Lafazh yu’allimu-hu (يُعَلِّمُهُ) artinya : mengajarkan, asalnya dari kata ilmu, bentuk tashrifnya adalah (عَلَّمَ – يُعَلِّمُ- تَعْلِيْماً). Yang menjadi fail atau pelakunya adalah Allah SWT. Sedangkan yang menjadi maf’ulnya adalah dhamir hu (هُ) yang artinya Dia, dan maksudnya adalah Nabi Isa alahissalam.
Lafazh kitab (كتاب) dalam bahasa Arab modern adalah buku. Namun di dalam Al-Quran, kitab itu tidak harus selalu berwujud buku seperti yang kita kenal. Apalagi bangsa Arab di masa itu pun belum mengenal mesin cetak, sehingga jangan membayangkan kitab itu berwujud buku seperti yang kita kenal di zaman sekarang.
Seringkali lafazh kitab itu dikonotasikan sebagai kitab suci, seperti Taurat, Zabur, Injil ataupun Al-Quran Al-Karim.
Namun kadang kitab juga berarti tulisan. Dan nampaknya para mufassir banyak yang memaknai kata kitab di ayat ini sebagai tulisan. Maksudnya Allah SWT telah mengajari Nabi Isa tulis menulis.
وَالْحِكْمَة
Lafazh al-hikmah (الْحِكْمَةَ) ditafsirkan menjadi beberapa penafsiran, rinciannya sebagai berikut :
Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-hikmah adalah bagian dari masalah agama yang tidak bisa kita ketahui kecuali lewat jalur dari Nabi Muhammad SAW, dimana harus beliau ajarkan langsung :
الدين الذي لا يعرفونه إلا به ﷺ يعلمهم إياها
Abu Ja’far mengatakan bahwa al-hikmah adalah :
العلم بأحكام الله التي لا يدرك علمها إلا ببيان الرسول ﷺ، والمعرفة بها، وما دل عليه ذلك من نظائره
Ilmu terkait hukum-hukum Allah yang tidak bisa didapat ilmu itu kecuali lewat penjelasan dari rasulullah SAW, dengan mengenalinya serta lewat petunjuknya.
Dan banyak juga para ulama di antaranya Al-Hasan, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, Abu Malik, dan lainnya yang mengatakan bahwa al-hikmah itu maksudnya adalah sunnah nabi Muhammad SAW, sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Quran.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa al-hikmah itu adalah al-fahmu fid-din (الفهم في الدين) alias kepahaman yang mendalam dalam urusan agama. Yang lain lagi ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah al-fiqhu fi at-ta’wil (الفقه في التأويل) : memahami ta’wil ayat-ayat Al-Quran.
Apabila ditafsirkan sebagai sunnah, maka yang dimaksud tidak lain adalah sumber hukum syariah yang kedua setelah Al-Quran, terkadang disebut juga dengan hadits. Oleh para ulama, sunnah didefinisikan sebagai berikut :
ما ورد عنِ النّبِيِّ مِن قولٍ أو فِعلٍ أو تقرِيرٍ
Segala hal yang bersumber kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, tindakan atau taqrir (sikap diam atas suatu masalah).
Sebenarnya sumber sunnah ataua apa yang keluar dari mulut Nabi SAW tidak lain bersumber dari Allah SWT juga, sebagaimana firman-Nya :
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm : 1-5)
Secara teknis, jumlah hadits nabawi jauh lebih banyak dari pada jumlah ayat Al-Quran. Kalau diukur secara ketebalan, mushaf Al-Quran hanya terdiri 604 halaman saja. Itu mengacu pada mushaf modern di masa kini yang paling populer adalah mushaf terbitan Majma’ Malik Fahd di Madinah yang menggunakan kaligrafi buah karya Dr. Utsman Thaha. Sedangkan jumlah hadits itu bukan hanya ratusan ribu tapi angkanya bisa sampai jutaan butir.
وَالتَّوْرَاة
Kitab Taurat adalah salah satu kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT, yang berisi petunjuk dan cahaya. Kitab ini diturunkan pertama kali kepada Nabi Musa AS dan digunakan untuk memutuskan perkara orang-orang Yahudi. Kejadiannya setelah mereka diselamatkan dari kejaran Firaun. Nabi Musa diminta Allah SWT untuk naik ke atas bukti Tursina dan bermunajat selama 40 malam, sebelum akhirnya Taurat diberikan.
Taurat turun dalam bentuk tulisan atau teks di atas batu, yang berbeda dengan cara penurunan Al-Quran. Al-Quran turun dalam bentuk suara yang dibacakan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Taurat juga mengandung hukum-hukum yang mengikat, termasuk hukum rajam untuk pezina, hukum potong tangan bagi pencuri, larangan memakan babi dan bangkai, serta larangan minum khamar. Al-Quran memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menjalankan isi kitab Taurat karena merupakan firman Allah SWT.
Taurat tidak hanya berlaku bagi Nabi Musa AS, tetapi juga bagi nabi-nabi yang datang sesudahnya. Kitab ini diturunkan dalam bahasa Ibrani, sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh Nabi Musa alaihissalam yaitu Bahasa Ibrani. Tidk seperti Al-Quran, sayangnya Taurat tidak mendapatkan jaminan penjagaan seperti Al-Quran, sehingga banyak dari ayat-ayat Taurat yang hilang dan tercecer, bahkan mudah sekali dipalsukan, atau setidaknya ketambahan hasil tulisan manusia.
Di masa kenabian Isa alaihisalam, ternyata Taurat masih diberlakukan. Bahkan Nabi Isa sendiri kemudian juga diajarkan kitab Taurat oleh Allah SWT lewat ayat ini. Bahkan Beliau sampai menghafalnya luar kepala.
