Kemenag RI 2019:Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad), Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, dan kitab yang Dia turunkan sebelumnya. Siapa yang kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari Akhir sungguh dia telah tersesat sangat jauh. Prof. Quraish Shihab:Hai orang-orang yang beriman! Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa kafir kepada Allah, atau para malaikat-Nya, atau kitab-kitab-Nya, atau para rasul-Nya atau Hari Kemudian, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh. Prof. HAMKA:Wahai orang-orang yang beriman! Percayalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Kitab yang telah Dia turunkan kepada Rasul-Nya, serta Kitab yang telah diturunkan sebelum itu. Dan barangsiapa yang tidak mau percaya kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya, dan Kitab-Kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, serta hari Kemudian, maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang sejauh-jauhnya.
Lafazh ya ayyuha (يَا أَيُّهَا) merupakan sapaan yang diterjemahkan menjadi : “wahai”. Sedangkan lafazh alladzina (الَّذِينَ) dimaknai menjadi ‘yang’ atau lengkapnya : “orang-orang yang”. Dan lafazh aamanu (آمَنُوا) merupakan kata kerja yang bentuknya lampau alias fi’il madhi yaitu dari asalnya (آمَنَ - يُؤْمِنً).
آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
Kata aaminu (آمِنُوا) merupakan fi’il amr yaitu kata kerja yang merupakan perintah, maknanya : berimanlah.
Kata billaahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah. Kata wa rasulihi (وَرَسُولِهِ) artinya : dan utusannya atau rasul-Nya. Dalam hal ini maksudnya adalah perintah untuk beriman kepada Nabi Muhammad SAW.
Antara Nabi dan Rasul
Tentang istilah nabi dan rasul, sebagian kalangan ada yang memandang sama saja posisi dan statusnya. Namun dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Nabi SAW membedakan antara keduanya :
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, berapa jumlah rasul yang diutus?" Beliau menjawab, "Tiga ratus lima belas, jumlah yang banyak." Dalam riwayat lain: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, berapa jumlah nabi yang diutus oleh Allah?" Beliau menjawab, "Seratus dua puluh empat ribu nabi, dan di antara mereka ada tiga ratus lima belas rasul." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
Adapun apa yang membedakan antara nabi dan rasul, para ulama berbeda-beda dalam memberikan batasan. Berikut ini beberapa petikan dari penjelasan mereka.
Al-Khattabi dalam A'lam al-Hadis menuliskan bahwa perbedaan antara nabi dan rasul adalah bahwa nabi adalah seseorang yang diberi wahyu dan diberi kabar, sementara rasul adalah yang diperintahkan untuk menyampaikan apa yang ia terima. Maka setiap rasul adalah nabi, tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.".
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari menuliskan bahwa nabi adalah seseorang yang diberi kabar oleh Allah tentang suatu perkara yang memerlukan tugas tertentu. Jika ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang lain, maka ia adalah rasul. Jika tidak, maka ia adalah nabi tanpa menjadi rasul. Maka setiap rasul adalah nabi, namun tidak sebaliknya. Karena nabi dan rasul berbagi dalam satu hal umum, yaitu menerima kabar, namun mereka berbeda dalam hal tugas kerasulan.
Ibnu al-Mulqin dalam al-Mu’in 'ala Tafahhum al-Arba'in menuliskan bahwa rasul berarti seorang yang diperintahkan untuk menyampaikan wahyu kepada manusia, dia lebih spesifik daripada nabi, karena rasul adalah seseorang yang diberi wahyu untuk diamalkan dan disampaikan, sedangkan nabi hanya diberi wahyu untuk diamalkan..
Sebagian ulama mengatakan bahwa keduanya sama-sama diberi wahyu dan sama-sama diperintahkan untuk menyampaikan, namun rasul juga membawa kitab dari Allah, sedangkan nabi tidak. Ada juga yang mengatakan bahwa rasul menerima kitab atau wahyu melalui malaikat, sedangkan nabi diberi wahyu tanpa kitab, atau mengikuti rasul lain.
Al-'Aini dalam al-Binayah Syarh al-Hidayah menuliskan perbedaan antara rasul dan nabi adalah bahwa rasul diutus untuk menyampaikan wahyu dan membawa kitab, sedangkan nabi diutus untuk menyampaikan wahyu, baik dengan kitab atau tanpa kitab.
