Kemenag RI 2019:Katakanlah, “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan (untuk mereka) pasangan yang disucikan serta rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. Prof. Quraish Shihab:
Katakanlah,"Inginkah kuberitahukan kepada kamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka, ada surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dianugerahi) pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan yang sangat besar bersumber dari Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.
Prof. HAMKA:
Katakanlah, "Sukakah kamu ceritakan kepada kamu apa yang lebih baik daripada yang demikian, di sisi Tuhan mereka, bagi orang-orang yang bertakwa?" lalah surga-surga, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan istri-istri yang suci, dan keridhaan dari Allah. Dan, Allah adalah melihat akan hamba-hamba-Nya.
Bagi orang-orang yang bertakwa, yang mampu menjaga diri dari jebakan hawa nafsu dan kesenangan sesaat, Allah menjanjikan surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, tempat mereka tinggal kekal bersama pasangan-pasangan yang suci dan dalam ridha Allah. Inilah kenikmatan yang sempurna — bukan hanya keindahan tempat dan pasangan, tetapi juga ketenangan batin karena hidup dalam kasih dan penerimaan penuh dari Sang Pencipta. Penutup ayat ini, “Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya”, mengingatkan bahwa Allah mengetahui siapa di antara manusia yang memilih jalan takwa dan siapa yang terpedaya oleh dunia.
Dengan demikian, ayat ini menanamkan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada yang tampak dan fana, melainkan pada kedekatan dengan Allah dan ridha-Nya. Dunia yang indah hanyalah bayangan, sementara surga dan keridhaan Allah adalah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَٰلِكُمْ
Makna lafazh qul (قُلْ) artinya: “Katakanlah”, sedangkan makna unabbiukum (أُنَبِّئُكُمْ) bermakna: “Aku beri tahukan kepadamu”. Dan makna bikhairin min dzalikum (بِخَيْرٍ مِّنْ ذَٰلِكُمْ) adalah: “Sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu.”
Dalam hal ini Allah SWT menawarkan hal-hal yang jauh lebih baik dari semua contoh kenikmatan yang disebutkan dalam ayat sebelumnya, yaitu kenikmatan di akhirat yang merupakan kenikmatan yang hakiki dan abadi.
Sedangkan kenikmatan duniawi hanyalah kenikmatan yang semu dan bersifat sementara. Dalam hitungan waktu yang singkat, semua keindahan dan kesenangan itu bisa lenyap begitu saja.
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ
Makna lilladzina (لِلَّذِينَ) artinya: untuk mereka, sedangkan makna ittaqau (اتَّقَوْا) artinya: orang-orang yang bertaqwa. Makna ‘inda rabbihim (عِندَ رَبِّهِمْ) adalah: pada sisi Tuhan mereka. Lafazh jannatun (جَنَّاتٌ) artinya: ada surga-surga. Lafazh jannah dalam ayat ini dan juga dalam kebanyakan ayat lain dalam Al-Quran umumnya diterjemahkan sebagai surga, yaitu tempat yang Allah SWT sediakan untuk kita orang-orang yang beriman ketika sudah berada di akhirat nanti.
Allah SWT menyebutkan jannāt dalam bentuk jamak taksīr, yang dipahami bahwa surga itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa. Yang disebutkan dalam Al-Qur’an di antaranya bernama Firdaus (فِرْدَوْس), ‘Adn (عَدْن), An-Na‘im (ٱلنَّعِيم), Al-Ma’wa (ٱلْمَأْوَى) dan lainnya.
Namun kalau kita telusuri lebih dalam, ternyata ada juga kata jannah di dalam Al-Qur’an yang bukan bermakna surga, tetapi bermakna kebun di dunia ini yang banyak tumbuhan dan pepohonan. Setidaknya ditemukan hingga 30-an ayat berbeda yang menyebut jannah sebagai kebun dan bukan sebagai surga. Di antaranya ayat berikut:
Seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. (QS. Al-Baqarah: 265)
Namun sebenarnya kata jannah itu sendiri asal muasalnya dari kata janna (جَنَّ) yang artinya satara (سَتَرَ) — ‘menutupi’. Maka banyak istilah yang berakar kata dari janna punya persamaan, yaitu ada unsur menutupi sesuatu. Beberapa contoh antara lain:
§ Kebun: Kebun itu disebut jannah, karena saking lebatnya pepohonannya sehingga menutupi orang dari penglihatan.
§ Malam: di dalam Al-Quran ada lafazh (فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ) yang maknanya “ketika malam telah menutupi.”
