Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di semesta alam (pada masa itu). Prof. Quraish Shihab:
Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata: "Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan memilihmu atas segala wanita di dunia.
Prof. HAMKA:
Demikianlah dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada engkau dan tidaklah engkau beserta mereka ketika mereka membuang undi tentang siapa di antara mereka yang akan mengasuh Maryam, dan tidak ada engkau di dekat mereka ketika mereka berbantah.
Ayat ke-42 ini ternyata sudah berbeda tema dari ayat sebelum-sebelumnya, yaitu berkisar pada kisah Nabi Zakaria yang diberi kabar gembira diberi anak. Di ayat ini kisahnya berpindah kepada Maryam, atau lebih tepat bila disebut ceritanya kembali lagi ke kisah Maryam.
Memang antara kisah Maryam dan Nabi Zakaria ini kisahnya seperti saling berkelindan satu sama lain. Di ayat 34 Allah SWT memulai dengan kisah ibunda Maryam, yaitu Hannah yang adalah merupakan istri dari Imran. Dikisahkan bahwa Hannah bernadzar bila diberi anak, maka akan diserahkan ke Baitul Maqdis. Ternyata anaknya perempuan dan diberi nama Maryam.
Di Baitul Maqdis, Maryam dipelihara oleh Nabi Zakaria yang lama tidak punya anak. Kisahnya kemudian berpindah seputar Nabi Zakaria yang ternyata tidak punya anak. Lantas Nabi Zakaria melihat karamah Maryam, anak asuhnya yang setiap hari mendapatkan rejeki dari Allah SWT.
Lalu tergerak lah hati Zakaria untuk juga meminta ‘keajaiban’ dari Allah SWT, yaitu agar dirinya dan istri yang sudah sama-sama tua bangka bisa diberi anak. Kemudian Nabi Zakaria minta tanda bahwa dirinya akan diberi anak.
Sampai disitu kisahnya kembali lagi ke kisah Maryam, yaitu di ayat ke-42 ini. Di ayat ini digambarkan bagaimana Maryam didatangi malaikat yang menegaskan bahwa dirinya adalah wanita yang paling tinggi derajatnya dan paling mulia dibandingkan semua wanita mulia di seluruh dunia.
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ
Lafazh wa-idz (وَإِذْ) yang terdapat sebelum kata qaalat (قَالَتِ) dipahami oleh para ulama secara berbeda. Pendapat pertama mengatakan itu adalah shilah zaidah (صلة زائدة), yaitu penyambung yang sifatnya hanya tambahan saja dan sama sekali tidak mempengaruhi makna.
Maknanya tetap sama ada atau tidak ada lafazh itu menjadi :"Dan ketika malaikat berkata". Pendapat ini salah satunya didukung oleh Abu Ubaidah.
Namun ada juga yang mengatakan lafadz idz (إِذا) merupakan kalimah maqshurah (كلمة مقصورة) atau kata yang dikurangi. Dalam hal ini mereka katakan maknanya adalah : “ingatlah ketika”.
Lafazh al-malaikatu (الْمَلَائِكَةُ) bermakna para malaikat. Ini adalah bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah malak (ملك). Dan sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, ada dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa meski disebutkan banyak malaikat, namun maksudnya hanya satu saja, yaitu Malaikat Jibril alaihissalam.
Salah satu yang berpendapat seperti ini adalah As-Suddi, karena biasanya memang Malaikat Jibril itulah yang berhubungan dengan para nabi dan rasul.
Namun dari para mufassir ada juga yang mengatakan bahwa malaikat yang dimaksud bukan Jibril tetapi malaikat yang lain, bahkan bisa saja jumlahnya bukan hanya satu. Karena lafazh malaikat bentuk jamak yang menunjukkan jumlah lebih dari dua alias banyak. Kalau hanya satu, disebut dengan malak.
يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ
Lafazh ya maryamu (يَا مَرْيَمُ) artinya : “Wahai Maryam”. Yang menyapa adalah malaikat dan yang disapa adalah Maryam. Ini menunjukkan bahwa antara keduanya bertemu langsung dan bukan lewat perantaraan.
Lafazh innallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : “sesungguhnya Allah”. Sedangkan lafazh ishthafa-ki (اصْطَفَاكِ) adalah fi’il madhi, dari asalnya (اصطفى - يصطفي) yang maknanya : memilih. Sedangkan dhamir ki (كِ) adalah kata ganti orang kedua yang berjenis kelamin perempuan, artinya : kamu atau dirimu.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan memilih adalah memberikan keistimewaan yang tidak diberikan kepada orang lain, diantaranya adalah hal-hal berikut ini .
