Kemenag RI 2019:Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu. ) Adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhannya. Akan tetapi, orang-orang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang disesatkan-Nya. ) Dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu, selain orang-orang fasik, ) Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan (berupa) kutu atau yang melebihinya (kecil atau besar). Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui (dengan pasti) bahwasanya (perumpamaan itu) adalah haq (kebenaran yang sempurna) dari Tuhan Pemelihara mereka, tetapi orang-orang yang kafir mengatakan: "Apakah yang dikehendaki Allah dengan ini sebagai satu perumpamaan?” Dengannya (perumpamaan itu) banyak (orang) yang disesatkan-Nya (karena tidak mau mengerti dan dengannya (pula) banyak (orang) yang diberi-Nya petunjuk (berdasarkan kemauan dan kecenderungan masing-masing). Dan tidak ada yang disesatkan-Nya (dengan perumpamaan itu) kecuali orang-orang fasik (keluar dari ketaatan kepada Allah swt.). Prof. HAMKA:Sesungguhnya, Allah tidaklah malu membuat perumpamaan apa saja; nyamuk atau yang lebih kecil darinya. Maka, adapun orang-orang yang beriman mengetahui bahwasanya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan, adapun orang-orang yang kafir, berkatalah mereka, "Apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan begini?" Tersesatlah dengan sebabnya kebanyakan manusia dan mendapat petunjuk dengan sebabnya kebanyakan. Dan, tidaklah akan tersesat dengan dia, melainkan orang-orang yang fasik.
Kalau kita membaca ayat ke-26 ini tanpa membaca sebab nuzulnya, tentu kita akan dibuat bingung. Kenapa tiba-tiba saja Allah SWT seperti mengalihkan pembicaraan ke tema yang sama sekali baru, namun langsung tiba-tiba seperti lagi menjawab suatu masalah.
Padahal sebelumnya lagi asyik membicarakan surga dengan segala bentuk kenikmatannya, lantas ada apa tiba-tiba bicara tentang Allah SWT tidak merasa malu untuk membuat perumpamaan seperti nyamuk dan yang di atasnya.
Jawabannya bisa dengan mudah kita temukan di dalam kitab-kitab tafsir, yaitu ternyata ketika membicarakan sifat orang munafik pada ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT banyak membuat banyak sekali tamtsil atau perumpamaan. Oleh orang munafik dan kafir, semua perumpamaan itu justru dijadikan bahan ejekan dan hinaan.
Mereka mempertanyakan kenapa Al-Quran yang katanya kitab suci, malah membicarakan hal-hal yang tidak berguna, remeh dan printilan. Menurut mereka tidak pantas kitab suci yang merupakan kalam ilahi turun dari langit di kawal oleh para malaikat malah bicara hal-hal yang remeh dan tidak berguna.
Maka Allah SWT di dalam ayat ke-26 ini menjawab tuduhan dan hinaan mereka.
Latar Belakang
Latar belakang ayat ini turun adalah untuk menjawab hinaan dari orang-orang kafir yang mengejek Nabi Muhammad SAW dan Al-Quran, karena membuat perumpamaan yang dianggap rendah dan hina. Diantaranya ketika Allah SWT membuat perumpamaan tentang lemahnya hujjah orang kafir yang diibaratkan seperti lemahnya sarang laba-laba.
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut : 41)
Selain itu Allah SWT juga pernah membuat perumpamaan dengan lalat untuk kasus orang yang kafir yang menentang Allah SWT, tidak mampu menciptakan seekor lalat pun. Dan lalat itu kalau sudah merampas makanan dari seseorang tidak bisa direbut kembali.
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. (QS. Al-Hajj : 73)
Dua perumpamaan dari Allah SWT itulah yang mereka hinakan, dengan mengatakan tidak layak Al-Quran yang katanya kitab suci yang mulia turun dari langit, malah mengurusi hewan kecil macam laba-laba dan lalat.
