi Sulaiman alaihissalam dengan berbagai versi dusta dan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan, seperti dituduh telah kafir, menyembah berhala dan main perempuan hingga punya istri sampai seribu orang.
عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ
Lafazh mulki (مُلْكِ) artinya kerajaan, namun sebagian mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah masa kerajaan Sulaiman. Ini bisa kita temukan dalam terjemahan Kementerian Agama RI dan juga Prof. Dr. Quraish Shihab.
Sedangkan lafazh sulaiman (سُلَيْمَانَ) bukan asli Arab, melainkan dari bahasa Ibrani yang diarabkan, sehingga tidak bisa disharafkan alias mamnu’ minas-sharf.
Nabi Sulaiman bukan hanya seorang nabi dalam literatur Islam, namun juga dalam agama Yahudi dan Nasrani. Beliau diperkirakan hidup sekitar abad ke-9 sebelum Masehi (989-931 SM) atau sekitar 3.000 tahun yang lalu. Menjadi raja yang mewarisi tahta ayahandanya Nabi Daud alaihissalam di Baitul Maqdis.
Dalam Al-Quran digambarkan bahwa sosok Nabi Sulaiman itu memang seorang nabi sekaligus raja yang punya begitu banyak kelebihan. Beliau bisa mengerti bahasa hewan seperti burung Hudhud dan juga semut.
Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".
Beliau juga punya tentara yang terdiri dari bangsa manusia dan bangsa jin, bahkan juga barisan burung-burung.
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut.
Yang lebih menakjubkan lagi Beliau punya anak buah yang bisa memindahkan singgasana Ratu Saba’ dari Yaman ke Palestina dalam sekejap mata.
Berkata ´Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".
Nabi Sulaiman juga diberikan kelebihan yaitu kemampuan luas biasa dalam masalah hukum dan ilmu pengetahuan, bahkan Al-Quran menggambarkan Beliau menaklukkan gunung.
Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.
Allah SWT juga memberikan kelebihan kepada Nabi Sulaiman dengan diberikannya kemampuan untuk mengatur bertiupnya angin.
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Anbiya : 81)
Bahkan setan atau jin pun telah berhasil ditundukkan oleh Nabi Sulaiman, sehingga mereka bisa diperintah untuk menyelam ke dalam lautan untuk mengambil permata.
Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu.
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih. (QS. Saba : 13)
وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ
Lafaz wa-maa kafara (وَمَا كَفَرَ) artinya : “dan Beliau bukan orang kafir”. Maksudnya bahwa Al-Quran menampik tuduhan sebagian kalangan Yahudi yang telah menuduh Nabi Sulaiman di hari tuanya telah menjadi orang kafir.
Buya HAMKA menuliskan dalam Tafsir Al-Azhar bagaimana orang-orang Yahudi membenci tokoh Nabi Sulaiman. Digambarkan dalam Perjanjian Lama dalam kitab Raja-raja I pasal 11 ayat 1 sampai 10 bahwa Nabi Sulaiman beristri 700 orang dan punya gundik 300 orang. Para istrinya itulah yang kemudian membuatnya menjadi kafir dan menyembah berhala.[1]
Selain dituduh telah murtad dan menyembah berhala, Nabi Sulaiman juga dituduh telah mengajarkan ilmu sihir dan bahwa semua mukjizat yang dimilikinya semata-mata hanya sihir belaka.
Prof. Dr. Quraish Shihab menuliskan dalam Tafsir Al-Mishbah[2] kutipan dari Thahir Ibnu Asyur terkait latar belakang kenapa orang-orang Yahudi kemudian malah membenci dan menjauhi Nabi Sulaiman. Dikisahkan bahwa sepeninggalnya, keturunannya terpecah dua sehingga kerajaannya pun ikut terpecah juga. Anak yang pertama bernama Rahbiam yang menguasai Yurusalem, sedangkan anak kedua bernama Yurbiam yang menguasai wilayah Samirah.
Kedua kerajaan ini terpecah dan menjadi semakin lemah, sehingga berhasil dikalahkan dengan mudah. Para musuhnya kemudian menghapus nama Nabi Sulaiman dari catatan sejarah para nabi dan digambarkan sebagai raja yang lalim, punya istri seribu, hidup terbuai rayuan wanita, murtad dari agama Allah, menyembah berhala, mengajarkan ilmu sihir dan menjadi tokoh yang jahat.
