Kemenag RI 2019:Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Prof. Quraish Shihab:
Di sanalah Zakariyya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: ''Tuhanku, anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang berkualitas. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.
Prof. HAMKA:
Pada waktu itu berdoalah Zakaria kepada Tuhannya, katanya, "Ya, Tuhanku! berilah kepadaku dart sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya, Engkau adalah Pendengar permohonan.
Ayat ke-38 ini merupakan sambungan dari ayat sebelumnya, yang menceritakan bahwa Nabi Zakaria terkejut melihat keadaan Maryam yang mendapatkan semacam keajaiban berupa rizki yang unik, yaitu diberi oleh Allah buah-buahan yang tidak sesuai dengan musimnya.
Maka di ayat ini diceritakan bagaimana Nabi Zakaria meminta kepada Allah SWT hal-hal yang juga ajaib dan tidak masuk akal, yaitu meminta diberikan anak dalam usia yang nyaris tidak mungkin lagi. Usianya sudah 80 tahun atau dalam riwayat yang lain sudah berusia 120 tahun.
Semantara istrinya adalah wanita mandul, kalau pun hamil, usianya sudah 80 tahun. Pastinya beresiko sangat tinggi bila hamil di usia tersebut.
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ
Lafazh hunalika (هُنَالِكَ) adalah kata tunjuk yang mengacu pada tempat, sehingga sudah tepat kalau diterjemahkan menjadi : disana. Namun Fakhruddin Ar-Razi mengatakan bahwa kata ini bisa juga menunjukkan waktu, sehingga tidak keliru bila diterjemahkan menjadi : pada waktu itu.
Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkan hunalika menjadi : disana, sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : pada saat itu.
Lafazh da’aa (دَعَا) bisa bermakna memanggil, namun juga bisa bermakna berdoa. Namun disini maknanya adalah berdoa, yaitu memohon kepada Allah SWT dengan permintaan tertentu. Namun di ayat lain disebutkan bahwa Zakaria memanggil Tuhannya, dengan lafazh naadaa (نَادَىٰ) :
إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
(yaitu) ketika dia memanggil kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.
Kebanyakan mufassir mengatakan bahwa penyebab dan latar belakang Zakaria berdoa adalah karena melihat keajaiban atau karamah yang terjadi pada diri Maryam, dimana dia mendapati Maryam diberikan Allah SWT buah-buahan yang unik. Di musim panas, dia mendapat buah-buahan yang seharusnya tidak ada, tetapi justru tersedia buah-buahan khas musim dingin. Sebaliknya, di musim dingin, Maryam mendapatkan buah-buahan yang seharusnya hanya ada di musim panas.
Tentu hal seperti ini merupakan keajaiban yang menunjukkan betapa Allah SWT Maha Kuasa dan bisa menjadikan sesuatu yang mustahil bisa terjadi.
Maka terbersitlah di benak Nabi Zakaria untuk ikut juga berdoa memohon kepada Allah SWT dengan permintaan yang secara nalar sulit diterima akal. Permintaannya adalah agar di usia yang sudah sangat tua itu agar bisa punya anak. Padahal istrinya mandul dan juga sudah sangat tua.
Namun Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun menambahkan penyebab lainnya, yaitu Allah SWT memang memberi kesempatan kepada Nabi Zakaria untuk berdoa dan meminta sesuatu kepada-Nya. Maka Zakaria kemudian berdoa meminta diberikan anak keturunan, walaupun secara teknis nampak mustahil, sebab istrinya mandul dan sudah jadi nenek-nenek tua renta. Secara logika, mana bisa nenek-nenek itu hamil dan melahirkan anak. Setidaknya, resikonya sangat tinggi.
قَالَ رَبِّ هَبْ لِي
Lafazh rabbi (رَبِّ) artinya : Wahai Tuhanku. Ini adalah sapaan yang menunjukkan etika dan kesantunan dalam berdoa.
Lafazh hab (هَبْ) adalah fi’il amar yang merupakan perintah. Namun karena ditujukan kepada Allah SWT, kita tidak menyebutnya sebagai perintah, tetapi sebagai permohonan. Asalnya dari (وَهَبَ - يَهَبُ) yang maknanya memberi hibah, atau hadiah.
Lafazh lii (لِي) artinya : untukku. Meskipun yang hamil istrinya, namun anak itu dianggap ‘milik’ ayahnya, sebagaimana sabda Nabi SAW :
أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
Dirimu dan hartamu merupakan hak milik ayahmu.
Maka kata habli (هب لي) bisa diterjemahkan menjadi : hibahkanlah kepadaku, atau karuniai aku.
Menarik untuk membahas bahwa anak itu adalah karunia Allah, hibah atau pemberian serta anugerah. Tidak semua orang diberi karunia. Kalau Allah SWT menahan karunia itu, maka tidak akan punya anak. Dan betapa banyak di dunia ini pasangan yang tidak dikaruniai anak, baik anak secara keseluruhan, ataupun anak laki-laki.
Nabi Muhammad SAW sendiri memang punya anak, namun Beliau tidak dikaruniai anak laki-laki, padahal bagi orang Arab di masa itu, bahkan hingga hari ini, punya anak laki-laki itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Punya satu saja anak laki-laki, sudah merupakan kebanggan, apalagi banyak anak laki-lakinya, tentu akan sangat bangga.