وَالْإِنْجِيلَ
Injil adalah nama untuk kitab suci yang Allah SWT turunkan untuk Nabi Isa alaihissalam lewat perantaraan malaikat Jibril ‘alaihissalam. Umumnya para ulama mengatakan kata Injil ini bukan berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa aslinya makna kata injil adalah kabar yang menggembirakan (البشارة السارة والخبر المُفرح).
Dan karena Nabi Isa berbahasa Suryani, wajar kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa Injil yang asli berbahasa Suryani. Logikanya karena setiap nabi mendapatkan kitab suci sesuai dengan bahasa yang dikuasainya.
Kata Injil muncul 12 kali dalam Al-Quran. Kita sebagai muslim diwajibkan beriman kepada Injil, karena merupakan salah satu rukun iman yang enam, yaitu beriman kepada kitab-kitab suci samawi, salah satunya adalah Injil yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Namun begitu, sebagaimana juga Taurat, Injil pun tidak mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah SWT. Sehingga rawan pemalsuan, atau pun tercecer sebagian, bahkan hilang secara keseluruhan.
Injil vs Alkitab
Namun uniknya di kalangan Kristiani sendiri diakui bahwa kitab suci mereka bukan Injil, melainkan apa yang mereka sebut dengan Alkitab. Dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Bibel atau The Holy Book.
Konsepnya sebagaimana pengakuan mereka, Alkitab itu bukanlah rangkaian kata-kata dari Allah SWT yang turun kepada Nabi Isa melalui Jibril. Mereka mengakui bahwa Injil itu bukan kitab suci yang turun dari langit kepada Nabi Isa alaihissalam. Namun mereka mengatakan bahwa yang mereka sebut Bible itu hanyalah sebatas catatan yang dituliskan oleh murid-murid Nabi Isa, yaitu terkait dengan ajaran-ajaran yang disampaikan.
Kalau kita sandingkan dengan versi Islam, kira-kira setara dengan hadits nabawi, yaitu segala hal yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau pun juga sikap diamnya Beliau.
Secara teknis, The Holy Book itu ditulis oleh empat orang murid Nabi Isa, yang dikenal sebagai para Injilis: yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Masing-masing dari mereka menulis berdasarkan pengalaman pribadi, pengajaran dan tradisi lisan yang berkembang dalam komunitas Kristen awal.
§ Injil Matius: Dikaitkan dengan Matius, seorang mantan pemungut pajak yang menjadi salah satu dari dua belas rasul Yesus. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar 70-80 Masehi.
§ Injil Markus: Dikaitkan dengan Markus, yang adalah sahabat Petrus dan juga mungkin seorang yang muda pada saat Yesus hidup. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 66-70 Masehi.
§ Injil Lukas: Dikaitkan dengan Lukas, seorang dokter yang juga merupakan seorang pengikut Yesus. Dia dikenal sebagai penulis Kitab Kisah Para Rasul di Alkitab Kristen. Injil ini diperkirakan ditulis sekitar 80-90 Masehi.
§ Injil Yohanes: Dikaitkan dengan Yohanes, seorang rasul yang juga dikenal sebagai "rasul yang dicintai" dalam tradisi Kristen. Injil ini diperkirakan ditulis antara tahun 90-110 Masehi.
Para penulis ini menulis Injil-Injil mereka untuk mengabadikan ajaran, tindakan, dan kehidupan Yesus Kristus sehingga generasi-generasi berikutnya dapat mengenal-Nya dan iman Kristen dapat dipertahankan.
Meskipun Injil-injil ini masing-masing memiliki gaya penulisan dan fokus yang berbeda, mereka secara bersama-sama membentuk inti naratif tentang kehidupan dan ajaran Yesus Kristus dalam tradisi Kristen.
Kalau dalam tradisi Islam, catatan terkait Nabi Muhammad SAW yang disusun berdasarkan riwayat oleh masing-masing shahabat itu disebut kitab musnad. Hadits-hadits dalam Kitab Musnad disusun berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya.
Beberapa contoh kitab Musnad yang terkenal adalah "Musnad Ahmad ibn Hanbal", yang disusun oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, dan "Musnad Abi Dawud", yang disusun oleh Imam Abu Dawud.
Karena apa yang mereka sebut sebagai Alkitab itu bukan Injil sebagaimana yang dimaksud dalam agama Islam, maka agak sulit bagi kita kaum muslimin untuk memposisikannya sebagai kitab suci samawi dalam artinya secara tekstual.
Apalagi mengingat bahwa Alkitab itu sendiri terbit dalam banyak versi terjemahan dalam berbagai bahasa. Kita agak kesulitan mendapatkan teks asli yang ditulis langsung oleh murid-murid Nabi Isa. Boleh jadi di kalangan Kristiani, penerjemahan itu sudah dianggap sah dan representasi dari Alkitab.
Sementara di dalam tradisi keilmuan agama Islam, terjemah atas Al-Quran disepakati bukanlah Al-Quran itu sendiri. Sebab yang disebut Al-Quran hanyalah yang asli turun lewat lisan Jibril kepada Nabi SAW dalam bahasa Arab yang asli.
Bahkan cara melafalkan Al-Quran itu ada aturan khusus yang tidak boleh dibaca secara sembarangan. Membaca Al-Quran hanya dibolehkan manakala seseorang sudah selesai belajar tajwid dan qiraat.
Tidak ada rumusnya dalam Islam bahwa Al-Quran itu diterjemahkan ke dalam bahasa lain, lalu dianggap itulah Al-Quran. Semua terjemahan Al-Quran diyakini bukan Al-Quran itu sendiri, tetapi hanyalah hasil interpretasi para penerjemah.