Dan pembunuhan karakter ini ternyata berhasil, cukup banyak kalangan Bani Israil yang sampai di masa Nabi Muhamad SAW masih percaya dengan kebohongan sejarah yang disengaja. Oleh karena itulah Al-Quran turun di masa kenabian Muhammad SAW untuk membersihkan nama baik nabi utusannya.
Allah SWT menegaskan dalam ayat ini bahwa yang kafir itu bukan Sulaiman, melainkan yang kafiri tu adalah syetan-syetan.
Lafazh yu’allimuna (يُعَلِّمُونَ) artinya mengajarkan, asal katanya dari ilmu, sehingga sihir lazim juga disebut dengan ilmu sihir. Lafazh an-nass (النَّاسَ) artinya manusia, orang-orang atau masyarakat.
Sedangkan lafazh as-sihr (السِّحْرَ) artinya sihir. Dalam kamus Lisanul Arab, Ibnu Manzhur mengutip perkataan Al-Azhari bahwa sihir itu perbuatan yang mendekatkan diri kepada setan agar mendapatkan bantuannya. Ibnu Manzhur sendiri cenderung mengatakan bahwa sihir itu hanyalah tipuan mata atau halusinasi saja, sedangkan yang sesungguhnya tidak ada perubahan apa-apa.[1]
Nampaknya dia mendasarkan pandangannya dari hadits Nabi SAW yang terkenal bahwa kata-kata itu bisa menyihir, Maksudnya bukan rapal atau mantera, namun kemampuan lisan seorang penyair bisa saja membuat orang membuat orang seperti kena sihir.
إِنَّ مِنَ البَيَانِ لَسِحْرًا
Sesungguhnya kata-kata itu bisa menyihir
Fakhruddin ar-Razi mengemukakan bahwa sihir hanya khusus berkenaan dengan segala sesuatu yang sebabnya tidak terlihat dan digambarkan tidak seperti hakikat yang sebenarnya serta berlangsung melalui tipu daya.[2]
Di dalam kitab Al-Mu’jamul Wasith disebutkan bahwa sihir adalah sesuatu yang dilakukan secara lembut dan sangat terselubung.[3] Sedangkan didalam kitab Muhithul Muhith disebutkan bahwa sihir adalah tindakan memperlihatkan sesuatu dengan penampilan yang paling bagus sehingga bisa menipu manusia.[4]
Ibnu Qudamah memandang sihir secara lebih luas, menurutnya yang termasuk ke dalam sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-jampi, perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat, diantaranya ada yang bisa mematikan, membuat sakit, membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya atau memisahkan pasangan suami istri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak saling mencintainya.[5]
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menguraikan secara panjang lebar delapan jenis-jenis sihir seperti [1] Sihir Kaldaniyun Kasdaniyun yang paling kuno dan menyembah bintang, [2] sihir pengguna wahm, [3] sihir yang minta bantuan ruh bumi, [4] sihir takhayyul dan penyakit ‘ain, [5] sihir mengirim serangan jarak jauh, [6] sihir menggunakan obat-obatan tertentu, [7] sihir penaklukan hati, [8] sihir namimah.[6]
[1] Ibnul Manzhur, Lisaanul Arab, jilid 4 hal. 348
[6] Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib, jilid 3 hal. 223-230
وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ
Lafazh maa (مَا) punya dua makna, yaitu bermakna : “apa yang” sehingga kalau digabungkan dengan lafazh unzila menjadi : “Dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat”. Namun maa () juga bisa bermakna : “bukan”, sehingga kalau digabungkan menjadi : “Dan tidaklah diturunkan kepada dua malaikat”.
Lafazh malakaini (الْمَلَكَيْنِ) kebanyakan ulama membacanya dengan harakat fathah pada huruf lam yaitu malakaini (الْمَلَكَيْنِ) yang artinya : dua malaikat. Namun ada juga yang mengkasrahkan huruf lam menjadi malikaini (المَلِكَيْنِ) sehingga artinya menjadi dua orang raja, sehingga Harut dan Marut itu bukan malaikat tetapi raja. Di antara yang membaca kasrah adalah Abul Aswad Ad-Du’ali.