§ Jin: lafazh jin sebagai makhluk halus yang tidak terlihat karena mata kita ditutup untuk dapat melihat jin.
§ Junnah: dalam hadits disebutkan “puasa adalah junnah” yang artinya tameng, karena tameng itu menutupi kita dari senjata lawan.
§ Junun: Selain itu ada kata junun yang berarti kegilaan, karena orang gila itu tertutup akalnya.
§ Janin: lafazh janin yang maknanya jabang bayi dalam perut ibunya memang belum terlihat oleh mata karena tertutup rahim.
Karena surga memang tempatnya kenikmatan yang bermacam-macam, tentu segala macam bentuk kenikmatan tersedia di surga. Namun yang diceritakan dalam Al-Qur’an pastinya harus disesuaikan dengan siapa yang lagi diajak bicara oleh Al-Qur’an. Dan dalam hal ini karena Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi SAW, tentu saja bahasa pendekatannya akan disesuaikan dengan Beliau SAW sebagai orang Arab yang hidup di abad keenam hijriyah.
Tidak mungkin misalnya Al-Qur’an menggambarkan surga berupa kota metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langit yang serba modern. Orang-orang berseliweran naik mobil terbang, bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain lewat portal. Tentu tidak mungkin kalau Al-Qur’an menggambarkan surga seperti hayalan kita di abad ke-21 ini.
Sebab Al-Qur’an tidak diturunkan kepada kita, melainkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para shahabat dengan latar belakang kehidupan mereka yang spesifik, serta pemahaman mereka tentang konsep keindahan dan kenikmatan.
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
Lafazh tajri (تَجْرِي) secara makna berarti berlari, namun maksudnya adalah mengalir. Sebenarnya sungai itu tidak mengalir, karena yang mengalir itu air dan bukan sungainya. Sungai adalah tempat air mengalir. Namun tanpa harus disebutkan air mengalir di sungai, dan langsung disebutkan bahwa sungai itu mengalir, semua orang sudah paham bahwa yang mengalir itu airnya dan bukan sungainya. Gaya bahasa ini termasuk salah satu bentuk majaz atau metafora.
Metafora adalah suatu bentuk kiasan yang menggunakan perbandingan tidak langsung antara dua hal yang berbeda, dengan tujuan untuk memberikan makna yang lebih dalam atau memperkuat makna suatu kata, frasa, atau kalimat. Ketika Allah SWT menyebutkan “sungai mengalir” merupakan metafora untuk menggambarkan sesuatu yang terus bergerak atau berjalan dengan lancar. Sementara “air mengalir” merupakan kalimat yang tidak menggunakan metafora, tetapi merupakan deskripsi langsung dari sesuatu yang terjadi.
Lafazh min tahtiha (مِن تَحْتِهَا) sering diterjemahkan menjadi: mengalir di bawahnya. Kemudian muncul pertanyaan: apa yang dimaksud dengan dari bawah surga mengalir sungai? Apakah sungainya ada di dalam surga, ataukah di luar surga namun sumber asal muasal airnya dari bawah surga? Dan menjadi pertanyaan pula, kenapa digunakan istilah “dari bawah” surga. Apakah maksudnya air sungai di surga bersumber dari bawah tanah yang jadi pijakan penduduk surga? Lalu mata air di surga itu kemudian menjadi sungai sebagaimana air sungai yang sumbernya dari mata air dari dalam tanah?
Memang benar bahwa di dalam surga disebutkan terdapat beberapa mata air, salah satunya mata air Salsabīl:
عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا
Sebuah mata air (di surga) yang dinamakan Salsabil. (Q.S. Al-Insan: 17–18)
Nama Salsabil ialah cerminan dari sifat mata air tersebut, yaitu airnya mengalir deras, lancar di tenggorokan saat diminum, serta lezat dan indah. Selain itu juga ada mata air lain yang disebut bernama Tasnim:
Dan campurannya dari Tasnim, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah). (Q.S. Al-Muthaffifin: 27–28)
Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa Tasnim ialah minuman penduduk surga yang dialirkan dari atas, minuman termulia yang ada di surga. Dalam bahasa Arab, tasnīm artinya tinggi. Sumber Tasnim ada di tempat yang tinggi, lalu mengalir ke bawah. Ada pula ulama yang menerangkan bahwa Tasnim ialah mata air yang mengalir di udara, semua terjadi atas kuasa Allah. Airnya dibagikan ke wadah-wadah milik penghuni surga tepat sesuai ukurannya. Jika telah penuh, airnya berhenti mengalir, sehingga tidak setetes pun tumpah ke tanah.[1]
Lafazh al-anhar (ٱلْأَنْهَارُ) merupakan bentuk jamak dari an-nahr yang bermakna sungai-sungai. Meskipun surga tidak bisa dibayangkan, namun penggambaran di surga ada banyak sungai nampaknya merupakan pendekatan ungkapan bahasa yang disesuaikan dengan sudut pandang bangsa Arab, khususnya dalam hal ini Nabi Muhammad SAW dan para shahabat yang mulia.
