Kemenag RI 2019:Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut ) kepadamu yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari apa yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun yang dibawa oleh para malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagimu jika kamu orang-orang mukmin. Prof. Quraish Shihab:Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda kekuasaan (kerajaannya), ialah datang-nya Tabut kepada kamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan Pemelihara kamu dan sisa dari apa yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun. (Tabut itu) dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah swt.) bagi kamu, jika kamu orang-orang mukmin. Prof. HAMKA:Dan berkata kepada mereka nabi mereka, "Sesungguhnya, tanda kerajaannya ialah bahwa akan datang kepada kamu tabut itu. Di dalamnya ada sesuatu yang menenteramkan hati dari Tuhan kamu, dan sisa dari apa yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul akan dia oleh Malaikat." Sesungguhnya, pada yang demikian itu adalah tanda bagi kamu, jika sungguh kamu orang yang beriman.
Ayat ke-248 ini merupakan lanjutan dari ayat ke-247 sebelumnya. Kalau di ayat sebelumnya Nabi Samuel memberi kabar bahwa Allah SWT telah memilihkan seorang raja yaitu Thalut untuk jadi pemimpin Bani Israil, maka di ayat ke-248 ini Nabi Samuel menguatkan kebenaran pilihan Thalut sebagai raja untuk Bani Israil dengan bukti-bukti yang seperti mukjizat dengan berbagai keajaibannya.
Dan bukti atau tanda yang dimaksud adalah turunnya Tabut, sebuah peti kotak yang punya nilai kemuliaan yang tinggi di tengah kalangan Bani Israil. Di dalamnya ada benda-benda yang punya nilai historis, khususnya bagi Bani Israil.
Apalagi dikaitkan dengan peristiwa turunnya kotak peti itu dengan diiringi oleh para malaikat yang turun dari langit, maka semakin sempurna saja kesakralan peristiwa itu.
Dan semua itu sebagai tanda kebenaran diangkatnya raja Thalut di tengah Bani Israil. Seakan itu menjadi ritual penobatannya menjadi raja bagi Bani Israil.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ
Lafah wa qaala lahum nabiyyuhum (وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ) artinya : “dan nabi mereka berkata kepada mereka”.
Yang berkata adalah Nabi Samuel dalam rangka menjelaskan bukti-bukti bahwa Allah SWT memang benar-benar telah memilih Thalut sebagai raja bagi Bani Israil.
Yang diajak bicara adalah Bani Israil yang sebelumnya masih mempertanyakan kenapa Allah SWT memilih Thalut jadi raja. Padahal secara ‘urf dan konvensi yang dianut umat manusia di masa itu, bahkan sampai hari ini, seorang raja itu setidaknya harus punya darah biru. Pantas-pantasnya dia anak keturunan dari para pemimpin dari kaumnya. Kalau pun bukan anak langsung dari seorang raja, namun kalau diurut-urut ke atas, masih ada titisan darah para penguasa.
Masalahnya Thalut itu tidak berasal dari jalur klan para raja. Dia adalah keturunan dari Bunyamin, anak bungsu Nabi Ya’qub yang tidak punya kualifikasi sebagai raja. Bahkan juga bukan dari jalur yang punya kualifikasi sebagai nabi.
Semua dasar penolakan mereka itu kemudian diijawab oleh Nabi Samuel bahwa Thalut layak jadi raja karena dia punya kelebihan dalam hal luasnya ilmu yang dimilikinya, juga karena dia punya fisik yang lebih dari yang lain.
Boleh jadi mereka tetap tidak bisa menerima alasan yang dikemukakan oleh Nabi Samuel, sehingga akhirnya Nabi Samuel menjawab bahwa Thalut jadi raja itu 100% adalah kemauan Allah SWT. Ini adalah tauqif samawi (تَوْقِيف سَمَاوِي), sesuatu yang langsung diatur dari atas langit. Kita sebagai penghuni bumi hanya tinggal taat, tunduk dan patuh saja.
Nampaknya teknik argumentasi yang digunakan oleh Nabi Samuel justru lebih efektif. Ketimbang pakai logika nalar akal sehat, ternyata Bani Israil malah lebih mudah ditaklukkan lewat jalur ‘wangsit’ dari langit.
إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ
Lafazh (آيَة) secara umum punya banyak makna. Bisa bermakna ayat Al-Quran dalam arti kata dan kalimat, namun bisa juga bermakna tanda.
Dalam hal ini maknanya adalah tanda, yang wujudnya dalam ekspektasi mereka berupa kejadian-kejadian yang luar biasa, sebagaimana mukizat yang terjadi pada Nabi Musa alaihissalam. Misalnya tongkat yang ada di tangannya bisa berubah jadi ular, atau bila dipukulkan ke atas batu, maka akan mengalirkan 12 mata air, atau bila dipukulkan ke laut maka laut itu akan membelah. Dan masih banyak lagi.
Padahal dibandingkan dengan mukjizat Nabi Musa yang beragam dan unik-unik itu, Nabi Muhammad SAW termasuk agak irit. Sosok Beliau SAW lebih dekat sebagai manusia biasa, tanpa banyak atribut yang unik. Sebab Beliau SAW memang amat menonjolkan aspek logika dan rasionalitas kepada masyarakatnya.
Padahal kalau dipikir-pikir, ketika hijrah ke Madinah kenapa Nabi SAW tidak minta fasilitas berupa Burok yang pernah mengantarkannya terbang ke Masjid Al-Aqsha bahkan sampai ke langit tujuh.
Lafazh mulkihi (مُلْكِهِ) dalam terjemahan diartikan menjadi : kerajaannya. Padahal ini penerjemahan yang agak rancu. Sebab yang namanya kerajaan itu sebuah institusi bukan personal. Kerajaan itu dalam bahasa Arab disebut dengan istilah mamlakah (مَمْلَكَة). Sedangkan makna mulki (مُلْكِ) tentunya bukan institusi kerajaan, melainkan posisi seseorang sebagai raja.
Maka penggalan ayat ini maknanya : “bahwa tanda Thalut sebagai raja adalah …”
أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ
Lafazh ya’tiyakum (يَأْتِيَكُمُ) artinya : mendatangi kamu, sedangkan lafazh tabut (التَّابُوتُ) diartikan menjadi tabut saja. Baik Kemenag RI, Quraish Shihab maupun Buya HAMKA sepakat tidak menerjemahkannya, sebab tidak ada terjemahan dan padanan kata yang tepat.
Hanya saja kalau kita perhatikan, dalam terjemahan Kemenang, kata tabut itu diberi catatan kaki bahwa tabut adalah peti tempat menyimpan Taurat. Lalu bagaimana penjelasan para mufassir terkait Tabut, ternyata mereka berbeda-beda dalam memberi keterangan, menjadi beberapa versi.
Buya HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan apa yang dimaksud dengan Tabut sebagai berikut[1] :
Tabut atau peti pusaka peninggalan Nabi Musa tempat meletakkan naskah perjanjian Bani lsrail dengan Allah, Di dalamnya ada sesuatu yang menenteramkan hati dari Tuhan kamu. Sebab dianya berisi naskah-naskah asli pusaka Musa, yang kamu kenangkan itu tentu hatimu jadi tenteram dan semangatmu akan timbul untuk berjuang, mengingat jasa-jasa Musa kepada kamu dahulunya.
Dan sisa dari apa yang ditinggalkan oleh keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul akan dia oleh Malaikat. Demikianlah Nabi Samuel menerangkan tentang kerajaan Thalut itu.
Prof. Dr. Quraish Shihab memberikan penjelasan tentang Tabut itu di dalam Tafsir Al-Mishbah sebagai berikut[2] :
Masyarakat Bani Isra'il ketika itu memiliki apa yang dinamai Tabut, yaitu satu peti yang selalu menyertai mereka setiap berperang. Peti itu dibawa oleh sekelompok orang tertentu mendahului pasukan. Tetapi dalam satu peperangan, peti itu dirampas oleh musuh mereka.