Sedangkan lafazh bi-baabila (بِبَابِلَ) maknanya di negeri Babil. Umumnya para ulama mengatakan yang dimaksud tidak lain adalah peradaban Babilonia di kawaban Mesopotapia utara Irak, yang pernah berada pada puncak kejayaannya di masa Hamurabi (1792–1752 SM), baik dalam bidang teknologi ataupun hukum.
Babilonia, teristimewa ibu kotanya, Babilon, sudah lama dijadikan lambang kekuasaan yang bejat dan kelewat batas di dalam agama-agama Abrahamik. Babilonia kerap disebut-sebut di dalam Alkitab (sebagai Babel), baik dalam arti harfiah (historis) maupun dalam arti kias (alegoris).
Salah satu karya besar Hamurabi yang terpenting adalah penyusunan undang-undang Babilonia. Selain ini bangsa ini sangat maju dalam dunia astronomi, sehingga sudah mampu memetakan letak rasi bintang dan membuat jadwal peredarannya dengan tepat.
Mereka telah berhasil menciptakan skema-skema untuk untuk memprakirakan kemunculan bintang dan terbenamnya planet-planet, panjang waktu siang berdasarkan jam air, gnomon, dan bayang-bayang, serta interkalasi. Mereka sudah pandai menghitung kapan terjadi gerhana matahari dan bulan dengan presisi.
Namun demikian, di sisi lain bangsa ini penyembah bintang, sehingga mereka senang sekali mengaitkan antara astronomi dengan astrologi. Dari sana konon lahirlah berbagai khurafat dan kepercayaan kepada ilmu nujum atau zodiak bersumber dari kebudayaan mereka.
Entah ada hubungannya atau tidak, di masa itulah konon Nabi Ibrahim alaihissalam hidup dan pernah menetap. Uniknya Al-Quran pun sempat menceritakan kisahnya dalam mencari Tuhan, yang sasaran pencariannya adalah semua yang ada di langit, dimulai dari bintang, kemudian pindah ke bulan, lalu pindah ke matahari. Semua itu adalah benda-benda angkasa yang diagungkan oleh bangsa Babilonia.
Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam". Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat". Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (QS. Al-Anam : 76-78)
Yang juga sangat membekas dari ilmu pengetahuan bangsa Babilonia adalah di bidang matematika yang menganut sistem seksagesimal atau sistem bilangan dengan 60 angka dasar yang menjadi cikal bakal pembagian 1 jam menjadi 60 menit dan 1 menit menjadi 60 detik. Dan juga menjadi dasar pembagian lingkaran menjadi 360 derajat.
Untuk mengukur panjang sisi miring dari segi tiga siku-siku, bangsa Babilonia tampaknya sudah memahami teorema Pitagoras sebelum dicetuskan Pitagoras sendiri meski tidak menyebutkan rumus A2 + B2 = C2.
Bangsa ini juga sudah mampu mengukur waktu, baik berupa jam matahari atau jam air. Secara mekanika mereka sudah mengenal tuas dan katrol. Selain itu mereka sudah menggunakan lensa-lensa dari kaca timbal yang dibuat menggunakan mesin bubut. Lensa-lensa tersebut menjawab misteri aksara-aksara dengan ukuran yang sangat kecil pada beberapa loh keluaran Asyur.
Kelangkaan batu di Babilonia diyakini melahirkan tehnik mereka dalam menciptakan batu dari tanah lempung yang dikeraskan dengan cara dibakar. Inilah yang kemudian diyakini sebagai cikal bakal ditemukannya batu bata sebagai dinding rumah. Sebelum itu rumah-rumah dibangun menggunakan batu asli bukan batu bata.
Kemampuan menciptakan batu juga diyakini menjadi salah satu kebudayaan mereka membuat patung sesuai kehendak hati. Dalam kisah masa kecil Nabi Ibrahim ada diceritakan dalam Al-Quran bagaimana beliau menghancurkan patung-patung sesembahan bangsa itu.
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim. Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (QS. Al-Anbiya’ : 58-60)
هَارُوتَ وَمَارُوتَ
Nama Harut dan Marut memang nama yang kontrovesial, bahkan para ulama ahli tafsir ketika menjelaskan sosok keduanya punya banyak versi yang berbeda-beda, karena memang informasinya hanya sepenggal saja di dalam Al-Quran, tidak banyak nash qath’i yang bisa menjelaskan dengan pasti, sehingga lebih banyak asumsi dan dugaan-dugaan saja. Namun setidaknya kita menemukan ada beberapa versi yang berbeda terkait siapakah sesungguhnya kedua nama itu.
