Kemenag RI 2019:Apakah kamu juga berkata bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub, dan keturunannya adalah penganut Yahudi atau Nasrani? Katakanlah, “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah? Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?” Allah sama sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Prof. Quraish Shihab:Ataukah kamu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengaurkan sesungguhnya Ibrahim, dan Ismail, serta lshaq, dan Ya`qub dmi anak cucu-(nyak adalah penganut agama) Yahudi atau Nasrani? " Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menyembunyikan kesaksian (bahwa Nabi Ibrahim as. dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Allah swt. akan mengutus Nabi Muhammad saw,) d.ui Allah yang ada padanya? Dan Allah sekali`kali tidak letigah dari api yang kamu kerjakan " Prof. HAMKA:Ataukah kamu katakan, "Sesungguhnya, Ibrahim dan lsma`il dan lshaq dan Ya`kub dan anak-cucu adalah semuanya Yahudi atau Nasrani. Katakanlah, "Apakah kamu yang lebih tahu ataukah Allah?" Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya? Dan Allah tidak lengah dari apa yang-kamu kerjakan .
Ayat ini adalah sambungan dari ayat sebelumnya. Kalau di ayat sebelumnya Allah SWT memerintahkan Nabi SAW mempertanyakan sikap Yahudi yang menentang kenabian Muhammad SAW dan menegaskan bahwa itu sama saja memperdebatkan kehendak dan ketentuan Allah SWT, maka di ayat ini Allah SWT pertanyakan sikap mereka yang mengklaim bahwa semua nabi itu adalah barisan orang-orang yahudi.
Apakah kamu juga akan mengklaim bahwa para nabi dan rasul terdahulu adalah para pemeluk agama yahudi?
أَمْ تَقُولُونَ
Lafazh am (أَمْ) bermakna : “atau”. Dan fungsinya memberi pilihan antara pertama dan pilihan kedua. Pilihan pertama ada di ayat sebelumnya yaitu ayat ke138, yaitu : apakah kamu mau mendebat Allah?. Dan pilihan keduanya di ayat ini : atau apakah kamu mau mengklaim semua nabi itu yahudi?
Lafazh taquuluna (تَقُولُونَ) adalah fi’il mudhari yang arti harfiyahnya adalah : “kamu berkata”. Yang berkata adalah orang-orang yahudi dan maksudnya kamu berpendapat atau yang lebih tepat dalam konteks di masa itu adalah mengklaim.
Lafazh inna (إِنَّ) berarti : “sesungguhnya”. Adapun lafazh ibrahim (إِبْرَاهِيمَ) maksudnya adalah Nabi Ibrahim alaihissalam, diperkirakan hidup antara tahun 2000 SM dan wafat pada tahun 1822 SM di beberapa negeri yang berbeda, mulai dari Iraq, Palestina, Mesir dan Jazirah Arabia. Beliau digelari sebagai ayah para nabi dan pendiri kiblat umat manusia.
وَإِسْمَاعِيلَ
Lafazh wa ismaila (وَإِسْمَاعِيلَ) artinya : dan Nabi Ismail. Beliau adalah anak pertama Nabi Ibrahim buah dari istrinya Hajar yang berasal dari Mesir dan merupakan seorang budak wanita.
Kaki kecil bayi Ismail ketika menjejakkan ke tanah itu kemudian memecah tanah kering dan mengeluarkan sumber mata air yang kemudian dikenal sebagai mata air zamzam. Nabi Ismail diperkirakan lahir pada tahun 1910 sebelum masehi dan wafat pada tahun 1770 sebelum masehi.
Dan bersama dengan ayahnya, Beliau ikut mendirikan Ka’bah di atas bekas pondasi lamanya, sebagaimana sudah disebutkan dalam ayat yang lewat.
وَإِسْحَاقَ
Nabi Ishaq adalah putera kedua Nabi Ibrahim alaihissalam dari hasil pernikahan pertamanya dengan Sarah. Namun lama belum punya anak, sampai Nabi Ibrahim menikah lagi dengan Hajar yang langsung memberinya anak pertama, Ismail.
Posisi yang kurang menguntungkan, karena secara pernikahan, Sarah adalalah permaisuri, sedangkan Hajar adalah selir atau budak. Namun secara teknis, anak pertama Nabi Ibrahim justru bukan dari permaisuri melainkan dari budak.
Jadi keduanya saudara kakak beradik lain ibu dan berjarak cukup jauh secara usia dan tempat tinggal. Secara usia diperkirakan Nabi Ishak baru lahir ketika Ismail sudah berusia 14 tahun. Secara jarak, sejak masih bayi Ismail sudah diajak pindah ke jazirah Arabia dari tempat lahirnya yaitu dari Baitul Maqdis atau Al-Aqsha ke Masjid Al-Haram.
Kalau kita hitung-hitung, jarak antara Masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid Al-Aqsha di Palestina sekitar 1.239 kilometer. Dan untuk saat itu, perjalanan tersebut bisa ditempuh sekitar satu bulan dengan menggunakan kuda atau unta. Diperkiraakan Nabi Ishak wafat pada tahun 1630 SM.