Namun dengan ayat ke-26 ini Allah SWT menjawab bahwa membuat perumpamaan dengan nyamuk pun tidak jadi masalah dan tidak harus membuat Allah SWT merasa malu dengan perumpamaan yang dibuatnya.
أن يَضْرِبَ مَثَلًا
Lafazh yadhribu (يضرب) itu fi'il mudhari', bentuk fi'il madhinya adalah dharaba (ضرب). Dalam pelajaran bahasa Arab dasar, dharaba - yadhribu biasanya diterjemahkan sebagai memukul.
Namun perlu diketahui bahwa suatu kata kadang punya beberapa makna yang berbeda. Dalam konteks ayat ini, makna dharaba tentu saja bukan memukul, karena lafazh dharaba dikaitkan dengan lafazh matsal (مثل) yang bermakna perumpamaan, sehingga maknanya berubah menjadi : membuat perumpamaan.
Dalam hal ini Allah SWT tidak merasa malu untuk memberi perumpamaan berupa seekor nyamuk.
مَا بَعُوضَةً
Lafazh ba'udah (بغوضة) oleh kebanyakan mufassir dimaknai dengan nyamuk, sebagai hewan yang meskipun kecil, namun bagi Allah tidak ada masalah untuk dijadikan perumpamaan. Sementar para penolak kebenaran Al-Quran sebelumnya menuduh bahwa perumpamaan yang Allah berikan itu sangat memalukan dan tidak layak untuk sebuah kitab suci.
Beda Pendapat Tentang Nyamuk
Umumnya para mufassir memaknai ba'udhah dengan nyamuk, termasuk dalam terjemahan Al-Quran Kementerian Agama. Namun pandangan yang agak sedikit berbeda adalah apa yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab yang cenderung memaknai ba'udah bukan sebagai nyamuk tetapi kutu.
Dalam karya Beliau : 'Al-Quran dan Maknanya' ataupun dalam Tafsir Al-Mishbah, beliau mengatakan bahwa ba'udbah dalam Tafsir Jalalain diartikan sebagai bentuk tunggal dari kata ba'udh (بعوض) dimaknai sebagai kutu dalam ukuran yang teramat kecil. Dalam Hasyiat al-Jamal ‘ala al-Jalalain dijelas bahwa binatang itu yang sangat kecil, bisa menggigit dengan menyakitkan dan berbau sangat busuk (semacam bangsat).
Dalam tafsir al-Khazin dikatakan ba'udhah itu adalah kutu yang ukurannya sangat kecil, berkaki enam dan bersayap empat, berekor dan berbelalai. Namun begitu, belalainya dapat menembus kulit gajah, kerbau dan unta, serta menggigitnya sampai-sampai unta dapat mati akibat gigitannya itu.
Sementara kebanyakan mufassir memang memaknainya sebagai nyamuk. Buya HAMKA dalam tafsirnya kemudian menghubungkan perumpaman berupa seekor nyamuk ini dengan kedahsyatan bencana yang diakibatkan dengan nyamuk. Pesannya adalah jangan sesekali Anda menyepelekan perkara seekor nyamuk, karena nyamuk itu bisa mengakibatkan bencana.
Beliau bercerita bagaimana penduduk Raorao kampung halamannya pergi menungsi ke Malaya akibat penyakit mematikan yang disebabkan wabah nyamuk malaria. Selain nyamuk malaria, ada juga bencana akibat nyamuk penyakit kuning dan nyamuk yang menyebabkan penyakit tidur di Afrika. Beliau menyimpulkan bahwa bahaya nyamuk lebih besar dari bahaya singa dan harimau.
Tafsir Kementerian Agama RI juga memaknainya sebagai nyamuk, lalu menjelaskan perihal nyamuk dengan cukup panjang lebar.
