Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.” Dia (Musa) menjawab, “Dia (Allah) berfirman bahwa (sapi) itu adalah sapi yang warnanya kuning tua, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(-nya).” Prof. Quraish Shihab:Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhan Memeliharamu untuk kami supaya Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Dia (Nabi Musa as.) menjawab: “Sesungguhnya Dia berfirman bahwa ia adalah sapi yang kuning, yang kuning tua warnanya, (lagi) menyenangkan orang-orang yang memandang-(nya).” Prof. HAMKA:Mereka berkata, "Serulah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya Dia jelaskan kepada kami bagaimana warnanya." Berkata dia, "Sesungguhnya, Dia berfirman bahwa dianya ialah seekor lembu betina yang kuning, berkilau warnanya, menyenangkan mereka yang melihat."
Sudah disebutkan dalam ayat sebelumnya bahwa Bani Israil alih-alih menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih sapi, ternyata mereka masih saja mengulur-ulur waktu dengan berpura-pura bertanya terkait sifat-sifat sapi yang dimaksud.
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ
Lafazh ini merupakan pengulangan dari yang sudah dijelaskan sebelumnya, dimana kaumnya Nabi Musa alaihissalam ini meminta kepada Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah dan meminta keterangan lagi dan minta keterangan lagi. Padahal sudah disebutkan bahwa sapi yang dimaksud adalah yang tidak terlalu tua tapi juga tidak terlalu muda, posisinya ada di tengah-tengah yaitu sapi yang paling produktif dan nilainya yang paling mahal.
Seharusnya mereka langsung saja dikerjakan, toh sudah ada petunjuk yang jelas. Tetapi ternyata mereka masih saja menawar lagi dan lagi.
يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا
Kali ini yang mereka tanyakan dari sisi warnanya. Seolah-olah ada begitu banyak sapi yang tidak tua dan tidak muda, dengan begitu banyak warna penampakannya, lalu mereka minta dibuatkan kriteria warna. Padahal sama sekali tidak penting apa warna sapi itu, kalau memang niatnya memang sejak awal ingin melaksanakan perintah Allah SWT.
Sayangnya begitulah yang mereka lakukan, urusan warna sapi pun dijadikan pertanyaan, seolah-olah dicari-cari alasan agar tidak bisa dilaksanakan.
قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ
Yang menarik ternyata Allah SWT tetap memberikan jawaban atas pertanyaan mereka terkait warna sapi. Dan di balik jawaban itu sebenarnya mereka malah jadi semakin terjebak dan semakin mendapatkan kesulitan dalam mendapatkannya.
Dari yang awalnya semua sapi boleh disembelih, se-sap-sapinya apa saja, yang usia berapa saja, yang warna apa saja, silahkan disembelih, lama-lama mereka jadi semakin terpojok, karena sudah tidak bisa lagi sembarang memilih sapi seenaknya.
Syaratnya jadi semakin berat dan pilihannya jadi semakin terbatas, hanya yang usianya tengah-tengah dan warnanya harus yang spesifik dan pilihannya semakin terbatas.
إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ
Lafazh shafra’ (صَفْرَاء) sering diartikan sebagai kuning keemasan, setidaknya begitulah yang dimakna oleh jumhur ulama. Namun diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shafra justru adalah warna hitam legam yang mengkilat. Demikian sebagaimana dikutip oleh Al-Mawardi. [1]
Lafazh faaqi’ (فَاقِع) ternyata dimaknai berbeda-beda penyebutannya meskipun sebenarnya tetap mirip-mirip dan nyaris sama saja, hanya beda penyebutan semata.
Misalnya Ibnu Abbas dan Al-Hasan mengatakan bahwa artinya adalah sangat kuning keemasan (الشَّدِيْدَةُ الصَّفْرَة). Yang lain mengatakan seperti Qutrub mengatakan bahwa maknanya adalah murni keemasan (الخَالِص لصُّفْرَة). Sementara Abul Aliyah dan Qatadah mengatakan shaafi (الصَّافِي) alias bening.
تَسُرُّ النَّاظِرِينَ
Lafazh tasurru (تَسُرُّ) bermakna membahagiakan, sedangkan nazhirin (النّاَظِرِين) bermakna orang yang melihatnya. Memang demikianlah ungkapan khas dalam bahasa Arab, kalau ingin mengungkapkan sesuatu yang indah di pandangan mata, maka disebutlah bahwa orang yang melihatnya senang dan berbahagia.
Diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda terkait dengan wanita yang cantik, diungkapkan dengan bila dilihat akan membahagiaan.
خير النساء امرأة إذا نظرت إليها سرتك
Sebaik-baiknya perempuan adalah perempuan yang ketika kamu melihatnya ia membahagaiakanmu.”[1]