Kemenag RI 2019:Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad). Padahal, engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena ) mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam dan engkau tidak bersama mereka ketika mereka bersengketa. Prof. Quraish Shihab:
'1tulah (sebagi,an) dari berita-berita (penting) yanggaib yang Kami wahyukan kepadamu padahal engkau tidak berada di sisi mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengimdi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan engkau tidak berada di sisi mereka ketika mereka bersengketa. "
Prof. HAMKA:
Demikianlah dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada engkau dan tidaklah engkau beserta mereka ketika mereka membuang undi tentang siapa di antara mereka yang akan mengasuh Maryam, dan tidak ada engkau di dekat mereka ketika mereka berbantah.
Ayat ke-44 ini seperti memberikan informasi umum terkait kisah-kisah yang ada di ayat-ayat sebelumnya. Kalau kita cermati, sejak dari ayat 33 Allah SWT sudah menceritakan tentang Nabi Adam, Nabi Nuh, keluarga Nabi Ibrahim, dan juga keluarga Imran.
Semua kisah itu kalau dilihat dari sisi seorang Nabi Muhammad SAW merupakan kisah ghaib, dalam arti bukan kisah yang bangsa Arab kenal dalam literatur mereka. Sebab semua itu tidak terjadi di negeri Arab.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa kisah yang diceritakan di ayat-ayat di atas bahkan di kalangan anak cucu keturunan Bani Israil sendiri pun tidak dikenal, sehingga bisa disebut sebagai kisah ghaib buat semua pihak.
ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ
Lafazh dzalika (ذَٰلِكَ) adalah kata tunjuk yang menunjukkan tempat yang agak jauh. Sedangkan bila jaraknya dekat, biasanya disebut dengan hadza (هَذَا). Karena yang ditunjuk memang jauh jaraknya, baik secara waktu ataupun juga secara lokasi, yaitu kisah para nabi terdahulu, baik Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim termasuk juga nantinya Nabi Isa alaihimussalam.
Lafazh anbaa’ (أَنْبَاءِ) adalah bentuk jamak dari naba’ (النبأ) yang artinya berita. Lafazh al-ghaibi (الْغَيْبِ) artinya secara harfiyah adalah ghaib. Namun makna anbail-ghaibi (أنباء الغيب) bukan berarti berita ghaib, juga bukan berita dari alam ghaib.
Para ulama menyebutkan bahwa kata naba’ (نبأ) itu berbeda dengan khabar (خبر) dari segi kebenarannya. Khabar itu adalah berita yang kita dengar, namun kebenarannya masih belum terkonfimasi. Artinya berita itu bisa benar bisa juga tidak benar. Belum ada jaminan atas kebenaran sebuah berita.
Tetapi kalau kita sebut naba’ (نبأ), maka itu adalah berita yang sudah terkonfirmasi kebenarannya. Berita yang bukan sekedar berita, tetapi berita yang amat sangat bisa dipercaya kebenarannya.
Makanya kepastian terjadinya hari kiamat pun menggunakan kata naba’ dan bukan sekedar khabar. Di dalam Al-Quran, Allah SWT menggunakan kata naba’ untuk berita pasti akan terjadinya hari kiamat.
عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ
Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar (QS. An-Naba’ : 1-2)
Begitu juga para nabi utusan Allah itu disebut dengan nabi, karena mereka adalah yang membawa naba’ alias berita yang benar-benar terjamin kebenarannya dari Allah SWT.
Lalu kenapa disebut an-naba’ al-ghaibi? Bukankah terkesan itu cerita bohong karena disebut dengan ghaib?
Inilah yang jadi masalah. Kata al-ghaib (الغيب) dalam bahasa Arab ketika diadaptasi ke Bahasa Indonesia, ternyata mengalami distrosi parah serta pergeseran makna yang menyesatkan. Dalam konotasi kita, kalau sesuatu itu kita kaitkan dengan hal ghaib, maka yang muncul dalam pemahaman kita adalah sesuatu yang tidak masuk akal, tidak logis, cenderung imajiner, dongeng dan khurafat saja.
