Kemenag RI 2019:Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.” Prof. Quraish Shihab:Rasul (Nabi Muhammad saw.) telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhan Pemeliharanya, demikian pula orang-orang mukmin. Semua telah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari para rasul-Nya,” dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat. Kami (memohon) ampunan-Mu, Tuhan Pemelihara kami, hanya kepada Engkau-lah tempat kembali.” Prof. HAMKA:Rasul itu percaya kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan ( demikian juga) orang-orang yang beriman. Tiap-tiap mereka percaya kepada Allah dan Malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Tidaklah Kami membeda-bedakan di antara seorang ( dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya. Dan, mereka pun berkata, "Kami dengar dan kami taati. Ampunan-Mu, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali."
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah pada malam harinya, maka kedua ayat itu akan mencukupinya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Umamah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diberi tiga hal: aku diberi lima waktu salat, aku diberi penutup Surat Al-Baqarah, dan diampuni dosa bagi siapa saja dari umatku yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.” (HR. Muslim)
Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani, Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: “Bacalah dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah, karena aku diberi keduanya dari bawah ‘Arsy.”
Dari Hudzaifah, ia berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Kami diberi kelebihan atas manusia dalam tiga hal: kami diberi dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah dari harta yang tersimpan di bawah ‘Arsy, yang belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelum kami, dan tidak akan diberikan kepada siapa pun setelah kami.’”
Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Aku tidak melihat seorang pun yang berakal tidur tanpa membaca penutup Surat Al-Baqarah, karena ayat-ayat itu adalah harta yang diberikan kepada Nabi kalian ﷺ dari bawah ‘Arsy.”
Sesungguhnya Allah telah menulis sebuah kitab sebelum menciptakan langit dan bumi selama dua ribu tahun. Dari kitab itu, Dia menurunkan dua ayat yang menjadi penutup Surat Al-Baqarah. Tidaklah dua ayat itu dibaca di suatu rumah selama tiga malam berturut-turut melainkan setan tidak akan mendekatinya.
Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, ayat apakah yang paling agung dalam Kitabullah?” Beliau menjawab: “Ayat Kursi.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu ayat mana yang paling engkau sukai untuk umatmu?” Beliau menjawab: “Penutup Surat Al-Baqarah.”
Semua riwayat ini menunjukkan keagungan, keutamaan, dan perlindungan luar biasa yang terkandung dalam dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah (ayat 285–286). Ayat ini bukan hanya penutup dari surah terpanjang dalam Al-Qur’an, tetapi juga rangkuman nilai-nilai keimanan, ketaatan, doa, dan pengharapan hamba kepada Tuhannya.
Lafazh aamana (آمَنَ) artinya beriman atau percaya, sedangkan lafazh ar-rasulu (ٱلرَّسُولُ) artinya rasul itu, yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.
Lafazh bima unzila ilaihi (بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ) artinya terhadap apa yang telah diturunkan kepadanya, sedangkan lafazhmin rabbihi (مِن رَّبِّهِ) artinya dari Tuhannya. Yang dimaksud tentu adalah kitab suci Al-Qur’an Al-Karim.
Penggalan ini merupakan pernyataan dari Allah SWT bahwa Rasulullah SAW beriman kepada Al-Qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada dirinya sendiri.
وَالْمُؤْمِنُونَ
Maknawal-mu’minun (وَٱلْمُؤْمِنُونَ) adalah dan orang-orang yang beriman. Yang dimaksud dalam konteks ini adalah para sahabat Nabi SAW.
Posisi kata al-mu’minun merupakan ma‘thuf — yaitu sesuatu yang disambungkan kepada kata sebelumnya, yakni ar-rasul.
Maksudnya, sebagaimana Rasul beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadanya, maka orang-orang beriman pun turut beriman kepada kitab suci yang sama, yaitu Al-Qur’an yang datang dari Allah SWT.
كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ
Lafazh kullun (كُلٌّ) artinya semuanya atau masing-masing.
Lafazh aamana billah (آمَنَ بِاللّٰهِ) artinya beriman kepada Allah.
Iman kepada Allah yang dimaksud bukan hanya sekadar mengakui keberadaan-Nya sebagai Tuhan yang menciptakan manusia dan alam semesta, tetapi juga mengimaninya sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah.
Namun dalam kenyataan, Al-Qur’an banyak mengoreksi kesalahan konsep keimanan terhadap Allah SWT yang terjadi di kalangan manusia, antara lain:
1. Menuduh Allah punya anak
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ
Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak.” Maha Suci Allah. (QS. Al-Baqarah: 116)
Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah anak Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikianlah ucapan mereka dengan mulut mereka, meniru perkataan orang-orang kafir sebelum mereka. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah: 30)
Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku; dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah. (QS. Al-An‘am: 163)
Sungguh, Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka dan perbuatan mereka membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan berkata (kepada mereka): “Rasakanlah azab yang membakar.” (QS. Ali ‘Imran: 181)
Dengan demikian, iman kepada Allah mencakup keyakinan penuh bahwa Allah Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak memiliki sekutu, dan tidak membutuhkan siapa pun. Dialah satu-satunya yang berhak disembah dan ditaati sepenuhnya.
