Kemenag RI 2019:(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar telah beriman. Maka, ampunilah dosa-dosa kami dan selamatkanlah kami dari azab neraka.” Prof. Quraish Shihab:
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, "Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka
Prof. HAMKA:
{Yaitu) orang-orang yang berkata, "Ya, Tuhan kami! Sesungguhnya, kami telah beriman. Oleh karena itu, ampunilah bagi kami dosadosa kami dan peliharakanlah kami dari siksaan neraka."
Ayat ini tentunya masih merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang bicara tentang orang yang dijanjikan masuk surga dengan segala kenikmatannya. Digambarkan orang itu berdoa kepada Allah dengan menyatakan keimanannya serta permohonannya agar diampuni dari dosa-dosanya, serta permintaan agar dilindungi dari adzab neraka.
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا
Lafazh alladzina yaquluna (الَّذِينَ يَقُولُونَ) artinya : yaitu orang-orang yang berkata. Sebenarnya bukan berkata tetapi maksudnya berdoa, mohon ampunan serta permintaan perlindungan dari adzab neraka.
Orang yang dimaksud adalah orang yang diridhai Allah SWT dan dijanjikan masuk surga, sebagaimana yang telah disebut-sebut di ayat sebelumnya. Mereka ini kemudian dideskripsikan dengan berbagai macam ungkapan.
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) adalah merupakan sapaan kepada Allah SWT, yang merupakan bagian utuh dari etika ketika berdoa. Asalnya ada perangkat untuk menyapa atau adatun-nida’ yaitu kata yaa (يا). Namun posisinya tidak dinampakkan alias mahdzuf, yang tersisa tinggal tandanya, yaitu kata rabb (رَبَّ) menjadi manshub dengan fathah sehingga dibaca rabbana dan bukan rabbuna.
Lafazh innanaa aamanna (إِنَّنَا آمَنَّا) artinya sungguh kami telah beriman. Pernyataan ini adalah dasar keimanan yang membedakan apakah seseorang mendapat ridha Allah SWT atau bukan, juga yang sangat menentukan apakah di akhirat nanti akan masuk surga atau neraka.
Keimanan yang dimaksud bukan hanya sekedar mengakui bahwa Allah SWT adalah Maha Pencipta alam semesta, tetapi juga yang lebih penting dari itu adalah pengakuan bahwa Allah SWT menurunkan aturan dan syariah melalui wahyu yang dibawa oleh malaikat, tertuang dalam kitab suci samawi dan dijalankan serta diperjuangkan oleh para nabi dan rasul utusan Allah.
فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
Lafazh faghfir-lana (فَاغْفِرْ لَنَا) artinya : maka ampunilah kami. Lafazh dzunubana (ذُنُوبَنَا) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya dzanbun (ذنب) yang maknanya dosa-dosa.
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Lafazh wa-qi-na (وَقِنَا) sebenarnya terdiri tiga unsur. Pertama wa (وَ) yang merupakan huruf dan artinya adalah : Dan. Merupakan penyambung dari doa sebelumnya kepada doa yang kemudian.
Kedua adalah lafazh qi (قِ) yang merupakan fi’il amr. Maknanya peliharalah atau jagalah Asalnya dari (وَقَى – يَقِي - قِ). Mungkin kita lebih sering mendapati fi’il amr ini dalam bentuk jamak, yaitu pada ayat berikut :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim : 6)
Terakhir lafazh na (نَا) yang merupakan dhamir atau kata ganti orang pertama jamak, artinya : kami. Posisinya menjadi maf’ul bihi alias yang jadi objek suatu tindakan.
Lafazh adzaban-nar (عَذَابَ النَّارِ) artinya adalah adzab neraka. Makna an-nnar (النَّار) sendiri ada dua, yaitu api atau neraka. Tetapi tidak jadi masalah, karena intinya keduanya adalah bentuk adzab dari Allah yang diancamkan kepada orang-orang yang kafir dan mereka yang berdosa karena menentang perintah Allah SWT, namun siksa api neraka ini waktunya nanti setelah kiamat yaitu di akhirat.
Maka makna ungkapan waqina adzabannar kalau diterjemahkan secara utuh adalah : Jagalah kami atau lindungi kami dari adzab neraka.