Asy-Syinqiti dalam Adhwa' al-Bayan menuliskan bahwa pendapat yang mengatakan nabi adalah seseorang yang menerima wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, lalu rasul adalah nabi yang diperintahkan untuk menyampaikan wahyu, itu adalah pendapat yang tidaklah benar. Dasanya karena Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran sebagai berikut :
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. (QS. Al-Hajj : 52)
ِAsy-Syinqithi mengklaim bahwa ayat di atas menunjukkan bahwa keduanya sama-sama diutus, meskipun ada perbedaan antara keduanya.
وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ
Kata wal-kitabi (وَالْكِتَابِ) artinya : dan kitab. Maksudnya bukan sekedar bermakna buku, melainkan maksudnya adalah kitab suci samawi yang turun dari langit.
Kata alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata nazzala (نَزَّلَ) artinya : menurunkan. Dalam hal ini yang menjadi pelaku tidak disebutkan, kecuali hanya dhamir mustatir taqdiruhu huwa. Pelakunya adalah kata ganti yang tidak kelihatan alias tersembunyi, tetapi kira-kira maksudnya adalah : Dia. Dalam hal ini tentu saja Allah SWT.
Kata ‘ala rasulihi (عَلَىٰ رَسُولِهِ) artinya : kepada rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Berarti maksudnya dalam hal ini adalah kitab suci Al-Quran Al-Karim.
وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ
Kata wal-kitabi (وَالْكِتَابِ) artinya : dan kitab, maksudnya adalah kitab suci samawi yang turun dari langit.
Kata alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata anzala (أَنْزَلَ) artinya : menurunkan. Kata min qablu (مِنْ قَبْلُ) artinya : dari sebelumnya. Maksudnya adalah semua kitab suci samawi yang sudah turun terlebih dahulu sebelum era kenabian Muhammad SAW. Di antaranya adalah :
§ Kitab Taurat : Allah turunkan kepada Nabi Musa alaihissalam dan jadi kitab suci bagi umatnya.
§ Kitab Zabur : Allah SWT turunkan kepada Nabi Daud alaihissalam dan jadi kitab suci bagi umatnya.
§ Kitab Injil : Allah SWT turunkan kepada Nabi Isa alaihissalam dan jadi kitab suci bagi umatnya.
Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, (QS. Ali Imran : 3)
وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (QS. An-Nisa : 163)
Yang menarik pada penggalan ini adalah ketika Allah SWT membedakan penggunakan kata menurunkan. Ketika bicara tentang menurunkan Al-Quran pada penggalan sebelumnya, kata yang Allah SWT gunakan adalah nazzala (نَزَّلَ), sedangkan ketika bicara tentang menurunkan kitab-kitab suci sebelumnya, kata yang Allah SWT gunakan adalah anzala (أَنْزَلَ). Padahal keduanya sama-sama berarti menurunkan. Lalu kenapa harus dibedakan? Dan apakah ada pesan dibalik penggunakan dua kata yang mirip dari berbeda?
Para ulama mengatakan bahwa ada perbedaan yang sangat halus sehingga nyaris kurang banyak dikenali dari kata nazzala (نَزَّلَ) dan anzala (أَنْزَلَ).
Kata nazzala (نَزَّلَ) itu bukan sekedar menurunkan, tetapi punya makna yang lebih dalam yaitu menurunkan dengan cara berkali-kali atau berulang-ulang. Sementara anzala (أَنْزَلَ) itu tidak mengandung kata pengulangan atau kejadian yang berkali-kali.
Makanya ketika Allah SWT menurunkan Al-Quran yang turunnya berkali-kali, yaitu sedikit demi sedikit sehingga memakan waktu hingga 23 tahun lamanya, kata yang lebih tepat adalah nazzala (نَزَّلَ). Bahkan terkadang suatu ayat yang sama diturunkan beberapa kali. Sebutlah misalnya surat Al-Fatihah, yang pernah turun dua kali di Mekkah dan turunlah lagi dua kali di Madinah.
Sedangkan kitab-kitab suci samawi lainnya, turunnya hanya sekali saja dan itupun turun sekaligus begitu saja, tidak turun sedikit demi sedikit sebagaimana Al-Quran. Silahkan perhatikan dalam semua ayat Al-Quran, setiap kali Allah SWT bercerita tentang bagaimana Dia menurunkan kitab-kitab suci samawi di masa lalu, selalunya menggunakan kata (أَنْزَلَ).
