Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:
Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): “Allah Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan (kekuasaan) kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan (kekuasaan) dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Hanya di tangan-Mu segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Prof. HAMKA:
Katakanlah, "Ya, Tuhan yang memiliki segala kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada barang siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari barangsiapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau muliakan barangsiapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan barangsiapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Sesungguhnya, Engkau atas tiap-tiap sesuatu adalah Mahakuasa.
Ayat ke-26 dari surat Ali Imran ini dibuka dengan perintah untuk menjawab cemoohan orang kafir, karena Nabi SAW meminta kepada Allah SWT, agar umatnya diberikan kerajaan Persia dan Romawi. Namun Allah SWT menegaskan bahwa Allah SWT adalah pemilik kerajaan. Dan sebagai pemilik, bisa saja kerajaan itu diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Dan semua itu terbukti dalam sejarah, bahwa umat Nabi Muhammad SAW pada akhirnya bisa menaklukkan banyak kerajaan di dunia, bukan hanya Persia dan Romawi saja, tetapi banyak kerajaan lainnya.
قُلِ اللَّهُمَّ
Lafazh qul (قُلِ) adalah perintah dalam bentuk fi’il amr dari asalnya (قَالَ - يَقُول) dan maknanya berkata, sehingga qul itu adalah perintah untuk berkata,”Katakanlah”. Yang memerintah adalah Allah SWT dan yang diperintah adalah Nabi Muhammad SAW.
Dalam terjemahan Kemenag RI, siapa yang diperintah itu kemudian dituliskan dengan diapit dalam dua tanda kurung (Nabi Muhammad). Yang dimaksud dengan perintah untuk berkata sebenarnya merupakan jawaban yang Allah SWT ajarkan, baik untuk untuk kekuatan jiwa kaum muslimin, atau pun juga untuk disampaikan kepada orang-orang kafir. Bahkan menurut sebagian kalangan, teks ayat ini juga merupakan bagian dari doa dan permintaan kepada Allah SWT, meski secara teknis tidak berupa permintaan secara langsung.
Menurut sebagian ahli bahasa, lafazh allahumma (اللَّهُمَّ) asalnya adalah ya Allah (يا الله), yaitu panggilan kepada Allah SWT. Lalu ya (يا) sebagai adatun-nida’ dihilangkan alias mahdzuf dan digantikan dengan huruf mim bertasydid (مّ) dibagian belakang.
Menyapa Allah SWT di awal lafazh ini kemudian dimaknai oleh sebagian kalangan sebagai untaian doa, sebab biasanya doa itu diawali dengan sapaan Allahumma yang merupakan adab dalam berdoa.
Kemudian muncul pertanyaan, kalau ayat ini dianggap sebagai doa, pada bagian mana kita temukan doa itu? Bukankah ayat ini sampai bagian akhirnya tidak ada unsur doa kecuali hanya pernyataan terkait kekuasan Allah SWT semata?
Ternyata doanya adalah justru yang menjadi latar belakang turunnya ayat ini, yaitu permintaan Nabi SAW agar umatnya nanti diberikan kerajaan Persia dan Romawi, yang di masa itu merupakan dua kerajaan terbesar dan terkuat di dunia. Fakhruddin Ar-Razi meriwayatkan hal itu di dalam Mafatih Al-Ghaib, berikut petikannya :
Bahwa Nabi SAW ketika dibebaskannya kota Mekkah menjanjikan umatnya kerajaan Persia dan Romawi. Lalu orang munafik dan Yahudi mengejek,”Jauh sekali, jauh sekali! Dari mana Muhammad mendapatkan kerajaan Persia dan Romawi? Mereka jauh lebih kuat dan terjaga daripada itu."
Maka doanya adalah ketika ayat ini dibaca, sebenarnya muatannya juga bermakna permintaan kepada Allah SWT agar diberikan kerajaan bagi umat Nabi SAW. Meskipun permintaan itu kelihatan agak mengada-ada di masa itu, namun dalam kenyataannya apa yang dijanjikan oleh Nabi SAW kepada para shahabat pada akhirnya memang benar-benar menjadi kenyataan.
Peradaban besar Persia akhirnya tumbang dan jatuh ke tangan kaum muslimin, di masa Umar bin Al-Khattab, lewat sebuah perang yang sangat epik yaitu Al-Qadisiyah. Kekaisaran Persia berkuasa di dunia selama kurang lebih 400 tahun, dari tahun 550 SM hingga 164 M. Kekaisaran ini didirikan oleh Cyrus Agung dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Raja Darius I. Kekaisaran Persia terkenal dengan sistem pemerintahannya yang terorganisir, pasukan militernya yang kuat, dan budayanya yang kaya.
