Kemenag RI 2019:Wahai Ahlulkitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu ) dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya ) yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. ) Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung. Prof. Quraish Shihab:Wahai Ahlul Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam melaksanakan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, ‘Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan dengan tiupan ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan para rasul-Nya. Janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah dari ucapan dan kepercayaan itu! Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Mahasuci Allah dari memiliki anak. Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Cukuplah Allah sebagai Wakil (Pemelihara dan Pelindung). Prof. HAMKA:Wahai Ahlul Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agama kamu, dan janganlah kamu berkata atas nama Allah kecuali yang sebenarnya. Sesungguhnya al-Masih Isa anak Maryam itu tidak lain hanyalah Rasulullah dan kalimat-Nya yang Dia letakkan kepada Maryam, serta Ruh yang datang dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu katakan: "Tiga!" Berhentilah! Itulah yang sebaik-baiknya bagi kamu, karena sesungguhnya Allah itu, tidak lain, melainkan Tuhan yang Tunggal. Amat sucilah Dia, bahwa Dia tidak memiliki anak. Kepunyaan-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan cukuplah dengan Allah sebagai Pelindung.
Secara lebih khusus ayat ini juga menegaskan bahwa Nabi Isa hanyalah utusan Allah yang diciptakan dengan kalimat-Nya dan merupakan ruh yang asalnya dari Allah.
Ayat ini menegaskan tidak boleh menganut paham bahwa Tuhan ada tiga, karena pada hakikatnya Tuhan itu hanya satu, Dia Maha Esa. Maha suci Tuhan kalau dibilang punya anak.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Kata yaa ahlal-kitabi (يَا أَهْلَ الْكِتَابِ) artinya : wahai ahlul-kitab. Yang disebut dengan ahli kitab, maksudnya adalah orang-orang Yahudi dan juga Nasrani. Istilah ahli disini bukan bermakna pakar atau paling mengerti, namun karena menerima kitab suci samawi dari Allah. Yahudi menerima Taurat yang turun kepada Nabi Musa, sedangkan Nasrani menerima Injil yang turun dari Allah SWT.
Sebenarnya kitab suci samawi tidak hanya turun kepada keduanya saja, tetapi semua umat terdahulu pun menerima kitab suci samawi melalui para nabi dan rasul mereka. Jadi pada dasarnya semua umat nabi terdahulu sudah termasuk ke dalam sebutan ahli kitab.
Namun kenapa terkesan hanya Yahudi dan Nasrani saja, karena yang masih tersisa secara nyata di masa kenabian Muhammad SAW hanya tinggal Yahudi dan Nasrani saja, sehingga sebutan ahli kitab akhirnya hanya identik dengan dua agama itu saja.
Agama yang mengenal konsep kenabian dan turunnya kitab suci samawi juga dikenal sebagai agama samawi atau kadang disebut dengan agama Ibrahimiyah, sebab baik Yahudi, Nasrani dan Islam, sama-sama masih keturunan Nabi Ibrahim alaihissalam.
لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ
Kata laa taghluu (لَا تَغْلُوا) artinya : janganlah kamu berlebih-lebihan. Larangan ini datang dalam bentuk fi’il nahyi yang wujudnya berupa fi’il mudhari, akar katanya dari tiga huruf yaitu huruf ghain, lam dan wawu (غ - ل - و).
Ketiga huruf itu bisa dibentuk menjadi bermacam-macam kata, salah satunya ketika menjadi fi’il madhi dan mudhari’ menjadi (غَلاَ - يَغْلُوْ). Kata ini memiliki makna dasar berlebihan, melampaui batas, atau ekstrim.
Kata ini berasal dari ghalwat as-sahm (غَلْوَة السَّهْمِ), yaitu jarak terjauh yang dapat dicapai oleh anak panah saat melesat. Kemudian, maknanya diambil secara kiasan untuk menunjukkan sikap yang melebihi batas yang ditetapkan, baik dalam hal akal, syariat dalam keyakinan, pemahaman, maupun perbuatan.
Maka berlaku ghuluw dalam agama adalah ketika seseorang yang beragama menampakkan sesuatu yang melampaui batas yang telah ditentukan oleh agamanya. Allah melarang mereka dari sikap ghuluw karena hal itu menjadi akar dari banyak kesesatan mereka dan penolakan mereka terhadap para rasul yang jujur.
Kata fii dinikum (فِي دِينِكُمْ) artinya : dalam agamamu. Maksudnya jangan berlebihan dalam menjalankan agama kalian.
Al-Qurtubi dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran[1] menuliskan bahwa Yahudi berlebihan dalam agama, yaitu ketika mereka membenci Nabi Isa ‘alaihisalam dan menuduhnya sebagai anak haram, sambil juga menuduh ibundanya, yaitu Maryam, dengan tuduhan keji.
Sedangkan berlebih-lebihannya orang Nasrani sendiri kepada Nabi Isa alaihisalam adalah ketika mereka menjadikannya sebagai Tuhan atau anak tuhan.
Maka sikap ghuluw itu terlarang, bahkan Nabi SAW sendiri juga tidak ingin para shahabat bersikap berlebihan kepada diri Beliau SAW sendiri dengan sabdanya :
Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa. Tetapi katakanlah (bahwa aku adalah) hamba Allah dan utusan-Nya.
Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[2] menuliskan bahwa sikap berlebihan Ahli Kitab adalah melampaui batas yang telah ditetapkan oleh agama mereka :
§ Orang-orang Yahudi diperintahkan untuk mengikuti Taurat dan mencintai rasul mereka, tetapi mereka melampaui batas dengan membenci para rasul seperti Nabi Isa ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad SAW.
§ Orang-orang Nasrani diperintahkan untuk mengikuti Al-Masih, tetapi mereka melampaui batas dalam hal itu hingga mengklaim ketuhanan atau bahwa ia adalah anak Allah, serta mengingkari Muhammad SAW.
وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ
Kata wa laa taquuluu (وَلَا تَقُولُوا) artinya : dan janganlah kamu mengatakan. Kata ‘alallahi (عَلَى اللَّهِ) artinya : terhadap Allah. Kata illal-haq (إِلَّا الْحَقَّ) artinya : kecuali yang benar.
Allah SWT punya banyak sekali penyebutan atas diri-Nya, yang mana penyebutan itulah yang boleh dijadikan dasar ketika kita membuat profil tentang sosok Allah SWT. Diluar dari apa yang Allah SWT sebutkan tentang diri-Nya secara resmi lewat Al-Quran atau hadits-hadits yang shahih, maka kita akan terjebak dengan deskripsi yang berdasarkan hanya pada logika manusia.
Hasilnya bisa dipastikan menjadi ghuluw alias berlebihan dalam deskripsi tentang Allah SWT, serta sekaligus juga akan menodai kesucian Allah SWT.
Orang-orang Jahiliyah mengira bahwa Allah SWT butuh anak dan istri, karena mencoba memahami konsep Tuhan sebagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Kalau diri mereka sendiri sebagai manusia, pastilah akan merasakan hidup yang sepi bila hidup sendirian, tidak ada istri dan tidak ada anak. Lalu mereka berpikir, begitu juga mungkin yang akan dirasakan oleh Tuhan, betapa sepinya hidup Tuhan jika tidak punya pasangan dan tidak punya keturunan.
Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah : 116)
dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak. (QS. Al-Jinn : 3)
إِنَّمَا الْمَسِيحُ
Kata innama (إِنَّمَا) artinya : sesungguhnya. Kata al-masih (الْمَسِيحُ) artinya : Al-masih.
Lafazh al-masih (الْمَسِيحُ) sebenarnya bukan nama asli, melainkan gelar yang tersemat pada seorang Nabi Isa alahissalam. Abu Ubaidah dan Al-Laits mengatakan bahwa aslinya dalam bahasa Ibrani adalah masyih (مَشِيحًا), namun di-arab-kan menjadi al-masih. Sedangkan maknanya para ulama saling berbeda, antara lain :
§ Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) adalah ash-shiddiq (الصِّدِّيقُ) yang berarti yang membenarkan.
§ Ahmad bin Yahya mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) itu dari kata masaha al-ardha (مَسَحَ الْأَرْضَ) yaitu orang yang berjalan atau berkelana di muka bumi.
§ Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-masih itu dari kata (مَسَحَ - يَمْسَحُ) artinya orang yang mengusap orang sakit parah dan langsung sembuh seperti sedia kala.
§ Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) karena Dia mengusap dengan minyak barakah yang menjadi ciri para nabi.
§ Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih adalah orang yang diusap oleh Malaikat Jibril dengan sayapnya ketika lahir ke dunia. Hal itu dilakukan agar Nabi Isa terlindung dari setan.
عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ
Kata ‘isab-na-maryama (عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ) artinya : Isa putera Maryam. Sebenarnya kata ‘isa (عِيْسَى) bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan asalnya dari bahasa Ibrani yaitu yasyu’ (يَشُوعُ). Sebagaimana Musa yang juga asal dari bahasa Ibrani yaitu musya (مُوشى) atau misya (مِيشا).
Namun ada banyak ulama yang berpendapat bahwa lafazh Isa sudah menjadi bagian dari bahasa Arab.
Bagian ini menarik untuk didiskusikan, yaitu disebutkan bahwa Nabi Isa itu putera Maryam, padahal kita tahu bahwa janin Nabi Isa itu sendiri sebenarnya tidak berasal dari sel telur Maryam. Hal itu karena Maryam disebut sebagai wanita suci yang tidak pernah mendapatkan haidh. Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa tubuh Maryam tidak memproduksi sel telur.
Namun begitu Nabi Isa tetap disebut sebagai putra Maryam. Dan fakta ini membuat para ulama mengatakan sudah bisa disebut sebagai anak asalkan pernah berada di dalam rahim seorang wanita, meski pun tidak tercipta dari sel telurnya.
Karena itulah para ulama sepakat mengharamkan bayi tabung ketika seorang wanita hanya menjadi donor rahim, sedangkan janin atau sel telurnya milik wanita lain. Hal itu tidak diperkenankan secara syariah dengan pertimbangan bahwa dengan sekedar menjadi donor pun sudah termasuk menjadi ibu bagi anak tersebut. Dan ini akan menimbulkan kerancuan nasab antara wanita pemilik sel telur dengan wanita pemilik rahim.
Kata rasuullah (رَسُولُ اللَّهِ) artinya : hanyalah utusan Allah.
Para ulama mengatakan bahwa penggalan ini merupakan bentuk penegasan kepada kaum nasrani yang di masa itu sedang berpolemik secara internal terkait unsur ketuhanan pada Nabi Isa alaihissalam. Penggalan ini secara tegas menyebutkan bahwa Nabi Isa hanyalah utusan Allah, berarti Beliau bukan Tuhan juga bukan anak Tuhan.