Sedangkan untuk Al-Quran, terkadang Allah SWT menggunakan (نَزَّلَ) tetapi juga pernah juga menggunakan (أَنْزَلَ). Sebab kita harus ingat bahwa Al-Quran diturunkan dengan dua macam metode penurunan. Turun yang pertama dari sisi Allah SWT ke langit dunia, memang turun secara sekaligus. Itu yang kita sebut dengan nuzulul quran atau lailatul qadar.
Peristiwa ini diabadikan penyebutkannya di dalam 3 ayat Quran yang berbeda, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat185, surat Ad-Dukhan ayat 3 dan surat Al-Qadar ayat 1.
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran (QS. Al-Baqarah : 185)
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ مباركة
Sesungguhnya Kami turunkan Al-Quran pada malam yang diberkahi (QS. Ad-Dukhan : 3)
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami turunkan Al-Quran pada malam Qadar (QS. Al-Qadr : 1)
Ketiga ayat ini bicara malam yang disebut Lailatul-Qadar yang sebenarnya bukan malam dimana Rasulullah SAW menerima wahyu pertama, melainkan turun dari sisi Allah SWT hanya ke langit dunia saja. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahuanhu :
أُنزل القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا ليلة القدرثم أُنزل بعد ذلك في عشرين سنة
Al-Quran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Qadar, kemudian diturunkan sesudah itu sepanjang 20-an tahun.
Sedangkan ketika dari langit pertama turun ke bumi dimana Nabi Muhammad SAW berada, maka yang digunakan adalah (نَزَّلَ).
Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra : 106)
Lafazh wa-man (وَمَنْ) artinya : dan siapa yang, atau : dan orang yang. Kata yakfur (يَكْفُرْ) artinya : kafir atau ingkar. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah.
Kata wa malaikatihi (وَمَلَائِكَتِهِ) artinya : dan kepada para malaikat-Nya. Terkait dengan iman kepada malaikat ini nampaknya karena memang bangsa Arab jahiliyah tidak beriman kepada para malaikat. Atau kalaupun mengimaninya, ternyata dengan cara pandang yang keliru fatal. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT :
Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. (QS. Az-Zukhruf : 19)
Padalah Malaikat adalah makhluk Allah mulia dan teramat tinggi kedudukannya di depan semua makhluk Allah lainnya. Malaikat itu sangat taat kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya. Menjalankan semua perintah Allah tanpa banyak alasan.
Allah SWT menciptakan malaikat dari jenis makhluk ghaib yang kasat mata, namun atas izin Allah bisa berubah wujud menyerupai manusia yang teramat sempurna. Saking sempurnanya, para malaikat itu sampai tidak butuh makan, tidak perlu minuman bahkan tidak punya hawa nafsu.
Malaikat juga tidak berketurunan atau beranak pinak, meski pun begitu jumlah sangat banyak melebihi jumlah umat manusia. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Perlu diketahui bahwa para malaikat itu sudah Allah SWT ciptakan sejak jauh sebelum manusia diciptakan, namun sampai hari ini dan hari kiamat, tak satu pun dari malaikat yang jatuh sakit atau apalagi mati. Semuanya hidup terus sepanjang zaman (immortal) hingga akhir dunia nanti.
Selain itu juga ada hadits yang menggambarkan betapa banyaknya malaikat Allah :
“Ini adalah Baitul Ma’mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat shalat di sana dan yang telah shalat tidak lagi kembali sesudahnya.” (HR. Bukhari)
وَرُسُلِهِ
Kata wa rusulihi (وَرُسُلِهِ) artinya : dan para rasul-Nya. Kata rusul (رُسُل) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggal yaitu rasul.
Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi yang juga seorang rasul adalah seseorang yang menerima kitab dan syariat independen dengan mukjizat yang membuktikan kenabiannya. Sedangkan nabi yang bukan rasul adalah seseorang yang tidak menerima kitab, tetapi diberi wahyu untuk mengajak umat mengikuti syariat rasul sebelumnya, seperti para nabi Bani Israil yang diutus untuk mengamalkan Taurat, sebagaimana Allah jelaskan dalam firman-Nya: “Para nabi yang berserah diri memutuskan dengan Taurat.”
