Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendakinya, niscaya kami mendapat petunjuk.” Prof. Quraish Shihab:Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhan Pemelihant Mu untuk kami supaya Dia menerangkan kepada kami bagaimana sapi itu, (karena) sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah benar-benar akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” Prof. HAMKA:Mereka berkata, "Serulah untuk kami kepada Tuhan engkau, supaya Dia jelaskan (lagi) kepada kami, karena sesungguhnya lembu-lembu itu serupa-serupa atas kami, dan sesungguhnya kami, insyaa Allah, akan dapat petunjuk."
Meskipun pertanyaan mereka yang pertama sudah dijawab bahwa sapi yang dimaksud adalah sapi yang tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda serta warnanya apa, tetapi rupanya Bani Israil masih saja berupaya untuk mengulur-ulur waktu.
Mereka pun kembali lagi bertanya, kali ini mereka beralasan bahwa apa yang sudah dijelaskan oleh Allah di dalam ayat-ayat sebelumnya itu, dianggap masih belum jelas. Sehingga mereka meminta lagi kepada Nabi Musa agar kembali berdoa dan meminta jawaban atas sifat dan syarat dari sapi.
Padahal sebenarnya semua sudah dijelaskan secara detail dan rinci. Oleh karena itu tidak perlu lagi dipertanyakan ulang seperti apa sapi yang dimaksud.
Tetapi karena memang dasar niatnya tidak baik, yaitu sebenarnya hanya sekedar mengulur-ulur waktu saja, atau mencari-cari alasan agar tidak usahlah menyembelih sapi, maka seolah-olah mereka pun bertanya secara serius.
Seolah-olah mereka seperti ingin segera melaksanakannya. Karena itulah kemudian muncul pernyataan bahwa karena belum jelas dalam pandangan kami maka kami bertanya seperti apa lagi sapi tersebut.
Menarik untuk dicermati bahwa pertanyaan-pertanyaan mereka terkait sapi ternyata dijawab dan ditanggapi oleh Allah. Bukan berarti Allah tidak tahu permainan mereka tetapi nampaknya memang merekalah yang sebenarnya terjebak sendiri dengan permainan yang mereka kembangkan.
Karena sesungguhnya semakin banyak mereka bertanya tentang seperti apa wujud sapi, maka akan semakin sulit saja ketentuan dan persyaratan terkait sapi tersebut.
Ini adalah sebuah jalan untuk bunuh diri, yang seharusnya kalau mereka cerdas, tidak perlu mereka bertanya-tanya terus seperti itu.
Seharusnya mereka sadar kalau setiap kali bertanya, maka akan muncul jawaban yang justru akan memberatkan mereka sendiri. Kalau bertanya lagi, semakin berat lagi jawabannya.
Dan masih belum sadar juga dan terus menerus bertanya lagi, akan semakin berat lagi jawabannya. Dan begitulah seterusnya, selama mereka masih terus bertanya ini dan itu, maka ketentuan penyembelihan sapi akan semakin sulit untuk bisa dikerjakan.
Setidaknya sapi sesuai dengan ketentuan yang dimaksud menjadi sulit untuk ditemukan.
يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ
Lafazh yubayyin lana (يبين لنا) sudah dijelaskan maknanya sebelumnya yaitu agar Allah SWT menjelaskan secara rinci kepada kami. Sedangkan lafazh maa hiya (ماهي) maksudnya tidak lain adalah sapi itu. Boleh jadi dari ungkapan inilah sehingga populer istilah mahiyah (ماهية) dalam bahasa Arab yang maknanya kurang lebih adalah spesifikasi.
Kali ini mereka minta ditetapkan dari jenis apakah sapi yang dimaksud, apakah dari jenis saimah (سائمة) atau amilah (عاملة). Sapi jenis saimah maksudnya sapi yang dipelihara khusus untuk produksi daging, sedangkan sapi amilah adalah sapi yang dipelihara untuk membantu pekerjaan manusia, seperti menarik gerobah atau membajak sawah.
