Kemenag RI 2019:Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kamu daripada semua umat di alam ini (pada masa itu). Prof. Quraish Shihab:Hai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu). Prof. HAMKA:Wahai, Bani lsrail! lngatlah olehmu akan nikmat-Ku yang telah Aku nikmatkan kepada kamu, dan bahwasanya telah Aku muliakan kamu atas bangsa-banasa.
Ayat ke-122 ini menarik untuk diberi catatan khusus, setidaknya karena dua hal :
Pertama, topik ayat ini semacam ayat perpisahan atau ayat penutup dari seratusan ayat berkutat membicarakan berbagai kajian terkait dengan Bani Israil. Dua ayat setelah ini pembicaraan akan berbelok mundur ke belakang yaitu mengangkat kisah Nabi Ibrahim alaihissalam. Memang tidak belok-belok amat, karena Bani Israil biar bagaimana pun masih keturunan dari Nabi Ibrahim alaihissalam juga.
Kedua, ayat ini dan ayat berikutnya akan menjadi pasangan ayat yang menjadi kembaran dari sepasang ayat sebelumnya yaitu ayat ke-47 dan ke-48. Keduanya punya kemiripan yang amat sangat, ibarat kembar identik. Anak kembar identik memiliki materi genetik yang identik, sehingga mereka seringkali memiliki penampilan yang sangat mirip dan jenis kelamin yang sama. Mereka juga memiliki karakteristik fisik yang serupa dan biasanya memiliki golongan darah yang sama. Begitu juga dengan pasangan ayat ini.
Dan ayat semacam ini akan membingungkan para santri penghafal Al-Quran yang masih pemula. Sebabnya karena kembar identik itu.
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ
Lafazh bani (بني) adalah bentuk jamak dari ibnu (ابن) yang asalnya banun (بنون) atau banin (بنين), lalu dibuang huruf nun (ن) karena disambungkan dengan kata berikutnya sehingga menjadi bani. Makna terjemah bani adalah anak-anak atau keturunan.
Lafazh israil (إسرائيل) adalah nama lain dari Nabi Ya'qub bin Ishak bin Ibrahim alaihimussalam. Menurut Ibnu Abbas, dalam bahasa Ibrani, nama Israil itu terdiri dari 'isra' (إسرا) yang bermakna hamba dan 'il' (أِيْل)yang maksudnya adalah Allah, sehingga secara harfiyah makna Israil itu adalah hamba Allah.
Nabi Ya'qub punya 12 anak laki-laki dan salah satunya adalah Nabi Yusuf alaihissalam. Az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasysyaf menyebutkan bahwa anak Nabi Ya'qub itu ada 12 orang laki-laki dari beberapa istri.
Lafazh udzkuru (اذكروا) merupakan fi'il amr dari asal kata (ذكر - يذكر). Lafazh ini punya banyak makna, seperti menyebut dan juga mengingat. Maksudnya Bani Israil diperintahkan untuk mengingat sekian banyak nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada mereka dan mensyukurinya dengan lisan dan perbuatan.
Namun seperti apa nikmat-nikmat tersebut memang tidak diterangkan dalam ayat ini, sehingga para ulama banyak yang mencoba mengira-ngira sendiri.
Salah satu nikmat yang besar bahwa Allah telah memilih sekian banyak para nabi-Nya dari kalangan mereka. Hal ini terjadi dalam masa yang cukup lama, sehingga mereka diberi julukan sebagai sya'bullah al-mukhtar yaitu "bangsa Allah yang terpilih".
Bandingkan misalnya dengan bangsa Arab yang sama-sama masih keturunan dari Nabi Ibrahim alaihissalam dari jalur putera pertamanya yaitu Nabi Ismail alaihissalam. Tak seorang pun dari jalur keturunan Beliau di negeri Arab yang menjadi nabi. Yang menjadi nabi dan rasul selalunya dari jalur putera kedua yaitu Nabi Ishak alaihissalam. Putera Ishak adalah Nabi Ya`qub dan cucunya adalah Nabi Yusuf.
Dan yang dimaksud dengan Bani Israil tidak lain adalah anak-anak Nabi Ya`qub yang berjumlah 12 orang itu. Meski tidak semuanya menjadi nabi, namun alur kedatangan para nabi dan rasul di dunia ini selalu lewat jalur nasab mereka, termasuk nantinya lahir Nabi Musa, Zakaria, Yahya dan Isa.
Semuanya itu harus mereka ingat dan mereka syukuri. Salah satu cara untuk mensyukurinya ialah beriman kepada setiap nabi yang diutus Allah untuk memberikan bimbingan kepada manusia. Tetapi dalam kenyataannya mereka menjadikan nikmat tersebut sebagai alasan untuk tidak menerima seruan Nabi Muhammad saw, malahan mengejeknya, dan mengatakan bahwa nikmat dan karunia Allah hanya tertentu untuk mereka saja.
Bani Israil diperintahkan untuk mengingat sekian banyak nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada mereka dan mensyukurinya dengan lisan dan perbuatan.
عَلَى الْعَالَمِينَ
Makna ‘ala (عَلَى) di atas, sedangkan 'alamin (العالمين) adalah bentuk jama’ dari ‘alam (عَالَم). Kalau dikaitkan dengan ayat yang menyatakan Bani Israil diberikan kelebihan di atas al-'alamin, maka yang dimaksud tidak lain adalah di atas bangsa-bangsa di dunia atau di atas dari umat serta peradaban manusia di seluruh dunia di masa itu.