Kemenag RI 2019:Lalu, Malaikat (Jibril) memanggilnya ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya yang membenarkan kalimat dari Allah, ) (menjadi) anutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” Prof. Quraish Shihab:
"Maka para malaikat memanggilnya ketika dia sedang berdiri melakukan shalat di mihrab. (Katanya): ''Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran Yab_ya, Pembenar kalimat Allah, panutan, berkemampuan menahan diri, dan seorang nabi yang termasuk kelompok orang-orang saleh. "
Prof. HAMKA:
Maka, menyerulah kepadanya Malaikat, sedang dia sembahyang di mihrab, "Sesungguhnya, Allah menggembirakan engkau dengan Yahya, yang akan membenarkan kalimat dart allah dan akan menjadi pemimpin dan akan terpelihara dan seorang nabi dari kaum yang saleh."
Ayat ke-39 ini masih sambungan dari ayat sebelumnya terkait dengan Nabi Zakaria yang diberi kabar gembira akan diberi anak di usia yang sudah lanjut. Diceritakan bahwa ketika sedang berdiri shalat, Malaikat memanggilnya dan memberinya kabar gembira akan diberikan anak yang bernama Yahya.
Yahya sang anak itu ternyata juga seorang nabi yang membenarkan kenabian yang lain, yaitu kenabian Isa alaihissalam, juga menjadi pemimpin dari kaum yang beriman, secara menjadi orang yang terjaga hidupnya dari maksiat.
فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ
Lafazh fa nadat hu (فَنَادَتْهُ) terdiri dari huruf fa (ف) yang maknanya : maka, lalu fi’il madhi yaitu naadaa (نادت) yang artinya : memanggil atau menyeru. Dan dhamir hu (هُ) kembali kepada Zakaria.
As-Suddi mengatakan bahwa malaikat yang memanggilnya adalah Jibril alaihissalam, karena biasanya yang berhubungan dengan para nabi memang Jibril. Sehingga meski disebut malaikat yang maknanya adalah para malaikat yang jumlahnya banyak, namun yang dimaksud hanya satu saja, yaitu Jibril alaihissalam.
Namun dari para mufassir ada juga yang mengatakan bukan Jibril tetapi malaikat yang jumlahnya bukan hanya satu. Karena lafazh malaikat bentuk jamak yang menunjukkan jumlah lebih dari dua alias banyak. Kalau hanya satu, disebut dengan malak.
وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ
Lafazh wa huwa qaim (وَهُوَ قَائِمٌ) artinya dan dia dalam keadaan berdiri. Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menuliskan dalam terjemahnya bahwa qaim itu berdiri, sehingga bisa dipahami bahwa shalat yang dilakukan oleh Zakaria itu berdiri.
Sedangkan kalau kita perhatikan terjemah Buya HAMKA, ternyata Beliau tidak menerjemahkannya sebagai berdiri melainkan hanya mengerjakan sembahyang saja.
Konon disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang-orang terdahulu ketika shalat, mereka hanya diperintahkan berdiri saja. Kemudian seiring dengan perjalanan waktu, shalat itu ditambahi dengan gerakan rukuk dan sujud. Sehingga karena rukuk dan sujud merupakan gerakan tambahan, tidak keliru kalau di banyak tempat Allah SWT menyebut shalat itu dengan ungkapan berdiri.
Bahkan kemudian dijadikan kata kerja untuk shalat, yaitu aqaama ash-shalah (أقام الصلاة) atau yuqimu ash-shalah (يقيموا الصلاة)
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat dan menunaikan zakat. (QS. At-Taubah : 18)
وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
Mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. (QS. Al-Bayyinah : 5)
Terjemahannya pun identik menjadi : mendirikan shalat. Tentu saja maknanya adalah mengerjakan shalat, namun terkandung juga makna bahwa shalat itu memang dikerjakan sebagian besarnya dengan berdiri.
أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ
Lafazh annallah (أَنَّ اللَّهَ) artinya : bahwa Allah, sedangkan makna yubasysyiruka (يُبَشِّرُكَ) asalnya dari (بشَّرَ - يُبَشِّرُ) dan artinya : memberi busyra alias kabar gembira. Sebagaimana ungkapan mereka yang menemukan Nabi Yusuf di dalam sumur :
قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ
Dia berkata: "Oh, kabar gembira, ini seorang anak muda. (QS. Yusuf : 19)
Lafazh bi yahya (بِيَحْيَىٰ) maknanya : dengan Yahya. Maksudnya isi kabar gembira itu bahwa Nabi Zakaria diberi kabar gembira dua macam. Pertama, bahwa dirinya akan mendapatkan anak lewat istrinya yang akan segera mengandung anaknya. Kedua, namanya adalah Yahya.
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa kedatangan Nabi Yahya itu sudah banyak diceritakan dalam kitab-kitab suci sebelumnya, sehingga orang-orang banyak yang menunggu-nuggu kedatangan sang nabi. Termasuk juga Nabi Zakaria juga menunggu-nunggu kedatangan sang Nabi Yahya.
Dan ternyata Allah SWT memberinya kabar gembira, bahwa Nabi Yahya yang telah ditunggu-tunggu itu tidak lain adalah anak yang dikandung oleh istrinya.
مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّه
Lafazh mushaddiqan (مُصَدِّقًا) artinya : yang membenarkan, sedangkan makna bikalimatin (بِكَلِمَةٍ) artinya dengan kalimat. Dan makna minallah (مِنَ اللَّه) artinya : dari Allah.
Para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan : membenarkan kalimat dari Allah tidak lain maksudnya membenarkan akan kedatangan Nabi Isa alaihissalam.
As-Suddi meriwayatkan bahwa ibunda Isa yaitu Maryam sempat bertemu dengan ibunda Nabi Yahya. Saat itu keduanya sedang sama-sama hamil mengandung anak. Maka ibunda Yahya menyapa,”Wahai Maryam, aku merasa bahwa diriku hamil”. Dan Maryam pun menjawab,”Aku juga merasa diriku hamil”. Lalu ibunda Yahya berkata,”Aku mendapati anak dalam kandunganku sedang sujud menghormati anak dalam kandunganmu”.
Ibnu Abbas radhiyallahuanhu menceritakan bahwa Nabi Yahya itu enam bulan lebih tua daripada Nabi Isa alaihimassalam. Namun begitu, faktanya bahwa Nabi Isa sejak bayi sudah bicara bicara, bahkan beberapa riwayat mengatakan bahwa Isa lahir dalam keadaan sudah baligh. Beliau tidak mengalami masa kanak-kanak atau masa pra kenabian. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
Berkata Isa: "Sesungguhnya Aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. (QS. Maryam : 30)
Disebutkan bahwa Nabi Yahya terbunuh sebelum Nabi Isa diangkat ke langit. Namun karena perbedaan usia yang sangat dekat antara keduanya, maka kita bisa katakan mereka hidup sezaman. Meskipun tercatat bahwa nabi terakhir sebelum Muhammad SAW adalah Nabi Isa.
وَسَيِّدًا
Lafazh wa sayyidan (وَسَيِّدًا) diterjemahkan : “dan sebagai anutan atau panutan” oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya sebagai pemimpin.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna sayyidan adalah pemimpin yang lembut. Sedangkan Al-Jubba’i mengatakan maknanya pemimpin kaum muslimin dan tokoh dalam agama baik dalam urusan ilmu, kelembutan, peribadatan dan juga sikap wara’.
Mujahid mengatakan maksudnya adalah orang yang mulia di sisi Allah. Sedangkan Said bin Al-Musayyib mengatakan makna sayyidan adalah orang yang faqih dan alim. Ikrimah mengatakan maknanya adalah orang yang tidak dikuasai dengan amarah.
وَحَصُورًا
Lafazh hashuran (وَحَصُورًا) juga banyak makna yang diajukan oleh banyak ulama. Setidaknya ada dua kelompok utama yang memperdebatkan keadaan Nabi Yahya alaihissalam, yaitu :
1. Pendapat Kelompok Pertama
Kelompok pertama mengatakan bahwa maknanya bahwa Nabi Yahya tidak mampu mendatangi wanita.
Lalu sebagian menambahkan bahwa hal itu karena Allah SWT menjadikannya alat kelaminnya sebegitu kecilnya. Sebagian yang lain mengatakan bahwa dia tidak mampu sampai ejakulasi. Sebagian lainnya mengatakan karena Beliau ditaqdirkan tidak punya hawa nafsu dengan wanita.
2. Pendapa Kelompok Kedua
Kelompok kedua tentu saja menolak apa yang dikatakan oleh kelompok pertama, karena itu berarti Nabi Yahya cacat dan punya kekurangan secara biologis. Dan hal-hal seperti itu tidak layak dimiliki oleh seorang nabi seperti Yahya.
Sebagai gantinya mereka mengatakan bahwa Nabi Yahya itu laki-laki normal, namun penguasaan dirinya atas hawa nafsu biologis terhadap wanita sedemikian kuatnya sehingga tidak mudah terganggu.
Ibarat orang yang kuat puasanya, bukan berarti tidak merasa lapar dan haus. Dia lapar dan dia juga haus, namun karena sudah kuat imannya, rasa lapar dan haus itu bisa ditahan sehingga tidak sampai puasanya batal.
وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
Lafazh nabiyyan (وَنَبِيًّا) artinya : nabi. Maksudnya anak yang dikandung oleh istri Zakaria adalah seorang nabi, setelah nanti dilahirkan.
Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Yahya sebagaimana Nabi Isa, sudah diangkat menjadi nabi sejak masih kecil. Dasarnya adalah ayat Al-Quran berikut ini :
Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, (QS. Maryam : 12)
Namun ada juga yang mengatakan bahwa ayat di atas tidak menunjukkan bahwa Nabi Yahya sudah diangkat menjadi nabi di usia kecil, tetapi yang dimaksud bahwa sejak kecil sudah diberi ilmu untuk memahami kitab Taurat.
Sedangkan makna minash-shalihin (مِنَ الصَّالِحِينَ) artinya : termasuk dari kalangan orang-orang yang shalih.Tentang hal ini ada sebuah hadits yang terkait dengan keshalihan Nabi Yahya:
Tidaklah ada seorang nabi kecuali pernah nyaris bermaksiat, atau punya keinginan untuk itu, kecuali Nabi Yahya. Sesungguhnya dia tidak pernah bermaksiat dan sama sekali tidak punya keinginan untuk itu.