Kemenag RI 2019:Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.” Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata padanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Prof. Quraish Shihab:
Maryam berkata: 'Tuhanku, bagaimana bisa aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun. " Allah berfirman: ''Demikianlah, Allah mencipta apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Dia menetapkan suatu urusan, maka Dia berfirman kepadanya: Jadilah!' Maka terjadilah ia. "
Prof. HAMKA:
Dia berkata, "Ya, Tuhanku! Bagaimana jalannya aku akan beranak, padahal aku belum pemah disentuh manusia?" Dia berkata, "Demikianlah Allah menjadikan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia telah menentukan sesuatu, Dia berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka dia pun jadi."
Lafazh qaalat (قَالَتْ) adalah fi’il madhi yang secara bahasa artinya : Dia berkata. Namun dalam hal ini sebenarnya bukan berkata melainkan bertanya, atau disebut juga dengan isti’naf. Yang bertanya adalah Maryam, dia bertanya kepada Allah. Tetapi menurut sebagian ulama, dia bertanya kepada malaikat Jibril.
Lafazh rabbi (رَبِّ) bermakna : Tuhanku. Namun Al-Qurtubi menuliskan bahwa yang dimaksud bukan tuhanku, namun tuanku.
Kata rabb memang selain bermakna tuhan, ternyata juga bisa bermakna tuan. Alasan yang dikemukakan Al-Qurtubi bahwa Maryam tidak sedang berdialog dengan Allah, melainkan dengan Malaikat Jibril. Maka Maryam menyapa Jibril dengan panggilan : wahai tuanku.
Kalau kita telaah dari surat Maryam, memang malaikat Jibril datang menemui Maryam dalam rupa seorang manusia laki-laki.
Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" (QS. Maryam : 17-20)
Lafazh anna yakunu li (أَنَّىٰ يَكُونُ لِي) diartikan menjadi : bagaimana mungkin aku memiliki, sedangkan makna walad (ولد) anak. Asalnya dari (ولد - يلد) artinya yang dilahirkan.
Pertanyaan seperti ini sebenarnya juga pernah ditanyakan oleh Nabi Zakaria, yaitu ketika Allah SWT memberitahukan kepada dirinya bahwa dirinya akan diberi seorang anak.
قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ
Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak.
Hanya saja perbedaannya, kalau Nabi Zakaria bertanya, karena secara fakta dirinya dan istrinya sudah sama-sama tua, dimana secara kebiasaannya, tidak mungkin lagi punya anak.
Sedangkan Maryam bertanya bagaimana bisa punya anak, karena dirinya tidak pernah menikah dan tidak pernah berhubungan seksual dengan seorang laki-laki manapun. Kalaupun bisa hamil, tentu itu merupakan hal yang aneh dan tidak biasa dalam ukuran umumnya manusia.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani menuliskan bahwa mungkin saja pertanyaan ini bukan sungguhan, melainkan sebuah ungkapan kekaguman atas kekuasaan Allah SWT. [1]
Hal yang kurang lebih sama juga dikemukakan oleh Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib, yaitu bahwa pertanyaan Maryam ini sebenarnya merupakan bentuk ketakjuban dan kekagumannya kepada kekuasaan Allah.
Lafazh wa-lam yamsasni (وَلَمْ يَمْسَسْنِي) artinya : dan tidak pernah menyentuhku. Para ulama sepakat bahwa sentuhan atau al-masis (المسيس) dalam ayat ini bermakna majazi, maksudnya bukan hanya sentuhan kulit melainkan kata lain dari jima’ alias hubungan seksual.
Di dalam Al-Quran ada satu lagi ungkapan dengan makna menyentuh perempuan, yaitu al-lamsu (اللمس) seperti yang terdapat di dalam ayat berikut :
أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ
Atau kamu telah menyentuh perempuan. (QS. An-Nisa : 43)
Perbedaannya antara al-masis (المسيس) dan al-lamsu (اللمس) pada kualitas sentuhan. Yang lebih intens dan lebih kuat adalah al-masis (المسيس) seperti di surat Ali Imran ini. Sedangkan al-lamsu (اللمس) hanya sekedar tersentuh saja, tidak sampai terlalu intens.
Oleh karena itulah dalam mazhab Asy-Syafi’i, al-lamsu (اللمس) dimaknai sekedar sentuan kulit dengan kulit dan tidak pernah dimaknai sebagai jima’. Yang memaknainya sebagai jima’ adalah mazhab Al-Hanafiyah.