Memang sapi itu ada banyak kegunaannya. Sampai-sampai ada masyarakat tertentu yang sampai memuja sapi dan memuliakannya, bahkan sampai menyembahnya. Hal itu mengingat bahwa sapi memang banyak gunanya buat manusia. Setidaknya ada yang untuk dimanfaatkan daging atau susunya, tapi juga ada yang dimanfaatkan tenaganya.
إن البقرة تشابه علينا
Lafazh tasyabaha (تشابه) maknanya adalah tidak jelas atau samar-samar. Seperti firman Allah SWT terkait ayat yang mutasyabihat (متشابهات), maksudnya adalah ayat Al-Quran yang tidak bisa dipahami maksud dan maknanya, seperti huruf-huruf Hijaiyah di awal surat. Hanya Allah SWT saja yang tahu maknanya, sedangkan kita tidak tahu dan memang tidak diberi tahu.
Perkataan bahwa sapi yang dimaksud masih belum jelas ini disampaikan oleh Bani Israil ketika Allah SWT ketika Allah SWT sudah menjelaskan seperti apa rupa dari sapi yang harus mereka sembelih.
Ini sebenarnya tidak bisa diterima, sebab sejak awal Allah SWT memang tidak pernah menetapkan sifat dan syarat tertentu terkait perintah menyembelih sapi. Mereka saja yang mengarang bebas bahwa sapinya harus begini dan begitu.
Kalau boleh kita yang menjawab dan berkomentar atas tingkah laku mereka, kita akan berkata,"Siapa yang suruh bikin kriteria tentang sapi yang aneh-aneh?". Tidak ada yang menyuruh, kalian saja yang punya ide kreatif untuk membuat syarat sapi itu menjadi sulit untuk terpenuhi.
وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّ
Lafazh insyaallah (إِنْ شَاءَ اللَّهُ) yang diucapkan oleh Yahudi Bani Israil ini memang agak membingungkan, sebab sejak beberapa ayat sebelumnya kita terus menerus diceritakan kisah-kisah pembangkangan mereka. Tapi kali ini mereka mengucapkan insyaallah, yang terkesan mereka ini seperti orang baik.
Dalam beberapa kitab tafsir disebutkan bahwa mereka sampai kemudian mengucapkan insyaallah disebabkan akhirnya mereka sadar dan menyesal atas tindak tanduk mereka sebelumnya, yang sengaja mempersulit permasalahan. Intinya pendapat ini ingin mengatakan bawha awalnya mereka memang membangkan, tapi akhirnya mereka sadar juga.
Namun ada juga yang punya pandangan bahwa walaupun mereka beragama Yahudi tetapi dalam ajaran mereka tetap ada ungkapan-ungkapan seperti Insya Allah apabila Tuhan mengizinkan dan yang sejenisnya tentang hal-hal yang memang belum terjadi dan masih merupakan harapan.
Di sisi yang lain mungkin saja ungkapan mereka tentang Insya Allah itu karena mereka sudah mulai khawatir kalau Nabi Musa tidak percaya dengan iktikad baik mereka, sehingga mereka merasa perlu untuk meyakinkan Nabi Musa dengan mengucapkan Insya Allah.
Dan jangan heran kalau ada yang juga berpendapat bahwa di balik lafazh insyaallah sebenarnya mereka tetap membangkang.
لَمُهْتَدُونَ
Lafazh la-muhtadun (لَمُهْتضدُوْنَ) dimaknai menjadi : "Kami pasti akan mendapatkan petunjuk". Namun petunjuk apakah yang dimaksudkan, para ulama berbeda pendapat menjadi beberapa pandangan yang berlainan :
Petunjuk untuk mendapatkan sapi yang sesuai dengan kriteria.
Petunjuk siapa yang sebenarnya orang yang membunuh.