Nabi Isa tidak lain hanyalah hamba Allah saja, kecuali bedanya bahwa Beliau diberi kitab suci dan diangkat menjadi serorang nabi.
Berkata Isa: "Sesungguhnya Aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan Aku seorang nabi. (QS. Maryam : 30)
Setelah kepergian Nabi Isa alaihissalam muncul pandangan yang berkembang di luar ajaran aslinya, terutama setelah pengaruh Paulus.
Tokoh Paulus ini konon awalnya adalah seorang Yahudi yang menentang ajaran Nabi Isa alaihissalam, kemudian mengklaim bahwa dirinya menerima wahyu dan mulai mengajarkan konsep baru, yaitu bahwa Nabi Isa alaihissalam adalah anak Tuhan dan bahwa keselamatan diperoleh bukan melalui amal ibadah, melainkan melalui iman kepada pengorbanan Nabi Isa.
Ajaran Paulus kemudian menyebar luas di kalangan non-Yahudi, terutama di wilayah Kekaisaran Romawi, yang terbiasa dengan konsep dewa-dewa dalam kepercayaan mereka.
Sementara itu, perbedaan di antara pengikut Isa semakin tajam. Kaum Ebionit tetap berpegang pada tauhid dan hukum Taurat, sementara kaum Arianisme yang dipimpin oleh Arius menolak ketuhanan Nabi Isa alaihissalam dan menganggapnya sebagai makhluk Allah yang mulia. Di sisi lain, pengikut ajaran Paulus semakin kuat dan mulai mengajarkan konsep Trinitas, yaitu Nabi Isa alaihissalam sebagai bagian dari Tuhan.
Pada tahun 325 M, Kaisar Romawi Konstantinus mengadakan Konsili Nicea untuk menyelesaikan perbedaan ini dan menyatukan ajaran Kristen dalam kekaisarannya. Dalam pertemuan ini, pandangan Arius yang menolak ketuhanan Nabi Isa alaihissalam ditolak, sementara doktrin Trinitas mulai ditegaskan sebagai ajaran resmi.
Keputusan ini mendapat dukungan politik dari Kaisar, yang melihat ajaran ini lebih mudah diterima oleh masyarakat Romawi. Konsili-konsili berikutnya semakin memperkuat ajaran ini, seperti Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M yang menetapkan Trinitas sebagai dogma utama, serta Konsili Efesus dan Khalsedon yang menegaskan bahwa Nabi Isa alaihissalam memiliki sifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus.
Ayat ini menegaskan bahwa paham bahwa Nabi Isa alaihissalam adalah anak Tuhan bukanlah bagian dari ajaran aslinya, melainkan hasil dari perkembangan teologis yang dipengaruhi oleh perbedaan internal, perubahan ajaran oleh Paulus, serta dukungan politik dari Kekaisaran Romawi yang ingin menyatukan umat Kristen dalam satu kepercayaan yang seragam.
Meskipun Nabi Isa alaihissalam sendiri tidak pernah mengklaim ketuhanan, keputusan konsili dan perkembangan sejarah akhirnya menjadikan doktrin ini sebagai bagian utama dalam ajaran Kristen hingga saat ini.
وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ
Kata wa kalimatuhu (وَكَلِمَتُهُ) artinya : dan kalimat-Nya. Maksudnya bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam adalah kalimat-Nya.
Namun para ulama beda-beda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan istilah ‘kalimat’ pada penggalan ini. Kemenag RI menerjemahkannya dengan menambahkan keterangan yang diapit dua tanda kurung : (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[3] menuliskan bahwa para ulama punya tiga alasan yang berbeda terkait Nabi Isa yang disebut sebagai ‘kalimat-Nya’, yaitu :
1. Pertama, karena Allah telah berfirman kepada Nabi Isa ketika Dia berkata kepadanya, "Kun" (Jadilah). Ini adalah pendapat Al-Hasan dan Qatadah.
2. Kedua, karena Nabi Isa adalah kabar gembira dari Allah yang telah disampaikan kepada Maryam, sehingga dengan itu dia disebut sebagai Kalimat Allah.
3. Ketiga, karena Nabi Isa dijadikan petunjuk sebagaimana petunjuk diperoleh dari firman Allah.
Kata alqa-ha (أَلْقَاهَا) secara harfiyah artinya : Dia melemparkannya. Namun dalam terjemahan Kemenag RI dan Prof Quraish Shihab diubah menjadi : Dia sampaikan. Sedangkan terjemahan Buya HAMKA menjadi : Dia letakkan.
Kata ila maryama (إِلَىٰ مَرْيَمَ) artinya : kepada Maryam, yaitu ibunda Nabi Isa yang mengandung Nabi Isa dalam perutnya.
وَرُوحٌ مِنْهُ
Kata wa ruhun minhu (وَرُوحٌ مِنْهُ) secara harfiyah artinya : dan ruh dari-Nya. Diterjemahan Kemenag RI diadaptasi menjadi : dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.
1. Pertama, dia disebut ruh karena dia adalah salah satu dari ruh-ruh yang diciptakan Allah dan Allah menyandarkannya kepada diri-Nya sebagai bentuk pemuliaan baginya.
2. Kedua, dia disebut ruh karena dengan kehadirannya manusia mendapatkan kehidupan, sebagaimana mereka hidup dengan adanya ruh.