Keunikan Nyamuk Dalam Penemuan Biologi Modern
1. Kecil Tapi Mematikan
Dari segi ukuran, nyamuk memang tergolong hewan yang sangat kecil, meski belum termasuk hewan mikroskopik seperti bakteri, amuba atau virus. Nyamuk masih dalam kategori hewan yang kasat mata. Berat nyamuk hanya 2 hingga 2,5 mg dan mampu terbang antara 1,5 hingga 2,5 km/jam. Umumnya tidak mampu terbang di atas 25 kaki. Ini adalah alasan utama mengapa nyamuk dianggap sebagai penerbang yang lemah di kategori serangga terbang.
Salah satu cara terbaik untuk menghilangkan nyamuk di rumah adalah dengan menyalakan kipas angin dengan kecepatan tinggi di dalam ruangan. Angin kencang yang dihembuskan oleh kipas angin menjadikan nyamuk kesulitan untuk mendarat dengan aman di tubuh manusia yang terbuka.
Meski nyamuk termasuk hewan yang kecil dan kelihatannya remeh, data statistik menunjukkan bahwa nyamuk termasuk hewan paling mematikan di dunia, bahkan jika dibandingkan dengan binatang lain seperti hiu atau ular. Serangga kecil ini diketahui membunuh lebih dari 700.000 orang setiap tahunnya dan merupakan penyebab utama penyakit menular di seluruh dunia, termasuk Dengue, Zika dan Malaria.
2. Nyamuk Punya Banyak Spisies
Nyamuk boleh dibilang hewan paling populer di dunia, karena terdapat dimana-mana di seluruh dunia. Nyamuk dapat ditemukan dimana saja di dekat tempat manusia tinggal, baik itu di daerah tropis maupun subtropis, kecuali di daerah terdingin di dunia seperti Antartika.
Menurut data dari American Mosquito Control Association (AMCA), terdapat lebih dari 3,000 spesies nyamuk yang berbeda ditemukan di seluruh dunia, dan sekitar 457 di antaranya dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia.
Meskipun beberapa diantaranya diketahui tidak menggigit, namun setidaknya ada 3 spesies nyamuk yang dikenal sebagai vektor utama penyakit berbahaya di Indonesia, termasuk Aedes, Anopheles dan Culex.
3. Nyamuk Tidak Menggigit
Dalam ilmu biologi modern ternyata ditemukan banyak fakta terbaru yang tidak terduga sebelumnya. Salah satunya banyak mengira nyamuk itu menggigit kulit manusia, padahal nyamuk sama sekali tidak punya gigi. Yang dilakukan oleh nyamuk bukan menggigit tetapi merobek kulit dan menghisap darah kita.
Sehingga yang lebih tepat kita sebut darah manusia dan bukan darah nyamuk, sebab nyamuk sendiri tidak punya darah. Nyamuk adalah hewan yang tidak punya aliran darah seperti kita manusia. Namun itu hanya permainan bahasa.
Namun yang lebih serius adalah ditemukan fakta bahwa yang makanan nyamuk itu bukan darah manusia. Kalau pun nyamuk menghisap darah, tidak ada kaitannya dengan makanan. Karena yang menghisap darah itu hanya jenis nyamuk betina saja, sedangkan nyamum jantan tidak menghisap darah.
Penjelasannya bahwa nyamuk betina ketika mau bereproduksi memerlukan protein untuk pembentukan telur dan oleh karena diet nyamuk terdiri dari madu dan jus buah, yang tidak mengandung protein, kebanyakan nyamuk betina perlu mengisap darah untuk mendapatkan protein yang diperlukan.
Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk mengisap darah. Maka nyamuk jantan tidak bisa menghisap darah.
Bagaimana Bisa Terjadi Rasa Gatal?
Sewaktu nyamuk hinggap di tubuh kita, dia menempelkan mulutnya yang mirip sedotan disebut juga probosis. Lalu terdapat pisau yang akan merobek kulit kita dengan cara maju mundur hingga menemukan urat darah, setelah itu baru darah yang ada dihisapnya.