Lafazh basyar (بشر) secara makna harfiyah adalah manusia. Namun dalam hal ini maksudnya adalah manusia laki-laki.
قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ
(قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ)
Lafazh kadzalikillah (كَذَٰلِكِ اللَّهُ) artinya : demikianlah Allah, atau begitulah Allah. Maksudnya kita dikenalkan pada salah satu karekteristik Allah SWT sebagai Tuhan kita, yaitu Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Istilahnya adalah yakhluqu ma yasya’ (يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ). Semua itu tidak lain adalah kehendak-Nya, yang tidak bisa diganggu-gugat atau pun dipertanyakan.
Begitulah Allah, sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, Dialah yang menciptakan semua makhluk. Maka Dia pastinya Maha Kuasa atas segala sesuatunya. Diapun bebas melakukan apa saja yang Dia kehendaki, termasuk misalnya hal-hal yang tidak sejalan dengan sunnatullah yang telah Dia gariskan sendiri.
Dan itulah bedanya antara Tuhan dan makhluknya. Kita sebagai makhluk, tidak bebas melakukan apapun yang kita kehendaki, karena kita selalu terikat dengan aturan dan peraturan. Bahkan kita terikat dengan kepentingan orang lain, sehingga kita tidak boleh melakukan hal-hal yang sekiranya merugikan orang lain.
Namun berbeda dengan Tuhan, Dia tidak terikat dengan aturan apapun. Karena semua aturan itu ada yang membuat. Dan Tuhan tidak akan tunduk dengan si pembuat aturan. Karena Tuhan lah yang menciptakan si pembuat aturan.
Maka kalau biasanya Allah SWT sebagai Tuhan itu menciptakan manusia lewat proses melahirkan turun temurun, diawali dengan percampuran sel sperma ayah dan sel telur ibu, maka kali ini proses itu bisa saja tidak dilakukan. Allah SWT bebas untuk menciptakan manusia secara langsung, hanya dengan mengatakan : “Jadilah”. Maka yang diciptakan itu pun langsung jadi saat itu juga.
إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا
(إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا)
Lafazh idza (إِذَا) artinya : apabila atau jika. Sedangkan lafazh qadha (قَضَىٰ) artinya : menetapkan atau memutuskan, asalnya dari (قَضَى – يَقْضِي - قَضَاءًا).
Isim fa’ilnya adalah al-adhi (قاضِي), maka hakim yang memimpin jalannya sidang perkara dan diberikan kekuasaan untuk memutuskan perkara dalam syariat disebut : al-qadhi (القَاضِي). Sedangkan yang diputuskan oleh hakim disebut dengan qadha’ (القَضَاء), dalam istilah kita disebut dengan vonis atau sesuatu yang sudah berstatus hukum tetap.
Oleh karena itulah dalam daftar rukun iman yang enam, kita temukan istilah qadha’ dan qadar bersanding. Qadha’ itu adalah ketentuan dan keputusan dari Allah SWT yang mengacu pada ketetapan Allah yang mencakup semua kejadian di dunia ini. Sementara qadar merujuk pada takdir individu dan nasib yang ditentukan Allah bagi setiap makhluk-Nya.
Lafazh amran (أَمْرًا) bermakna : suatu hal atau kejadian. Maka setiap hal atau kejadian di dunia ini pastinya atas dasar perintah Allah SWT. Sesuatu itu tercipta karena diperintahkan oleh Allah SWT agar tercipta.
فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
(فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ)
Lafazh fa-innama (فَإِنَّمَا) berfungsi membatasi sesuatu (لحصر شيء), sehingga bisa bermakna : “hanyalah”, atau “cukuplah”. Contohnya ketika Allah SWT membatasi bahwa yang berhak untuk menerima harta zakat itu HANYA delapan asnaf, maka teks ayatnya diawali dengan lafazh innama :
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan. (QS. At-Taubah : 60)
Ada pun yaqulu lahu (يَقُولُ لَهُ) asalnya dari (قَالَ - يَقُوْل) yang artinya “Dia berkata” atau Dia mengucapkan”, atau “Dia berfiman”. Dan dhamir lahu (لَهُ) kembali kepada perkara yang telah Dia tetapkan.
Kata kun (كُنْ) adalah fi’il amr dari (كان - يكون) yang maknanya : “Jadilah”. Sedangkan lafazh fa-yakuun (فِيَكُوْن) terdiri dari huruf fa (ف) yang artinya maka. Dan lafazh yakuun (يكون) berarti : “jadi” dan “tercipta”.