وَيَعْقُوبَ
Nabi Ya'qub adalah putera dari Nabi Ishak. Berarti beliau cucu dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Diperkirakan lahir pada tahun 1700-an sebelum dan diperkirakan wafat pada tahun 1550 sebelum masehi.
Beliau inilah yang disebut dengan nama lain : Israil. Anak Beliau ada 12 orang, yang pertama bernama Yahudza, dan nomor 11 adalah Nabi Yusuf alaihissalam. Namun kesemuanya disebut dengan Bani Israil.
وَالْأَسْبَاطَ
Lafazh al-asbath (الْأَسْبَاطِ) adalah bentuk jamak dari as-sibtu (السِبْطٌ) yang secara harfiyah artinya tatabu’ (التَّتَابُعُ) alias silih berganti. Ada juga yang mengatakan asalnya dari kata as-sabatu (السَّبَطُ) yang artinya pohon.
Ada sebagian kalangan ulama seperti Abu Al-Aliyah, Qatadah dan Ar-Rabi’, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan asbat adalah dua belas orang anak-anak Nabi Ya’qub alahissalam. Masing-masing melahirkan lagi cucu generasi berikutnya. Kalau menggunakan pendapat ini, maka mereka itu pada dasarnya adalah Bani Israil.
Dengan menggunakan pendapat ini, maka yang dimaksud al-asbath (الأسباط) adalah nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Dan jumlah mereka cukup banyak, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas berikut :
Semua nabi itu termasuk keturunan Bani Israil, kecuali hanya sepuluh yang bukan, yaitu Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Luth, Ishak, Ya’qub, Ismail dan Muhammad SAW. (HR. Al-Bukhari)
كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ
Semua nabi dan rasul yang disebutkan di atas jelas-jelas bukan termasuk yahudi dan juga bukan termasuk nasrani. Sebab dilihat dari angka tahun hidupnya, mereka hidup jauh dari masa-masa digunakannya istilah yahudi, apalagi nasrani.
Oleh karena itu penting juga kalau kita telusuri akar sejarah agama yahudi dan nasrani, khususnya sejak kapan keduanya itu akhirnya dinamakan yahudi dan nasrani. Sebab Nabi Musa sendiri di masanya tidak pernah menyebut agama yang dibawanya dengan sebutan yahudi. Sebagaimana juga Nabi Isa tidak menamakan agama yang dibawahnya sebagai nasrani.
1. Sejarah Nama Yahudi
Benar bahwa kata Yahudi diambil bahasa Ibrani, bahasa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi. Dan kata itu asalnya adalah yahudza (يَهُوْذَا) yang sebenarnya nama anak pertama Nabi Ya’qub alaihissalam yang masanya di kisaran tahun 1700-1550 sebelum masehi. Namun sebagai nama dari sebuah agama, yahudza masih belum digunakan di masa itu.
Thahir Ibnu Asyur menceritakan dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[1] bahwa yahudi mulai diginakan sebagai nama sebuah agama setelah lewat masa kehidupan Nabi Sulaiman alaihissalam yang diperkirakan hidup pada sekitar 970 SM. Ini adalah jarak yang cukup jauh, tidak kurang dari lima abad lamanya, antara masa hidupnya Yahudza aslinya dengan masa dimana namanya digunakan sebagai nama agama Yahudi.
Dikisahkan bahwa setelah Nabi Sulaiman wafat, kerajaannya terpecah dua, karena dua anaknya rebutan. Kerajaan yang pertama dipimpin oleh anaknya yang bernama Rahba’am dan menduduki Baitul Maqdis tempat dimana sebelumnya istana Nabi Sulaiman. Kerajaan kedua dipimpin oleh anak yang satu lagi bernama Rahba’am.
Kerajaan yang pertama itulah yang kemudian menggunakan nama leluhur mereka yaitu Yahudza. Dinamakan kerajaan Yahudza karena memang kebanyakan rakyatnya mengaku berasal dari anak cucu keturunan dari Yahudza, putera pertama Nabi Ya’qub alaihissalam.
Dan yang unik, nama yahudza yang awalnya mereka gunakan sebagai nama negara, akhirnya ikut melekat juga untuk nama agama yang mereka peluk sebagai agama yahudi. Kemungkinan karena kerajaan Yahudza itupun runtuh juga terbenam dalam puing-puing sejarah. Maka kerajaan itu hanya ada di dalam hati anak cucu mereka. Itulah sejarah singkat bagaimana asal muasal agama Yahudi.
2. Sejarah Nama Nasrani
Ibnu Jarir At-Thabari dalam Jami’ Al-Bayan menukilkan pendapat Ibnu Abbas dan Qatadah yang mengatakan bahwa kata nashara (نَصَارى) dinisbahkan pada tempat asal Maryam ibunda Nabi Isa alaihissalam, yaitu sebuah tempat di Palestina bernama nashirah (ناَصِرَة) dan dalam ejaan Ibrani menjad Nazaret. Lalu nama tempat itu diserap dalam Al-Quran dan dalam ejaan Arab ditulis menjadi naashirah (ناصرة). Dan orang-orang yang memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Isa lantas disebut dengan orang-orang nasrani.[2]
Jelas sekali bahwa tidak mungkin nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak dan Nabi Ya’qub beragama nasrani. Sebab Nabi Isa hidup di tahun nol masehi.