وَمَلَائِكَتِه
Lafazh malaikatihi (مَلَائِكَتِهِ) adalah bentuk jamak dari malak (مَلَك).
Namun ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi malaikat, baik satu maupun banyak tetap disebut malaikat.
Padahal dalam bahasa Arab, bila hanya satu disebut malak, sedangkan bila banyak disebut malaikah. Tetapi dalam bahasa Indonesia tidak dikenal istilah malak untuk satu malaikat, sehingga meski hanya satu tetap disebut malaikat. Kita terbiasa menyebut “Malaikat Jibril”, padahal jumlahnya hanya satu.
Kasus ini mirip dengan istilah ikhwan (إِخْوَان) yang berarti beberapa saudara laki-laki, dan akhawat (أَخَوَات) yang berarti beberapa saudari perempuan. Namun dalam penggunaan populer, ikhwan atau akhawat sering dianggap sebagai satu orang. Padahal kalau satu orang bukan ikhwan tetapi akh (أَخ), dan bukan akhawat melainkan ukht (أُخْت).
Maka ungkapan “seorang ikhwan” itu keliru — yang benar adalah seorang akh. Begitu juga keliru jika menyebut “seorang akhawat,” yang benar adalah seorang ukht.
Mungkin karena dua istilah ini sudah dianggap sebagai bagian dari bahasa Indonesia, penggunaannya tidak lagi mengikuti kaidah gramatika Arab. Namun istilah malaikat memang sudah resmi menjadi bahasa Indonesia; sehingga baik satu maupun banyak tetap disebut malaikat. Bila ingin menunjukkan banyak, biasanya digunakan istilah para malaikat.
Secara etimologis, kata malak dalam bahasa Arab berarti risalah (رِسَالَة) pengutusan. Jadi, malaikat adalah para utusan Allah untuk berbagai fungsi.
Dan dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa malaikat adalah utusan Allah, sebagaimana perkataan Jibril kepada Maryam:
Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (QS. Maryam: 19)
Secara umum, malaikat adalah makhluk Allah yang mulia dan sangat tinggi kedudukannya di depan semua makhluk lainnya.
Mereka sangat taat kepada Allah, tidak pernah bermaksiat, dan selalu melaksanakan perintah-Nya tanpa alasan atau penundaan.
Allah SWT menciptakan malaikat dari jenis makhluk ghaib yang kasat mata, namun atas izin Allah bisa berubah wujud menyerupai manusia yang teramat sempurna. Saking sempurnanya, para malaikat itu sampai tidak butuh makan, tidak perlu minuman bahkan tidak punya hawa nafsu.
Malaikat juga tidak berketurunan atau beranak pinak, meski pun begitu jumlahnya sangat banyak melebihi jumlah umat manusia.
Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Perlu diketahui bahwa para malaikat itu sudah Allah SWT ciptakan sejak jauh sebelum manusia diciptakan, namun sampai hari ini dan hari kiamat, tak satu pun dari malaikat yang jatuh sakit atau apalagi mati. Semuanya hidup terus sepanjang zaman (immortal) hingga akhir dunia nanti.
Selain itu juga ada hadits yang menggambarkan betapa banyaknya malaikat Allah :
Neraka Jahannam pada hari kiamat memiliki tujuh puluh ribu kendali, setiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Muslim)
Al-Bukhari meriwayatkan ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada malaikat Jibril tentang Baitul Ma’mur, malaikat penyampai wahyu itu mengungkapkan:
“Ini adalah Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di sana dan yang telah shalat tidak lagi kembali sesudahnya.” (HR. Bukhari)
وَكُتُبِهِ
Lafazh kutubihi (وَكُتُبِهِ) adalah bentuk jamak dari kitab (كتاب) yang dalam bahasa Arab modern adalah buku. Namun di dalam Al-Quran, kitab itu tidak harus selalu berwujud buku seperti yang kita kenal.
Apalagi bangsa Arab di masa itu pun belum mengenal mesin cetak, sehingga jangan membayangkan kitab itu berwujud buku seperti yang kita kenal di zaman sekarang. Namun di masa lalu secara fisik belum dikenal buku yang terdiri dari lembaran kertas.
Kertas sendiri konon baru ditemukan oleh Tsai Lun di China pada abad kedua masehi. Sedangkan kitab-kitab suci yang turun itu hampir semuanya turun sebelum masuk era masehi.