Nah, di sini Nabi mereka berkata bahwa tanda kekuasaan atau kerajaannya ialah kedatangan Tabut kepada kamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kamu, yakni melahirkan sakinah, yaitu ketenangan yang turun dari Allah swt, yakni bukan hanya petinya, tetapi sekaligus dengan isi peti itu, yaitu dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun.
Konon isinya adalah lauh, yakni papan yang berisikan tulisan sepuluh ayat (The Ten Commandmens), juga tongkat Nabi Musa as. dan beberapa pakaian leluhur mereka.
Untuk lebih meyakinkan mereka, ayat ini melanjutkan bahwa Tabut itu dibawa oleh Malaikat yang menurut sementara ulama mereka melihatnya turun antara bumi dan langit, kemudian meletakkan di tangan Thalut.
Tafsir Kemenag RI
Sedangkan versi Kemenag RI sedikit berbeda, rinciannya sebagai berikut :
Tabut adalah peti pusaka yang Allah SWT berikan kepada Bani Israil. Di dalam Tabut itu disimpan beberapa benda sisa peninggalan keluarga Musa dan Harun seperti tongkat Nabi Musa, sandal, serban Nabi Harun, dan beberapa potong pecahan dari piring batu yang dibawa Musa dari Gunung Sinai.
Jika Bani Israil mengadakan peperangan, maka Tabut itu selalu dibawa mereka bersama tentara karena dirasakan oleh mereka bahwa Tabut itu dapat menimbulkan semangat dan keberanian dalam peperangan.
Dalam suatu peperangan antara Bani Israil dan orang-orang Amaliqah, Bani Israil menderita kekalahan yang mengakibatkan Tabut dirampas dan dibawa lari oleh musuh.
Setelah Tabut itu berada beberapa lama di tangan orang-orang Amaliqah, tiba-tiba pada suatu masa Amaliqah itu ditimpa bermacam-macam malapetaka dan bencana seperti wabah tikus yang merusak tanam-tanaman, dan berjangkitnya penyakit sehingga mereka merasa sial dengan adanya Tabut di tengah-tengah mereka.
Mereka beranggapan bahwa malapetaka itu datangnya dari Tuhan Bani Israil yang membalas dendam kepada mereka, lalu mereka mengembalikan Tabut itu kepada Bani Israil dengan jalan menempatkannya dalam sebuah pedati yang ditarik oleh dua ekor sapi.
Ternyata pedati itu dikemudikan oleh malaikat sehingga kembali lagi kepada Bani Israil. Kedatangan Tabut itu tepat sekali waktunya dengan terpilihnya Talut sebagai raja. Dengan kembalinya Tabut itu, barulah Bani Israil tunduk dan menerima Talut sebagai raja, sebab yang demikian itu adalah bukti dari Allah bagi orang-orang yang beriman.
Dalam literatur lain, kita temukan juga informasi terkait Tabut ini yang dikenal juga dengan sebutan The Ark of Covenant atau Tabut Perjanjian. Menurut literatur Ibrani, Tabut sendiri adalah sebuah peti yang dibuat oleh pengrajin dari Bezalel. Bentuknya terbuat dari kayu akasia dan dilapisi oleh emas. Memiliki panjang 1,5 meter, lebar 0,7 meter dan tinggi juga 0,7 meter.
Beberapa litratur menyebutkan konon Tabut itu berisi Sepuluh Perintah Tuhan (The Ten Commandement) yang terukir pada dua loh batu. Konon kesepuluh perintah itu merupakan dasar perjanjian Allah dengan anak-anak Israel.
Dalam mitos-mitos bangsa Yahudi, konon Bangsa Israel selalu membawa Tabut sepanjang mereka mengembara di padang gurun. Tabut ini mereka yakini memiliki kekuatan misterius terhadap musuh-musuh Israel. Menurut Alkitab, tembok-tembok Yerikho pun runtuh Ketika orang-orang Yahudi berjalan berkeliling dengan lembaran yang ada dalam Tabut perjanjian.
