Kemenag RI 2019:Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah, benar-benar telah tersesat jauh. Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalang-halangi orang lain dari jalan Allah, mereka sungguh telah tersesat dalam kesesatan yang jauh. Prof. HAMKA:Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan berpaling dari jalan Allah, mereka benar-benar telah sesat, sesat yang sangat jauh.
Kata inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata kafaru (كَفَرُوا) artinya : kufur.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran [1] menuliskan bahwa yang dimaksud dengan ‘orang-orang kafir’ dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi. Mereka kafir bukan tidak percaya kepada Allah atau pun menyekutukan-Nya, melainkan kekafiran mereka berangkat dari keingkaran mereka terhadap kenabian Muhammad SAW dan juga penyangkalan mereka terhadap kitab suci Al-Quran.
Selanjutnya Al-Qurtubi meneruskan bahwa orang-orang Yahudi Madinah berkata :
Kami tidak menemukan sifatnya dalam kitab kami. Kenabian itu hanya ada pada keturunan Harun dan Dawud. Dan sesungguhnya dalam Taurat disebutkan bahwa syariat Musa tidak akan dihapus.
Padahal Al-Quran menegaskan di ayat lain bahwa sebenarnya orang-orang Yahudi sangat mengenal Nabi Muhammad SAW, sebagimana mereka mengenal anak mereka sendiri. Kalaupun mereka mengingkari kenabian Muhammad SAW, sebenarnya dalam hati kecil mereka tidak bisa menolak bahwa Nabi SAW memang seorang rasul utusan Allah.
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 146)
Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[2] punya pendapat yang sedikit berbeda. Menurut Beliau bisa jadi yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang kafir’ di ayat ini justru adalah kaum musyrikin Mekkah. Alasannya karena kebiasaan Al-Quran kalau menyebut kaum musyrikin Mekkah dengan sebutan orang kafir.
Surat Al-Kafirun sebagai contoh kasus, yang dimaksud sebagai orang kafir dalam surat itu jelas-jelas adalah kaum musyrikin Mekkah.
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, . dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (QS. Al-Kafirun : 1-6)
Namun pendapat ini tidak sepenuhnya benar, sebab di dalam surat Al-Bayyinah, dengan tegas Allah SWT menyebut bahwa orang kafir itu bisa saja kaum musyrikin ataupun juga para ahli kitab.
Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. (QS. Al-Bayyinah : 1)
وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
Kata wa shaddu (وَصَدُّوا) artinya : dan menghalang-halangi. Maksudnya menghalangi orang lain. Kata ‘an sabilillah (عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ) artinya : dari jalan Allah. Namun Ath-Thabari mengatakan bahwa yang dimaksud ‘jalan Allah’ adalah agama Islam.
Orang-orang Yahudi ini sangat berbahaya, karena mereka bukan hanya ingkar kepada kenabian Muhammad SAW, tetapi juga menebar banyak keraguan agar orang-orang ikut ingkar juga atas kenabian Beliau. Dan jika orang-orang mengingkari kenabian Muhammad SAW, maka mereka pun kafir bukan muslim.
Namun jika benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Asyur, bahwa orang kafir yang dimaksud justru kaum musyrikin Mekkah, maka mereka pun aktif menghalangi orang-orang dari masuk Islam.
Penindasan yang dilakukan kaum musyrikin Mekkah justru sangat intens dan masif. Banyak korban mati karena tindakan kasar mereka, sebagiannya luka-luka. Dan yang paling parah, sebagian lagi ada yang tidak kuat ditekan, sehingga akhirnya mereka pun murtad keluar dari agama Islam.
Di masa kenabian Muhammad SAW, ada beberapa penduduk Mekkah yang sempat masuk Islam tetapi kemudian murtad kembali, baik karena tekanan, godaan harta, atau alasan lainnya. Salah satu nama yang terkenal adalah:
1. Ubay bin Khalaf
Meskipun tidak secara jelas disebutkan sebagai seseorang yang masuk Islam lalu murtad, Ubay bin Khalaf pernah berinteraksi dengan Nabi Muhammad SAW dan menjadi salah satu musuh utama Islam.
2. Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh
Dia adalah mantan penulis wahyu yang kemudian murtad dan kembali ke Mekkah. Ia menyebarkan fitnah tentang Nabi Muhammad SAW, tetapi kemudian pada saat penaklukan Mekkah, ia akhirnya kembali masuk Islam setelah meminta perlindungan dari Utsman bin Affan.
Selain mereka, ada juga beberapa individu yang sempat masuk Islam tetapi kemudian kembali kepada agama mereka yang lama, meskipun tidak semua nama tercatat secara rinci dalam sejarah.
قَدْ ضَلُّوا ضَلَالًا بَعِيدًا
Kata qad (قَدْ) artinya : sungguh, atau benar-benar. Kata dhallu (ضَلُّوا) artinya : telah tersesat. Kata dhalalan ba’ida (ضَلَالًا بَعِيدًا) artinya : kesesatan yang jauh.
Kesesatan itu adalah kekufuran, karena kekufuran adalah kehilangan iman, yang merupakan jalan menuju kebaikan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, penyebutan kesesatan sebagai kekufuran merupakan bentuk kiasan yang didasarkan pada perumpamaan jalan lurus sebagai iman.
Allah SWT menyebutkan bahwa kesesatan mereka itu adalah kesesatan yang jauh. Padahal jauh itu bicara jarak yang memisahkan dua titik. Makanya kata jauh disini adalah kiasan yang menunjukkan parahnya kesesatan dan kesempurnaannya dalam jenisnya, hingga ukurannya tidak dapat dijangkau.
Ini merupakan salah satu gaya bahasa Al-Quran. Keindahan maknanya di sini terletak pada kenyataan bahwa kesesatan secara nyata terjadi di padang pasir dan tanah tandus. Jika seseorang semakin tersesat, ia akan semakin jauh dari pemukiman. Maka, penyifatan kesesatan dengan "jauh" tetap mempertahankan makna aslinya, sekaligus memberi isyarat bahwa penggunaan istilah ini untuk kekufuran dan kebodohan merupakan bentuk perubahan makna secara istilah.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
[2] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)