Kekaisaran Persia runtuh setelah kalah dalam Perang Al-Qadisiyah pada tahun 637 M. Perang ini terjadi antara pasukan Muslim yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqas dan pasukan Persia yang dipimpin oleh Rostam Farrokhzad. Kemenangan pasukan Muslim dalam perang ini menandai berakhirnya Kekaisaran Persia dan awal era baru Islam di wilayah tersebut.
Sebagian wilayah Kekaisaran Romawi juga jatuh ke tangan kaum muslimin di masa pemerintahan Umar bin Khattab, setidaknya wilayah Syam (Suriah) pada tahun tahun 634 M. Kota-kota penting yang dikuasai, antara lain Damaskus, Homs, Aleppo, dan Antiokhia. Pertempuran Yarmuk pada tahun 636 Masehi menjadi titik balik penting dalam penaklukan Syam.
Sedangkan wilayah Romawi di Anatolia (Turki) dan Balkan pada masa itu masih berada di bawah kekuasaan Romawi dan baru berhasil direbut di masa pemerintahan Turki Utsmani, yaitu oleh Muhammad Al-Fatih di tahun 1453 Masehi.
مَالِكَ الْمُلْكِ
Lafazh maalik (مَالِكَ) artinya pemilik dan merupakan ism fail dari (ملك - يملك). Pemilik itu adalah pihak yang punya kuasa sepenuhnya atas apa yang dimilikinya, bahkan lebih dari sekedar raja sekalipun.
Lafazh al-mulki (الْمُلْكِ) artinya kerajaan. Sedangkan yang menjadi raja disebut dengan malik (ملك).
Maka kalau disebutkan bahwa Allah SWT itu malikal-mulki () sebenarnya posisinya jauh di atas raja itu sendiri. Allah SWT itu bukan sekedar menajdi raja yang berkuasa pada suatu kerajaan, tetapi Allah SWT justru merupakan pemilik dari kerajaan itu sendiri.
Kalau ada ungkapan bahwa di atas raja masih ada raja lagi, sebenarnya yang lebih tepat disebutkan bahwa di atas raja masih ada yang jadi pemilik kerajaan, yaitu Allah SWT.
تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ
Lafazh tu’ti (تُؤْتِي) artinya : Dia memberikan, sedangkan lafazh al-mulka (الْمُلْكَ) artinya adalah kerajaan. Namun ada juga sebagian ulama mengatakan bahwa makna al-mulka adalah kenabian. Dasarnya adalah ayat berikut ini :
Sungguh Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka. (QS. An-Nisa’ : 54)
Lafazh man tasya’ (مَنْ تَشَاءُ) artinya: kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Namun yang umumnya disepakati dari makna al-mulk adalah kerajaan. Kalau ada istilah bagi-bagi kekuasaan, sebenarnya itu adalah hak preogratif Allah SWT. Dialah yang pada hakikatnya membagi-bagi kekuasaan dan kerajaan, dan bukan raja itu sendiri.
Penggalan ayat ini nampaknya ingin menegaskan bahwa seorang raja itu pada dasarnya bukanlah pemilik kerajaan. Para raja sebenarnya hanya sekedar orang yang secara kebetulan ‘diberikan’, lalu secara bergantian akan menerima kekuasaan dan kemudian harus meletakkan kekuasaannya.
Ada masanya seorang jadi raja dan ada masanya dia akan kehilangan kerajaannya. Ada banyak ketika dia kehilangan kerajaannya, yang paling sering adalah lewat kematiannya ataupun lewat penggulingan kekuasaan dari lawan politiknya.
Para raja di dunia itu bukan pemilik kerajaan, melainkan hanya orang-orang yang dititipkan kerajaan. Kapan waktu kerajaannya bisa diambil-alih oleh yang memberinya kerajaan, lalu diserahkan kepada raja yang lain.
Dalam hal ini yang menjadi pemilik asli kerajaan adalah Allah SWT. Dia-lah yang memberikan amanah berupa kerajaan kepada orang yang Dia kehendaki, lalu Dia juga yang akan mencabut kerajaan itu darinya. Itulah yang dimaksud dengan penggalan tu’til-mulka (تُؤْتِي الْمُلْكَ).
Lafazh man tasya’ (مَنْ تَشَاءُ) artinya : “Siapa saja orang yang Engkau kehendaki”. Penggalan ini bisa dipahami dengan beberapa cara.
§ Pertama, memberikan kerajaan itu sepenuhnya hak preogratif Allah SWT. Tidak ada syarat khusus untuk bisa mendapatkannya, semua tergantung Allah SWT.
