Kemenag RI 2019:Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu. Prof. Quraish Shihab:Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu dalam kedamaian (Islam) secara menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia (setan itu) musuh yang nyata bagimu. Prof. HAMKA:Wahai, orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turut jejak-jejak setan; sesungguhnya, dia bagi kamu adalah musuh yang nyata.
Kalau kita perhatikan baik-baik isi kandungan ayat ke-208 ini, nampak sudah tidak ada hubungannya dengan ayat sebelumnya.
Alasannya karena pembicaraan di ayat ini pindah tema dan objek pembicaraan, yaitu diarahkan kepada kaum muslimin yang asalnya dari pindahan agama Yahudi. Ayat ini tidak lagi bicara tentang orang munafik, juga tidak lagi bicara tentang shahabat yang hijrah dengan merelakan semua harta bendanya demi untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Ayat ke-208 ini dari sisi perintahnya adalah untuk melakukan konversi kepada syariat Islam secara total seratus persen, setelah sebelumnya masih dibenarkan mengkombinasikan risalah samawi sebelumnya dengan risalah samawi yang dibawa oleh Nabi SAW. Namun dengan turunnya ayat ini resmilah berlakunya syariat Islam dan syariat umat terdahulu sudah tidak lagi berlaku.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
Lafazh ya ayyuha (يَا أَيُّهَا) merupakan sapaan atau nida’. Fungsinya untuk menegaskan siapa yang menjadi lawan bicara, maka sebelum disampaikan apa yang menjadi isi pembicaraan, lawan bicaranya itu disapa terlebih dahulu. Untuk mudahnya penerjemahan dalam Bahasa Indonesia sering dituliskan menjadi : “wahai”.
Sedangkan lafazh alladzina (الَّذِينَ) dimaknai menjadi ‘yang’ atau lengkapnya : “orang-orang yang”. Dan lafazh aamanu (آمَنُوا) merupakan kata kerja yang bentuknya lampau alias fi’il madhi. Dan bentuk madhi dan mudhari’ (آمَنَ - يُؤْمِنً). Makna kata kerja itu adalah : “melakukan perbuatan iman”. Namun sudah jadi kebiasaan dalam penerjemahan disederhanakan menjadi : “orang-orang yang beriman”. Padahal kalau “orang yang beriman”, secara baku dalam bahasa Arab itu disebut mu’min (مُؤْمِن) dan bukan alladzina amanu.
Sapaan yang menjadi pembuka ayat ini menunjukkan siapa yang diajak bicara atau mukhathab oleh Allah SWT, yaitu orang-orang yang beriman, yang di masa turunnya ayat itu tidak lain adalah para shahabat nabi ridhwanullahi ‘alaihim.
Namun yang dimaksud bukan semua shahabat, melainkan hanya beberapa orang saja, yaitu mereka yang berasal dari pemeluk ahli kitab. Para ahli kitab yang sudah masuk Islam memang awalnya masih diperbolehkan menjalankan ‘dua agama’ secara bersamaan, toh dua agama itu sama-sama bersumber dari Allah SWT. Namun ayat ini kemudian menegaskan selesainya era agama terdahulu berganti dengan agama yang terbaru.
ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ
Lafazh udkhulu (ادْخُلُوا) asalnya dari (دَخَلَ - يَدْخُلُ) berupa fi’il amr yang merupakan perintah dan artinya : “masuklah kamu”. Sedangkan kata as-silmi (السِّلْمِ) terus terang saja malah menjadi titik perbedaan para ahli tafsir, dimana masing-masing punya argumentasi yang berbeda-beda dalam memaknai apa yang dimaksud dengan kata as-silm (السِّلْمِ) ini.
Perbedaannya diawali dari cara membacanya. Nafi’, Ibnu Katsir, Al-Kisa’i, dan Abu Ja’far membacanya dengan as-salmu (السَلْمُ). Selebihnya membacanya seperti biasa. Sedangkan makna yang dimaksud, ada beberapa pendapat yang berbeda :
1. Agama Islam
Kebanyakan ulama di antaranya Ibnu Abbas, Mujahid, Thawus, Adh-Dhahhak, Ikrimah, Qatadah, As-Suddi dan Ibnu Zaid dan lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan silmi (السِّلْمِ) di ayat ini adalah agama Islam. Sehingga perintah kepada orang-orang beriman agar masuk ke dalam agama Islam. Namun justru perintah ini malah jadi agak janggal, karena orang beriman itu memang orang Islam, lantas kenapa harus masuk Islam lagi?
Maka mereka pun mencoba menjelaskan dengan berbagai pendekatan, antara lain :
Ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafik, sehingga yang dimaksud dengan ‘orang-orang beriman’ disini maksudnya sekedar beriman di mulut saja, sedangkan dalam hati dan amalnya mereka belum lagi menjalankan. Maka perintahnya agar mereka juga masuk Islam dari sisi hati dan amal sekalian.