Buat bangsa Arab yang umumnya tinggal di gurun pasir, atau setidaknya wilayah mereka memang banyak gurunnya, penggambaran bahwa di dalam surga terdapat banyak aliran sungai merupakan metafora yang paling mudah untuk menggambarkan keindahan secara pandangan umum.
Mengapa demikian? Sebab bila dibandingkan dengan kita bangsa Indonesia yang tinggal di negeri dengan banyak hutan tropis dan sungai, penggambaran surga dengan penyebutan banyak sungai menjadi tidak terlalu eksotik lagi. Toh setiap hari memang sudah tinggal di daerah yang banyak sungai.
Dan ungkapan “di surga ada banyak sungai” menjadi semakin simbolik ketika Al-Qur’an malah menggambarkan sungai dengan aliran susu, khamar, dan madu. Tentu akan menjadi sangat abstrak untuk membayangkan sungai yang airnya bukan air. Namun demikianlah memang Allah ingin memberikan gambaran yang abstrak terkait sungai di surga:
(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa, yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (QS. Muhammad: 15)
خَالِدِينَ فِيهَا
Lafazh khalidina fiha (خَالِدِينَ فِيهَا) dimaknai sebagai mereka kekal atau abadi di dalamnya, maksudnya di dalam surga.
Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan hidup abadi (immortal), yaitu hidup untuk seterusnya dan tidak akan mengalami kematian. Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal, sedangkan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Lain halnya apabila Allah SWT berkehendak memusnahkan semua ciptaan-Nya sehingga tidak ada akhirat, tidak ada surga, dan tidak ada neraka. Tentunya hal semacam itu merupakan kemustahilan bagi Allah.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga sebenarnya adalah puncak kebahagiaan yang menjadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya? Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar kenapa dahulu Nabi Adam alaihissalam sampai melanggar larangan untuk tidak makan buah di surga, sehingga dikeluarkan dari surga. Boleh jadi tujuannya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasil membujuk Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya adalah bahwa apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, immortal, tidak mati-mati hingga selamanya. Al-Qur’an menceritakan dengan gamblang:
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS. Thaha: 120)
وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ
Lafazh azwaj (أَزْوَاجٌ) merupakan bentuk jamak, bentuk tunggalnya zauj (زَوْجٌ) yang maknanya adalah pasangan. Kebanyakan para mufassir mengatakan bahwa pasangan yang dimaksud adalah bidadari atau ḥūr ‘īn, yang memang dipasangkan sebagaimana banyak disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an:
وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. (QS. Ad-Dukhan: 54)
Ada perbedaan mendasar tentang pasangan yang disebut bidadari ini dalam konsep keyakinan orang Barat. Digambarkan dalam literatur mereka bahwa bidadari itu punya sayap. Padahal dalam konsep Al-Qur’an, bidadari itu tidak punya sayap. Yang disebut-sebut memiliki sayap itu bukan bidadari tetapi malaikat, bahkan sayapnya bukan hanya dua tetapi tiga bahkan empat, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut:
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. (QS. Fathir: 1)
Nampaknya dalam konsep Barat ada semacam kerancuan antara konsep bidadari dengan malaikat. Hal itu bisa dengan mudah kita buktikan dari sisi penyebutan keduanya yang sama-sama dinamakan “angel”. Kalau kita buka kamus Inggris–Indonesia atau Indonesia–Inggris, bidadari mereka namakan dengan angel, dan malaikat pun mereka sebut juga angel. Dugaan kita, mereka menyamakan antara bidadari dengan malaikat.
