Kemenag RI 2019:(Semua itu hanyalah) kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal. Prof. Quraish Shihab:
(Itu) hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah (neraka) Jahannam; dan (Jahannam itu) adalah seburuk-buruk tempat tinggal.
Prof. HAMKA:
Kesenangan yang sedikit! Kemudian tempat kembali mereka ialah Jahannam, dan alangkah buruknya tempat ketetapan itu.
Ayat ke-197 ini tentunya sambungan dari ayat sebelumnya, dimana Allah SWT menegaskan bahwa semua kenikmatan hidup yang dijalani oleh orang-orang kafir dan dilihat dengan iri hati oleh para shahabat hanyalah kenikmatan yang tidak ada artinya. Kenikmatan yang bersifat kecil dan sementara, tidak sebanding dengan kenikmatan yang akan Allah SWT berikan kepada mereka.
مَتَاعٌ قَلِيلٌ
Lafazh mataa’ (مَتَاعٌ) artinya : kesenangan atau kenikmatan. Kata qalil (قَلِيلٌ) artinya : sedikit atau sebentar. Maksudnya kehidupan dan kenikmatan dunia ini bila dibandingkan dengan kehidupan dan kenikmatan akhirat itu hanya sedikit, sebagaimana sabda Nabi SAW yang dinukil oleh Al-Alusi dalam tafsir Ruhul-Ma’ani[1] :
ما الدُّنْيا في الآخِرَةِ إلّا مِثْلُ ما يَجْعَلُ أحَدُكم إصْبَعَهُ في اليَمِّ فَيَنْظُرُ بِمَ تَرْجِعُ
Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, kemudian lihatlah apa yang tersisa di jarinya setelah dikeluarkan.
Namun kalau kita kaitkan ayat ini dengan ayat sebelumnya yang sedang membicarakan kegundahan hati para shahabat ketika membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan lawan-lawan mereka dari kalangan musyrikin Mekkah, ini merupakan bentuk arahan rabbani dari Allah SWT kepada mereka. Hati mereka sedang disenangkan dengan pemikiran bahwa semua bentuk bisnis kalangan musyrikin Mekkah dan hasil kekayaan yang mereka nikmati itu di sisi Allah SWT bukan hal yang perlu untuk dijadikan bahan iri hati dan kecemburuan. Sebab semua itu hanya sedikit secara nilai dan hanya sebentar secara masa kenikmatannya.
Padahal untuk ukuran para shahabat di dalam kondisi mereka saat itu, sebenarnya itulah yang jadi impian mereka. Mereka ingin seperti apa yang dialami oleh lawan-lawan mereka, bisa hidup nyaman, enak, kaya dari hasil bisnis yang memang sudah jadi pasion mereka sejak lahir. Maklumlah, biar bagaimana pun juga para shahabat itu memang keturunan Quraisy juga. Berbisnis dan berdagang memang sudah jadi denyut nadi kehidupan mereka. Dalam darah mereka mengalir naluri berdagang dengan cara melanglang buana dari satu negeri ke negeri lain.
Sayangnya semua itu tidak bisa lagi mereka lakukan, karena alasan ujian keimanan yang sedang mereka rasakan.
Dan Allah SWT nampaknya memahami apa yang bergejolak dalam hati mereka, mengerti apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Dan semua itu memang manusiawi.
Oleh karena itu tidak keliru kalau kemudian Allah SWT mencoba meluruskan cara pandang mereka dengan mengatakan bahwa apa yang sempat dinikmati oleh lawan-lawan mereka itu sifatnya hanya sementara saja, bukan kenikmatan yang akan terus menerus mereka rasakan. Jadi jangan gundah dan jangan gelisah. Toh, mereka hanya sebentar saja merasakannya.
Lafazh tsumma (ثُمَّ) bermakna : kemudian. Lafazh ini memberikan makna bahwa memang ada waktu sementara yang menjadikan perantara atau jeda. Tetapi sifatnya sebentar saja, tidak terlalu lama.
Lafazh ma’wa-hum (مَأْوَاهُمْ) artinya : tempat tinggal mereka, maksudnya setelah mereka nanti mati dan meninggalkan dunia ini, apabila tidak sempat bertaubat dan mati dalam keadaan seperti itu. Rumah atau negeri yang akan mereka tempati adalah neraka jahannam (جَهَنَّمُ). Dan neraka jahannam itu adalah tempat yang sangat buruk untuk tempat kembali.
وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Lafazh bi’sa (بِئْسَ) diterjemahkan menjadi : “buruk sekali”, atau bisa juga menjadi : “alangkah buruknya”. Dikatakan buruk sekali atau alangkah buruknya, karena di neraka tidak ada lagi tempat yang lebih buruk dari neraka Jahannam.
Lafazh al-mihad (الْمِهَادُ) secara harfiyah adalah sesuatu yang terhampar atau tergelar siap untuk dihuni, sebagaimana firman Allah SWT :
أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا
Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? (QS. An-Naba’ : 6)
Namun terjemahan Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab sama-sama menuliskan maknanya menjadi tempat tinggal. Sedangkan versi terjemahan Buya HAMKA adalah : tempat ketetapan.
Maksudnya bahwa neraka Jahannam nantinya akan menjadi tempat tinggal, tempat ketetapan atau istilahnya menjadi tempat peristirahatan terakhir. Tidak ada lagi harapan bagi mereka bahwa suatu ketika akan pindah atau mengungsi ke tempat lain keluar dari neraka jahannam itu.
Jangankan keluar dari neraka pindah ke surga, bahkan sekedar ke neraka lain yang lebih ringan siksaannya pun juga tidak mungkin.
Di dalam Al-Quran, bahwa neraka Jahannam itu disebut sebagai bi’sal-mihad (بِئْسَ الْمِهَادُ) ternyata disebutkan hingga lima kali, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 206, surat Ali Imran ayat 12, surat Ali Imran ayat 197 ini, lalu pada surat Ar-Rad ayat 18, dan surat Shad ayat 56.