3. Ketiga, dia disebut ruh karena tiupan Jibril ‘alaihis-salam, sebab Jibril meniupkan ruh ke dalamnya dengan izin Allah. Dalam bahasa Arab, tiupan juga disebut sebagai ruh, maka penyebutan ini berasal dari proses tiupan tersebut.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[4] menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ruh dari-Nya berarti ruh yang diciptakan oleh Allah dan bukan berarti bahwa Nabi Isa adalah bagian dari Dzat Allah, tetapi merupakan salah satu dari makhluk-Nya yang diciptakan dengan kehendak-Nya.
Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsir [5]juga menegaskan bahwa kata minhu (منه) yang berarti : dari-Nya, tidak menunjukkan bahwa Isa AS adalah bagian dari Allah, tetapi sebagai bentuk pemuliaan dari Allah atas makhluk-Nya.
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ
Kata fa aaminu (فَآمِنُوا) artinya : maka berimanlah kamu. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah. Kata wa rusulihi (وَرُسُلِهِ) artinya : dan juga kepada rasul-rasul-Nya.
Iman kepada para rasul menjadi bagian utuh dari keimanan kita kepada Allah SWT. Tanpa mengimani para rasul, maka iman kita kepada Alah SWT otomatis gugur dengan sendirinya.
Nampaknya perintah di penggalan ayat ini di masa turunhya sedikit agak mengarah kepada orang-orang Yahudi. Sebab mereka mengaku telah beriman kepada Allah SWT, namun rupanya mereka tidak mau beriman kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Padahal Beliau adalah salah satu dari sekian banyak rasul yang Allah SWT utus ke dunia.
Dengan penggalan ayat ini maka wajiblah bagi orang-orang Yahudi untuk beriman kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Apalagi mengingat bahwa Nabi Isa ‘alaihissalamtidak lain masih keturunan Bani Israil juga. Beliau bukan orang Arab yang beda ras dan bangsa.
Mungkin kalau orang-orang Yahudi menolak untuk beriman kepada Nabi Muhammad SAW karena beda bangsa, kita masih bisa terima logikanya. Namun kalau sesama bangsa mereka sendiri pun tidak mau beriman, berarti memang ada masalah di internal mereka sendiri.
Namun perintah untuk beriman kepada para rasul di penggalan ayat ini bisa juga kita pahami sebagai perintah kepada orang-orang nasrani. Walaupun sebenarnya mereka memang mengakui kenabian dan kerasulan Beliau, namun Al-Quran tetap memerintahkannya. Sebab perintah untuk beriman kepada Nabi Isa dilengkapi dengan larangan, yaitu janganlah menjadikan Nabi Isa sebagai tuhan, yang menjadi bagian dari tiga tuhan yang mereka yakini. Berimanlah kepada Nabi Isa, tapi jangan jadikan dia tuhan.
Lalu perintah ini juga bisa berlaku buat kita sebagai muslim. Wajiblah bagi kita menjadikan Nabi Isa sebagai nabi dan rasul yang kita hormati. Salah satunya dengan melafazhkan salam kepada diri Beliau jika nama Beliau disebutkan. Kita tidak sekedar menyebut Nabi Isa secara begitu saja, tetapi selalu kita kaitkan dengan salam kita kepada Beliau. Kita selalu menyebut namanya dengan sebutan lengkap, yaitu Nabi Isa ‘alaihissalam.
Ajaran dan syariat yang dibawa oleh Nabi Isa ‘alaihissalam tetap wajib kita jalankan. Tentu saja yang masih asli dari Allah SWT, bukan yang sudah diputar-balik atau pun yang sudah diselewengkan.
Selain itu tentu juga dengan membandingkan nasikh mansukh yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sebab kenabian Muhammad SAW itu penuh dengan berbagai macam revisi dan updating terbaru. Jangankan syariat yang turun di masa para nabi terdahulu, bahkan yang turun di masa kenabian Muhammad SAW pun, kalau Allah SWT nasakh atau hapuskan, maka kita pun sudah tidak lagi menggunakannya. Kita hanya boleh menggunakan syariat yang paling up to date dari yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ
Kata wa laa taquuluu (وَلَا تَقُولُوا) artinya : dan janganlah kamu mengatakan. Kata tsalatsah (ثَلَاثَةٌ) artinya : “tiga.”
Ath-Thabari dalam tafsirJami Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[6] ketika menjelaskan penggalan ini mengatakan bahwa dalam kalimat ini ada yang tidak dinyatakan, padahal sebenarnya kalau dituliskan yang lengkap teks ini adalah :
ولا تقولوا: الأربابُ ثلاثة
Dan janganlah kamu mengatakan bahwa Tuhan itu ada tiga.
Dr. Wahbah Az-Zuhaili di dalam tafsir Al-Munir[7] juga mengomentari hal yang kurang lebih sama, Beliau tuliskan :
ولا تقولوا آلهتنا ثلاثة
Dan janganlah kamu mengatakan bahwa Tuhan kami ada tiga
Konsep tauhid yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada tiga dalam sejarah panjang Kristen mengalami proses yang cukup berliku. Dan semua sepakat bahwa paham ini bukan berasal dari ajaran langsung Nabi Isa (Yesus) kepada murid-muridnya. Sebab memang tidak ada satu pun ayat dalam Injil di mana Yesus secara eksplisit menyebutkan istilah "Trinitas" atau mengajarkan bahwa Tuhan terdiri dari tiga pribadi dalam satu esensi. Namun, umat Kristen meyakini bahwa gagasan ini berasal dari interpretasi berbagai ayat dalam Perjanjian Baru dan perkembangan teologi setelahnya.