Ayat ini turun terkait dengan para shahabat yang sebelumnya memeluk agama samawi yaitu para ahli kitab. Tujuannya agar mereka segera mengakhiri dari menjalankan perintah di agama lama mereka dan hanya menjalankan perintah dari agama yang baru saja.
Ayat ini turun kepada ahli kitab yang justru belum menyatakan beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Maka kepada mereka diperintahkan untuk pindah agama menjadi muslim.
2. Perdamaian
Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya bukan agama Islam tetapi perdamaian. Dan konteksnya adalah ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah di tahun keenam hijriyah. Saat itu banyak shahabat yang belum bisa terima isi perjanjian dengan pihak musyrikin Mekkah, karena dirasa Perjanjian Hudaibiyah itu berat sebelah.
Salah satunya adalah Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu, dimana Beliau sempat mempertanyakan keputusan Nabi SAW dengan ungkapan :
Bukankah kita yang berada di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Bagaimana kita sampai berada pada kerendahan dalam agama seperti ini?
Padahal di balik ketimpangan itu Nabi SAW memandang posisi kaum muslimin jusru menang banyak. Setidaknya bisa menghindari dari korban kematian nyawa bila tidak ada perang. Selain itu juga bisa menghemat kekayaan dan harta, sebab perang itu sangat rakus biaya. Lagi pula kalau setiap hari perang terus, kapan penduduk Mekkah bisa dapat hidayah?
Dan hikmah yang kurang disadari dari Perjanjian Hudaibiyah bahwa Nabi SAW jadi tidak lagi memikirkan perang melulu, lalu malah lebih punya banyak kesempatan memikirkan dakwah yang sebenarnya menjadi core misi dakwah Beliau SAW. Sejak itu beliau mulai lebih bisa berkonsentrasi memikirkan penyebaran dakwah ke seluruh penjuru dunia. Urusannya tidak hanya Mekkah melulu.
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum menyebutkan bahwa setidaknya ada 8 naskah surat yang Beliau SAW kirimkan kepada para raja dan penguasa dunia yang berisi ajakan masuk Islam.
Dasarnya bahwa di ayat lain memang bermakna perdamaian, walaupun beda harakat menjadi salmi bukan silmi antara lain :
وإنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ
Bila mereka condong untuk berdamai. (QS. Al-Anfal : 61)
وتَدْعُوا إلى السَّلْمِ
Apabila mereka mengajak kepada perdamaian. (QS. Muhammad : 35)
3. Ketaatan
Sedangkan menurut pendapat ulama lain seperti Abul Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, maksudnya adalah ketaatan.
كَافَّةً
Lafazh kaaffah (كَافَّةً) maknanya secara keseluruhan. Namun para ulama berbeda lagi tentang maksud keseluruhan itu sendiri.
Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘keseluruhan’ adalah semua orang tanpa dibeda-bedakan, semua diperintahkan untuk masuk ke dalam agama Islam. Sehingga maksudnya menjadi seperti lafazh berikut :
ادْخُلُوا فِي الْإِسْلَامِ كُلُّكُمْ
Masuklah ke dalam agama Islam kamu semuanya
Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘semuanya’ adalah semua bagian dari agama Islam secara totalitas, tidak sepotong-sepotong atau sebagian dari sebagian. Seolah-olah perintahnya adalah : laksanakan semua perintah dan sisi serta kisi-kisi dalam agama Islam.
Pendapat kedua ini didukung oleh banyak mufassir seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Abul Aliyah, Ikrimah, Ar-Rabi’, As-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Adh-Dhahhak, Qatadah, dan lainnya.
Ikrimah mengatakan bahwa latar belakang turunnya ayat ini terkait dengan izin yang diajukan oleh para shahabat yang asalnya dari kalangan Yahudi namun sudah masuk Islam. Di antaranya Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Asad bin Ubaid dan beberapa orang lagi. Mereka meminta izin kepada Nabi SAW tetap menjalankan ritual hari Sabtu serta menjalankan perintah Taurat di malam hari.
Mungkin dalam pandangan kita hari ini tindakan mereka meminta izin menjalan dua agama sekaligus seperti mempermainkan agama sekaligus kesalahan fatal. Namun kita juga harus realistis bahwa pada awalnya memang syariat yang dibawa oleh Nabi SAW sendiri pun masih memerintahkan ikut syariat agama Yahudi.
Bukankah selama 13 tahun di Mekkah kaum muslimin selalu shalat menghadap ke Baitul Maqdis? Bukankah awalnya Nabi SAW juga berpuasa tanggal 10 Muharram, padahal itu puasa milik orang-orang Yahudi demi menghormati kemenangan Nabi Musa dari kejaran bala tentara Firaun?
