Kemenag RI 2019:Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti? Prof. Quraish Shihab:Apakah kamu menyuruh manusia (melakukan) kebajikan dan kamu melupakan (untuk menyuruh) diri kamu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat). Maka, tidakkah kamu berpikir? Prof. HAMKA:Apakah kamu suruh manusia berbuat kebajikan, akan kamu lupakan dirimu (sendiri), padahal kamu membaca kitab; apakah tidak kamu pikirkan?
Latar belakang ayat ini menurut lbnu 'Abbas adalah di antara orang-orang Yahudi di Medinah ada yang memberi nasihat kepada keluarga dan kerabat dekatnya yang sudah masuk Islam supaya tetap memeluk agama Islam.
Yang diperintahkan orang ini adalah benar yaitu menyuruh orang lain untuk berbuat benar tetapi mereka sendiri tidak mengamalkannya. Maka pada ayat ini Allah mencela tingkah laku dan perbuatan mereka yang tidak baik dan membawa kepada kesesatan.
Di antara kesesatan-kesesatan yang telah dilakukan bangsa Yahudi ialah mereka menyatakan beriman kepada kitab suci mereka yaitu Taurat, tetapi ternyata mereka tidak membacanya dengan baik. Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka "melupakan" diri mereka.
Maksudnya ialah "membiarkan" diri mereka rugi, sebab biasanya manusia tidak pernah melupakan dirinya untuk memperoleh keuntungan, dan dia tak rela apabila orang lain mendahuluinya mendapat kebahagiaan.
Ungkapan "melupakan" itu menunjukkan betapa mereka melalaikan dan tidak mempedulikan apa yang sepatutnya mereka lakukan, seakan-akan Allah berfirman, "Jika benar-benar kamu yakin kepada Allah bahwa Dia akan memberikan pahala atas perbuatan yang baik, dan mengancam akan mengazab orang-orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang baik itu, mengapakah kamu melupakan kepentingan dirimu sendiri?"
Walaupun ayat ini awalnya ditujukan kepada Yahudi, namun pesannya bersifat universal, sehingga menurut sebagian kalangan, ayat ini juga berlaku kepada umat Islam sendiri. Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim mengutipkan sebuah hadits :
Pada malam aku diisra'kan, aku melewati suatu kaum yang lidah-lidah mereka dipotong dengan gunting dari neraka. Lanjut beliau, Lalu aku berkata, Siapa mereka itu?. Mereka (Malaikat) berkata, Para khatib umatmu dari penduduk dunia yang menyuruh orang-orang mengerjakan kebaikan, namun mereka melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca Al Kitab (Al Qur'an). Apakah mereka tidak berpikir?! (HR. Ahmad)
Pada hari qiyamat akan dihadirkan seseorang yang kemudian dia dilempar ke dalam neraka, isi perutnya keluar dan terburai hingga dia berputar-putar bagaikan seekor keledai yang berputar-putar menarik mesin gilingnya. Maka penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata; “Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu?. Bukankah kamu dahulu orang yang memerintahkan kami berbuat ma’ruf dan melarang kami berbuat munkar?”. Orang itu berkata; “Aku memang memerintahkan kalian agar berbuat ma’ruf tapi aku sendiri tidak melaksanakannya dan melarang kalian berbuat munkar, namun malah aku mengerjakannya”. (HR. Bukhari)
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ
Lafazh ta'murun (تَأْمُرُونَ) diawali dengan huruf istifhamalif (أ) sering dimaknai dengan 'apa', namun bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban karena sifatnya retoris saja. Tujuan dari pertanyaan ini adalah taubikh (توبيخ) yaitu untuk membuka kejelekan. Karena itu secara rasa bahasa lebih enak diterjemahkan dengan redaksi yang lebih retoris seperti 'mengapa' sebagaimana terjemahan versi Kemenag RI.
Dalam hal ini yang dibukakan kejelekannya adakah orang-orang Yahudi Madinah, khususnya para pemuka agama mereka.
