Kemenag RI 2019:Siapa yang membenci agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Kami benar-benar telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh. Prof. Quraish Shihab:Tidak ada orang yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh diri sendiri, dan demi (keagungan dan kekuasaan Kami)! Sungguh, Kami telah memilihnya (Nabi Ibrahim as>) di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang saleh. Prof. HAMKA:130. Dan siapakah yang akan enggan dari agama Ibrahim kalau bukan orang yang telah memperbodoh dirinya? Padahal sesungguhnya Kami telah memilih dia di dunia ini, dan sesungguhnya dia di akhirat adalah dari orang-orang yang saleh.
Huruf wawul-‘athaf (و) di awal ayat ini menandakan bahwa ayat ini punya kaitan erat dengan ayat sebelumnya, walaupun dalam aturan baku Bahasa Indonesia tidak dikenal awal kalimat yang dimulai dengan kata sambung : dan. Maka dalam terjemahan Kemenag RI dan Quraish Shihab, meski ayat ini diawali dengan huruf waw, namun terjemahannya tidak dimulai dengan dan. Tetapi Buya HAMKA dalam terjemahan tetap mempertahankan kata : dan.
Ayat ini masih membicarakan Nabi Ibrahim, namun yang diarahkan adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang kelakukannya tidak menyukai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Rupanya risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW itu tidak lain adalah agama yang juga dulunya dibawa oleh Nabi Ibrahim alaihissalam. Maka perilaku Yahudi dan Nasrani yang membenci agama bawaan Nabi Muhammad SAW sama saja dengan membenci agama Nabi Ibrahim. Dan itu merupakan kebodohan.
Lafazh man (مَنْ) menurut sebagian ulama merupakan bentuk istifham inkari (استفهام إنكاري), maknanya bukan siapa, tetapi maknanya adalah maa (مَا) yang berarti : tidak. Setidaknya pendapat inilah yang didukung oleh Prof. Quraish Shihab dalam terjemahannya. Walaupun terjemahan Kemenag RI dan Buya HAMKA, masih menganggapnya sebagai pertanyaan. dengan melengkapi kalimat itu dengan tanda tanya di akhir kalimat.
Lafazh yarghabu (يَرْغَبُ) bisa bermakna dua kata yang saling berlawanan. Kalau diteruskan dengan kata fi (فِي) maknanya jadi menyukai, sedangkan bila diteruskan dengan ‘an (عَنْ) akan maknanya jadi membenci. Dan di ayat ini maknanya membenci, maksudnya adalah : ‘orang-orang yang membenci’.
al hadarah
Lafazh millah (مِلَّة) sering diterjemahkan menjadi agama. Namun selain istilah millah, agama dalam Al-Quran juga disebut dengan din (دِيْن). Lalu apa bedanya?
Di dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran , Al-Imam Al-Qurtubi cukup jelas menerangkan perbedaan keduanya. Beliau katakan bahwa pengertian millah adalah :
Millah adalah nama untuk apa yang Allah syariatkan bagi hamba-Nya yang tertuang dalam kitab-kitab-Nya dan lewat lisan para utusan-Nya. [1]
Dalam hal ini Al-Quran memposisikan istilah millah itu setara dengan istilah syariah. Sedangkan istilah “ din ” menurutnya adalah apa yang dikerjakan oleh hamba atas apa yang diperintahkan Allah SWT.
وَالدِّينُ مَا فَعَلَهُ الْعِبَادُ عَنْ أَمْرِهِ
Din adalah apa-apa yang dilaksanakan oleh para hamba atas apa yang diperintahkan Allah SWT.
Kalau millah itu dimaknai seperti halnya syariah, maka secara teknis yang dimaksud dengan millah adalah ritual haji dan berbagai praktik syariat yang disyariatkan kepada Nabi Ibrahim.
[1] Al-Imam Al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Quran
إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ
Lafazh safiha (سَفِهَ) adalah fi’il madhi yang artinya melakukan tindakan bodoh atau memperbodoh. Quraish Shihab mengatakan maksudnya adalah orang yang tidak lurus cara berpikirnya, tetapi menduganya lurus sehingga bertindak keliru.
Asalnya makna safah (سفه) itu khifatun fil badan (خفة في البدن) atau ringannya tubuh seseorang. Dikatakan juga tsaubun safih (ثوب سفيه) pakaian yang tenunannya buruk. Lalu digunakan untuk menjuluki orang yang jiwanya lemah dan akalnya kurang (خفة النفس لنقصان العقل).
وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا
Lafazh wa la-qad (وَلَقَدْ) dalam hal ini huruf lam (ل) disebut dengan lam al-qasam bermakna : “Dan sungguh telah”, ungkapan ini untuk menunjukkan keseriusan sekaligus juga untuk lebih meyakinkan, sehingga tidak sampai lagi ada yang meragukan. Bahkan Prof Quraish Shihab dalam terjemahnya menulis : “Demi Allah”.
Lafazh ishthafai-na-hu (اصْطَفَيْنَاهُ) asalnya dari ishthafa (إصطفى) sebagai fi’il madhi, pelakunya dhamir nahnu pada huruf naa (نَا) yaitu Allah dan objek atau maf’ul-nya adalah dhamir hu (هُ) yaitu Nabi Ibrahim. Konon asalnya istafa (اصتفى) dengan huruf ta’ (ت), kemudian diubah menjadi tha’ (ط) karena kesulitan pengucapan. Asal katanya dari shafwah (صفوة) yang artinya kemurnian, yaitu memilih yang lebih murni.
Dengan demikian kalimat ini menegaskan bahwa Allah SWT telah memilih Nabi Ibrahim untuk dijadikan sebagai pengemban risalah samawi untuk seluruh umat manusia.
Lafazh fid-dun-ya (فِي الدُّنْيَا) berarti : di dunia, maksudnya untuk kehidupan di dunia ini Allah SWT telah memilih Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai orang yang shalih. Namun tidak hanya sampai disitu saja, ternyata di akhirat pun juga menjadi orang yang shalih.
وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Yang dimaksud dengan di akhirat menjadi orang yang shalihin adalah orang yang beruntung atau menang.