Dalam prosesnya nyamuk juga mengeluarkan air liur yang mengandung antikoagulan untuk mencegah darah membeku. Proses ini berlangsung cepat dan seolah-olah proses yang terjadi adalah nyamuk menusuk tubuh padahal tidak begitu, nyamuk membedah kita seperti layaknya dokter bedah yang cepat dan akurat.
Setelah nyamuk kenyang dia akan mencabut probiosis dan terbang. Air liur nyamuk yang tertinggal di kulit korban akan merangsang tubuh layaknya ada benda asing yang mengganggu, terjadilah proses yang dikenal dengan alergi, dan yang terjadi adalah bentol-bentol dan gatal.
فَمَا فَوْقَهَا
Setiap yang belajar bahasa Arab pasti tahu perbedaan antara kata fauqa dan tahta. Makna fauqa (فوق) di atas, lawan dari tahta (تحت) yang maknanya di bawah.
Namun ketika Allah SWT menyebutkan nyamuk dan apa yang di atasnya, ternyata maknanya bukan apa yang lebih besar dari nyamuk, justru maknanya apa yang lebih kecil dari nyamuk.
Barangkali kalau kita orang Indonesia ingin menyatakan benda yang lebih kecil dari nyamuk, kita akan mengatakan : famaa ashghara minha (فما أصغر منها). Karena akan lebih jelas maksudnya ketika disebut lebih kecil.
Sedangkan bila menggunakan lafazh : 'apa yang di atasnya', buat logika kita yang terbayang apa yang ukurannya lebih di atas nyamuk, dalam arti yang ukurannya lebih besar dari nyamuk.
Untungnya kita terlalu gegabah ingin menerjemahkan sendiri ayat Al-Quran dengan modal kamus Arab Indonesia. Kita membaca dulu terjemahan dan tafsir para ulama ketika menjjelaskan apa yang dimaksud : fama fauqaha.
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ
Di ayat ini Allah SWT membandingkan orang beriman dan orang kafir, khususnya dalam menyikapi perumpamaan yang Allah buat. Orang-orang yang beriman itu jelas pasti menerima perumpamaan yang Allah SWT buatkan. Sebaliknya orang-orang kafir tentu saja mereka tidak bisa menerima perumpaan itu.
Yang menarik ketika Allah SWT menyebutkan sikap orang beriman atas perumpamaan itu, disebutkan bahwa mereka ini mengetahui atau ya'lamun (يعلمون). Kata kuncinya terletak pada kata : mengetahui.
Dengan berbekal pengetahuannya itulah seseorang bisa sampai ke level orang beriman. Digambarkan bahwa orang beriman itu dengan pengetahuannya bisa membaca kebenaran yang datang dari Allah SWT. Dan memang begitulah seharusnya kualitas keimanan kita, bukan asal percaya dan yakin yang sifatnya indoktrinasi ataupun taqlid ikut-ikutan tanpa ilmu. Justru iman kepada Allah SWT itu harus dilandasi pada ilmu dan pengetahuan.
الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ
Buat orang beriman, apapun yang Allah SWT kehendaki dan lakukan, pastilah mutlak benarnya. Maka ucapan mereka yang beriman ketika Allah SWT membuat perumpamaan, tetap mengatakan semua itu benar dalam arti kebenaran mutlak tanpa kesalahan ataupun cacat sedikitpun.
Sebab Allah itu Maha Sempurna, tidak ada satu pun ciptaannya yang salah atau keliru. Bahkan kurang pun tidak, sebab Dia adalah Tuhan yang Mahas sempurna, maka kesempurnaan itu pasti melekat pada apapun yang jadi kehendak dan tindakan-Nya.
وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا
Berbeda dengan orang beriman yang menerima semua ketentuan Allah SWT, orang-orang kafir yang sejak awal memang tidak mau beriman kepada Allah SWT itu tidak mau menerima dan mengimani apapun yang datang dari Allah SWT.