§ Kedua, Allah SWT tidak wajib menjelaskan kenapa seseorang Dia berikan kerajaan dan kenapa yang lain tidak.
§ Ketiga, dari sudut pandang kita sebagai manusia, siapa yang Allah SWT pilih jadi raja bersifat random alias acak. Walaupun kita tahu bahwa Allah SWT pasti punya alasan khusus yang tidak harus Dia jelaskan kepada kita.
§ Keempat : Siapa saja bisa saja diberikan kerajaan, mekipun bukan anak raja atau pun keturunan raja.
وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ
Lafazh tanzi’u (وَتَنْزِعُ) adalah fi’il mudhari’ dari asalnya (نَزَعَ - يَنْزِعُ) yang artinya mencabut, sebagaimana mencabut pohon dengan akar-akarnya. Kata naz’ (نَزْع) ini juga bisa berarti menanggalkan sebagaimana pakaian yang dilepaskan dari badan sehingga auratnya kelihatan. Dan itu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut :
Dia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. (QS. Al-Araf : 27)
Dalam hal ini kata naz’ digunakan untuk menggambarkan raja yang dicabut kekuasaannya sehingga dia kehilangan kerajaannya dan tidak lagi menjadi raja. Dan berapa banyak para raja di dunia ini yang telah kehilangan kerajaannya.
Bahkan boleh dikatakan tidak ada raja yang tidak akan mengalaminya. Semua raja pasti akan mencapai titik dimana pada akhirnya dirinya dilucuti dari kerajaannya. Kalau tidak dengan kematiannya, atau dengan keuzurannya atau dengan direbut oleh raja yang lain saingannya.
Dan semua itu bukan terjadi begitu saja, melainkan ada yang melakukannya dengan sengaja dan dengan segala kekuasannya, yaitu Allah SWT. Dialah Tuhan yang memberi kerajaan kepada seseorang dan sekaligus Dia juga yang nanti akan mencabutnya.
وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ
Lafazh tu’izzu (وَتُعِزُّ) artinya : memberikan ‘izzah, yaitu kemuliaan, kebanggaan dan rasa percaya diri.
Penggalan ini boleh jadi sebagai penjelasan atas hikmah dibalik orang yang diberikan kepada kerajaan, dengan kerajaan itu dia mendapatkan kebanggaan, menerima kemuliaan dan mendapatkan kepercayaan diri.
Meskipun sebenarnya mendapatkan izzah itu tidak selamanya didapat lewat menjadi raja. Ada banyak cara yang membuat orang bisa punya kebanggaan, misalnya harta, jabatan, keluarga, keamanan bahkan termasuk juga ilmu pengetahuan.
Lafazh tudzillu (تُذِلُّ) adalah lawan dari tu’izzu, yaitu menghinakan, merendahkan, menjatuhkan rasa bangga dan membanting harga diri.
Makna man tasya’ () sudah dijelaskan maknanya yaitu : “Siapa saja yang Engkau kehendaki”.
بِيَدِكَ الْخَيْرُ
Lafazh bi-yadika (بِيَدِكَ) artinya : “di tangan Mu”. Ayat ini merupakan salah satu ayat mutasyabihat, karena membicarakan bentuk fisik Allah SWT, yaitu Allah punya tangan. Lalu banyak ulama yang mentakwil tangan menjadi kekuasaan.
Lafazh al-khair (الْخَيْرُ) secara umum bermakna kebaikan. Namun makna al-khair itu bisa bermacam-macam, kadang bisa bermakna harta benda sebagaimana di ayat berikut :
Maka kami menghendaki bahwa Tuhan mereka menggantinya (dengan seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).
Dan bisa juga al-khair bermakna keuntungan, sebagaimana ayat berikut :
Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. (QS. Al-Ahzab : 25).
إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Lafazh innaka (إِنَّكَ) bermakna : Sesungguhnya Engkau, maksudnya adalah Allah SWT. Sedangkan ungkapan ’ala kulli sya’in (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ) artinya : atas segala sesuatu. Dan makna qadir (قَدِيرٌ) adalah : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Maka pernyataan bahwa Allah SWT Maha Kuasa tentunya menjawab semua rasa ragu dan ketidak-yakinan itu. Kita tidak usah merasa susah apalagi merasa lemah, sebab buat Allah tidak ada yang berat dan sulit. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk ketika harus memberikan kekuasaan atau kerajaan Persia dan kerajaan Romawi.
Ketika semua ada dalam genggaman kekuasan-Nya, maka tidak ada yang susah bagi Allah. Dan selama kita bersama Allah, maka Allah SWT akan lakukan yang terbaik buat kita.