1. Menjadi Pelayan Perempuan Pertama di Baitul Maqdis
Maryam diberikan pengecualian oleh Allah SWT dengan menjadi pelayan pertama perempuan di dalam Baitul Maqdis. Padahal sebelumnya belum pernah ada sejarahnya perempuan bisa seperti itu.
2. Mendapat Rizki Dari Allah
Al-Hasan mengatakan bahwa Maryam sejak dilahirkan belum pernah diberi nutrisi oleh ibundanya. Sebab Maryam langsung diserahkan kepada para rahib di Baitul Maqdis.
Ternyata Maryam diberi makan langsung oleh Allah SWT. Bahkan dengan jenis makanan yang unik, yaitu buah musim panas tersedia di musim dingin, sedangkan buah musim dingin tersedia di musim panas.
Menurut banyak ulama, makanan yang diasup oleh Maryam bukanlah makanan yang sumbernya dari bumi ini, tetapi sumbernya langsung dari surga.
3. Berhadapan Dengan Malaikat
Maryam adalah wanita yang mulia karena bisa bertemu langsung dengan malaikat dan berbicara secara langsung tanpa perantara. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh para nabi dan rasul yang menerima wahyu.
Sedangkan Maryam tidak menjadi nabi ataupun rasul, namun mendapat keistimewaan seperti layaknya para nabi dan rasul. Para wanita yang shalihah dan punya derajat yang tinggi memang banyak, namun tidak semua mereka bertemu langsung secara berhadap-hadapan dengan malaikat.
Di dalam hadits disebutkan bahwa ada empat wanita yang dikatakan sebagai wanita utama. Namun hanya Maryam saja yang didatangi Jibril dengan langsung secara fisik, bahkan mereka bisa berbincang secara langsung.
Cukuplah bagi wanita mulia empat orang, yaitu : Maryam, Asiyah istri Fir’aun, Khadijah dan Fatimah alihimassalam.
Buya HAMKA menuliskan dalam tafsirnya Al-Azhar bahwa beberapa ulama Islam, di antaranya Ibnu Hazm al-Andalusi berpendapat bahwa Maryam itu seorang nabi perempuan. Selain Maryam, perempuan-perempuan lainnya yang menjadi nabiyah perempuan adalah Hawa, Sarah istri Ibrahim, Hajar istri Ibrahim, ibu Nabi Musa, dan Asiah istri Fir'aun.
Buya HAMKA juga menuliskan bahwa Abul Hasan al-Asy'ari berkata, "Di kalangan perempuan ada beberapa nabi perempuan. lbnu Abdil Barr berkata, "Banyak fuqaha berpendapat bahwa di kalangan perempuan ada nabi perempuan. As-Suhaili pun berkata demikian.
Dan ternyata mufassir al-Qurthubi berkata, "Yang shahih ialah bahwa Maryam itu adalah seorang nabi perempuan karena Malaikat menyampaikan wahyu kepadanya, mengandung perintah Allah dan perkabaran dan kabar selamat”.
Namun semua pendapat di atas umumnya ditentang oleh mayoritas ulama, dengan beberapa dalil qath’i. Salah satunya penegasan dari Al-Quran secara langsung bahwa nabi itu hanya dari kalangan laki-laki saja.
Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), kecuali laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka di antara penduduk negeri. (QS. Yusuf : 109)
وَطَهَّرَكِ
Lafazh wa thahhara-ki (وَطَهَّرَكِ) artinya : Dan Dia mensucikan dirimu. Asalnya dari (طَهَّر - يُطَهِّرُ) dan maknanya bisa saja terkait dengan fisik atau pun secara psikologis.
Suci secara fisik itu maksudnya bahwa Maryam diriwayatkan sebagai wanita yang tidak pernah mengalami haidh atau pun nifas. Az-Zajjaj termasuk ulama tafsir yang punya pendapat bahwa Maryam tidak pernah haidh atau nifas. Kalau apa yang dikatakan oleh Az-Zajjah ini benar, maka Maryam tidak pernah dalam hidupnya libur melakukan shalat dan ibadah-ibadah lainnya.
Sebagai pelayan rumah Allah Baitul Maqdis secara fulltime, Maryam sama sekali tidak punya masalah dengan keberadaannya di dalam masjid. Dia tidak perlu libur keluar dari tempat suci di waktu datang bulan, karena tidak ada jadwal datang bulan bagi seorang Maryam.