Maka ketika Allah membuat perumpamaan-perumpamaan, dengan santainya mereka mencemooh perumpaman dari Allah SWT. Dari mulut mereka datang cacian dan hinaan serta cemoohan yang bersifat merendahkan Allah SWT, lewat pertanyaan mereka : "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan".
Lalu mengapa orang kafir sebegitu keras hatinya tidak mau menerima kebenaran? Kalau kita kaitkan dengan lawannya yaitu orang beriman, maka jelas disebutkan bahwa kunci yang tidak dimiliki oleh oran kafir adalah : pengetahuan.
Tanpa bekal pengetahuan, orang kafir tidak bisa memahami berbagai perumpamaan yang Allah gambarkan. Sebab wawasan mereka sempit karena tidak punya pengetahuan. Amat sangat berbeda dengan orang-orang beriman, yang membenarkan perumpaan-perumpamaan dari Allah SWT atas dasar pengetahuannya.
Orang kafir merasa berhak mempertanyakan perbuatan Allah SWT, sehingga sampai hati untuk mengatakan : Apa maunya Allah dengan perumpamaan ini?
Padahal bagi orang beriman, jelas sikap dan ucapan semacam itu sangat tidak sopan dan merupakan bentuk kekurang-ajaran.
Jangankan kepada Allah SWT, bahkan kepada orang tua atau atasan pun bukan sikap yang bisa diterima. Sebab Allah SWT itu Tuhan Yang Maha Kuasa, apapun yang dikerjakan oleh Tuhan, sangat tidak layak untuk dipertanyakan.
Sebab kita manusia ini hanyalah makhluk lemah, tidak punya saya dan upaya. Kalau Allah mau, nyawa kita pun dengan mudah direnggutnya. Atau beberapa kenikmatan yang selama ini Dia berikan, bisa saja langsung dicabutnya.
Seandainya Allah SWT melakukan tindakan macam itupun, kita tidak layak untuk mempertanyakannya.
Namun begitulah karakteristik orang kafir, bahkan kehendak Tuhan pun dipertanyakan.
يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا
Lafazh yudhillu (يضلُّ) maknanya : menyesatkan. Dan huruf ba' (ب) yang disambungkan setelahnya bermakna : "dengan itu". Sementara lafazh katsiran (كثيرا) bermakna orang-orang dalam jumlahj yang banyak. Sehingga secara keseluruhan maknanya menjadi : "Dengan itu (perumpamaan-perumpamaan) Allah telah menyesatkan banyak orang".
Maksudnya orang-orang yang menentang perumpamaan yang Allah SWT buatkan bisa dijadikan tolok ukur keimanan banyak orang. Ketika mereka menentangnya, maka jadilah mereka orang yang tersesat. Sebaliknya, ketika mereka menerimanya, jadilah mereka orang-orang yang mendapatkan hidayah.
وَمَا يُضِلُّ بِهِ
Lafazh wama (وما) dan disambung dengan illa (إلا) secara harfiyah maknanya adalah : "tidaklah kecuali". Namun dalam hal ini ungkapan seperti itu maksudnya untuk menyebutkan hal-hal yang dikhususkan hanya untuk itu. Sehingga bisa dingkap bahwa tidak ada orang yang Allah SWT sesatkan kecuali orang-oang yang fasiq.
Namun para ulama berbeda pendapat, mana yang lebih dahulu, apakah mereka jadi fasiq dulu lalu mereka dianggap sesat? Ataukah mereka sesat sehingga mereka menjadi fasiq?
إِلَّا الْفَاسِقِينَ
Lafazh al-fasiqin merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal : fasiq, yaitu orang yang menjadi pelaku dari berbuat fisq (فِسْق).