Versi Pertama
Versi pertama dan ini yang nampaknya lebih populer menyebutkan bahwa keduanya memang benar-benar malaikat yang dijadikan semacam kelinci percobaan demi membuktikan kepada para seluruh malaikat bahwa tidak mudah menjadi manusia yang istiqamah dengan ketaqwaannya, padahal manusia itu terdiri dari akal dan hawa nafsu. Dalam hal ini kita menemukan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya sebagai berikut :
Dari Nafi’ maula Ibnu Umar dari Abdullah bin Umar bahwa dirinya telah mendengar Nabi SAW bersabda,”Ketika Allah SWT menurunkan Adam aliahissalam di bumi, para malaikat berkata,”Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah? Padahal kami mensucikan-Mu dan meng-kudus-kan Engkau? Maka Allah SWT menjawab,”Aku mengetahu apa-apa yang tidak kamu ketahui.
Para malaikat berkata,”Ya Tuhan, kami lebih taat kepada-Mu dari pada Adam”. Allah SWT menjawab kepada para malaikat,”Datangkan dua malaikat agar Aku turunkan ke bumi dan kita lihat apa yang mereka kerjakan”. Para malaikat menjawab,”Harut dan Marut”.
Maka keduanya diturunkan ke bumi. Maka ditampakkan kepada keduanya sosok wanita paling cantik bernama Zuhrah yang mendatangi keduanya. Maka keduanya menyatakan jatuh cinta kepadanya. Namun Zuhrah menjawab,”Tidak demi Allah, kecuali kalian mengucapkan beberapa kata yang menyekutukan Allah”. Keduanya menjawab,”Demi Allah, kami tidak akan menyekutukan Allah selamanya”.
Wanita itu meninggalkan keduanya, namun kembali lagi dengan membawa anak kecil. Keduanya kembali menginginkan wanita itu namun wanita itu menolak dan memberi syarat,”Tidak, demi Allah, kecuali kalian bersedia membunuh anak kecil ini”. Keduanya menjawab,”Tidak, demi Allah, kami tidak akan membunuh nyawa manusia untuk selamanya”.
Kemudian wanita meninggalkan keduanya namun kembali lagi dengan membawa khamar. Keduanya kembali menginginkan wanita itu namun wanita itu memberi syarat,”Tidak, demi Allah, kecuali bila kamu minum khamar ini dulu”. Maka keduanya meminum khamar itu sampai keduanya mabuk, lalu menzinai perempuan itu dan membunuh anak kecil.
Ketika keduanya sadar dari mabuk, wanita itu berkata,”Demi Allah, apa yang kalian tidak mau lakukan sebelumnya, justru telah kalian lakukan semuanya ketika kalian mabuk”. Maka hukuman bagi keduanya ditawarkan apakah mau hukuman di dunia atau di akhirat, lalu keduanya memilihi agar dihukum di dunia. (HR. Ahmad).[1]
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa hukuman bagi keduanya di dunia ini bahwa mereka digantung antara langit dan bumi sampai nanti hari kiamat. Adapun Zuhrah kemudian Allah SWT kutuk sehingga menjadi bintang atau planet yang menyala terang di langit. Orang menyebutkan bintang timur, kita menyebutnya planet Venus.
Konon dari situlah kemudian para malaikat sudah tidak lagi mempertanyakan eksistensi manusia sebagai khalifah di bumi, karena ternyata tidak mudah hidup dengan hawa nafsu, karena harus bisa mengendalikannya.
Terus terang versi yang pertama ini dikritik oleh banyak pihak, karena banyak hal yang kurang masuk akal. Memang kalau dari sisi sanad periwayatan paling atas ada Nafi dan Ibnu Umar yang mana keduanya termasuk jalur sanad yang amat kuat.
Namun yang jadi masalah justru dari perawi sebelumnya yang bermasalah, khususnya Musa bin Jubair yang didhaifkan oleh banyak ulama. Ibnu Hibban mengatakan dia orang yang banyak keliru dan menyimpang. Ibnu Qattan mengatakan dia adalah orang tidak diketahui keadaannya.