Lafazh an-nas (النَّاسَ) secara bahasa bermakna manusia, namun menurut hemat Penulis maksudnya 'orang lain' selain dirinya. Sekali lagi versi terjemahan versi Kementerian Agama RI nampaknya terasa lebih tepat.
Secara umum, penjelasan ayat ini kurang lebih mengatakan : Apakah kalian, wahai Bani Isra'il atau pemuka-pemuka agama Yahudi, menyuruh orang lain, yakni kaum musyrikin atau kelompok lain dari orangorang Yahudi yang seagama dengan kamu atau orang lain siapa pun dia melakukan aneka kebajikan dan kamu melupakan diri kamu sendiri, yakni melupakan menyuruh diri kalian melakukan kebajikan itu atau kalian sendiri tidak mengerjakan kebaikan itu?
Tindakan demikian jelas merupakan perbuatan yang buruk. Kalian melakukan keburukan itu, padahal kamu membaca kitab suci, yakni Taurat yang mengandung kecaman terhadap mereka yang hanya pandai menyuruh tanpa mengamalkan. Tidakkah kamu berakal yakni tidakkah kalian memiliki kendali yang menghalangi diri kalian terjerumus dalam dosa dan kesulitan?
البِرِّ
Lafadz al-birr (الْبِرِّ) secara bahasa berarti kebaikan, kadang dalam terjemahan malah ditulis menjadi : kebajikan. Sebenarnya penasaran juga apakah antara 'kebaikan' dan 'kebajikan' itu sama saja hanya perbedaan rasa bahasa saja, ataukah antara keduanya berbeda.
Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa kebajikan adalah perbuatan, tindakan, kesadaran dan tenggang rasa seseorang terhadap orang lain. Kebajikan itu tidak terukur oleh batasan-batasan antar makhluk, sedangkan itu kebaikan sebaliknya, masih terbatas oleh pengenalan antara seseorang dengan orang lain.
Namun Al-Mawardi dalam An-Nukat wal Uyun menjelaskan bahwa para ulama punya tiga pendapat yang berbeda terkait apa yang dimaksud dengan kebaikan.
Ketaatan (الطاعة) : Para pemuka agama Yahudi itu selalu memerintahkan orang-orang untuk melakukan ketaatan atas semua perintah agama, namun justru mereka sendiri sering berbuat maksiat. Pendapat ini dikemukakan oleh As-Suddi dan Qatadah.
Kitab Suci (الكتاب) : Para pemuka agama Yahudi itu memerintahkan orang-orang untuk menjalankan isi perintah dalam kitab suci, namun justru mereka sendiri yang banyak meninggalkan isi perintahnya.
Sedekah (الصدقة) : Para pemuka agama Yahudi itu memerintahkan orang-orang untuk bersedekah, namun ternyata uang sedekah itu malah dimakan sendiri oleh mereka.
وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ
Lafazh tansauna (تَنْسَوْنَ) secara bahasa bermakna lupa atau melupakan, sedangkan anfusakum (أنفُسَكُم) bermakna: diri kamu. Namun maknanya bukan lupa atau tidak bisa mengingat siapa dirinya, melainkan maksudnya kalian tidak melakukan hal yang sama pada diri kalian sendiri terkait hal-hal yang kalian perintahkan kepada orang lain.
Ayat ini mengandung kecaman kepada setiap penganjur agama yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dianjurkannya. Ada dua hal yang disebut oleh ayat ini yang seharusnya menghalangi pemuka-pemuka agama itu melupakan diri mereka.
Pertama bahwa mereka menyuruh orang lain berbuat baik. Seorang yang memerintahkan sesuatu pastilah dia mengingatnya. Sungguh aneh bila mereka melupakannya. Yang kedua adalah mereka membaca kitab suci. Bacaan tersebut seharusnya mengingatkan mereka.
Tetapi ternyata, keduanya tidak mereka hiraukan sehingga sungguh wajar mereka dikecam. Walaupun ayat ini turun dalam konteks kecaman kepada para pemuka Bani Isra'll, ia tertuju pula kepada setiap orang terutama para muballigh dan para pemuka agama.
