Kemenag RI 2019:Akan tetapi, Allah bersaksi atas apa (Al-Qur’an) yang telah diturunkan-Nya kepadamu (Nabi Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya. (Demikian pula) para malaikat pun bersaksi. Cukuplah Allah menjadi saksi. Prof. Quraish Shihab:Tetapi ketahuilah, Allah menyaksikan apa yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad ?). Dia menurunkannya (Al-Qur'an) dengan ilmu-Nya; dan para malaikat pun menyaksikan. Cukuplah Allah menjadi saksi. Prof. HAMKA: Tetapi Allah menjadi saksi bahwa apa yang telah Dia turunkan kepadamu itu, benar-benar diturunkan-Nya dengan ilmu-Nya, dan para malaikat pun menjadi saksi. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Kesaksian Allah SWT dikuatkan lagi dengan kesaksian dari para malaikat yang ikut juga bersaksi. Walaupun sebenarnya sudah cukup Allah SWT saja yang jadi saksinya.
لَٰكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ
Kata lakin (لَٰكِنِ) artinya : akan tetapi. Kata Allah (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata yasyhadu (يَشْهَدُ) artinya : bersaksi. Kata bima anzala ilaika (بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ) artinya : atas apa yang telah Dia turun kepadamu. Maksudnya adalah Al-Quran, kitab suci samawi yang turun kepada Nabi Muhammad SAW.
Allah menegaskan bahwa Dia sendiri yang menjadi saksi atas kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Meskipun ada orang-orang Yahudi yang meragukan atau mengingkari, kesaksian Allah adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa dibantah.
Penegasan dari Allah SWT ini menjadi hujjah yang menjatuhkan sikap mental orang-orang Yahudi yang menebar keraguan atas kenabian Muhammad SAW. Ternyata pengakuannya datang langsung dari Allah SWT.
أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ
Kata anzalahu (أَنْزَلَهُ) artinya : Dia menurunkannya, maksudnya menurunkan Al-Quran. Kata bi-‘ilmihi (بِعِلْمِهِ) artinya : dengan ilmu-Nya.
Penggalan ayat ini menegaskan bahwa Al-Quran diturunkan oleh Allah berdasarkan ilmu-Nya yang sempurna dan meliputi segala sesuatu. Al-Quran bukanlah perkataan manusia atau hasil rekayasa Nabi Muhammad SAW, melainkan firman Allah yang diturunkan dengan ilmu-Nya yang mutlak.
Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Maka, wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bukan sekadar informasi biasa, tetapi bersumber langsung dari ilmu Allah yang Maha Luas.
Karena diturunkan dengan ilmu Allah, Al-Quran tidak mengandung kesalahan, kekurangan, atau pertentangan. Isinya sempurna dan menjadi petunjuk bagi umat manusia.
Sebagian orang menganggap bahwa Al-Quran hanyalah ciptaan manusia atau dongeng masa lalu. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Quran berasal dari Allah dengan ilmu-Nya yang tidak terbatas.
Karena Al-Quran diturunkan dengan ilmu Allah, maka di dalamnya terdapat banyak ilmu yang bisa menjadi pedoman hidup manusia. Walaupun begitu tentu saja Al-Quran bukanlah buku sains, sejarah, atau ekonomi secara teknis, melainkan kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip kebenaran yang relevan sepanjang zaman.
وَالْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُونَ
Kata wal-malaikatu (وَالْمَلَائِكَةُ) artinya : dan para malaikat. Kata yashhadun (يَشْهَدُونَ) artinya : mereka bersaksi. Maksudnya yang bersaksi bukan hanya Allah SWT semata, melainkan para malaikat pun ikut juga menjadi bersaksi.
Tentu saja apa yang dimuat dalam ayat ini bahwa Allah SWT dan para malaikat menjadi saksi, tidak ada kaitannya dengan fiqih persaksian. Ada beberapa akad dalam kajian fiqih yang membutuhkan kehadiran para saksi, seperti akad nikah, akad jual-beli, termasuk juga dalam urusan menjatuhkan vonis hukum zina. Maka kesaksian para saksi yang dibahas dalam fiqih persaksian itu tidak ada kaitannya dengan ayat ini.
وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Kata wakafa (وَكَفَىٰ) artinya : dan cukuplah. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : Allah. Kata syahidan (شَهِيدًا) yang artinya : sebagai saksi.
Ini berarti bahwa cukup hanya Allah SWT saja sebagai saksi atas kerasulanmu, atau atas kebenaran segala yang engkau serukan. Sebab Allah telah menetapkan mukjizat dan menurunkan ayat-ayat yang jelas. Ada yang menafsirkan maksudnya bahwa Allah menjadi saksi atas hamba-hamba-Nya tentang apa yang mereka kerjakan, baik atau buruk, dan adanya pergantian gaya bahasa (iltifāt) ini bertujuan untuk menambah rasa takut dan kekaguman