Di masa kenabian Sulaiman, tabut itu kemudian disimpan di ruang khusus dalam Bait Suci yang disebut Kodesh Kodashim. Tidak seorang pun diizinkan memasukinya kecuali Imam-imam tinggi Yahudi. Mereka pun hanya diperbolehkan masuk sekali dalam setahun yakni dalam momen Yom Kippur, yakni hari yang dianggap paling suci dalam agama Yahudi. Perayaan ini jatuh pada tanggal 10 Tisyri dalam kalender Yahudi.
Namun dalam catatan sejarah, tahun 586 SM Kerajaan Yehuda diserbu oleh Kekaisaran Babilonia dibawah Nebukadnezard, dan kuil pun dihancurkan termasuk di dalamnya Tabut Perjanjian. Hingga kini, beribu tahu pasca kejadian itu, Zionis Israel pun berusaha keras untuk mencari Tabut Perjanjian yang hilang. Konon menurut mereka, Tabut tersebut dipercaya memiliki kekuatan ghaib yang akan memberikan sentuhan sihir yang luar biasa kepada siapa pun yang menguasainya. Mereka pun juga digerakkan oleh faktor teologis dimana mereka meyakini bahwa Tabut adalah Mukjizat yang diberikan Tuhan kepada bangsa Yahudi.
[1] HAMKA, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta, Gema Insani, Cet. 5, 1441 H - 2020 M), jilid 1 hal. 484-485
[2] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017), jilid 1 hal. 645
فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
Lafazh sakinah (سَكِينَةٌ) secara bahasa artinya sesuatu yang diam, tenang dan menentramkan. Sedangkan min rabbikum (مِنْ رَبِّكُمْ) artinya dari tuhanmu.
Namun para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan sakinah. Al-Mawardi menyebutkan rincian perbedaan pendapat ulama sebagai berikut[1] :
Pertama : Sakinah berupa angin lembut yang memiliki wajah seperti wajah manusia, ini adalah perkataan Ali, semoga Allah meridainya.
Kedua : Sakinah berupa cawan emas dari Surga yang digunakan untuk mencuci hati para nabi, ini adalah perkataan Ibnu Abbas dan As-Suddi.
Ketiga: Sakinah itu adalah roh dari Allah Yang Maha Tinggi yang berbicara, ini adalah perkataan Wahb ibn Munabbih.
Keempat: Sakinah itu adalah apa yang dikenal dari ayat-ayat Allah sehingga orang-orang mencarinya, ini adalah perkataan Atha ibn Abi Rabah.
Kelima: Sakinah adalah rahmat, ini adalah perkataan Ar-Rabi' ibn Anas.
Keenam: Sakinah itu adalah kemuliaan, ini adalah perkataan Qatadah.
Lafazh baqiyah (بَقِيَّةٌ) artinya secara bahasa adalah : “apa yang tersisa”, maksudnya benda-benda peninggalan atau pusaka yang dulunya jadi milik sesoorang.
Lafazh mimma taraka (مِمَّا تَرَكَ) artinya : “dari apa yang ditinggalkan”, sedang kata alu (آلُ) artinya : keluarga, atau lebih tepatnya anak keturunan. Maka kalau disebut alu musa (آلُ مُوسَىٰ) artinya keluarga Musa, sedangkan alu haruna (وَآلُ هَارُونَ) artinya keluarga Harun.
Namun benda apakah yang dimaksud dengan peninggalan tersebut, para ulama berbeda pendapat, ringkasannya dituliskan oleh Al-Mawardi sebagai berikut[1] :
Pertama : sisa-sisa itu adalah tongkat Musa dan pecahan dari loh-loh (batu) yang diturunkan. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas.
Kedua : ilmu dan Taurat. Ini adalah pendapat Atha.
Ketiga : jihad di jalan Allah. Ini adalah pendapat Adh-Dhahhak.
Keempat : Taurat dan sepotong pakaian Musa. Ini adalah pendapat Al-Hasan.
------
Tentang keluarga Nabi Musa, Al-Quran memang tidak banyak menceritakan, kecuali Beliau menikah dengan salah satu puteri Nabi Syu’aib.
Berkatalah dia (Syu´aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". (QS. Al-Qashash : 27)
Dalam beberapa riwayat hadis, namanya disebutkan sebagai Safura atau Shafura. Nabi Musa menikah dengan Safura setelah melarikan diri dari Mesir dan tiba di Madyan. Mereka memiliki anak-anak bersama yaitu Gershom dan Eliezer.
