Kata in syakartum (إِنْ شَكَرْتُمْ) artinya : jika kamu bersyukur. Kata wa amantum (وَآمَنْتُمْ) artinya : dan kamu beriman.
Yang mengusik perhatian kita dari penggalan ini adalah kenapa kata syukur didahulukan dalam penyebutannya padahal seharusnya iman terlebih dahulu?
Ada beberapa asumsi jawaban, namun salah satunya yang cukup menjawab adalah bahwa syukur itulah jalan yang akan membawa seseorang kepada keimanan. Orang beriman karena awalnya dia bersyukur. Sebaliknya, orang jadi kafir biasanya diawali dia tidak bersyukur alias kufur nikmat.
Seorang yang melihat alam raya terbentang dengan segala manfaat yang telah dan dapat diraihnya, akan mengantar dia untuk beriman dan percaya kepada Allah SWT. Selanjutnya, bila iman itu terus ia asah dan asuh, yang bersangkutan akan mencapai tingkat tertinggi dari kesyukuran.
Di sisi lain, dasar pijakan utama seseorang ketika beribadah kepada Allah SWT juga karena syukur yang tinggi atas segala rejeki yang telah diterimanya dari Allah. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. Al-Baqarah : 172)
Sayangnya, betapa banyak manusia yang kufur karena tidak mau bersyukur kepada Allah. Padahal Allah SWT sudah begitu banyak melimpahkan nikmat kepada manusia.
إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (QS. Al-Baqarah : 243)
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-Araf : 10)
Pengertian Syukur
Kata syukr (شكر) secara bahasa bermakna :
عِرْفِانُ النِّعْمَةِ وَإِظْهَارُهَا وَالثَّنَاءُ بِهَا
Mengenal lebih dalam terkait kenikmatan lalu menampakkannya dan memuji dengannya.
Para ulama tafsir mendefinisikan syukur sebagai pengakuan atas nikmat Allah, baik dengan hati, lisan, maupun perbuatan. Berikut beberapa pandangan mereka:
· Imam Al-Qurthubi: Syukur adalah "menggunakan nikmat Allah dalam ketaatan kepada-Nya." Artinya, syukur tidak hanya berupa ucapan, tetapi juga tindakan nyata dalam memanfaatkan nikmat sesuai dengan kehendak Allah.
· Imam Ar-Raghib Al-Asfahani: Dalam Mufradat Alfaz Al-Qur'an, ia menjelaskan bahwa syukur adalah "menghargai nikmat dengan menampakkan pengaruhnya, baik dalam hati (dengan keyakinan), dalam lisan (dengan pujian), maupun dalam anggota tubuh (dengan amal kebaikan)."
· Imam Ath-Thabari: Menyebutkan bahwa syukur adalah pengakuan terhadap pemberian nikmat Allah disertai rasa tunduk, taat, dan memanfaatkan nikmat tersebut dalam kebaikan.
· Imam Al-Ghazali: Memberikan pandangan lebih mendalam bahwa syukur adalah maqam (tingkatan spiritual) yang menunjukkan kecintaan dan kedekatan seorang hamba kepada Allah. Menurut Al-Ghazali, syukur adalah "melihat pemberi nikmat (Allah) dalam setiap nikmat yang diterima, sehingga hati selalu terpaut kepada-Nya.
· Ibnul Qayyim : Mengatakan bahwa pengertian syukur adalah :
بَيَانُ أَثَرِ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى لِسَانِ الْعَبْدِ؛ ثَنَاءً وَاِعْتِرَافًا بِمَا مَنَحَهُ اللهُ مِنْ نِعَمٍ، وَكَذَلِكَ ظُهُورُ هَذَا الْأَثَرِ عَلَى جَوَارِحِهِ مِنْ خِلَالِ قِيَامِهِ بِالطَّاعَاتِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ بِهَا.
Menunjukkan pengaruh nikmat Allah pada lisan seorang hamba melalui pujian dan pengakuan atas apa yang telah Allah anugerahkan berupa nikmat. Begitu pula, tampaknya pengaruh tersebut pada anggota tubuhnya melalui pelaksanaan ketaatan yang diperintahkan oleh Allah.