Maka turunnya ayat ini menandai berakhirnya proses konversi dari syariat umat terdahulu kepada syariat terbaru yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Kalau dihitung-hitung proses konversinya lumayan panjang dan tidak seperti yang kita bayangkan selama ini.
Banyak dari kita yang berpikir bahwa begitu Nabi SAW menerima wahyu samawi pertama kali di usia 40 tahun dalam Gua Hira, maka saat itu juga syariat umat terdahulu langsung tidak berlaku. Ternyata butuh waktu belasan tahun sampai akhirnya turun ayat ini, sampai akhirnya Nabi SAW memproklamasikan status syariatnya yang sudah absolut dan mutlak, dimana semua pemeluk agama samawi sebelumnya harus sudah konversi secara 100 persen kepada agama Islam.
Demi Allah Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak lah ada seorang dari umat ini, baik yahudi atau nasrani, mendengar kabar kenabianku lalu mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang Aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.
وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
Lafazh wala-tattabi’u (وَلَا تَتَّبِعُوا) adalah fiil nahyi yang fungsinya melarang. Asalnya dari (اتّبَعَ - يَتَّبِعُ). Artinya : janganlah kamu mengikuti. Maksudnya janganlah mentaati ajakan dan bujuk rayu setan.
Sedangkan lafazh khthuwat (خُطُوَاتِ) adalah bentuk jamak dari (خُطْوة) yang artinya langkah-langkah.
Dan yang dimaksud dengan langkah-langkah setan adalah ajakan, bujukan serta rayuan yang setan lancarkan dalam rangka menyesatkan dan menjauhkan dari agama Islam. Ada juga yang memaknai langkah-langkah sebagai teknik yang dilakukan oleh setan dalam rangka mensukseskan tujuannya, yaitu step by step alias sedikit demi sedikit, tidak langsung mentargetkan hal yang besar.
Lafazh asy-syaithan (الشَّيْطَانِ) diterjemahkan menjadi setan yang sudah menjadi bahasa Indonesia baku. Akarnya dari kata syathana (شَطَنَ) yang berarti jauh, karena jauh dari kebaikan, kebenaran dan perintah Allah. Jadi, setiap yang membangkang kepada Allah swt disebut syaithan.
Di dalam Al-Qur'an diterangkan bahwa di antara tingkah laku keji setan adalah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga, menakut-nakuti akan kefakiran dan menyuruh melakukan kejahatan, menakut-nakuti agar tidak berbuat kebenaran, menipu manusia dengan kata-kata indah, mengelabui manusia sehingga kejahatan dan maksiat terlihat baik di matanya, menimbulkan kebencian dan permusuhan sesama manusia, membuat manusia lupa dari mengingat Allah, dan lain-lain
Namun apa yang dimaksud dengan larangan untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan dalam konteks ayat ini? Dan apa hubungannya dengan perintah untuk menjalankan risalah Islam secara kaffah?
Al-Qurtubi meriwayatkan pendapat dari Muqatil yang menceritakan bahwa Abdullah bin Salam yang dulunya memeluk Yahudi datang meminta izin kepada Nabi SAW agar diperbolehkan shalat dengan membaca kalamullah juga, namun maksudnya ayat-ayat yang ada di dalam kitab suci Taurat. Selain itu juga dimintakan izinnya untuk menjalankan sebagian dari ajaran yang ada di dalam Taurat, karena pada dasarnya juga merupakan perintah Allah SWT juga, setidaknya yang turun secara resmi kepada Nabi Musa alaihissalam.
إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Makna lafazh aduwwun (عَدُوٌّ) adalah musuh, sedangkan mubin (مُبِينٌ) maknanya nyata. Kita menemukan di dalam Al-Quran ungkapan bahwa setan itu merupakan musuh yang nyata bukan hanya sekali ini saja, tetapi tujuh ayat berbeda yang menyatakan hal tersebut, yaitu Al-Baqarah : 168 dan 208, Al-An’am : 142, Al-A’raf: 22, Yusuf : 5, Yasin : 60, dan Az-Zukhruf ayat 62.
Yang menjadi pertanyaan adalah : bukankah setan itu sendiri sepenuhnya makhluk ghaib dan kasat mata tidak bisa dilihat?. Lantas kenapa penggalan ayat ini justru mengatakan setan itu musuh yang nyata?
Jawabnya memang setan itu tidak tampak di mata, tetapi korban-korbannya nyata dan bisa ditelusuri. Pertama dan nomor satu adalah Nabi Adam alaihissalam, setan berhasil menggodanya untuk memakan buah yang sebenarnya terlarang. Namun tipu daya setan mampu membuat seorang Nabi Adam harus tertipu.