Dalam Injil, Yesus sering menyebut Tuhan sebagai "Bapa"-Nya dan menyatakan bahwa Ia memiliki hubungan khusus dengan-Nya. Beberapa ayat yang sering dikutip oleh pendukung Trinitas antara lain:
§ Yohanes 10:30 – "Aku dan Bapa adalah satu."
§ Matius 28:19 – "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
Ayat-ayat ini kemudian diinterpretasikan oleh para teolog Kristen sebagai dasar bagi konsep Trinitas, meskipun Yesus sendiri tidak pernah menggunakan istilah tersebut.
Pengaruh Paulus dan Teologi Kristen Awal
Paulus, salah satu tokoh penting dalam perkembangan Kekristenan, menulis surat-surat yang kemudian menjadi bagian dari Perjanjian Baru. Dalam surat-suratnya, ia sering menggambarkan Yesus sebagai lebih dari sekadar nabi atau utusan, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki sifat-sifat ilahi. Misalnya dalam Filipi 2:6 disebutkan :
"Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan."
Paulus sendiripun tidak secara eksplisit mengajarkan Trinitas, tetapi ajarannya tentang keilahian Yesus menjadi dasar bagi konsep ini di kemudian hari.
Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M)
Pada abad ke-4, Kaisar Romawi Konstantinus mengadakan Konsili Nicea untuk menyelesaikan perdebatan di kalangan Kristen tentang keilahian Yesus. Dalam konsili ini, ajaran Arianisme—yang menyatakan bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan dan bukan Tuhan—ditolak. Sebaliknya, para pemimpin gereja menetapkan bahwa Yesus adalah "sehakikat" dengan Tuhan.
Konsili berikutnya, di Konstantinopel (381 M), memperkuat keputusan ini dan secara resmi menyatakan bahwa Tuhan terdiri dari tiga pribadi dalam satu esensi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejak saat itu, konsep Trinitas menjadi doktrin resmi Kekristenan.
Konsep ini dijelaskan dalam berbagai dokumen teologi Kristen sebagai misteri iman yang sulit dipahami secara logika manusia, tetapi diyakini sebagai kebenaran ilahi berdasarkan ajaran Alkitab dan tradisi gereja.
Trinitas vs Triteisme
Di masa sekarang ini para pendeta dan tokoh agama Kristen sering menjelaskan bahwa trinitas itu bukan triteisme. Dalam pandangan mereka, Trinitas itu tidak mengajarkan penyembahan tiga Tuhan. Yang menyembah tiga tuhan itu menurut mereka adalah paham Triteisme.
Sementara mereka tetap mengklaim bahwa Tuhan itu hanya satu alias Esa. Namun, dalam keesaan Tuhan ini, terdapat tiga pribadi, yang mereka sebut dengan istilah hipostasis yang berbeda tetapi memiliki hakikat yang sama. Dalam bahasa teologi Kristen, Tuhan dipahami sebagai:
1. Bapa – Sang Pencipta dan sumber segala sesuatu.
2. Anak (Yesus Kristus) – Inkarnasi Tuhan dalam bentuk manusia yang datang ke dunia untuk menebus dosa manusia.
3. Roh Kudus – Roh Tuhan yang bekerja dalam kehidupan orang percaya, memberi bimbingan dan kekuatan spiritual.
Para teolog Kristen menjelaskan bahwa ketiga pribadi ini bukan tiga Tuhan yang terpisah, tetapi satu dalam esensi, sehingga mereka tidak menyembah lebih dari satu Tuhan.
Bagi umat Kristen, Trinitas bukan sekadar kiasan, tetapi realitas teologis yang mendalam. Meskipun sulit dipahami secara akal, konsep ini diyakini sebagai cara Tuhan menyatakan diri-Nya kepada manusia. Beberapa analogi digunakan untuk membantu memahami konsep ini, meskipun tidak sepenuhnya akurat, seperti air yang bisa dalam bentuk cair, uap, dan es, tetapi tetap zat yang sama. Atau matahari yang memiliki bentuk fisik, cahaya, dan panas, tetapi tetap satu matahari.
Kadang mereka menggunakan perumpamaan manusia yang memiliki tubuh, jiwa, dan roh, tetapi tetap satu individu.
Meskipun analogi-analogi ini sering digunakan, doktrin Trinitas tetap merupakan konsep yang sulit diterima oleh banyak orang di luar Kristen, terutama karena bertentangan dengan monoteisme murni yang diajarkan dalam agama lain.
Bahkan dalam sejarah Kekristenan sendiri, ada banyak perdebatan panjang hingga akhirnya Trinitas ditetapkan secara resmi dalam Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M).
Jadi, meskipun terdengar seperti menyembah tiga Tuhan, umat Kristen sendiri menolak tuduhan politeisme dan tetap menganggap diri mereka sebagai penganut monoteisme, hanya saja dengan pemahaman Tuhan yang berbeda dari konsep tauhid dalam Islam atau keesaan Tuhan dalam Yudaisme.
Maka banyak kalangan Kristiani yang mengoreksi Al-Quran telah keliru menilai mereka. Mereka bilang bahwa mereka tidak menyembah tiga tuhan.