أَتَأْمُرُونَ
Lafazh tatluna (تَتْلُون) berasal dari talaa - yatluu-tilawah (تَلَا - يَتْلُو - تِلاَوَة) secara bahasa bermakna membaca. Di negeri kita ada lomba membaca Al-Quran yang dikenal dengan sebutan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).
Namun selain istilah tilawah (تِلَاوَة), di dalam Al-Quran kita juga mengenal ada istilah qiraah (قِرَاءَة)yang asalnya dari (قَرَأَ - يَقْرَأُ - قِرَاءَة). Tentu pastinya ada kesamaan di antara keduanya, namun apakah keduanya memang sinonim yang identik ataukah ada perbedaan antara keduanya?
Sebagian kalangan ada yang mengatakan bahwa qiraat itu lebih tepat untuk digunakan untuk membaca atau mengucapkan sesuatu yang pendek, sedangkan tilawah biasanya digunakan untuk membaca sesuatu yang lebih panjang.
Maka dalam penggunaannya ketika seseorang menyebutkan nama dirinya, lebih tepat menggunakan qara'a ismahu ( قَرَأ اسْمَهُ) dan bukan talaa ismahu (تَلَا اسْمَهُ). Karena nama seseorang hanya satu, dua atau tiga kata. Nama seseorang pastinya bukan berupa kalimat apalagi paragraf. Sedangkan talaa itu lebih tepat digunakan untuk membacakan satu ayat atau beberapa ayat, bahkan hingga 30 juz Al-Quran.
Selain itu sebagian ulama ada yang mengatakan maknanya adalah ittiba' atau mengikuti, sehingga lafazh yatlunal kitab (يَتْلُون الكِتاَب)berarti mengikuti kitab.
ِAr-Raghib Al-Ashfahani mengatakan bahwa tilawah hanya khusus terjadi pada pembacaan kitab-kitab Allah dengan menyertakan perbuatan lainnya baik dengan bacaan ataupun penjabaran karena didalamnya terkandung perintah, larangan, janji ataupun ancaman atau hal-hal yang diduga mengarah pada kandungan arti-arti tersebut.
Dengan demikian maka tilawah memiliki arti lebih khusus ketimbang qiraah, karena qiraah artinya sekedar baca sedang tilaawah artinya baca namun harus disertai dengan perbuatan lainnya. Maka setiap qiraah berarti tilaawah dan tidak sebaliknya.
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Lafazh afala ta'qilun (أَفَلَا تَعْقِلُونَ) dalam istilah ilmu sastra disebut dengan istifham inkari, yaitu gaya bertanya tapi maksudnya mengingkari sesuatu. Sehingga sudah tepat kalau diterjemahkan menjadi : "Tidak kah kamu berakal?". Selain itu juga merupakan taqri' (تَقْرِيع) yang lebih buruk dari menjelekkan sebelumnya.
Kalau kita bandingkan bahasa terjemahan dari tiga sumber utama, kita temukan perbedaan redaksi. Terjemahan Kemenag RI : Tidakkah kamu mengerti?, sedangkan terjemahan versi Quraish Shihab adalah : "Maka, tidakkah kamu berpikir?". Dan Buya HAMKA menerjemakannya menjadi : "Apakah tidak kamu pikirkan?".
Cukup jelas bahwa susunan kalimat ini mengandung celaan yang tak ada taranya, karena barang siapa menyuruh orang lain untuk melakukan perbuatan kebajikan tetapi dia sendiri tidak melakukannya, berarti dia telah menyalahi ucapannya sendiri.
Para pendeta yang selalu membacakan kitab suci kepada orang-orang lain, tentu lebih mengetahui isi kitab itu daripada orang-orang yang mereka suruh untuk mengikutinya.
Besar sekali perbedaan antara orang yang melakukan suatu perbuatan padahal dia belum mengetahui benar faedah dari perbuatan itu, dengan orang yang meninggalkan perbuatan itu padahal dia mengetahui benar faedah dari perbuatan yang ditinggalkannya itu.
Oleh sebab itu, Allah memandang bahwa mereka seolah-olah tidak berakal, sebab orang yang berakal, betapapun lemahnya, tentu akan mengamalkan ilmu pengetahuannya.