Perbedaan lainnya adalah bahwa rasul diutus untuk menyampaikan pesan kepada umat yang mendustakan, sedangkan nabi diutus untuk menyampaikan tanpa ada risalah baru kepada umat yang mendustakan.
Ibnu Taimiyah dalam al-Nubuwwat menuliskan bahwa nabi adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah dan ia menyampaikan apa yang diwahyukan oleh Allah. Jika ia diutus kepada orang yang menentang perintah Allah untuk menyampaikan risalah dari Allah, maka ia adalah rasul. Jika ia hanya mengamalkan syariat sebelumnya dan tidak diutus untuk menyampaikan risalah baru, maka ia adalah nabi, bukan rasul.
Rasul adalah orang yang diutus untuk menyampaikan risalah kepada orang yang menentang Allah, sebagaimana ayat berikut
Demikianlah tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka kecuali mereka mengatakan bahwa ia adalah seorang penyihir atau orang gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52).
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Huruf wawu (و) adalah penyambung atau disebut juga dengan istilah ‘athaf. Kata al-yaum (الْيَوْمِ) artinya : hari. Kata al-aakhir (الْآخِرِ) artinya : akhir.
Meskipun disebut dengan hari, tentu saja maksudnya bukan sehari yang durasinya 24 jam. Sebab tidak selamanya kata hari berarti durasi dari terbit matahari hingga terbit lagi. Di dalam Al-Quran, Allah SWT sempat menyinggung perbedaan cara menghitung hari.
Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al-Hajj : 47)
Namun tentu saja durasi hari kiamat itu bukan hanya seribu tahun. Tetapi yang dimaksud hari di ayat ini lebih tepatnya adalah zaman, masa atau lebih tepatnya lagi adalah : alam, yaitu alam akhirat.
Sedangkan istilah ‘akhir’ tentunya bukan berarti semua sudah berakhir. Namun karena posisinya ada di bagian akhir, maka disebutlah dengan sebutan zaman akhir atau lebih tepatnya : alam akhirat.
Tidaklah dikatakan hari akhir, kecuali setelah terjadinya qiyamat, dimana semua orang sudah mati, lalu melewati masa yang entah berapa lamanya, sampai akhirnya Allah SWT membangkitkan kembali mereka setelah sekian lama terdiam dalam kematian.
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati". (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui, (QS. An-Nahl : 38)
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (QS. Al-Mukminun : 16)
Akhir-akhir ini memang banyak bermunculan fenomena kajian ‘akhir zaman’, namun jika diperhatikan ternyata yang jadi fokusnya malah berputar-putar sebatas hanya pada kejadian-kejadian unik menjelang kiamat. Bahkan bukan kejadian kehancuran alam semestanya itu sendiri.
فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Kata fa-qad (فَقَدْ) artinya : maka sungguh. Kata dhalla (ضَلَّ) artinya : tersesat.
Kata dhalalan ba’ida (ضَلَالًا بَعِيدًا) artinya : kesesatan yang jauh. Allah SWT memberi sifat kepada kesesatan dengan istilah : ‘jauh’. Tentu ini adalah sebuah ungkapan yang bersifat majaz alias kiasan untuk menunjukkan betapa dahsyatnya kesesatan yang ditargetkan oleh setan kepada korbannya. Seolah-olah kesesatan tersebut memiliki jarak yang sangat jauh.
Kalau ada orang yang tersesat namun tersesatnya tidak terlalu jauh, masih besar kemungkinan baginya untuk kembali lagi menemukan jalan semula dan keluar dari kesesatannya. Tapi kalau tersesatnya sudah terlalu jauh, kecil sekali kemungkinannya untuk menemukan jalan kembali yang asli dan jalan yang benar.
Kesesatan yang sudah terlalu jauh akan membuatnya sama sekali tidak pernah sampai kepada tujuannya. Bahkan boleh jadi setelah menempuh jarak yang jauh sekali dan sangat melelahkan, menghabiskan tenaga, makanan dan perbelakan selama berhari-hari, ternyata dia kembali lagi ke tempat awalnya dia berjalan.
Ternyata dia hanya berputar-putar saja di tempat itu dan tidak pernah kemana-mana. Tidak pernah sampai ke tujuan awalnya. Itulah yang disebut dengan tersesat dengan sangat tersesat. Tersesat sangat jauh.