Di masa turunnya Al-Quran ketika Nabi SAW masih hidup, ada Adi bin Hatim radhiyallahuanhu. Beliau adalah seorang shahabat nabi yang sebelumnya memeluk agama Kristen, tetapi mendapat hidayah kemudian masuk Islam. Ketika turun ayat Al-Quran menyebut bahwa orang-orang Nasrani telah menyembah para rahib dan pendeta mereka, awalnya Beliau agak keberatan. Sebab yang Beliau pahami selama memeluk Nasrani tidak seperti yang disebutkan dalam Al-Quran.
"Mereka menjadikan orang-orang alim (ahbar) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah…" (QS. At-Taubah: 31)
Adi bin Hatim pun berkata kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, kami tidak menyembah mereka."
Lalu, Nabi SAW menjelaskan bahwa penyembahan yang dimaksud dalam ayat ini bukan berarti sujud atau ibadah secara langsung kepada para rahib dan pendeta, tetapi lebih kepada ketaatan mutlak yang diberikan kepada mereka, bahkan dalam hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah.
Jika mereka menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, lalu kaum Yahudi dan Nasrani mengikutinya tanpa berpikir kritis, itulah bentuk ‘penyembahan’ yang dimaksud. Setelah mendengar penjelasan ini, Adi bin Hatim akhirnya memahami maksud ayat tersebut.
Maka kalau umat Kristiani hari ini menuduh Al-Quran keliru ketika menuduh diri mereka telah menjadikan Tuhan ada tiga, sebenarnya itu bukan hal yang baru. Sejak dulupun sudah ada yang menolak statemen Al-Quran dan mengatakan keliru.
انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ
Kata intahu (انْتَهُوا) artinya : berhentilah kamu. Maksudnya berhentilah dari mengatakan bahwa Tuhan ada tiga. Kata khairullakum (خَيْرًا لَكُمْ) artinya : lebih baik bagimu.
Di masa kenabian Muhammad SAW, banyak juga orang-orang Kristen yang terombang-ambing dalam masalah tiga tuhan ini. Salah satunya adalah An-Najasyi, penguasa Habasyah. Beliau seorang pemeluk agama Kristen, namun secara pribadi sebenarnya kurang setuju dengan konsep tiga tuhan yang diotak-atik secara akal-akalan.
Hanya saja di masa itu, paham tiga tuhan sudah sedemikian kuat. Banyak dari kalangan Kristen yang lurus, merasa terancam jika menolak paham tiga tuhan. Bahkan sekelas An-Najasyi sendiri pun khawatir bila kedudukannya sebagai raja terhempaskan begitu saja.
Karena itulah kita mengenal sosok An-Najasyi sebagai tokoh yang sedikit kontroversial. Beliau tidak secara tegas disebut membaca syahadat. Namun ketika wafat, Nabi SAW menshalatkan jenazahnya dari jarak jauh dan diriwayatkan secara sepakat oleh Al-Bukhari dan Muslim.
"Sesungguhnya saudara kalian, An-Najasyi, telah meninggal dunia. Maka berdirilah dan shalatkanlah dia." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits shahih ini adalah salah satu dalil menjadi bukti otentik bahwa An-Najasyi mati sebagai muslim, meskipun kita tidak pernah mendapatkan kabar kapan dia baca syahadat. Boleh jadi Beliau memang merahasiakan keislamannya, karena khawatir dengan keamanan dirinya.
Nasib Kristen Yang Tidak Menyembah Tiga Tuhan
Sejarah mencatat ada beberapa kelompok Kristen yang hingga saat ini tidak menuhankan Nabi Isa atau tidak mengakui konsep bahwa beliau adalah anak Tuhan. Namun gereja-gereja besar di dunia, seperti Gereja Katolik, Ortodoks, dan mayoritas denominasi Protestan, menganggap kelompok yang tidak menuhankan Nabi Isa (Yesus) sebagai menyimpang dari ajaran Kristen yang sah.
Konsili-konsili gereja sejak abad ke-4, seperti Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M), telah menetapkan Trinitas sebagai doktrin utama dalam Kekristenan. Siapa pun yang menolak doktrin ini dianggap sebagai bid'ah (heresy) atau sesat dalam pandangan gereja arus utama.
Bahkan, dalam banyak dokumen gerejawi, kelompok-kelompok seperti Unitarian, Saksi-Saksi Yehuwa, dan Kristadelfian tidak diakui sebagai bagian dari "Kekristenan yang benar" karena menolak konsep keilahian Yesus dan Trinitas.
1. Unitarianisme
Kaum Unitarian menolak konsep Trinitas dan menegaskan bahwa Tuhan adalah satu, bukan tiga dalam satu. Mereka meyakini bahwa Isa (Yesus) adalah seorang nabi atau guru moral yang diutus Tuhan, tetapi bukan Tuhan itu sendiri. Unitarianisme memiliki sejarah panjang dan masih memiliki pengikut hingga hari ini, terutama di kalangan gereja-gereja liberal seperti Unitarian Universalist di Amerika Serikat.
2. Saksi-Saksi Yehuwa
Kelompok ini, yang muncul pada abad ke-19, tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan atau bagian dari Trinitas. Mereka percaya bahwa Yesus adalah makhluk ciptaan pertama yang memiliki kedudukan mulia, tetapi bukan Tuhan atau anak Tuhan dalam pengertian Trinitas. Mereka juga menolak banyak ajaran Kristen mainstream, seperti perayaan Natal dan Paskah.
3. Gereja Tuhan
Beberapa denominasi dalam Gereja Tuhan, seperti Church of God General Conference, memiliki pandangan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah dalam arti metaforis, tetapi bukan Tuhan itu sendiri. Mereka menolak Trinitas dan berpegang teguh pada ajaran monoteisme murni.