Padahal makna al-ghaib dalam bahasa Arab itu punya pengertian tersendiri, yaitu sesuatu yang tidak kita lihat secara langsung karena memang tidak ada di hadapan kita.
Contohnya kata ‘dia’ (هو - هي) atau ‘mereka’ (هم - هن), disebut dengan dhamir lil-ghaib. Ini adalah istilah untuk ‘orang ketiga’ dalam percakapan. Disebut dengan ghaib karena orangnya tidak ada di depan kita, dan bukan karena dia termasuk makhluk halus berasal dari dunia ghaib. Maka keliru kalau kita memahami istilah ‘kabar ghaib’ alias anbail-ghaib (أنباء الغيب) sebagaimana berita ghaib.
Namun yang jadi pertanyaan, kalau memang bukan berita ghaib, kenapa disebut dengan istilah ghaib?
Ada beberapa jawaban, yaitu terkait dengan perbedaan akar sejarah dan perbedaan zaman.
1. Perbedaan Akar Sejarah
Yang dimaksud dengan perbedaan akar sejarah bahwa kisah-kisah terkait Nabi Adam, Nabi Nuh, keluarga Nabi Ibrahim dan keluarga Imran bagi Nabi Muhammad SAW yang seorang berkebangsaan Arab memang bukan kisah yang akrab di telinga.
Setidaknya kisah-kisah itu bukan akar sejarah bangsa Arab, kecuali tentang Nabi Ibrahim yang memang mereka akui bahwa diri mereka termasuk salah satu keturunan dari Nabi Ismail alaihissalam.
Namun keberadaan Nabi Ibrahim sendiri di negeri Arab hanya sedikit, sekilas bahkan sebentar saja. Memang benar Nabi Ibrahim adalah tokoh yang mendirikan Ka’bah dan menghidupkan syariat haji, namun yang pasti Nabi Ibrahim sendiri malah aslinya bukan dari negeri Arab. Beliau asalnya dari negeri Babil (Babilonia), tinggal lama di Palestina, lalu sempat ke Mesir dan juga ke Mekkah. Wafatnya pun bukan di negeri Arab, makanya di negeri Arab tidak ada kuburannya.
Yang disebut dengan ‘keluarga Ibrahim’ lebih identik dengan istri Nabi Ibrahim yang pertama, yaitu Sarah dengan puteranya yaitu Nabi Ishak, lalu cucunya yaitu Nabi Ya’qub, lalu anak dari cucunya yaitu Nabi Yusuf alaihimussalam. Dan orang-orang Bani Israil lahir dari keturunan mereka.
Keluarga Ibrahim ini lebih terkonsentrasi di negeri Palestina. Sedangkan di negeri Arab, yaitu Mekkah, memang ada patung Nabi Ibrahim yang disembah kalangan musyrikin Arab.
2. Perbedaan Zaman
Alasan kenapa ada istilah anbail-ghaibi yang kedua adalah bahwa semua kisah yang diceritakan itu merupakan kejadian di masa lalu, dimana Nabi Muhammad SAW belum lahir.
Nabi Adam alaihissalam sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, hidupnya jauh sebelum masa peradaban manusia ada di muka bumi. Begitu juga Nabi Nuh alaihissalam juga jauh sekali masa hidupnya dengan masa kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Yang lebih nampak mudah diketahui masa hidupnya adalah Nabi Ibrahim alaihissalam. Umumnya para sejarawan sepakat menyebutkan hidupnya di sekitaran abad 19 atau abad 20 sebelum Masehi.
Sedangkan masa hidup keluarga Imran, masa hidupnya menjelang masuknya awal tahun masehi. Sebab Imran itu sebenarnya adalah kakeknya Nabi Isa. Istri Imran mengandung bayi bernama Maryam, dan Maryam adalah ibunda Nabi Isa alaihissalam.