Kalau pun di masa itu sudah ada benda yang disebut buku, pastinya bukan berupa kertas. Kemungkinan menggunakan kulit hewan, atau bahkan secara fisik Taurat itu digambarkan dalam Al-Quran berupa kepingan batu bertatahkan ayat suci.
Ibnu Faris (w. 395 H) dalam kamus Maqayis Al-Lughah[1]menyebutkan bahwa dalam bahasa Arab, makna kitab adalah menggabungkan, maksudnya menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.
Namun demikian, umumnya para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan kitab suci samawi yang Allah SWT turunkan kepada para nabi dan rasul sebagai pedoman untuk menjalankan hidup sesuai dengan hukum dan ketentuan dari Allah SWT.
Ada banyak kitab suci yang diturunkan kepada umat terdahulu cukup banyak seperti Zabur, Taurat, Injil, shuhuf Ibrahim dan shuhuf Musa, serta lain-lainnya yang mungkin belum disebutkan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini :
عن أبي ذرٍّ رضي الله عنه قال: قلت يا رسول الله، كم كتابًا أنزل الله؟ قال: أنزل الله مائة وأربعة كتب، على شيث خمسين صحيفة، وعلى أخنوخ ثلاثين صحيفة، وعلى إبراهيم عشر صحف، وعلى موسى قبل التوراة عشر صحف، وأنزل التوراة والإنجيل والزبور والفرقان.
Dari Abi Dzar radhiyallahuanhu, dia bertanya,"Ya Rasulllah, berapa kitab yang Allah turunkan?.Nabi SAW menjawab,"Seratus empat kitab. Allah turunkan 50 shahifah kepada Nabi Syits, kepada Akhnun (Nabi Idris) 30 shahifah, kepada Ibrahim 10 shahifah, kepada Musa sebelum Taurat 10 shahifah, dan Allah menurunkan Taurat, Injil, Zabur dan Al-Furqan (Al-Quran).
وَرُسُلِهِ
Lafazh wa rusulihi (وَرُسُلِهِ) merupakan bentuk jamak dari rasul (رَسُول), yang maknanya secara umum adalah utusan. Dalam hal ini meskipun yang disebut adalah rasul, namun maksudnya termasuk juga para nabi.
Jumlah nabi secara keseluruhan yang namanya secara eksplisit disebut di dalam Al-Qur’an ada 25 orang. Sebanyak 18 orang di antara mereka statusnya sebagai rasul, yang nama-nama mereka disebutkan secara utuh dalam surat Al-An’am mulai dari ayat 83 hingga ayat 86:
Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim [1] untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishaq [2] dan Ya‘qub [3] kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh [4] sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud [5], Sulaiman [6], Ayyub [7], Yusuf [8], Musa [9], dan Harun [10]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria [11], Yahya [12], Isa [13], dan Ilyas [14]. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Ismail [15], Alyasa‘ [16], Yunus [17], dan Luth [18]. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat. (QS. Al-An‘ām: 83–86)
Namun kalau berdasarkan hadits nabawi, jumlah total nabi dan rasul mencapai angka 120.000 personal.
عن أبي ذرٍّ قال: قلتُ يا رسولَ الله كمِ الأنبياءُ؟ قال: مائةُ ألفٍ وأربعةٌ وعشرونَ ألفًا. قلتُ: كمِ الرسلُ منهم؟ قال: ثلاثمائةٍ وبضعةَ عشرَ، جَمًّا غفيرًا. قلتُ: مَن كان أوَّلُهم؟ قال: آدمُ
Dari Abu Dzar, ia berkata: “Aku bertanya, wahai Rasulullah, berapa jumlah nabi?” Beliau menjawab: “Seratus dua puluh empat ribu.” Aku bertanya lagi, “Berapa jumlah rasul di antara mereka?” Beliau menjawab: “Tiga ratus belasan, jumlah yang banyak.” Aku bertanya, “Siapakah yang pertama di antara mereka?” Beliau menjawab, “Adam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ
Lafazh la nufarriqu (لَا نُفَرِّقُ) artinya: Kami tidak membeda-bedakan,
sedangkan lafazh baina ahadin min rusulihi (مِن رُسُلِهِ أَحَدٍ بَيْنَ) artinya: salah satu dari para rasul-Nya.
Penggalan ini mengandung makna secara umum bahwa semua rasul itu membawa ajaran yang sama dari Allah SWT, sehingga tidak boleh dibeda-bedakan.
Namun kalau dikaitkan dengan konteks di masa kenabian, penggalan ini mengandung pesan khusus kepada para pemeluk agama ahli kitab, baik dari Yahudi maupun Nasrani, di mana mereka punya masalah dalam aqidah kenabian, yaitu hanya mau beriman kepada rasul mereka sendiri. Yahudi hanya mau beriman kepada Nabi Musa, sedangkan Nasrani hanya mau beriman kepada Nabi Isa saja.