4. Kristadelfian
Kristadelfian adalah sebuah komunitas keagamaan yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian bahwa dia diciptakan oleh Allah, tetapi tidak menganggapnya sebagai bagian dari Tuhan atau sebagai makhluk yang memiliki keilahian sejati. Mereka menolak doktrin Trinitas dan lebih menekankan pemahaman monoteistik Alkitab.
5. Arianisme (Historis)
Meskipun secara historis Arianisme telah ditindas sejak Konsili Nicea (325 M), beberapa kelompok yang memiliki ajaran mirip dengan Arianisme masih bertahan dalam berbagai bentuk, seperti beberapa sekte Kristen yang tidak menerima doktrin Trinitas dan melihat Yesus sebagai makhluk ciptaan yang memiliki posisi tinggi, tetapi bukan Tuhan.
Kelompok-kelompok ini, meskipun jumlah pengikutnya lebih sedikit dibandingkan dengan Kristen Trinitarian, tetap eksis dan mempertahankan keyakinan mereka hingga hari ini.
Namun, meskipun secara resmi tidak diakui sebagai bagian dari Kekristenan, kelompok-kelompok seperti Unitarian dan Saksi-Saksi Yehuwa tetap mengidentifikasi diri mereka sebagai pengikut Yesus dengan interpretasi yang berbeda. Mereka menganggap ajaran mereka sebagai bentuk pemurnian dari ajaran Yesus yang asli, yang menurut mereka telah diselewengkan oleh gereja arus utama sejak Konsili Nicea.
Jadi, meskipun mereka masih mengklaim sebagai bagian dari Kristen, gereja-gereja besar memang menganggap mereka sebagai aliran yang menyimpang atau bahkan bukan Kristen sama sekali.
إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ
Kata innama (إِنَّمَا) artinya : sesungguhnya hanya. Kata allahu (اللَّهُ) artinya : Allah itu. Kata ilahun (إِلَٰهٌ) artinya : tuhan yang disembah. Kata wahid (وَاحِدٌ) artinya : Yang Maha Esa.
Penggalan ini menegaskan bahwa konsep bertuhan yang benar adalah harus secara mutlak menyebutkan bahwa Tuhan itu hanya satu, tanpa harus banyak berkelit dan berbelit-belit menjelaskan kesana kesini. Tuhan hanya ada satu saja, tidak dua, bukan tiga, dan tidak berbilang.
Kenapa harus malu-malu menyebutkan bahwa Tuhan itu hanya satu? Ada apa di balik ungkapan trinitas bahwa tiga adalah satu dan satu adalah tiga. Kenapa harus bawa-bawa angka tiga?
Akar Sejarah Konsep Tiga Tuhan
Para pakar sejarah teologi meyakini bahwa konsep Trinitas dalam Kristen memiliki kemungkinan besar dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan dan filsafat dari peradaban kuno, termasuk kepercayaan pagan di Eropa, Yunani, dan Romawi. Sebelum ajaran Trinitas menjadi doktrin resmi dalam Kekristenan, banyak budaya telah mengenal konsep tiga dewa atau triad ilahi, antara lain :
1. Mesir Kuno memiliki konsep tritunggal dalam bentuk Osiris, Isis, dan Horus.
2. Hindu memiliki konsep Trimurti yang terdiri dari Brahma (pencipta), Vishnu (pemelihara), dan Shiva (penghancur).
3. Roma dan Yunani mengenal banyak dewa yang sering dikelompokkan dalam tiga, seperti Zeus, Poseidon, dan Hades.
4. Filsafat Neoplatonisme, yang berkembang di dunia Yunani-Romawi, memperkenalkan konsep "hipostasis tiga" dalam realitas ketuhanan, yaitu pertama adalah The One (Yang Maha Esa) – mirip dengan Tuhan Bapa. Kedua adalah Nous (Pikiran Ilahi) – sering dikaitkan dengan Logos atau "Firman" yang dalam Kekristenan dihubungkan dengan Yesus. Ketiga adalah World Soul (Jiwa Dunia) – yang berfungsi seperti Roh Kudus.
Konsep ini memberi dasar bagi banyak pemikir Kristen awal untuk menyusun ajaran Trinitas dalam istilah filsafat.
Konsep Trinitas dalam Kristen kemungkinan besar mendapat pengaruh dari berbagai peradaban yang sebelumnya sudah mengenal gagasan ketuhanan dalam tiga bentuk. Pengaruh ini berasal dari kepercayaan pagan, filsafat Yunani, dan penyesuaian ajaran Kristen dalam lingkungan Romawi yang pada saat itu mendukung politeisme. Trinitas akhirnya menjadi bagian dari ajaran resmi Kekristenan setelah melalui proses panjang perdebatan teologis dan campur tangan politik.
سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ
Kata subhanahu (سُبْحَانَهُ) artinya : Maha Suci Dia. Maksudnya Maha Suci Allah. Kata an yakuna (أَنْ يَكُونَ) artinya : dari anggapan bahwa Dia itu. Kata lahu (لَهُ) artinya : mempunyai. Kata walad (وَلَدٌ) artinya : anak.
Konsep ketuhanan dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sangat simple dan sederhana, tidak perlu penjelasan yang panjang dan bertele-tele terkait Allah SWT. Sangat mudah dipahami oleh para budak dan hamba sahaya. Tidak harus sekolah di Fakultas Teologi yang bikin pusing dan penuh dengan perdebatan.