Namun Nabi SAW justru tidak dikaruniai anak laki-laki. Sebenarnya bukan tidak dikaruniai sama sekali, sebab Khadijah pernah melahirkan Qasim dan Abdullah, namun keduanya wafat ketika masih kecil. Ketika Nabi SAW bersama Maria Al-Qibtiyah, Allah SWT sempat memberinya karunia seorang anak laki-laki bernama Ibrahim. Namun lagi-lagi Allah SWT memanggil Ibrahim ketika masih kecil.
Maka pupuslah kebanggaan Nabi SAW, Beliau terbilang tidak punya anak laki-laki yang merupakan penerus keturunan.
مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً
Lafazh min ladunka (مِنْ لَدُنْكَ) bermakna : dari sisi-Mu. Ungkapan ini mengandung makna khusus, yaitu permintaan yang secara nalar manusia biasa dianggap tidak mungkin.
Kalau diibaratkan, ketika seorang kepala negara membagi-bagikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada rakyat adalah bagian dari program yang sudah disetujui menggunakan anggaran belanja negara alias APBN, maka di luar itu bisa saja seorang presiden memberi bantuan yang sifatnya pribadi. Tentu sumbernya bukan dari APBN, tetapi dari kantong pribadi sang Presiden.
Kalau secara umum sudah tidak mungkin pemberian itu terjadi, namun kalau secara jalur khusus alias melalui jalur ‘orang dalam’, tentu mungkin-mungkin saja.
Oleh karena itulah orang-orang banyak menyebut pemberian yang bersifat jalur khusus ini sebagai ilmu ladunni. Maknanya : pemberian yang sifatnya pribadi dari sisi Allah.
Lafazh dzurriyah (ذُرِّيَّةً) artinya keturunan. Secara teknis lafazh ini bisa bermakna jamak’ dalam arti anak cucu dan keturunannya ke bawah, tetapi bisa juga bermakna satu saja, yaitu seorang anak. Dalam kasus ini, yang dimaksud adalah satu anak saja.
Lafazh thayyibah (طَيِّبَةً) artinya yang baik atau yang shalih. Ada juga yang memaknainya sebagai : yang diberkahi.
إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
Lafazh innaka (إِنَّكَ) artinya : sungguh Engkau, samii’ud-du’a (سَمِيعُ الدُّعَاءِ) artinya Maha Mendengar atas doa atau permintaan.
Penulis membayangkan bila ada seorang pejabat tinggi, tentu setiap hari dia menerima laporan dari masyarakat. Semakin tinggi jabatannya, semakin banyak laporan yang masuk kepadanya. Untuk itu dia pastinya punya sejumlah staf untuk bisa membantunya, setidaknya membaca dan merespon tiap surat yang masuk. Boleh jadi sang pejabat tidak pernah membaca satu per satu surat yang masuk. Staf-nya akan membaca dan menyeleksi, mana surat yang akan diserahkan kepada atasannya dan mana yang disortir alias dibuang masuk tong sampah.
Sedangkan Allah SWT pastinya berbeda dengan sang pejabat. Allah SWT tidak butuh staf atau tim asisten yang membantunya membacakan surat-surat permohonan hamba-Nya.
Semua permohonan dan doa hamba-Nya pasti didengar oleh Allah SWT. Sesuatu yang bagi manusia biasa pasti tidak akan bisa mendengar permohonan sebegitu banyak. Namun Allah SWT mampu mendengar semua permohonan hamba-Nya satu per satu.
Kalau dibandingkan dengan berhala-berhala yang disembah itu, maka Allah SWT menyebutkan bahwa tak satupun yang mampu mendengar doa manusia.
Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. (QS. Fathir : 14)
Di masa lalu, sulit rasanya membayangkan Allah SWT bisa mendengar doa berjuta manusia yang terpanjatkan ke langit. Namun di masa sekarang ini, rasanya kita jadi sedikit bisa paham, karena kita mengenal komputer sebagai alat yang mampu membaca sekian banyak data dalam hitungan yang amat cepat.
Pada tahun 2019, Google mengumumkan bahwa setiap harinya, lebih dari 500 jam video diunggah ke YouTube setiap menitnya.
Tentu Google harus punya data center yang segede gunung Uhud untuk menampung semua data yang masuk. Bukan hanya kapasitas hardisk, tetapi juga harus punya bandwidth yang cukup lebar agar lalu lintas data bisa keluar masuk secara lancar tanpa ada hambatan apapun.
Dan data yang tiap hari masuk itu tentu saja bukan sekedar sampah, tetapi semua video itu menjadi data yang terstruktur dan menjadi big data yang lengkap. Karena setiap file video itu memiliki meta data yang terselip di dalamnya, isinya bisa bermacam-macam, misalnya kapan dan dimana video itu dibikin.
Bahkan Google bisa mensortir mana video yang asalnya dari hasil menggandakan dari video yang sudah ada. Dengan demikian, Google bisa melakukan pemblokiran dan lain-lainnya secara otomatis dan tidak bersifat manual.
Lantas apa hubungannya antara kinerja Google dengan sifat Allah yang Maha Mendengar semua doa?
Jawabanya untuk membuat semacam perbandingan, kalau di masa sekarang Google bisa menangani jutaan data yang masuk dalam hitungan detik, tentu seperti itu mudah saja bagi Allah SWT. Bahkan kemampuan Allah SWT tidak terhingga, Google pun belum ada seujung kukunya.
Penggambaran ini kurang lebih menirukan bagaimana Allah SWT di dalam Al-Quran menggambarkan data ilmu yang Allah SWT miliki, dimana seandainya semua itu dituliskan dengan tinta semua air laut dijadikan tinta dan pohon-pohon dijadikan penanya, maka sampai air laut kering pun, belum bisa menuliskan semua ilmu Allah.
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luqman : 27)