Kata alladzina (الَّذِينَ) bermakna : “orang-orang”, sedangkan atainaa-hum (آتَيْنَاهُمُ) merupakan fi’il madhi yang maknanya : “kami datangkan kepada mereka”. Sedangkan al-kitab (الْكِتَابَ) maksudnya kitab suci samawi dari Allah SWT.
Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan bahwa para ulama terpecah dua ketika membicarakan tentang siapa yang dimaksud dengan mereka yang diberi kitab :
1. Shahabat Nabi
Qatadah berkata bahwa mereka adalah para shahabat nabi yang mulia ridhwanullahi ‘alaihim. Karena mereka menerima Al-Quran dan membacanya dengan sebenar-benarnya serta mengimaninya.
2. Ulama Bani Israil
Ibnu Zaid berkata bahwa mereka adalah para ulama Bani Israil yang mendapatkan hidayah karena membaca apa yang diberitakan dalam Taurat dan mengimaninya.
Namun bukan berarti semua ulama Bani Israil sebaik itu. Mereka terpecah dua, selain yang beriman juga ada yang mengingkari kenabian Muhammad serta menolak Al-Quran. Maka mereka itu termasuk orang-orang yang merugi.
Lafazh yatlunahu (يَتْلُوْنَهُ) berasal dari (تَلَا - يَتْلُو - تِلاَوَة) secara bahasa bermakna membaca. Di negeri kita ada lomba membaca Al-Quran yang dikenal dengan sebutan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Namun para ulama punya dua pendapat yang berbeda ketika menguraikan maknanya.
1. Membaca Al-Quran dengan Sempurna
Pendapat pertama mengatakan bahwa makna yatlunahu haqqa tilawatih (يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ) adalah membaca Al-Quran dengan cara baca yang baik dengan memenuhi berbagai aturan dan kaidah-kaidahnya. Menurut mereka penggalan ayat ini sejalan dengan ayat lainnya yang mengharuskan baca Al-Quran dengan tartil :
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil. (QS. Al-Muzammil : 4)
2. Mempelajari Kandungan Hukumnya
Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, ‘Atha’, Al-Hasan dan As-Suddi mengatakan bahwa makna yatlunahu haqqa tilawatih (يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ) itu bukan sekedar membaca dalam arti melafazhkan, namun maksudnya adalah ber-ittiba’ alias mengikuti berbagai ketentuan yang termuat di dalamnya.
Ibnu Mas’ud dan Qatadah mengatakan bahwa makna yatlunahu haqqa tilawatih (يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ) adalah menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Quran serta mengharamkan apa yang diharamkan Al-Quran.
Ikrimah mengatakan bahwa talaa itu bermakna : mengikuti. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلاَهَا
Dan demi bulan apabila mengikutinya (QS. Asy-Syams : 2)
Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu berkata :
هُمُ الَّذِينَ إِذَا مَرُّوا بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلُوهَا مِنَ اللَّهِ، وَإِذَا مَرُّوا بِآيَةِ عَذَابٍ اسْتَعَاذُوا مِنْهَا.
Apabila melewati ayat terkait rahmah, mereka pun memohon kepada Allah. Dan bila melewati ayat terkait adzab, mereka pun memohon perlindungan dari-Nya.
Sedangkan Al-Hasan berkata :
هُمُ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِمُحْكَمِهِ، وَيُؤْمِنُونَ بِمُتَشَابِهِهِ، وَيَكِلُونَ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِمْ إِلَى عَالِمِهِ
Mereka adalah orang-orang yang mengamalkan hukum di dalamnya, mengimani ayat-ayat mutasyabihatnya, dan menanyakan apa-apa yang belum mereka pahami kepada ulamanya.
Mereka itu telah beriman kepadanya. Ini adalah pernyataan resmi dari Allah SWT bahwa mereka yang menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam Al-Quran, tentu mereka sudah dianggap beriman kepada Al-Quran.
Dan pernyataan ini bisa dibalik, bahwa orang tidak bisa dianggap beriman kepada Al-Quran kalau belum sampai menjalankan isi Al-Quran.
Lafazh waman-yakfur-bihi (وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ) bermakna : orang yang mengingkarinya, yaitu mengingkari kitabullah, maka mereka itu orang-orang yang merugi.
Kalau diibaratkan orang berdagang, yang disebut rugi itu apabila antara harga beli dengan harga jual tidak memberikan keuntungan. Bisa sama atau harga belinya lebih tinggi ketimbang harga jualnya. Itu namanya rugi.
Penggunaan istilah rugi dalam ayat ini khususnya dan di dalam Al-Quran pada umumnya nampaknya disesuaikan dengan kondisi para shahabat yang umumnya pedagang dan pelaku bisnis. Akan lebih cepat dipahami sekaligus disikapi manakala sebuah perumpamaan menggunakan realitas kejadian di sekitar kita. Dan di dalam Al-Quran cukup banyak digunakan diksi merugi untuk menggambarkan bahwa pilihan yang diambil oleh orang kafir bukan pilihan yang tepat.
Salah satunya adalah surat Al-Ashr, dimana pada prinsipnya semua manusia yang hidup di dunia pada akhirnya pasti akan merugi. Soalnya semua akan berakhir di dalam neraka.