Benar sekali bahwa penampakan malaikat itu bagus, menarik, dan rupawan. Namun kalau malaikat dipersepsikan sebagaimana bidadari tentu keliru. Sebab dalam beberapa ayat disebutkan bahwa ada juga malaikat yang keras sifatnya:
Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)
Bahkan malaikat Jibril pernah menampakkan diri di hadapan Maryam, ibunda Nabi Isa alaihissalam, dalam rupa seorang laki-laki yang sempurna:
Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (QS. Maryam: 17)
Di dalam hadits Jibril yang terkenal itu, juga disebutkan bahwa Jibril menampakkan diri sebagai laki-laki yang sangat hitam rambutnya dan sangat putih bajunya:
Tatkala kami sedang bersama Rasulullah SAW di suatu hari, tiba-tiba muncul di tengah kami sesosok laki-laki yang amat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya. Tak nampak pada dirinya tanda habis menempuh perjalanan jauh, namun tak seorang pun dari kami yang mengenalnya. (HR. Muslim)
Maka jelas sekali bahwa antara Islam dan Barat berbeda konsep tentang malaikat dan bidadari. Jangan sampai kita yang muslim tertukar konsep karena terpengaruh dengan literatur milik orang lain.
Lafazh mutahharah (مُطَهَّرَةٌ) bermakna suci, maksudnya pasangan-pasangan di surga nanti statusnya suci, belum ternoda atau masih perawan. Hal itu sesuai dengan ayat berikut:
Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. (QS. Ar-Rahman: 56)
Namun sebagian kalangan mufassir ada juga yang memaknainya sebagai suci dalam arti ṭahārah, yaitu suci dari haidh, nifas, dan hadats.
Seolah-olah keberadaan pasangan-pasangan itu diciptakan hanya semata untuk sekedar kesenangan birahi semata. Karena kalau dibandingkan dengan wanita pada umumnya di dunia ini, tentulah secara biologis mereka akan mengalami siklus haidh secara rutin, yang berdampak pada suaminya jadi tidak bisa menyetubuhinya. Itulah mengapa bidadari muthahharah, karena dengan tidak haidh mereka bisa disetubuhi setiap waktu.
Memang di dunia ini ada juga wanita yang tidak haidh, misalnya wanita yang masih di bawah umur, namun tentu saja bukan wanita yang bisa disetubuhi. Demikian juga wanita yang sudah usia tua memang tidak lagi haidh, namun dalam urusan biologis juga sudah tidak lagi memungkinkan.
Dan itulah bedanya dengan bidadari di surga, mereka perawan terus, muda terus, dan tidak perlu melalui masa haidh, nifas, apalagi menopouse.
Apabila wanita tidak mengalami haidh, maka dipastikan juga wanita itu tidak subur dan tidak mungkin punya anak. Karena haidh itu sendiri pada dasarnya sel telur wanita yang gugur karena tidak dibuahi. Dan oleh karena itu bila seorang wanita pada dasarnya tidak mengalami haidh, berarti dia memang tidak punya sel telur.
Kalau tidak punya sel telur, mana bisa hamil. Dan memang wanita surga yang sering disebut bidadari itu diriwayatkan tidak akan hamil meski disetubuhi. Dan karena tidak bisa hamil, maka tidak akan melahirkan anak. Dan karena tidak pernah melahirkan anak, mereka juga tidak pernah mengalami nifas. Padahal wanita di dunia ini selain haidh juga nifas apabila baru saja melahirkan anak. Selama haidh dan nifas tentu saja tidak bisa disetubuhi oleh suaminya.
Karena itulah para bidadari itu didesain untuk tidak haidh dan tidak nifas, mereka muthahharah sepanjang masa. Sehingga ada yang memaknai istilah muthahharah sebagai: selalu siap diajak berhubungan suami istri. Dan ungkapan ini biasa diucapkan oleh pasangan-pasangan suami istri, sebagai ajak untuk berhubungan, yaitu ketika istri mengatakan bahwa dirinya telah suci.
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ
Makna kata ridhwan (رِضْوَانٌ) artinya: keridhaan, sedangkan makna minallah (مِنَ ٱللَّهِ) artinya: dari Allah. Maksudnya keberadaan mereka di dalam surga itu sebenarnya karena adanya keridhaan dari Allah.
Dalam hal ini, baik surga ataupun keridhaan bersifat saling terkait. Kalau mau masuk surga harus mendapatkan ridha dari Allah. Sebaliknya, tidak mungkin bisa masuk surga kalau tidak mendapatkan ridha Allah. Kalau logikanya dibalik, maka orang yang mau masuk surga harus berupaya mendapatkan ridha dari Allah SWT.
وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Sedangkan makna bashirun (بَصِيرٌ) artinya: Maha Melihat. Maksudnya bukan sembarang melihat, tetapi penglihatan yang sifatnya bisa menerawang jauh ke wilayah yang dirahasiakan.
Dan makna bil-‘ibad (بِالْعِبَادِ) artinya: kepada hamba-hamba-Nya. Bagi orang hamba Allah, tidak ada hal yang bisa dirahasiakan kalau di hadapan Allah SWT.
[1] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M), jilid 19 hal. 266