| ◀ | Jilid : 2 Juz : 1 | Al-Baqarah : 117 | ▶ |
| TAFSIR AL-MAHFUZH |
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Lafazh badii’ (بَدِيعُ) secara ilmu shraf berwazan (فَعِيْل) yang asalnya dari (مُفْعِل), sebagaimana kata (أليم) berasal dari (المؤلم) dan kata (سميع) berasal dari (المسمع). Maka badii’ (بَدِيْع) itu adalah mubdi’ (مُبْدِع) yang maknanya adalah (المنشئ) yang mendirikan dan (المحدث) yang mengawali, maksudnya mendirikan pertama kali atau mengawali penciptaan.
Terjemahan Kemenag RI, Quraish Shihab dan HAMKA, ketiga sama-sama memaknainya dengan : “pencipta”. Namun ada perbedaan penekanan bila dibandingkan sebutan al-khaliq yang juga bermakna pencipta. Bedanya adalah bahwa badii’ itu adalah yang menciptakan pertama kali dan belum pernah ada yang melakukan seperti itu sebelumnya. Kalau dalam dunia sains kita sebut sebagai penemu.
Salah satu cabang dalam ilmu bahasa Arab dinamakan : Ilmul-badi’ (علم البديع) yaitu ilmu yang dikhususkan untuk mempelajari ungkapan kata-kata yang indah, yang belum pernah dibuat orang sebelumnya.
Kata bid’ah punya akar kata yang sama, sehingga dikatakan seseorang melakukan bid’ah apabila dia melakukan sesuatu yang sama sekali baru dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Dan dalam terjemahannya, Buya HAMKA menambahkan dengan ungkapan : “tiada bandingannya”, untuk lebih menekankan makna bahwa Allah SWT itu menciptakan sesuatu yang tidak satupun pernah melakukannya.
وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا
Lafazh qadhaa (قَضَىٰ) artinya menetapkan atau memutuskan, asalnya dari (قَضَى – يَقْضِي - قَضَاءًا). Isim fa’ilnya adalah qadhi (قاضِي), maka hakim yang memimpin jalannya sidang perkara dan diberikan kekuasaan untuk memutuskan perkara dalam syariat disebut : al-qadhi (القَاضِي). Sedangkan yang diputuskan oleh hakim disebut dengan qadha’ (القَضَاء), dalam istilah kita disebut dengan vonis atau sesuatu yang sudah berstatus hukum tetap.
Oleh karena itulah dalam daftar rukun iman yang enam, kita temukan istilah qadha’ dan qadar bersanding. Qadha’ itu adalah ketentuan dan keputusan dari Allah SWT yang mengacu pada ketetapan Allah yang mencakup semua kejadian di dunia ini. Sementara qadar merujuk pada takdir individu dan nasib yang ditentukan Allah bagi setiap makhluk-Nya.
Lafazh amran (أَمْرًا) bermakna : suatu hal atau kejadian. Maka setiap hal atau kejadian di dunia ini pastinya atas dasar perintah Allah SWT. Sesuatu itu tercipta karena diperintahkan oleh Allah SWT agar tercipta.
فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Lafazh fa-innama (فَإِنَّمَا) berfungsi membatasi sesuatu (لحصر شيء), sehingga bisa bermakna : “hanyalah”, atau “cukuplah”. Contohnya ketika Allah SWT membatasi bahwa yang berhak untuk menerima harta zakat itu HANYA delapan asnaf, maka teks ayatnya diawali dengan lafazh innama :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan. (QS. At-Taubah : 60)
Ada pun yaqulu lahu (يَقُولُ لَهُ) asalnya dari (قَالَ - يَقُوْل) yang artinya “Dia berkata” atau Dia mengucapkan”, atau “Dia berfiman”. Dan dhamir lahu (لَهُ) kembali kepada perkara yang telah Dia tetapkan.
Kata kun (كُنْ) adalah fi’il amr dari (كان - يكون) yang maknanya : “Jadilah”. Sedangkan lafazh fa-yakuun (فِيَكُوْن) terdiri dari huruf fa (ف) yang artinya maka. Dan lafazh yakuun (يكون) berarti : “jadi” dan “tercipta”.