Maka semua kisah di atas kalau dipandang dari sudut pandang seorang Nabi Muhammad SAW bisa dikatakan ‘ghaib’. Jaraknya sangat jauh secara waktu. Di samping juga lokasinya yang juga bukan di negeri Arab.
نُوحِيهِ إِلَيْكَ
Lafazh nuhiihi ilaika (نُوحِيهِ إِلَيْكَ) bermakna : “kami wahyukan kepadamu”. Maksudnya bahwa kisah-kisah para nabi dan rasul yang diceritakan di atas, termasuk kisah keluarga Imran, meski pun terbilang ghaib bagi Nabi SAW, namun semua itu Allah SWT wahyukan kepada Beliau SAW lewat Al-Quran.
Dan ini sebenarnya menjadi bagian dari mukjizat Al-Quran yang memang banyak menceritakan kisah-kisah di masa lalu yang akurat dan tidak terbantahkan. Bahkan dalam beberapa kasus, apa yang disampaikan Al-Quran justru tidak banyak diketahui oleh anak cucu keturunan Bani Israil.
Misalnya kisah Nabi Musa yang bertemu dengan Nabi Khidhir dan diajari banyak pesan-pesan kehidupan. Tak seorang Yahudi pun tahu adanya kisah itu dan ternyata Al-Quran membicarakannya secara agak panjang lebar, bahkan malah menjadi nama surat tersendiri di dalam Al-Quran.
Begitu juga kisah para pemuda yang terkenal yaitu ashabul-kahfi yang pada dasarnya mereka para pemuda yang beriman di masa kenabian Isa alaihissalam, ternyata tak satu pun pendeta dan rahib nasrani yang tahu kisahnya. Padahal Al-Quran mengisahkan apa yang terjadi pada diri mereka yang tertidur selama 300 tahun ditambah 9 tahun lagi.
وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ
Lafazh wa ma kunta laidhim (وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ) artinya : “dan kamu tidak berada di tengah mereka”. Yang dimaksud dengan ‘kamu’ disini maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW. Dan ini adalah pernyataan langsung dari Allah SWT.
Penggalan inilah boleh jadi justru merupakan penjelasan dari istilah ghaib di atas. Ghaib itu maksudnya bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berada di tengah mereka, yaitu tidak jadi saksi langsung dari masing-masing mereka yang dikisahkan dalam ayat-ayat di atas.
Sebenarnya Nabi Muhammad SAW bukan berarti sama sekali tidak pernah bertemu dengan mereka. Sebab kita percaya dan membenarkan kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dimana diriwayatkan terjadi pertemuan dengan para nabi di atas.
Nabi Adam : Nabi SAW bertemu dengan Nabi Adam itu terjadi di langit pertama, sebagaimana hadits berikut :
Kemudian kami dimi’rajkan ke atas langit. Jibril meminta dibukakan lalu ada suara bertanya,”Siapa Anda?”. Jibril menjawab,”Jibril”. Suara itu bertanya lagi,”Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab,”Muhammad”. Suara itu bertanya lagi,”Apakah dia telah diutus kepadanya?”. Jibril menjawab,”Ya, telah diutus kepadanya”. Maka dibukakan pintu untuk kami. Ternyata itu adalah Nabi Adam alaihissalam. Dia menyambut kami dan mendoakan kebaikan untukku”.