[2] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M) jilid 2 hal. 145
قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ
Lafazh qul (قُلْ) berarti katakanlah, khitabnya ditujukan kepada oran-orang yahudi. Lafazh a antum a’lamu (أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ) bermakna : “apakah kamu lebih mengetahui”, dan lafazh am Allah (أَمِ اللَّه) bermakna : “ataukah Allah?”.
Penggalan ayat ini jelas-jelas menelanjangi kemampuan intelektulitas orang yahudi dan nasrani dalam menjelakan asal usul agama mereka. Ternyata apa yang mereka katakan selama ini hanya hoaks saja. Entah apakah mereka benar-benar tidak tahu atau mereka sudah tahu tapi sengaja berdusta demi kepentingan mereka.
Kalau pun mereka sudah tahu asal muasal sejarah mereka, namun mengklain bahwa yahudi itu adalah agama para nabi terdahulu, maka itu sebuah kesalahan besar. Berarti mereka membangun sejarah agama mereka dengan sepenuh kebohongan dan dusta besar.
Namun kalau mereka benar-benar tidak tahu, berarti mereka adalah korban dusta besar dari orang tua mereka dan mentor-mentor mereka di masa lalu.
Menurut hemat penulis, kelompok Yahudi di Madinah di masa kenabian saat itu nampaknya terpecah dua, ada yang tahu sejarah mereka tapi berdusta dan ada juga yang sama sekali tidak tahu. Dua-duanya sama saja, sama-sama nol besar.
Lafazh wa man (وَمَنْ) artinya : “dan siapakah”, lafazh azhlamu (أَطْلَمُ) : “lebih zhalim”, lafazh min man (مِمَّنْ) : dari yang, lafazh katama (كَتَمَ) maknanya : “menyembunyikan”, lafazh syahadatan (شَهَادَتً) bermakna : ”kesaksian”. Lafazh ‘indahu (عِنْدَهُ) bermakna : “di sisi-Nya”, maksudnya di sisi Allah. Dan lafazh minallah (مِنَ الله) artinya : “dari Allah”
Buat kalangan yahudi yang tahu sejarah mereka lalu berdusta, maka Allah SWT katakan kepada mereka : “siapa yang lebih zalim dari orang yang menutupi fakta”.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim menukilkan apa yang dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri terkait syahadat yang mereka tutupi.[1]
Diriwayatkan dahulu orang-orang yahudi membaca dalam kitab suci yang turun kepada mereka teks bahwa agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim, Ismail, Isha, Ya’qub, dan para asbath. Juga disebutkan bahwa mereka berlepas diri dari paham yahudi dan nasrani. Untuk itu mereka persaksikan di hadapan Allah.
Sayangnya generasi berikutnya berusaha menutup-nutupi fakta pernah ada persaksian semacam itu dalam sejarah mereka.
Lafazh bi-ghafilin (بِغَافِلٍ) maknanya : lengah atau lalai. Maksudnya meski sebegitu rapatnya mereka menutupi fakta sejarah nenek moyang dan leluhur mereka, namun Allah SWT sama sekali tidak pernah melalaikannya. Semua masih ada catatannya.
Lafazh ‘amma ta’malun (عمَّا تَعْمَلُونَ) maknanya : “”dari apapun yang kamu kerjakan”. Kamu yang dimaksud dalam konteks ayat ini adalah kelompok yahudi.
Kalau kita pinjam istilah di zaman sekarang, semua perilaku kelompok yahudi dari masa ke masa tidak pernah bisa dihilangkan begitu saja, masih ada jejak digitalnya.
Dalam konteks ini salah satu tehnik yang Allah ajarkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi kelompok yahudi yang susah diatur adalah membongkar berbagai fakta yang pernah dilakukan oleh para leluhur mereka. Dan salah satunya fakta bahwa leluhur mereka dahulu awalnya juga mengakui para nabi dan rasul serta masih berpegang teguh dengan agama yang relatif murni dari Allah SWT, yaitu agama Islam.
Namun di masa tertentu terjadilah penyimpangan dan pembelokan, sehingga satu faksi dari mereka kemudian mendirikan kerajaan yang meneruskan kerajaan Sulaiman dan menamakan kerajaan mereka dengan Yahudza, pinjam nama dari putera pertama Nabi Ya’qub alaihissalam.
Namun kerajaan itu runtuh dan berubah menjadi semacam isme atau ajaran, yang kemudian dikenal menjadi yahudisme. Isi ajarannya sebagian masih mirip dengan yang seharusnya, namun yang menyimpang juga banyal, misalnya menolak kenabian Ismail, Isa dan Muhammad SAW.