Sedangkan kritik atas matan dari riwayat ini antara lain berupa pertanyaan kritis seperti :
1. Bagaimana mungkin malaikat masih saja mempertanyakan kebijakan Allah SWT untuk menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi, padahal malaikat itu adalah makhluk yang sangat taat kepada Allah SWT dan tidak pernah bermaksiat? Kalau hanya gara-gara melihat betapa telah merajalelanya kemaksiatan umat manusia, tentu bukan urusan para malaikat sampai harus mempertanyakan lagi kepada Allah SWT.
2. Kalau pun benar ada sebagian malaikat yang protes kepada Allah SWT gara-gara menyaksikan begitu banyak kemaksiatan manusia, mudah saja bagi Allah SWT untuk mengtakan kepada para malaikat untuk tidak usah ikut campur urusan Allah SWT. Tidak perlu bagi Allah SWT sampai harus mengubah malaikat menjadi manusia, sekedar untuk membuktikan.
3. Lalu kisah wanita yang dizinai itu sampai dikutuk jadi planet Venus, jelas-jelas sangat mirip dengan mitologi khurafat dan dongeng-dongen yang tidak masuk akal.
Lalu kenapa versi ini muncul di tengah kalangan umat Islam? Jawabnnya karena banyak kitab tafsir yang memuat riwayatnya. Dan kalau kita telusuri jejaknya, konon versi ini diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahuanhu.
Tetapi ada banyak kalangan meragukan keshahihan riwayat ini, salah satunya Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran. Menurutnya tidak mungkin sekelas Ibnu Umar meriwayatkan dongeng israiliyat macam ini. Dan menurut hemat Beliau, riwayat ini sampai ke level Ka’ab Al-Ahbar, seorang mantan pendeta Yahudi yang masuk Islam. Ka’ab sendiri sosok shahabat yang shalih, mungkin saja dia tidak berdusta, namun yang menjadi masalah terletak pada sumber-sumber yang dia dapat ketika masih menjadi pemeluk agama Yahudi. Sehingga yang tidak valid boleh jadi bukan Ka’ab-nya melainkan sumbernya.
Ibnu Katsir meskipun menyalin riwayat ini namun dengan tegas menolak kebenaran versi ini. Dia berkata bahwa kesimpulannya semua kembali kepada cerita-cerita Bani Israil, sebab tidak ada hadits marfu’ yang ada rantai hubungannya kepada Nabi SAW. Sedangkan ayat Al-Quran sendiri sama sekali tidak bicara tentang dongeng seperti itu. Sementara As-Suyuthi dalam Ad-Dur Al-Mantsur menyalin riwayat ini tanpa diberi komentar.
Versi Kedua
Adapun versi kedua ini memaknai kata malaikat sekedar julukan dan bukan malaikat secara hakiki. menyatakan bahwa Harut dan Marut bukanlah dua malaikat, melainkan manusia yang shalih di masanya, sehingga saking shalihnya, keduanya dijuluki orang sudah seperti malaikat.
Versi Ketiga
Diriwayatkan oleh Ath-Thabari dari Umair bin Sa’id bahwa dia mendengar dari Ali bin Abi Thalib sebuah kisah tentang wanita dari Persia berparas cantik bernama Zuhrah. Harut dan Marut tertarik pada kecantikannya dan merayunya, namun wanita memberi syarat agar diajarkan perkataan yang apabila diucapkan akan membuat seseorang bisa terbang naik ke langit.
Maka keduanya mengajarkan kalimat itu, maka wanita itu bisa terbang ke langit dan wujudnya berubah menjadi planet Venus.[2]
[2] Ath-Thabari, Jamiul Bayan fi Ta’wil Al-Quran, jilid 2 hal. 429
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ
Lafazh ma-yu’allimani (وَمَا يُعَلِّمَانِ) artinya : tidaklah keduanya mengajarkan, sedangkan lafazh min ahadin (مِنْ أَحَدٍ) artinya : dari salah satu diantara keduanya.
Maksudnya keduanya tidak mengajarkan ilmu sihir, namun hanya dituduh sebagai orang yang mengajarkan sihir.