Sedangkan menurut Al-Hasan dan Mujahid, kesucian yang menjadi anugerah Maryam itu terkait dengan kesucian dari kekafiran.
وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
Lafazh washthafaki (وَاصْطَفَاكِ) secara harfiyah artinya : “Dan Allah telah memilihmu”. Namun dalam terjemahan versi Kemenag RI diterjemahkan menjadi : “Dan Dia telah melebihkanmu”. Sedangkan Buya HAMKA memaknainya menjadi : “Dan Allah memuliakanmu”.
Lafazh ‘alaa nisa’il ‘alamin (عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ) secara harfiyah artinya : “dibandingkan dengan seluruh wanita di alam semesta”. Perbandingan ini bukan dalam rangka merendahkan para wanita mulia yang lain, namun untuk menunjukkan bahwa derajat kemuliaan Maryam itu tinggi melebihi tingginya derajat para wanita lain di alam semesta.
Para mufassir kemudian banyak menyebut-nyebut sosok para wanita yang dimuliakan dalam kisah umat manusia di berbagai belahan bumi dan di berbagai garis waktu. Beberapa di antaranya yang banyak disebut-sebut adalah :
Hawwa : Dia adalah manusia perempuan pertama yang diciptakan Allah SWT sebagai pendamping Nabi Adam alaihissalam. Dari rahimnya lahir lah umat manusia.
Hajar : Dia adalah istri Nabi Ibrahim alaihissalam. Dari rahimnya lahir nabi Ismail dan kemudian nantinya akan lahir dari keturunan-keturunan berikutnya yaitu Nabi Muhammad SAW. Ibunda Hajar inilah yang kita jadikan dasar ibadah sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah.
Asiyah Istri Fir’aun : Allah SWT menyebut nama istri Firaun sebagai sosok yang patut dijadikan suri tauladan bagi orang-orang beriman.
Dan Allah membuat isteri Fir´aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir´aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. (QS. At-Tahrim : 11)
§ Khadijah : Dia adalah istri pertama Nabi SAW yang memberinya anak keturunan dan menjadi pendamping setia di masa awal perjalanan Nabi SAW. Khadijah bukan hanya mendukung dakwah, namun sosok Beliau menjadi sosok yang bisa memberikan ketenangan dan kekuatan batin bagi diri Nabi SAW.
§ Fatimah : Dia adalah puteri Nabi SAW yang dari rahimnya lahir anak keturunan Nabi SAW, yaitu Hasan dan Husain.
Di dalam hadits ada disebutkan beberapa nama wanita yang mulia calon penghuni surga, yaitu :
Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah bin Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, istri Firaun.
Lafazh ishthafa (اصطفى) ini sebenarnya terulang dan memang maknanya sama, tetapi menurut para ulama tafsir keduanya punya tujuan yang berbeda.
Makna ‘dipilih’ yang pertama terkait dengan menjadi pelayan pertama di Baitul Maqdis yang perempuan, atau karena mendapat rizki dari Allah dan langsung berhadapan dengan Malaikat, padahal hanya para nabi saja yang bisa demikian.
Sedangkan makna ‘dipilih’ yang kedua ini karena melahirkan Nabi Isa alaihissalam. Ini adalah kedudukan tertinggi yang berhasil diraih oleh seorang perempuan, jauh mengalahkan semua perempuan yang pernah ada dalam timeline sejarah. Nabi SAW sendiri yang bersabda :
Yang paling tinggi dari perempuan di seluruh dunia adalah Maryam, kemudian Fatimah, kemudian Khadijah kemudian Asiyah.
Ada juga yang mengatakan bahwa kedudukan Maryam yang tinggi ini diraih karena dirinya selalu membenarkan apa-apa yang Allah SWT tetapkan, sehingga Beliau juga disebut sebagai shiddiqah alias perempuan yang sifatnya selalu membenarkan apa yang Allah SWT tetapkan (وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ).
وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ
Dan ibunya seorang shiddiqah (QS. Al-Maidah : 75)
Di ayat lain juga disebutkan hal yang kurang lebih sama :
وَصَدَّقَتْ بِكَلِماتِ رَبِّها
Dan dia (Maryam) membenarkan kalimat dari Tuhannya (QS. At-Tahrim : 12)
Maka terjemahan dari Kemenag RI bahwa Maryam dilebihkan dari semua wanita itu sudah benar, sebagaimana terjemah Buya HAMKA bahwa Maryam itu lebih dimuliakan dari semua wanita di dunia ini juga benar adanya.