Dalam beberapa literatur yang lain, juga disebutkan bahwa Nabi Musa kemudian menikah lagi dengan seorang wanita Cushite.
Nabi Harun dan Keluarganya
Selain itu, Nabi Musa juga memiliki seorang saudara laki-laki bernama Harun, yang juga merupakan seorang nabi. Nabi Harun memegang peran penting dalam peristiwa-peristiwa sejarah seperti perintah Allah untuk membuat perhiasan emas (tongkat emas) yang digunakan dalam menghadapi Fir'aun, serta peristiwa pembuatan anak sapi emas saat Nabi Musa pergi ke gunung Sinai untuk menerima wahyu.
Nabi Harun juga diangkat oleh Allah sebagai pemimpin sementara Bani Israel saat Nabi Musa pergi ke atas gunung untuk menerima Taurat.
Nabi Harun juga dikenal sebagai seorang pendeta dan imam, dan Allah memberinya tanggung jawab untuk mendidik Bani Israel dan memandu mereka dalam ibadah kepada Allah.
Nabi Harun memiliki beberapa anggota keluarga yang juga memiliki peran dalam kisah-kisah keagamaan. Salah satunya adalah istrinya yang disebutkan dalam Al-Quran sebagai "putri Ilyas" atau "putri Ishaq," yang beberapa sumber mengidentifikasinya sebagai Umm Habibah atau Umm Rukh.
Nabi Harun juga memiliki dua anak laki-laki, yaitu Nadab dan Abihu.
Lafazh tahmilu-hu (تَحْمِلُهُ) artinya : membawanya, lafazh malaikah (الْمَلَائِكَةُ) artinya para malaikat. Sebenarnya kalau disebut dalam bahasa Arab, maka lafazh malaikah (الْمَلَائِكَةُ) itu bentuk jamak dan bukan hanya satu. Kalau satu disebut dengan malak (مَلَك) saja.
Al-Hasan meriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan tabut itu dibawa oleh para malaikat bahwa mereka Bani Israil melihat peristiwa turunnya Tabut itu dari langit dengan dibawa oleh sekian banyak para malaikat.
Sebagian ulama mengatakan bahwa meski dibawa turun oleh para malaikat, namun wujud fisik malaikatnya tidak nampak di mata mereka, sehingga menurut mereka yang terlihat seperti kotak peti yang turun dari langit.
Namun sebagian yang lain justru mengatakan sebaliknya, bahwa Bani Israil melihat keajaiban demi keajaiban, sampai mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana barisan para malaikat turun dari atas langit sampai menggotong peti kotak bernama Tabut.
Tentu peristiwa turunnya Tabut kepada mereka dengan cara yang eksotik menambah rasa percaya diri Bani Israil untuk berperang di jalan Allah SWT, sekaligus menambah rasa percaya mereka kepada Thalut yang dinobatkan menjadi raja Bani Israil.
Lafazh inna fi dzalika (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ) artinya : “sesungguhnya pada yang demikian itu”, maksudnya pada tabut dan segala proses kedatangannya. Lafazh la aayatan lakum (لَآيَةً لَكُمْ) artinya : “benar-benar menjadi tanda kekuasaan Allah bagi kalian”.
Lafazh in-kuntum (إِنْ كُنْتُمْ) maknanya : apabila kalian, sedangkan lafazh mu’minin (مُؤْمِنِينَ) maknanya kamu beriman. Ungkapan kalau kamu beriman disini justru merupakan penegasan bahwa orang-orang yahudi itu memang tidak beriman, dalam hal ini mereka tidak layak digolongkan sebagai orang mukmin.
Mereka resmi digolongkan sebagai orang kafir, walaupun dalam beberapa hal percaya kepada salah satu kitab suci yaitu Taurat. Tetapi karena tidak mau percaya juga dengan kitab suci yang turun sesudahnya, yaitu Al-Quran, padahal mereka hidup di masa turunnya Al-Quran, maka status keimanan mereka otomatis tanggal dan lepas begitu saja.