Yang menarik dari perintah “jadilah maka jadi” atau kun fayakun ini menunjukkan betapa simpel dan sederhananya ketika Allah SWT menciptakan sesuatu, cukup hanya menggunakan dua huruf saja, maka apapun yang Dia inginkan pun segera terbentuk dan beruwujud saat itu juga. Semua terjadi begitu saja sama sekali tidak pakai proses ini dan itu.
Sebagaimana ketika Allah SWT menciptakan pertama kali Nabi Adam alaihissalam, cukup dua huruf Allah SWT ucapkan, maka tiba-tiba Nabi Adam pun tercipta begitu saja tanpa lewat proses dari janin, bayi, anak-anak, remaja. Tiba-tiba Adam tercipta dalam rupa yang sudah dewasa dan sempurna. Maka begitu juga dengan Nabi Isa, terciptanya lewat kun fa yakun juga. Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran : 59)
Apabila Allah SWT menghendaki sesuatu tercipta, maka Dia hanya tinggal bilang : Jadilah. Maka ciptaan yang terbaru itu pun tiba-tiba muncul, nyaris tanpa proses.
Tentu ini adalah sebuah cara yang secara bebas bisa dilakukan oleh Allah SWT. Namun bilamana Allah SWT menciptakan suatu makhluk lewat proses, juga tidak jadi masalah. Allah SWT untuk menetapkan terciptanya makhluknya, apakah mau lewat jalur proses yang natural dan alami, ataukah lewat jalur yang instan langsung jadi. Dua-duanya masih berada di dalam ruang lingkup kekuasaan Allah SWT.
Sebenarnya jawaban dari malaikat Jibril atas pertanyaan Maryam agak kurang nyambung. Sebab Maryam bertanya tentang bagaimana proses penciptaan manusia tanpa lewat proses yang lazimnya terjadi. Lalu Jibril menjawab dengan jawaban yang sebenarnya tidak menjelaskan bagaimana hal itu terjadinya.
Jawabannya hanya sekedar menegaskan memang begitulah bentuk kekuasaan Allah SWT. Allah SWT bisa saja menciptakan makhluk tanpa proses, bahkan tanpa mengaitkan dengan bahan-bahannya. Makhluk yang baru itu tidak-tiba muncul begitu saja dari ketiadaan.
Satu lagi yang perlu dicatat bahwa penciptaan jalur cepat kun fa yakun ini terjadinya secara cepat dan spontan tanpa menunggu waktu. Isyarat tentang itu tertuang dalam ayat berikut :
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. (QS. Al-Qamar : 50)
Penciptaan Manusia : Makhluk Paling Rumit
Tubuh manusia secara ilmu biologi sangat rumit. Secara biologis, tubuh manusia memiliki beberapa sistem yang tidak dimiliki oleh hewan dan makhluk melata lainnya. Berikut adalah beberapa sistem tersebut:
Sistem Saraf: Sistem saraf manusia sangat kompleks dan memainkan peran penting dalam pengaturan dan koordinasi seluruh fungsi tubuh. Ini mencakup otak, sumsum tulang belakang, dan jaringan saraf yang tersebar di seluruh tubuh. Sistem saraf memungkinkan manusia untuk berpikir, merasakan, bergerak, dan merespons rangsangan dari lingkungan.
Sistem Pencernaan: Sistem pencernaan manusia terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus, dan organ lainnya yang bekerja sama untuk mencerna makanan dan menyerap nutrisi. Sistem pencernaan ini memiliki panjang dan kompleksitas yang lebih besar dibandingkan dengan hewan dan makhluk melata lainnya, memungkinkan manusia untuk mencerna berbagai jenis makanan.
Sistem Peredaran Darah: Sistem peredaran darah manusia melibatkan jantung, pembuluh darah, dan darah itu sendiri. Fungsinya adalah mengedistribusikan oksigen, nutrisi, dan hormon ke seluruh tubuh, serta mengangkut zat sisa dan karbondioksida untuk dikeluarkan melalui organ pengeluaran. Sistem peredaran darah manusia lebih efisien dan kompleks dibandingkan dengan hewan dan makhluk melata lainnya.
Sistem Pernapasan: Sistem pernapasan manusia terdiri dari paru-paru, trakea, dan rongga dada. Manusia memiliki kapasitas paru-paru yang lebih besar dan alat pernapasan yang lebih efisien daripada hewan dan makhluk melata lainnya, memungkinkan kita untuk bernapas dengan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida.
