Kemenag RI 2019:Almasih tidak akan pernah enggan menjadi hamba Allah dan begitu pula para malaikat yang dekat (kepada Allah). Siapa yang enggan menyembah-Nya dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Prof. Quraish Shihab:Al-Masih (Nabi ‘Isa a.s.) sama sekali tidak enggan menjadi hamba Allah, begitu pula para malaikat yang terdekat. Barang siapa enggan menyembah-Nya dan menyombongkan diri, kelak Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. Prof. HAMKA:Sekali-kali tidaklah merasa malu al-Masih itu bahwa dia menjadi hamba dari Allah, dan tidak pula malaikat-malaikat yang telah dihampirkan (oleh Allah) Dan barangsiapa yang
merasa malu daripada beribadah kepada-Nya, lagi
menyombong, maka Dia akan mengumpulkan
mereka kepada-Nya, sekaliannya.
Diriwayatkan bahwa delegasi dari Najran yang merupakan kaum Nasrani bertanya kepada Nabi SAW, yaitu mengapa beliau mencela Isa alaihissalam. Nabi SAW bertanya apa yang mereka maksud dengan mencela Nabi Isa? Mereka bilang menyebut Isa sebagai hamba dan rasul Allah adalah bentuk ejekan dan hinaan kepada Nabi Isa alaihissalam. Maka turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa Dia adalah hamba Allah, utusan-Nya, serta kalimat dan roh dari-Nya, bukan Tuhan atau bagian dari konsep Trinitas.
لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ
Kata lan (لَنْ) artinya : tidak akan. Kata yastankifa (يَسْتَنْكِفَ) oleh Kemenag RI dan Prof. Quraisy Shihab diterjemahkan menjadi : enggan. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : malu.
Prof. Quraisy Shihab dalam tafsirnya Tafsir Al-Misbah[1] menuliskan bahwa kata ini pada mulanya berarti menghapus air mata dengan jari tangan. Seseorang yang disegani tidak mustahil satu ketika mencucurkan air mata. Jika saat dia menangis itu ada seseorang yang ingin menemuinya, agar tidak terlihat kelemahan dan kesedihannya dia menghapus air mata yang membasahi pipinya, karena ketika itu dia enggan atau malu dilihat menangis atau dia akan merasa kehormatannya ternodai bila ada yang melihatnya menangis. Dari sini, kata yastankif (يَسْتَنْكِفَ)dipahami dalam arti enggan, atau malu, atau angkuh.
Memang kata tersebut tidak secara otomatis berarti angkuh. Karena itu, akhir ayat ini, yang merupakan ancaman bagi yang enggan menyembah Allah swt., menggabungkan kata yastankif dengan yastakbir (menyombongkan diri).
Kata al-masih (الْمَسِيحُ) artinya : al-masih. Dalam hal ini menjadi pelakunya alias fa’il. Sedangkan makna kata al-masih sudah dijelaskan di ayat sebelumnya. Ringkasannya bisa kita baca pada tabel berikut ini :
No
Pendapat
Makna Al-Masih
Penjelasan
1
Ibrahim an-Nakha’i
Ash-Shiddiq (الصِّدِّيقُ)
Bermakna "yang membenarkan".
2
Ahmad bin Yahya
Masaha al-ardha
(مَسَحَ الْأَرْضَ)
Bermakna "orang yang berjalan atau berkelana di muka bumi".
3
Ibnu Abbas
Masaha - yamsahu
(مَسَحَ - يَمْسَحُ)
Bermakna "orang yang mengusap orang sakit parah dan langsung sembuh seperti sedia kala".
4
Riwayat lain
Diusap dengan minyak barakah
Menjadi ciri khas para nabi.
5
Riwayat lain
Diusap oleh Malaikat Jibril
Saat lahir ke dunia agar Nabi Isa terlindung dari setan.
أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ
Kata an yakuna (أَنْ يَكُونَ) artinya : untuk menjadi. Kata ‘abdan (عَبْدًا) artinya : hamba. Kata lillahi (لِلَّهِ) artinya : bagi Allah.