Konsepnya bahwa Allah SWT itu tidak punya anak, titik. Dia terlalu suci untuk disebut-sebut punya anak. Sementara dalam agama-agama lain, seringkali kita temukan konsep Tuhan beranak pinak. Tentu hal itu sangat mencoreng kesucian Tuhan.
Berikut adalah tabel yang merangkum konsep Tuhan memiliki anak dalam berbagai peradaban kuno:
Peradaban
Tuhan Utama
Anak-anaknya
Keterangan
Mesir Kuno
Osiris
Horus
Horus dianggap sebagai penerus Osiris dan dewa pelindung raja.
Anak-anak para dewa sering dianggap sebagai makhluk sakral atau dewa sendiri.
Nordik (Skandinavia)
Odin
Thor, Balder
Thor adalah dewa petir yang sangat terkenal dalam mitologi Nordik.
Persia Kuno (Zoroastrianisme)
Ahura Mazda
Mithra (menurut beberapa kepercayaan)
Mithra adalah dewa cahaya yang penting dalam Zoroastrianisme dan kemudian masuk ke dalam kepercayaan Romawi.
Sumeria & Babilonia
Anu
Enlil, Enki
Enlil dan Enki adalah dewa utama dalam kosmologi Sumeria dan Babilonia.
Tabel ini menunjukkan bagaimana konsep "Tuhan memiliki anak" muncul di berbagai budaya dan mitologi, yang sering dikaitkan dengan kepercayaan politeistik dan mitologi kuno.
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
Kata lahu (لَهُ) artinya : milik-Nya, maksudnya milik Allah. Kata ma fis-samawati (مَا فِي السَّمَاوَاتِ) artinya : apa yang ada di langit. Kata wa ma fil ardhi (وَمَا فِي الْأَرْضِ) artinya : dan apa yang ada di bumi.
Sudah dijelaskan pada ayat sebelumnya, kalau dikatakan Allah SWT memiliki apa yang ada di langit dan di bumi, konotasinya yang paling melekat adalah harta kekayaan. Karena harta kekayaan itu sifatnya memang : dimiliki. Maka kita memahaminya bahwa Allah SWT itu sangat kaya, punya segala macam bentuk kekayaan baik di langit atau di bumi.
Tidak punya anak bukan berarti Allah SWT itu miskin, sebagaimana umumnya kepercayaan orang Arab dan bangsa-bangsa lainnya. Dalam pandangan Islam, Allah SWT adalah Maha Sempurna dan tidak bergantung kepada makhluk-Nya. Konsep bahwa Tuhan harus memiliki anak agar lebih kuat atau berkuasa adalah pandangan yang berasal dari kepercayaan masyarakat Arab jahiliah dan peradaban lain yang terbiasa dengan konsep ketuhanan berbentuk keluarga ilahi.
Orang Arab dahulu, sebagaimana banyak bangsa lain, sering mengasosiasikan kekuatan dan kelangsungan eksistensi dengan memiliki keturunan. Mereka memproyeksikan konsep ini kepada Tuhan, sehingga muncul keyakinan bahwa jika Tuhan tidak memiliki anak, itu berarti Dia lemah atau tidak sempurna.
Pemikiran semacam ini juga tampak dalam banyak mitologi kuno, dimana para dewa memiliki anak sebagai pewaris atau pelanjut kekuasaan mereka. Namun Al-Quran menegaskan bahwa Allah itu tidak bergantung kepada apapun secara mutlak, seperti dalam Surah Al-Ikhlas:
"Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya." (QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Ayat ini secara langsung menolak konsep ketuhanan yang memiliki anak, baik secara biologis maupun dalam bentuk anak angkat atau pewaris spiritual, karena Allah SWT tidak membutuhkan pewaris atau penerus dalam kekuasaan-Nya.
وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
Kata wa-kafa (وَكَفَىٰ) artinya : cukuplah. Kata bilahi (بِاللَّهِ) artinya : dengan Allah. Kata wakila (وَكِيلًا) diterjemahkan secara berbeda-beda. Oleh Kemenag RI, diterjemahkan menjadi : sebagai pelindung. Sementara Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : sebagai wakil, namun Beliau beri penjelasan di dalam kurung yaitu penjaga, pelindung, dan pemelihara. Adapun Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : pelindung. ِِ
Kata wakila (وَكِيلًا) ini kalau ditelusuri akar katanya berasal dari tiga huruf yaitu wawu, kaf dan lam (و – ك - ل) yang pada dasarnya bermakna mengandalkan pihak lain atas urusan yang seharusnya ditangani sendiri.
Kalau dikatakan : cukuplah Allah sebagai wakil, maka maksudnya kita percayakan semua kepada Allah SWT untuk mengambil alih masalah ini. Sementara itu kita tidak memberikan perwakilan kita kepada pihak lain.
Maka menjadikan Allah sebagai wakil, bahkan sebagai satu-satunya wakil, itu berarti kita menyerahkan segala masalah dan urusan kita hanya kepada Allah SWT saja. Biarlah nanti Allah SWT sendiri yang turun tangan dan bertindak sesuai dengan kehendaknya. Kita ini tidak usah ikut campur lagi di dalamnya. Tugas kita hanya tinggal menunggu dan melihat saja hasil akhirnya.
Dengan kata lain kita percayakan segala urusan biar diambil-alih oleh Allah SWT saja, dan tidak kita percayakan urusan ini kepada yang lain.
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
[2] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)