Sistem Kemih: Sistem kemih manusia melibatkan ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Ini berperan dalam mengeluarkan limbah dan zat beracun dari darah melalui pembentukan urin.
Selain itu, manusia juga memiliki sistem seperti sistem endokrin (pengaturan hormonal), sistem reproduksi (perkembangbiakan), dan sistem rangka (penopang tubuh dan perlindungan organ dalam), yang memiliki perbedaan dan kompleksitas tertentu dibandingkan dengan hewan dan makhluk melata lainnya.
Selain sistem-sistem yang telah disebutkan sebelumnya, berikut adalah beberapa sistem tambahan dalam tubuh manusia:
Sistem Muskuloskeletal: Sistem ini terdiri dari tulang, otot, dan jaringan penyangga lainnya. Sistem muskuloskeletal memberikan kerangka tubuh, mendukung gerakan, dan melindungi organ-organ vital.
Sistem Limfatik: Sistem limfatik terdiri dari jaringan limfoid, nodus limfatik, dan pembuluh limfe. Sistem ini berperan dalam mempertahankan kekebalan tubuh dengan memerangi infeksi dan menyaring zat-zat berbahaya dari tubuh.
Sistem Integumen: Sistem integumen meliputi kulit, rambut, dan kuku. Selain berfungsi sebagai pelindung tubuh, sistem ini juga terlibat dalam regulasi suhu tubuh, persepsi sensorik, dan sintesis vitamin D.
Sistem Endokrin: Sistem endokrin terdiri dari kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon-hormon yang diangkut melalui aliran darah untuk mengatur berbagai fungsi tubuh seperti metabolisme, pertumbuhan, reproduksi, dan respons stres.
Sistem Reproduksi: Sistem reproduksi terdiri dari organ reproduksi seperti ovarium, uterus, testis, dan penis. Sistem ini bertanggung jawab untuk reproduksi dan perkembangan seksual.
Sistem Respirasi: Selain sistem pernapasan yang telah disebutkan, ada juga sistem respirasi yang melibatkan struktur di dalam paru-paru yang memungkinkan pertukaran oksigen dan karbondioksida antara darah dan udara.
Sistem Sensorik: Sistem sensorik mencakup organ-organ indera seperti mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. Sistem ini memungkinkan manusia untuk menerima dan memproses informasi dari lingkungan melalui panca indera.
Sistem-sistem ini bekerja secara terintegrasi untuk menjaga keseimbangan dan kelangsungan hidup tubuh manusia. Setiap sistem memiliki peran dan fungsi unik yang berkontribusi pada fungsi keseluruhan tubuh.
Untuk terciptanya Nabi Adam sebagai prototype manusia pertama, ternyata Adam sudah amat sangat sempurna, semua sistemnya berfungsi normal tanpa ada cacat atau kegagalan. Dan semua itu tercipta begitu saja dari tanah hanya lewat dua huruf yaitu kun (كُنْ). Sedangkan untuk penciptaan Nabi Isa alaihissalam, memang ada kemiripan dari Nabi Adam, namun tetap ada perbedaannya. Namun keduanya adalah contoh bagaimana sempurnanya penciptaan Allah SWT, yaitu mampu menciptakan manusia yang sempurna semua sistemnya, hanya dengan kunfakaun.
Bandingkan dengan para penyihir, bisanya hanya menipu dengan mengubah persepsi orang seolah-olah bisa menciptakan makhluk baru, padahal hanya permainan ilusi saja, seperti ular-ular kecil yang ‘diciptakan’ oleh para penyihir Firaun.
dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. (QS. Al-Qashash : 31)
Biasanya para penyihir masih harus merapal semacam kata mantera-mantera yang panjang dan tidak jelas maknanya, untuk sekedar bisa memamerkan aksinya yang hanya tipu-tipu saja. Beda jauh dengan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Pencipta, Dia hanya butuh dua huruf untuk memerintahkan sesuatu biar langsung jadi ada.
Dan bandingkan juga dengan ciptaan manusia dalam membuat sesuatu. Di masa lalu manusia hanya bisa meniru Allah dengan cara membuat patung yang hanya diam tidak bisa bicara. Kemudian Bani Israil menciptakan patung anak sapi yang bisa bersuara. Namun kita semua tahu beda antara tubuh manusia dan tubuh patung yang bisu dan tidak bisa melakukan apa-apa. Kalaupun dibedah isi patung itu, isinya hanya seonggok batu, pasir, semen atau tanah liat (tembikar).