Nabi Ibrahim : Pada langit ketujuh Nabi SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagaimana hadits tersebut :
ثُمَّ عُرِجَ بِنا إلى السَّماءِ السّابِعَةِ، فاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، فَقِيلَ: مَن هَذا؟ قالَ: جِبْرِيلُ، قِيلَ: ومَن مَعَكَ؟ قالَ: مُحَمَّدٌ ﷺ، قِيلَ: وقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قالَ: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنا فَإذا أنا بِإبْراهِيمَ ﷺ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إلى البَيْتِ المَعْمُورِ، وإذا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ لا يَعُودُونَ إلَيْهِ،
Kemudian kami dimi’rajkan ke atas langit. Jibril meminta dibukakan lalu ada suara bertanya,”Siapa Anda?”. Jibril menjawab,”Jibril”. Suara itu bertanya lagi,”Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab,”Muhammad”.Suara itu bertanya lagi,”Apakah dia telah diutus kepadanya?”. Jibril menjawab,”Ya, telah diutus kepadanya”. Maka dibukakan pintu untuk kami. Ternyata itu adalah Nabi Ibrahim alaihissalam yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur, tempat itu setiap harinya dimasuki 70 ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur).
Nabi Isa dan Nabi Yahya : Pada langit kedua dikisahkan bahwa Nabi SAW bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya alaihimassalam.
Kemudian kami dimi’rajkan ke atas langit yang kedua. Jibril meminta dibukakan lalu ada suara bertanya,”Siapa Anda?”. Jibril menjawab,”Jibril”. Suara itu bertanya lagi,”Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab,”Muhammad”.Suara itu bertanya lagi,”Apakah dia telah diutus kepadanya?”. Jibril menjawab,”Ya, telah diutus kepadanya”. Maka dibukakan pintu untuk kami. Ternyata itu adalah dua orang putera bibiku, Nabi Isa dan Nabi Yahya bin Zakaria alaihimassalam. Keduanya menyambut kami dan mendoakan kebaikan untukku”.
Lafazh idz (إِذْ) oleh beberapa mufassir dijelaskan secara berbeda. Abu Ubaidah mengatakan lafazh itu adalah shilah zaidah (صلة زائدة), yaitu penyambung yang sifatnya hanya tambahan saja dan sama sekali tidak mempengaruhi makna. Maknanya tetap sama ada atau tidak ada lafazh itu menjadi :"Dan ketika".
Namun pendapat lain mengatakan lafadz idz (إِذْ) disitu bukan shilah zaidah melainkan kalimah maqshurah (كلمة مقصورة) atau kata yang dikurangi. Dalam hal ini mereka katakan maknanya adalah : ingatlah ketika, sehingga makna secara utuhnya menjadi : "Dan ingatlah ketika".
Lafazh aqlamahum (أَقْلَامَهُمْ) adalah jamak dari qalam (قَلَم) yang artinya : pena.
Disebutkan ketika menemukan bayi Maryam di Baitul Maqdis, ternyata para rahib saling berebutan untuk bisa memeliharanya. Dan karena saking kerasnya perebutan di tengah mereka, akhirnya mereka sepakat untuk melakukan undian di antara mereka dengan cara melempar pena di atas sungai Jordan.
Diriwayatkan bahwa para rahib di Baitul Maqdis juga merupakan para penulis Taurat dengan menggunakan pena. Maka ketika mereka harus saling mengundi siapa yang berhak memelihara Maryam, mereka pun menggunakan pena di Sungai Jordan.
Hukum Mengundi
Penggalan ayat ini oleh banyak ulama dijadikan dasar dari dibolehkannya undian dalam memutuskan perkara yang diperselisihkan, bahkan sesuatu yang punya kekuatan hukum.
Disebutkan bahwa ada tiga nabi yang dalam hidupnya mempraktekkan pengundian.
Pertama adalah Nabi Yunus, dimana beliau termasuk orang yang dibuang ke laut berdasarkan undian yang dilakukan berkali-kali.
Kedua adalah Nabi Zakaria yang sedang kita bicarakan sekarang ini.
Ketiga adalah Nabi Muhammad SAW.