Dimensi Syukur
Menurut para ulama, syukur memiliki tiga dimensi utama:
1. Syukur dengan Hati: Mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan.
2. Syukur dengan Lisan: Mengucapkan pujian kepada Allah, seperti dengan mengucapkan Alhamdulillah.
3. Syukur dengan Perbuatan: Menggunakan nikmat Allah untuk hal-hal yang diridhai-Nya, seperti bersedekah, membantu orang lain, dan menjauhi perbuatan maksiat.
Ancaman Bila Tidak Bersyukur
Tidak bersyukur dapat membawa berbagai akibat buruk, baik secara spiritual, psikologis, maupun sosial. Berikut adalah beberapa dampak dari tidak bersyukur menurut perspektif agama, moral, dan kehidupan sehari-hari:
1. Kehilangan Nikmat
Maha Benar Allah SWT ketika menegaskan bahwa kufur nikmat alias tidak bersyukur itu akan mendatangkan adzab yang menyakitkan.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)
2. Mendapat Azab dan Murka Allah
Orang yang tidak bersyukur dianggap kufur nikmat, dan perbuatan ini termasuk dosa besar. Allah mengancam mereka dengan azab yang pedih:
وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
"Dan Allah membuat suatu perumpamaan: sebuah negeri yang dulunya aman dan tentram, rezekinya datang melimpah ruah dari segala arah, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (QS. An-Nahl: 112)
Kata wa-kaanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah itu. Kata syakiran (شَاكِرًا) artinya : Maha Mensyukuri. Kata ‘alima (عَلِيمًا) artinya : Maha Mengetahui.
Bunya HAMKA dalam tafsir Al-Azhar[1] menuliskan bahwa Allah senang dan gembira sekali apabila hamba-Nya itu bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Terima kasih itu akan dibalasnya lagi, dan nikmat akan diperganda-gandakan-Nya. Sekali kamu berbuat baik, sepuluh gandanya akan engkau terima.
Di dalam sabda yang lain, dalam surah Ibraahiim ayat 7, Allah memberikan kepastian janji, bahwasanya jika kamu telah bersyukur berterima kasih, Dia berjanji akan menambahi lagi nikmat-Nya kepada kamu. Sebagaimana seorang Mukmin tingkatmu akan bertambah naik dan dosa-dosamu selama ini akan diampuni.
Prof. Quraish Shihab menuliskan dalam tafsir Al-Mishbah[2] bahwa kata syakir (شَاكِر) terambil dari akar kata syakara (شَكَرَ). Pakar-pakar bahasa mengungkapkan bahwa tumbuhan yang tumbuh walaupun dengan sedikit air, atau binatang yang gemuk walaupun dengan sedikit rumput, keduanya dinamai syakur (شَكُور). Dari sini, mereka berkata bahwa Allah yang bersifat Syakir berarti, antara lain, Dia yang mengembangkan walaupun sedikit amalan hamba-Nya dan melipatgandakannya.
Pelipatgandaan itu dapat mencapai 700 kali lipat, bahkan lebih, tanpa batas (baca QS. Al-Baqarah [2]: 261). Siapa yang membalas kebajikan dengan berlipat ganda dinamai mensyukuri kebajikan itu, dan siapa yang memuji orang yang berbuat baik juga dapat dinamai mensyukurinya.
Jika Anda melihat makna syukur dari pelipatgandaan balasan, yang paling wajar dinamai syakir hanyalah Allah. Sebab, pelipatgandaan ganjaran-Nya tidak terbatas, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah yang disinggung di atas.
Allah syakir dalam arti "Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit, Dia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amal-amal yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas."
Syukur juga berarti pujian. Bila Anda melihat makna syukur dari segi pujian, kiranya dapat disadari bahwa pujian terhadap yang terpuji baru pada tempatnya jika ada suatu kebaikan yang dilakukan secara sadar dan tidak terpaksa.