Penggunaan kata abdan-lillah (عَبْدًا لِلَّهِ) yang berarti hamba yang dimiliki oleh Allah, memberi kesan bahwa Beliau bukan siapa-siapa, bukan anak dan tidak se-istimewa yang dibayangkan.
Ibaratnya budak yang dimiliki oleh tuannya, bisa saja tuannya kemudian menjualnya kepada orang lain. Budak itu dimiliki dan memang punya harga, tetapi nilainya tidak sama seperti nilai seorang anak di mata ayah kandungnya.
Maka Nabi Isa ‘alaihissalam tidak malu, tidak gengsi dan tidak merasa harus jatuh wibawa untuk mengakui bahwa dirinya hanya sekedar hamba yang dimiliki oleh Allah, bukan anak Tuhan.
Pada ayat lain, kita menemukan Nabi Isa ‘alaihissalam menegaskan bahwa dirinya hanyalah hamba Allah semata.
Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi" (QS. Maryam : 30)
وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ
Kata wa la (وَلَا) artinya : dan tidak pula. Kata al-malaikatu (الْمَلَائِكَةُ) artinya : para malaikat. Kata al-muqarrabun (الْمُقَرَّبُونَ) artinya : yang dekat.
Yang dimaksud adalah malaikat-malaikat yang didekatkan oleh Allah SWT kedudukan mereka di sisi-Nya. Mereka antara lain adalah malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan lain-lain. Penyebutan para malaikat itu disini adalah dalam rangka menggunakan kesempatan uraian tentang Nabi 'Isa alaihissalam untuk membantah dan membatalkan keyakinan sementara kaum musyrikin yang menduga bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah.
Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[2] menuliskan pandangannya bahwa istilah al-muqarrabun yang berarti mereka yang didekatkan kepada Allah, ada kemungkinan bahwa ini adalah sifat penjelas atau sifat pembatas. Jika sebagai sifat pembatas, maka yang dimaksud adalah para malaikat yang dijuluki dengan karubiyyun, yaitu para pemuka malaikat: Jibril, Israfil, Mikail, dan Izrail.
Penyebutan mereka dengan karubiyyun adalah istilah lama yang pernah muncul dalam syair yang dinisbatkan kepada Umayyah bin Abi Salt. Disebutkan bahwa istilah ini berasal dari kata karaba, yang memiliki makna sinonim dengan qaruba (mendekat), kemudian diberikan tambahan bentuk hiperbola dengan pola fa'ul serta tambahan ya' nisbah.
Namun Ibnu Asyur cenderung pada pendapat bahwa istilah ini sebenarnya diadopsi ke dalam bahasa Arab dari bahasa Ibrani. Hal ini karena istilah tersebut terdapat dalam Taurat, khususnya dalam Kitab Imamat dan Kitab Keluaran, dan dalam bahasa Ibrani, istilah tersebut bermakna "kedekatan". Oleh sebab itu, Al-Qur’an tidak menggunakannya, tetapi menggantinya dengan sinonimnya yang lebih fasih, yaitu al-muqarrabun (yang didekatkan).
Kata wa-man (وَمَنْ) artinya : dan orang yang. Kata yastankif (يَسْتَنْكِفْ) artinya : enggan. Kata ‘an ‘ibadatihi (عِبَادَتِهِ) artinya : menyembah-Nya.
Kata ini menunjukkan sikap menolak untuk menyembah Allah dengan alasan karena merasa beribadah kepada Allah SWT baginya dianggap hal yang tidak pantas dan bahkan dianggap perbuatan yang rendah baginya. Tentu pelakunya hanya orang kafir saja.
Kata wa yastakbir (وَيَسْتَكْبِرْ) artinya : menyombongkan diri. Asalnya dari kata kabura (كَبُرَ) yang berarti besar, lalu berubah makna menjadi sombong atau merasa lebih tinggi dari yang lain.