Lafazh hatta (حَتَّىٰ) bermakna : sehingga, lafazh yaqulaa (يَقُولَا) artinya keduanya berkata, lafazh innama (إِنَّمَا) artinya sesungguhnya kami. Dan lafazh fitnah (فِتْنَةٌ) artinya ujian atau cobaan. Lafazh fa-laa takfur (فَلَا تَكْفُرْ) artinya : maka janganlah kamu kufur, ingkar atau menjadi orang yang kafir.
Yang menarik dari penggalan ini adalah ungkapan dari kedua malaikat yang menyebut diri mereka adalah fitnah, dimana maksudnya bahwa keduanya merupakan satu bentuk ujian dan cobaan. Uniknya di negeri kita, istilah fitnah terlanjur diterjemahkan sebagai menuduh orang lain dengan tuduhan tidak benar, sehingga ada juga yang memahami bahwa ungkapan kami adalah fitnah menjadi : kami ini difitnah alias dituduh dengan tuduhan keji.
Padahal dalam bahasa Arab meski kata fitnah itu punya banyak makna, namun tidak ada satupun yang maknanya terkait dengan tuduhan keliru. Kata fitnah banyak bertabur dalam Al-Quran dengan banyak makna, kadang bisa bermakna syirik, kesesatan, penyerangan, memalingkan, permintaan maaf, vonis, dosa, penyakit, pelajaran, hukuman, ujian, azab, dibakar, gila dan lainnya.[1]
[1] Ahmad Sarwat, Memahami Al-Quran dan Tantangannya, hal. 195-198
Lafazh fa-yata’allamuna (فَيَتَعَلَّمُونَ) artinya : maka orang-orang mempelajari, dan lafazh min-huma (مِنْهُمَا) artinya : dari keduanya. Lafazh yufarriquna (يُفَرِّقُونَ) bermakna : memisahkan antara suami dan istri. Lafazh al-mar’i (الْمَرْءِ) artinya seseorang, baik berjenis kelamin laki-laki atau pun perempuan. Lafazh wa zaujih (وَزَوْجِهِ) artinya dengan pasangannya, baik laki-laki atau perempuan.
Yang dimaksud sebenarnya adalah ilmu sihir, namun yang disebutkan justru langsung contoh makar yang bisa diakibatkan dari sihir, yaitu bagaimana gara-gara sihir mengakibatkan runtuhnya sendi-sendi kehidupan rumah tangga manusia.
Salah satu bentuk pengaruh ilmu sihir adalah bisa memisahkan antara suami dengan istrinya, padahal sebelumnya mereka hidup rukun dan akur. Dan hal yang sebaliknya bisa diperankan oleh ilmu sihir, dimana objek yang disihir bisa dibuat tergila-gila dengan pria atau wanita pujaannya. Dalam istilah kita sering disebut dengan guna-guna, pelet, gendam, pengasihan dan seterusnya.
Sebenarnya kemampuan ilmu sihir tidak hanya sekedar memisahkan suami istri tetapi ruang lingkupnya bisa jauh lebih luas. Salah satunya adalah sihir yang dilakukan oleh para penyihir Firaun, dimana tali-tali yang mereka lemparkan itu berubah menjadi ular dalam pandangan manusia. Memang dalam hal ini para ulama berdebat apakah tali-tali itu berubah jadi ular hanya dalam pandangan manusia saja atau atau memang benar-benar berubah jadi ular betulan. Dalam surat Thaha Allah SWT menggunakan kata yakhayyalu ilaihi (يُخَيَّلُ إِلَيْهِ) yang maknanya dikhayalkan dalam anggapan mereka saja.
Berkata Musa: "Silahkan kamu sekalian melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. (QS. Thaha : 66)
Kalau hanya berubah dalam pandangan manusia saja, di masa sekarang ini seperti hipnotis yang sering kita lihat dalam berbagai atraksi panggung.
Sedangkan kalau benar-benar jadi ular dalam wujud yang sesungguhnya, maka itulah yang sampai hari ini belum bisa dijelaskan secara teknologi. Di ayat lain ada disebutkan lafazh bi-sihrin azhim (بِسِحْرٍ عَظِيمٍ) atau sihir yang dahsyat.
Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (mena´jubkan). (QS. Al-Araf : 116)
Namun lepas dari itu semua, cakupan sihir itu bisa sangat luas, mulai dari trik kecepatan tangan atau pun benar-benar sihir dalam arti melawan hukum fisika manusia.
وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ
Lafazh bi-dharriin (بِضَارِّينَ) maknanya : memberikan atau mengakibatkan kemadharatan.
Lepas dari bagaimana teknik yang digunakan oleh tukang sihir, namun sihir itu intinya justru pada titik ini, yaitu menimbulkan madharat buat orang lain. Madharat itulah yang menjadi ‘illat keharaman sihir yang paling utama. Nama dan istilah yang digunakan dalam praktek sihir bisa bermacam-macam tempat dan budayanya.
Kita di negeri ini mungkin lebih akrab dengan istilah itu guna-guna, teluh, santet, dan sejenisnya. Di barat sana orang menggunkan istilah black magic, voodoo atau apapun. Tetapi inti utamanya memang membahayakan dan menimbulkan madharat buat orang lain.
Lalu bagaimana dengan sulap? Bukankah masih terkait juga dengan sihir?
Sihir dan sulap sering kali disamakan atau dipertukarkan dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam bahasa Inggris pun sama-sama disebut dengan magic. Namun kalau kita teliti akan kita temukan memiliki perbedaan yang amat mendasar. Yang paling utama sihir melibatkan penggunaan kekuatan supernatural, mistis, dan kepercayaan alam ghaib. Sedangkan sulap semata-mata seni pertunjukan yang menampilkan trik atau ilusi yang didesain untuk membuat penonton terkecoh atau kagum, namun sama sekali tidak memiliki kaitan dengan kekuatan supernatural atau mistis.
Sulap merupakan suatu gabungan dari berbagai seni yang ada, misalnya seni tari, seni musik, seni rupa, dan lainnya yang merupakan penerapan dari gabungan berbagai disiplin ilmu yang ada. Misalnya ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu psikologi, dan lain-lain. Semata-mata hanya trik kelihaian tangan, manipulasi, hasil kerja dari suatu perlengkapan dan peralatan ataupun efek yang timbul dari suatu reaksi kimia dan yang telah dilatih sebaik mungkin oleh seorang pesulap sebelum dipertunjukkan kepada orang lain. Oleh sebab itu sulap dapat dipelajari oleh semua orang, asalkan orang tersebut mau berlatih pula dengan baik.
Pesulap itu biasa mengandalkan kecepatan tangan pesulap untuk menghilangkan dan memunculkan suatu benda, atau mengandalkan peralatan sulap untuk menghilangkan, memindahkan, memunculkan, mengubah dan sebagainya suatu benda. Kadang juga menggunakan peralatan ilusi untuk membuat sesuatu yang mustahil seolah-olah benar terjadi.
Kadang seorang pesulap melatih diri demi dapat mahir mengontrol kekuatan spesial untuk dapat memprediksi, menemukan, mengubah, menggerakkan, dll, suatu benda, sering kali berdasarkan prinsip matematika, fisika, kimia, psikologis dan dapat dijelaskan secara logis. Juga kemahiran dalam memprediksi dan menemukan sesuatu dengan angka-angka sesuai dengan perhitungan matematika. Ada juga kemahiran membebaskan diri dari berbagai ikatan dan belenggu pada berbagai keadaan selama waktu tertentu. Atau kemahiran memainkan kartu untuk dapat menemukan kartu yang dipilih, menghilangkan kartu, mengubah kartu dan banyak lagi.
Semua memang mirip sihir tetapi semuanya ilmiyah dan bisa dijelaskan secara logika, tanpa melibatkan alam ghaib, makhluk halus atau pun kekuatan supra natural.
مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
Inilah yang menjadi ‘illat kedua dari keharaman sihir adalah penggunaan kekuatan ghaib tanpa izin yang prosedural dari sisi Allah SWT. Kekuatan ghaib ini memang bisa dilakukan oleh makhluk ghaib seperti jin, setan dan iblis. Sehingga kebanyakan para tukang sihir itu meminta bantuan makhluk-makhluk ghaib. Dan pada akhirnya para jin itu hanya akan menambahkan dosa dan kesalahan, sebagaimana firman Allah SWT.