Secara bahasa, maknanya adalah keluar dari sesuatu yang sudah jadi kebiasaan (الخروج عن الشيء المعتادة). Ada ungkapan dalam bahasa Arab (فسق الرطب) bermakna : kurma rutab itu telah merekah keluar dari kulitnya. Sedangkan secara istilah sering didefinisikan sebagai :
خروج الإنسان عن حدود الشرع وانتهاك قوانينه بالسيئات وارتكاب الكبائر
Keluarnya seseorang dari ketentuan syariah serta melanggar ketentuannya dengan mengerjakan kejahatan dan dosa-dosa besar.
Muslimkah Orang Fasik Itu?
Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menyebutkan perbedaan pandangan tentang status keislaman orang fasik, yaitu antara pendapat kalangan ulama ahlussunnah, Khawarij dan Muktzilah.
1. Ahlus-Sunnah
Kebanyakan ulama ahlussunnah berpendapat bahwa orang yang fasiq itu masih terbilang muslim dan bukan termasuk orang kafir. Namun level keislamannya sangat rendah, karena terbiasa melakukan dosa-dosa besar, atau melakukan dosa besar dengan terang-terangan tanpa rasa malu atau takut diketahui orang.
Oleh karena itulah di dalam Al-Quran ditegaskan bahwa orang-orang munafik itu termasuk orang fasiq.
إنَّ المُنافِقِينَ هُمُ الفاسِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasiq (QS. At-Taubah : 67)
Ulama ahi sunnah memandang bahwa orang munafik itu statusnya muslim dan bukan kafir. Buktinya ketika mereka wafat, jenazahnya tetap dishalatkan. Kalau statusnya kafir, tentu saja tidak akan dishalatkan.
Status keislaman orang munafik itu karena secara tegas mereka mengaku muslim dengan cara mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengaku beriman kepada Allah, juga beriman kepada para nabi terdahulu berikut dengan kitab suci mereka masing-masing, bahkan menyatakan beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan Al-quran yang turun kepada Beliau SAW.
Itu berarti secara syarat-syarat keislaman, mereka sudah memenuhinya dan layak diberi status sebagai muslim, walaupun dalam hal ini adalah pelaku dosa besar. Dan pelaku dosa besar itu tidak otomatis langsung jadi kafir atau murtad.
2. Khawarij
Kelompok Khawarij memandang bahwa orang fasik itu kafir dan bukan muslim. Kelompok ini memang terkenal dengan akiqdah takfiriyah, yaitu paham yang dengan sangat mudahnya mengkafir-kafirkan sesama muslim. Dalam pandangan mereka, dosa besar yang dilakukan sekali saja sudah bisa mengakibatkan gugurnya keislaman. Sedangkan dosa kecil kalau dilakukan secara terus menerus juga membuat pelakunya keluar dari agama Islam.
Orang-orang munafik di masa kenabian mereka posisikan sebagai orang kafir. Sehingga dengan adanya ayat yang menyatakan bahwa orang munafik itu fasik, maka berarti orang fasik itu memang kafir dalam pemahaman mereka.
Selain itu dasar yang mereka gunakan untuk mengkafirkan orang fasik adalah ayat Al-Quran berikut ini :
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman (QS. Al-Hujurat : 11)
Dalam tafsir mereka, panggilan yang buruk itu mereka terjemahkan apa adanya yaitu itsmul fusuq alias penamaan yang fasiq itu adalah setelah iman. Kalau setelah iman berarti kafir.
3. Muktazilah
Kelompok Muktazilah berposisi di tengah-tengah antara ulama ahlussunnah dengan pandangan kelompok Khawarij. Pandangan mereka bahwa orang fasik itu sudah bukan muslim lagi tapi juga tidak kafir, posisinya di tengah-tengah antara Islam dan kafir. Yang terkenal dari mereka adalah ungkapan : Manzilatun baina manzilatain (منزلة بين منزلتين).
Posisi mereka antara setuju dan tidak setuju dengan kelompok Khawarij. Mereka setuju bahwa orang fasiq itu gugur keislamannya, namun mereka belum siap untuk membuat vonis kafir.