Kata ini menunjukkan sikap meninggikan diri dengan perasaan lebih baik dari yang lain, sering kali disertai dengan kesombongan dan penolakan terhadap perintah Allah. Itulah yang dahulu dalam sejarah awal dilakukan oleh Iblis ketika diperintah untuk memberi hormat kepada Nabi Adam alaihissalam.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kepada Adam!’ Maka mereka sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri (istakbara), dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Dan atas sikap merasa sombong itulah Iblis disebut sebagai bagian dari orang kafir.
Keengganan atau istinkaf dan kesombongan atau istikbar pada hakikatnya tidak terlalu jauh berbeda meskipun tetap tidak sama. Memang kalau menurut Al-Kisai, kedua kata ini sekedar variasi bahasa, sebagaimana orang Arab mengatakan: bagaimana keadaanmu? (كيف حالك؟) atau : ‘bagaimana perasaanmu? (كيف بالك؟). Padahal sebenarnya antara kata hal (حال) dan bal (بال), keduanya punya arti yang nyaris sama.
Kata istinkaf itu sebenarnya saling melengkapi dengan kata istikbar, intinya sama-sama kafir dan menolak untuk menyembah Allah SWT. Kalau istinkaf itu menolak menyembah Allah karena malu, gengsi dan merasa terhina, sedangkan istikbar itu merasa dirinya besar, alias besar kepala. Memang keduanya saling melengkapi.
Sedangkan As-Sam’ani dalam Tafsir Al-Quran[3] menuliskan perbedaan antara keduanya. Kata istinkaf (الاستنكاف) adalah kesombongan yang disertai dengan rasa enggan dan menolak karena merasa tidak pantas, sedangkan istikbar (الاستكبار) adalah sikap berlebihan atau melampaui batas dan kesombongan tanpa adanya rasa enggan.
فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا
Kata fa-sa-yahsyuru-hum (فَسَيَحْشُرُهُمْ) artinya : maka akan mengumpulkan mereka. Kata ilihi (إِلَيْهِ) artinya : kepada-Nya. Kata jamian (جَمِيعًا) artinya : semua.
Yang dimaksud dengan Allah SWT akan mengumpulkan mereka adalah nanti di hari kiamat, setelah mereka semua dimatikan secara total sampai tidak ada lagi yang hidup, maka semua makhluk hidup akan dibangkitkan kembali, lalu mereka akan dikumpulkan di mahsyar.
Padang Mahsyar adalah tempat dikumpulkannya seluruh manusia setelah kebangkitan dari kubur pada hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka di dunia sebelum menuju surga atau neraka. Dalam bahasa Arab, istilah "mahsyar" berasal dari kata ḥashara (حَشَرَ) yang berarti "mengumpulkan".
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Padang Mahsyar adalah tempat manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan tanpa khitan, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa kondisi di Padang Mahsyar sangat berat, manusia akan merasakan panas yang luar biasa dan dalam keadaan cemas menunggu keputusan Allah.
Tafsir Al-Muyassar menyebutkan bahwa di Padang Mahsyar manusia tidak bisa lari dari hisab, mereka akan menerima kitab amal mereka, baik di tangan kanan (pertanda kebaikan) maupun tangan kiri atau dari belakang (pertanda keburukan).
Penyebutan bahwa mereka semua akan dikumpulkan di Padang Mahsyar pada hakikatnya merupakan bentuk ancaman atas siksa yang akan mereka terima nanti di akhirat, bahkan siksaan itu sudah ada sejak mereka dibangkitkan. Bahkan sebelum dimasukkan ke dalam neraka.
Secara gaya bahasa, ancaman kepada orang-orang Nasrani ini disini agak unik, karena tidak secara langsung mengancam dengan adzab neraka, melainkan diancam dengan padang Mahsyar terlebih dahulu.
[1] Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran, (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017)
[2] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)
[3] As-Sam’ani, Abu Muzhaffar (w. 498 H), Tafsir Al-Quran, (Riyadh – Darul Wathan, Cet. 1, 1418 H - 1997 M)