Intinya orang yang sabar adalah orang yang terkena musibah. Lafazh mushibah (مُصِيبَةٌ) itu menurut Al-Qurthubi adalah :
كُلُّ مَا يُؤْذِي الْمُؤْمِنَ وَيُصِيبُهُ
Segala hal yang menyakiti orang mukmin dan menimpanya.[1]
Dasarnya adalah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan banyak termuat dalam kitab-kitab tafsir :
رَوَى عِكْرِمَةُ أَنَّ مِصْبَاحَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ انْطَفَأَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ:«إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ راجِعُونَ» فَقِيلَ: أَمُصِيبَةٌ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ كُلُّ مَا آذَى الْمُؤْمِنِ فَهُوَ مُصِيبَةٌ
Ikrimah meriwayatkan bahwa lampu Rasullah SAW mati pada suatu malam. Nabi SAW mengucap,” Inna liLlahi wa inna ilaihi rajiun”. Lalu orang bertanya,”Apakah mati lampu itu mushibah?”. Beliau SAW menjawab,”Ya, segala yang menyakiti seorang mukmin adalah musibah”.[2]
Berdasarkan penyebabnya, musibah itu sendiri ada dua penyebabnya, yaitu musibah yang disebabkan oleh kesalahan manusia dan musibah yang tidak ada campur tangan manusia.
Kalau kita wujudkan dalam bentuk musibah bencana yang banyak menimpa umat manusia, ada musibah yang disebabkan karena kesalahan manusia, seperti kecelakaan kendaraan, kebakaran, tingginya angka kriminalitas, bahkan beberapa fenomena bencana alam seperti banjir atau tanah longsor pun ada yang dipengaruhi oleh tangan-tangan manusia.
Banjir itu banyak yang disebabkan manusia membangun rumah hunian di daerah berkumpulnya air, bahkan karena mereka sengaja membangun rumah di bantaran kali. Begitu juga tanah longsor itu banyak terjadi disebabkan karena terjadi penggundulan hutan oleh ulah tangan-tangan manusia.
Namun kalau bencana alam seperti gunung meletus, keluarnya gas beracun, gempa bumi tektonik atau vulkanik, badai yang mengamuk atau serangan gelombang tsunami yang menyapu pantai, semua itu tentunya terlepas dari kesalahan manusia. Semua itu merupakan murni taqdir dan ketentuan Allah.
Kalau pun mau dikatakan sebagai kesalahan manusia, karena mereka kurang mengantisipasi resiko-resiko yang seharusnya bisa dihindari. Meletusnya gunung berapi misalnya, di masa modern ini sebenarnya sudah bisa dimitigasi dan diberikan peringatan sebelumnya. Namun kalau gempa bumi tektonik, nampaknya sampai sekarang teknologi manusia masih belum bisa menjangkaunya. Gempa yang terjadi akibat pergeseran lempeng-lempeng benua itu bukan hal yang mudah untuk dimitigasi secara akurat dan rinci.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M), jilid 1 hal. 175
[2] Ats-Tsa’labi (w. 875 H), Jawahirul Hisan fi Tafsir Al-Quran, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats, Cet. 1, 1418 H), jilid 1 hal. 340