Yang menarik dari perintah “jadilah maka jadi” atau “kun fayakun” ini menunjukkan betapa simpel dan sederhananya ketika Allah SWT menciptakan sesuatu, cukup hanya menggunakan dua huruf saja, maka apapun yang Dia inginkan pun segera terbentuk dan beruwujud saat itu juga. Semua terjadi begitu saja sama sekali tidak pakai proses ini dan itu.
Sebagaimana ketika Allah SWT menciptakan pertama kali Nabi Adam alaihissalam, cukup dua huruf Allah SWT ucapkan, maka tiba-tiba Nabi Adam pun tercipta begitu saja tanpa lewat proses dari janin, bayi, anak-anak, remaja. Tiba-tiba Adam tercipta dalam rupa yang sudah dewasa dan sempurna.
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran : 59)
Padahal kalau kita bandingkan secara ilmu biologi, tubuh manusia dewasa itu sangat rumit. Secara biologis, tubuh manusia memiliki beberapa sistem yang tidak dimiliki oleh hewan dan makhluk melata lainnya. Berikut adalah beberapa sistem tersebut:
Selain itu, manusia juga memiliki sistem seperti sistem endokrin (pengaturan hormonal), sistem reproduksi (perkembangbiakan), dan sistem rangka (penopang tubuh dan perlindungan organ dalam), yang memiliki perbedaan dan kompleksitas tertentu dibandingkan dengan hewan dan makhluk melata lainnya.
Selain sistem-sistem yang telah disebutkan sebelumnya, berikut adalah beberapa sistem tambahan dalam tubuh manusia:
Sistem-sistem ini bekerja secara terintegrasi untuk menjaga keseimbangan dan kelangsungan hidup tubuh manusia. Setiap sistem memiliki peran dan fungsi unik yang berkontribusi pada fungsi keseluruhan tubuh.
Untuk terciptanya Nabi Adam sebagai prototype manusia pertama, ternyata Adam sudah amat sangat sempurna, semua sistemnya berfungsi normal tanpa ada cacat atau kegagalan. Dan semua itu tercipta begitu saja dari tanah hanya lewat dua huruf yaitu kun (كُنْ).
Bandingkan dengan para penyihir, bisanya hanya menipu dengan mengubah persepsi orang seolah-olah bisa menciptakan makhluk baru, padahal hanya permainan ilusi saja, seperti ular-ular kecil yang ‘diciptakan’ oleh para penyihir Firaun.
وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ ۖ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ
dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. (QS. Al-Qashash : 31)
Biasanya para penyihir masih harus merapal semacam kata mantera-mantera yang panjang dan tidak jelas maknanya, untuk sekedar bisa memamerkan aksinya yang hanya tipu-tipu saja. Beda jauh dengan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Pencipta, Dia hanya butuh dua huruf untuk memerintahkan sesuatu biar langsung jadi ada.
Dan bandingkan juga dengan ciptaan manusia dalam membuat sesuatu. Di masa lalu manusia hanya bisa meniru Allah dengan cara membuat patung yang hanya diam tidak bisa bicara. Kemudian Bani Israil menciptakan patung anak sapi yang bisa bersuara. Namun kita semua tahu beda antara tubuh manusia dan tubuh patung yang bisu dan tidak bisa melakukan apa-apa. Kalaupun dibedah isi patung itu, isinya hanya seonggok batu, pasir, semen atau tanah liat (tembikar).
Di masa sekarang ini manusia sudah mulai sedikit pintar karena bisa menciptakan mesin yang bisa berbicara baik lewat teks atau suara tiruan layaknya manusia. Memang teknologi Artificial Intelligen ciptaan manusia di masa sekarang cukup menakjubkan, karena mesin-mesin itu seperti punya kesadaran sendiri.
Namun biar bagaimana pun juga, kecerdasan mesin AI tetap saja tidak sempurna, apalagi bila dibandingkan dengan kecerdasan manusia yang menciptakannya, tentu amat sangat jauh.
Namun kadang untuk menggambarkan betapa mudahnya dan betapa cepatnya Allah SWT dalam menciptakan sesuatu, digunakan juga ungkapan : kedipan mata, sebagaimana ayat berikut :
وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (QS. Al-Qamar : 50)