Apalagi ditambah dengan dosa-dosa mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad SAW, malah melakukan banyak ulah dan tingkah yang bikin repot, berkihanat, membocorkan rahasia negara kepada pihak lawan, menghimpun kekuatan lawan untuk bersatu memerangi kaum muslim dan banyak lagi pe-er pe-er yang bikin pusing Nabi SAW.
Maka kalau sampai orang-orang yahudi di masa kenabian itu akhirnya diperangi, diusir bahkan dieksekusi mati, maka hal itu sah-sah saja. Sebab mereka terhitung sebagai orang kafir, sebagaimana musyrikin Arab yang menyembah berhala dan tidak percaya kitab suci samawi.
Namun memang kisah Yahudi di masa kenabian itu sangat ironis, betul-betul plot-twist. Padahal mereka yang mengajarkan penduduk Madinah tentang kenabian Muhammad SAW, namun di bagian akhir, justru mereka yang terusir dari Madinah oleh pasukan bentukan Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu amat wajar kalau dalam Al-Quran kita temukan banyak sekali drama-drama seputar urusan orang-orang Yahudi. Karena mereka memang biang kerok dan sumber masalah, tetapi sekaligus juga mereka merupakan pelopor keimanan kepada Nabi Muhammad SAW dan menyatakan diri sebagai pihak yang mendukung, walaupun ujung-ujungnya jadi pengkhianat, musuh dalam selimut, menohok kawan seiringin, menggunting dalam lipatan dan menyalip di tikungan.
Ibnu Abi Hatim (w. 327 H) dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim menukilkan pendapat dari An-Nadhr bin Syumail yang mengatakan bahwa makna in-kuntummu’minin dalam ayat ini bukan apabila kamu beriman, melainkan : apabila merasa aman (آمنين). Maksudnya apabila kamu merasa aman dari adzab api neraka.
-----
Kalau kita membayangkan berbagai macam jenis mukjizat di masa para nabi terdahulu, rasanya seperti kita hidup di negeri dongeng. Keajaiban demi keajaiban begitu banyak Allah SWT tampakkan di hadapan mereka.
Terbayang bagaimana cara mereka mendapatkan sosok raja, ternyata tidak lewat pemilihan tetapi lewat penunjukan langsung oleh Allah SWT. Dan tanda bukti penunjukannya lewat peristiwa ajaib juga yaitu turunnya peti kotak yang menjadi semacam peti wasiat keberuntungan Bani Israil di masa itu.
Maka kalau sampai masih tidak mau beriman dan taat juga, berarti Bani Israil itu memang benar-benar keterlaluan. Sudah diperlihatkan berbagai macam atraksi aneh-aneh, tapi masih saja membandel.
Dan fenomena semacam ini nampaknya 180 derajat berbeda dengan umat Nabi Muhammad SAW. Kita tidak terlalu banyak mendengar kisah-kisah ajaib yang melingkupi Nabi SAW. Bukan tidak ada, tetapi tidak terlalu mendominasi.
Contohnya bagaimana peperangan di masa kenabian Muhammad SAW itu benar-benar terasa sangat nyata, bukan hanya sekedar pentas kejadian-kejadian aneh. Bahkan dalam Perang Uhud di tahun ketiga hijriyah, Nabi Muhammad SAW benar-benar luka di sekujur tubuhnya, sampai pingsan dan tidak sadarkan diri.
Meski Beliau SAW punya tongkat, namun tidak pernah tongkatnya berubah jadi ular, juga tidak pernah digunakan untuk membelah lautan jadi jalanan.
Terlalu banyak momentum di masa kenabian Muhammad SAW yang penyelesaiannya lewat logika, ilmu dan sains. Sedangkan penyelesaian yang lewat mukjizat tidak terlalu dominan. Walaupun tetap ada dan nyata. Misalnya ketika Allah SWT menurunkan seribu, tiga ribu bahkan lima ribu malaikat untuk membantu beberapa peperangan.
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. Al-Anfal : 9)
(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" (QS. Ali Imran : 124)
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran : 125)