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jinn : 6)
Oleh karena itulah maka dalam syariat Islam di era kenabian Muhammad SAW, sudah tidak ada lagi diizinkan untuk berkolaborasi dengan makhluk halus manapun, bahkan larangan itu termasuk kepada makhluk mengaku-ngaku sebagai jin Islam atau bahkan mengaku sebagai malaikat sekalipun.
Lafazh wa-yata’allamuna (وَيَتَعَلَّمُونَ) maknanya : “Dan mereka mempelajari”, adapun lafazh ma-yadhurruhum (مَا يَضُرُّهُمْ) artinya : “apa-apa yang menimbulkan madharat bagi mereka”. Sedangkan lafazh la-yanfa’uhum (لَا يَنْفَعُهُمْ) artinya : “tidak memberi manfaat buat mereka”.
Initnya bahwa mempelajari ilmu sihir itu hanyalah akan memberikan madharat saja bagi mereka. Sama sekali tidak memberikan manfaat apapun buat manusia. Oleh karena itu belajar sihir itu bukan hanya percuma namun sangat merugikan bahkan bikin apes dan nasib buruk.
Lafazh wa-la-qad (وَلَقَدْ) maknanya : “dan sungguh telah”, lafazh ‘alimu (عَلِمُوا) adalah fi’il madhi dari asalnya (عَلِمَ - يَعْلَمُ) yang artinya mereka telah mengetahui. Lafazh la-man (لَمَنِ) maknanya orang yang, dan lafazh isyratarahu (اشْتَرَاهُ) adalah fi’il madhi yang maknanya telah membelinya. Lafazh maa-lahu (مَا لَه) maknanya : hartanya.
Adapun lafazh fil-akhirati (فِي الْآخِرَةِ) artinya di akhirat, sedangkan min-khalaq (مِنْ خَلَاقٍ) arti sesungguhnya adalah bagian atau keuntungan.
Kalau kita gabungkan semuanya menjadi : Dan sungguh mereka sudah mengetahui apa yang mereka belikan dengan uangnya itu nanti di akhirat.
Dalam hal ini Allah SWT lagi-lagi menggunakan perumpamaan yang paling mudah dipahami oleh bangsa Arab yaitu dengan menggunakan perumpaan akad jual-beli. Akan menjadi amat jelas betapa ruginya apa yang telah mereka lakukan, seperti orang yang membeli sesuatu dengan harga yang teramat mahal, namun mendapatkan barang yang sangat tidak sepadan dengan harga yang dibayarkan.
Meskipun ketika menerangkan apa yang dibeli dan apa yang dibayarkan, para ulama berbeda-beda. Setidaknya ada dua pendapat, yaitu :
§ Pendapat pertama, mereka membeli sihir dengan kitabullah atau dengan berbagai macam syarat dalam menggunakan sihir.
Pendapat kedua, mereka membeli manfaat yang bersifat duniawiyah dengan manfaat ukhrawiyah. [1]
Lafazh la-bi’sa terdiri dari huruf lam yang berfungsi menguatkan dan lafazh bi’sa (وَلَبِئْسَ) yang maknanya buruk, sehingga kalau digabungkan bermakna : “sungguh amat buruk”.
Sedangkan makna ma-syarau terdiri dari huruf ma (مَا) yang bermakna : apa-apa, sedangkan syarau (شَرَوا) merupakan fi’il madhi dari asalnya (اشترى - يشتري) artinya mereka membeli. Dan lafazh bihi (بِهِ) artinya dengannya, sedangkan lafazh anfusahum (أَنْفُسَهُمْ) artinya : diri mereka.
لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Lafazh lau (لَوْ) bermakna : seandainya, dan ya’lamun (يَعْلَمُوْن) maknanya adalah mengetahui.
Maksudnya betapa amat buruknya apa yang mereka pertaruhkan dengan menjual jiwa mereka, padahal yang mereka dapat hanya sangat tidak setimpal.
Sayangnya mereka tidak sadar bahwa pertaruhan itu memang tidak sepadan. Oleh karena itulah akhir ayat ini ditutup dengan sebuah ungkapan yang satire, yaitu seandainya mereka mengetahui.
Ayat ini menguatkan keyakinan kita bahwa Islam itu sangat logis dan masuk akal, sehingga hal-hal yang tidak masuk akal menjadi hal yang harus ditinggalkan dan dijauhi, bukan untuk dilestarikan apalagi diperlihara.