| ◀ | Jilid : 1 Juz : 1 | Al-Baqarah : 51 | ▶ |
| TAFSIR AL-MAHFUZH |
وَاعَدْنَا
Lafazh waa'adna (واعَدْناَ) akar katanya dari wa'ada (وَعَدَ) yang maknanya berjanji. Namun dengan ketambahan huruf alif setelah waw dan sebelum ain, maknanya sedikit bergeser secara harfiyah jadi : saling berjani.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa saling janji antara Allah dan Nabi Musa maksudnya agar Nabi Musa berjanji melakukan munajat kepada selama empat puluh malam. Dan bila berhasil maka Allah menjanjikan akan memberinya kitab Taurat.
Namun ada juga yang memahami kata tersebut bukan dalam pengertian saling, tetapi ia hanya sepihak, yaitu dari Allah SWT menjanjikan Musa kitab Taurat kepada Nabi Musa setelah berlalu empat puluh .malam dari ibadah yang diperintahkan Allah kepadanya itu.
أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Al-Qurtubi menuliskan bahwa banyak kalangan ulama ahli tafsir yang mengemukakan bahwa hitungan masa munajat Nabi Musa untuk mendapatkan Kitab Taurat selama empat puluh malam itu adalah 30 malam dari Bulan Dzulqa'dah ditambah dengan 10 malam bulan Dzulhijjah yaitu mulai tanggal 1 hingga tanggal sepuluh.
Kejadian ini tentu setelah Bani Israil terbebas dari negeri Mesir dan diselamatkan dari kejaran tentara Fir'aun. Saat itu mereka meminta kepada Musa agar Allah SWT segera menurunkan kitab suci yaitu Taurat. Maka Musa bersama 70 agamawan Bani Israil naik ke atas bukit Tursina untuk bermunajat.
Maka dijanjikan lah akan mendapat Taurat asalkan setelah munajat 40 malam. Sayangnya Bani Israil tidak sabar dan menghitung secara keliru, yaitu dua puluh malam ditambah dua puluh siang dianggap sudah empat puluh malam.
تَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ
Dan ketidak-sabaran mereka diwujudkan dengan cara yang sangat menjijikkan, yaitu main ancam kepada Allah akan menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas. Dan tindakan itu benar-benar mereka lakukan.
Umat Nabi Musa as., yang menjadikan sapi sebagai sesembahanmereka, meniru orang-orang Kan 'an yang mendiami daerah sebelah barat Palestina, Suriah, dan Lebanon. Mereka menyembah berhala, antara lain yang terbuat dari tembaga dalam bentuk manusia berkepala lembu yang duduk mengulurkan kedua tangannya bagaikan menanti pemberian.
Kepada berhala inilah-yang mereka namai ba'l-sesaji dipersembahkan, clan "tuhan" semacam itulah yang diminta oleh Bani Isra'il kepada Nabi Musa as. sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut :
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". (QS. Al-Araf : 138)
وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ
وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ ۖ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَٰنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي
Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu. itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku". (QS. Thaha : 90)
قَالُوا لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَىٰ
Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami". (QS. Thaha : 91)