Bahkan orang-orang Yahudi tetap menganggap orang Nasrani sebagai kafir. Dan begitu juga sebaliknya, orang Nasrani pun juga menganggap orang Yahudi telah kafir. Lalu dua-duanya menuduhkan dusta dengan mengatakan bahwa kenabian Muhammad itu palsu dan tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Kepada Nabi Muhammad SAW, mereka mengingkari kenabiannya. Padahal justru Nabi Muhammad SAW diutus bukan hanya untuk bangsa Arab saja, melainkan untuk seluruh umat manusia, termasuk untuk mereka yang dahulunya bernabi kepada Musa dan Isa.
Sikap Yahudi dan Nasrani inilah yang dimaksud dengan “membeda-bedakan para rasul”, yaitu tidak mau beriman kepada kenabian Muhammad SAW.
Memang benar bahwa setiap nabi diutus kepada masing-masing kaumnya, dan masing-masing kaum itu wajib mentaati apa yang diajarkan oleh nabi mereka. Namun demikian, meskipun seorang nabi tidak diutus kepada mereka, tetap saja wajib diimani kenabiannya dan dimuliakan sebagaimana seorang nabi.
Kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW, tetap menghormati dan memuliakan para nabi dan rasul yang lain. Setiap ada nama seorang nabi disebut, maka kepada kita disunnahkan untuk mengucapkan salam, setidaknya dengan lafazh: “‘alaihis-salām.”
وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
Lafazh wa qalu (وَقَالُوا) artinya: dan mereka berkata, sedangkan kata sami‘na (سَمِعْنَا) artinya: kami mendengar, lalu makna wa atha‘na (وَأَطَعْنَا) artinya: kami menaati.
Dalam konsep Islam, keimanan itu bukan hanya berhenti pada pengakuan atas keberadaan pondasi dasar keimanan, yaitu mengimani Allah, para malaikat, kitab suci, dan para rasul, tetapi juga harus dibangun di atas keempat pondasi itu sebuah prinsip yang merupakan tulang punggung (backbone), yaitu ketaatan mutlak atas semua perintah Allah yang disampaikan melalui para malaikat, rasul, dan kitab suci-Nya.
Tulang punggung berupa ketaatan mutlak inilah yang akan membuktikan apakah iman itu sudah benar atau justru tidak benar. Maka dalam konsep Ahlussunnah wal Jama‘ah, iman itu bukan hanya berhenti pada konsep keyakinan hati, tetapi juga masuk pada wilayah amal, sebagaimana hadits berikut:
Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan “Lā ilāha illallāh”, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan malu itu salah satu cabang dari iman. (HR. Muslim)
Konsep sami‘na wa atha‘na dalam ayat ini sebenarnya berkaitan dengan ketaatan terhadap perintah Nabi Muhammad SAW, yang hakikatnya adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Tidaklah Nabi Muhammad SAW memerintahkan sesuatu, kecuali perintah itu bersumber dari Allah SWT.
غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Ayat ini kemudian ditutup dengan penggalan yang pada dasarnya meminta ampunan. Lafazhnya adalah ghufranaka(غُفْرَانَكَ) yang secara struktur bahasa Arab merupakan maf‘ul muthlaq, di mana asalnya dari ungkapan (اغفر لنا) yang merupakan badal dari fi‘lnya.
Artinya adalah: berikanlah kepada kami ampunan-Mu. Atau bisa diterjemahkan menjadi: “Ampunilah kami, wahai Tuhan kami”, sebagaimana versi terjemahan Kemenag RI. Sedangkan versi terjemahan Prof. Quraish Shihab adalah: “Kami (memohon) ampunan-Mu, Tuhan Pemelihara kami.” Dan versi terjemahan Buya HAMKA lebih singkat yaitu: “Ampunan-Mu, ya Tuhan kami.”
Lafazh ilaika(إِلَيْكَ) artinya: hanya kepada-Mu, sedangkan lafazh al-mashir(المصير) artinya: tempat untuk kembali. Banyak mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud bahwa Allah SWT adalah tempat kembali adalah isyarat tentang adanya hari semua umat manusia dikumpulkan, yaitu di padang Mahsyar. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT:
Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan. (QS. Ali ‘Imran: 158)
Namun ada juga yang mengatakan bahwa makna al-maṣīr atau tempat kembali itu adalah surga dan neraka. Dasarnya banyak firman Allah SWT yang menyebutkan tempat kembalinya orang-orang kafir itu adalah neraka jahannam, dan neraka jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya. (QS. At-Taubah: 73)
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa: 115)
Sedangkan bagi orang-orang yang beriman, tempat kembali mereka adalah surga yang penuh dengan kenikmatan, sebagaimana firman-Nya:
Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). (QS. Al-Mu’min: 3)