Dan khusus dalam syariat Nabi Muhammad SAW kita menemukan beberapa kali beliau SAW menetapkan sebuah keputusan besar dengan menggunakan undian. Beberapa contohnya adalah :
1. Mengundi Yang Berhak Menjamu Rasulullah SAW
Di antara contoh nyata bentuk mengundi yang halal itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika para shahabat berebut untuk menjadi tuan rumah bagi Rasulullah SAW saat baru tiba di Madinah. Biar adil, Rasulullah SAW menawarkan untuk dilakukan sebuah pengundian, dan langsung disetujui oleh para shahabat. Rasulullah SAw bersabda :
خَلُّوا سَبِيلَ النَّاقَةِ فَإِنَّهاَ مَأْمُوْرَة
Maka beliau pun membiarkan untanya berjalan sendirian di tengah kota Madinah, dimana pun unta itu berhenti dan duduk, maka disitulah Rasulullah SAW akan bertempat tinggal sementara. Dan ternyata unta itu berhenti di rumah Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahuanhu.
2. Mengundi Istri Yang Ikut Perang
Selain itu beliau sering mengundi di antara istri beliau tentang siapa yang berhak ikut mendampingi beliau dalam perjalanan peperangan. Karena beliau tidak mungkin mengajak semua istri ikut berperang. Nanti tidak jadi perang malah sibuk mengurus istri.
Namun kalau beliau SAW keluar Madinah untuk berperang, maka jatah giliran menginapnya Rasulullah SAW kepada para istrinya akan terganggu. Yang senang tentu saja yang ikut dalam perang itu.
Untuk itulah maka disepakati oleh para istri beliau adanya undian. Siapa yang namanya keluar dalam undian, maka dia berhak ikut menyertai Rasulullah SAW ikut dalam peperangan. Dan yang lain harus ikhlas menerimanya.
Rasulullah SAW apabila hendak melakukan safar, Beliau mengundi di antara para istri, siapa yang namanya keluar maka dia yang menyertainya.
Ketika Aisyah radhiyallahuanha kehilangan kalung dan tertinggal rombongan, kejadiannya ketika beliau menang dalam undian untuk menyertai Rasulullah SAW dalam perang tersebut.
3. Mengundi Untuk Adzan dan Mendapat Shaf Pertama
Juga ada hadits pengandaian tentang keutamaan mendapatkan shalat pada baris paling depan di dalam masjid.
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu (marfu'an) : Seandainya orang-orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan mengundi, pastilah mereka akan saling mengundi. (HR. Bukhari).
Hadits ini menunjukkan bahwa mengundi untuk mendapatkan shaf terdepat dalam shalat bukan sesuatu yang terlarang. Sebab undian ini terbebas dari perjudian. Meski dalam sebuah perjudian sering digunakan undian.
وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
Lafazh yakhtashimun (يَخْتَصِمُونَ) artinya : saling berbantahan atau saling bersengketa. Saling berbantahan atau saling sengketa yang terjadi di antara mereka disebabkan karena masing-masing punya hasrat yang kuat untuk bisa menjadi kafil atau pemelihara Maryam.
Al-Qurtubi menceritakan bahwa bahwa Nabi Zakaria merasa dirinya yang paling berhak untuk memelihara Maryam. Alasannya bahwa Maryam itu masih keponakannya. Dalam hal ini Maryam itu anak dari adik iparnya. Ibunya Maryam yaitu Hannah adalah saudari perempuan dari istri Nabi Zakaria yang bernama Asy-ya’ binti Faquda (أَشْيَعُ بِنْتُ فَاقُودَ).
Rahib yang lain mewakili Bani Israil menampik apa yang diklaim oleh Zakaria. Dia mengatakan bahwa Maryam itu anak dari Imran, yang dianggap sebagi ulama mereka dari kalangan Bani Israil.
Masing-masing bisa saja benar dalam klaimnya dan sulit untuk menetapkan siapa yang paling tepat argumentasinya. Makanya, pilihan terakhir adalah undian.