| ◀ | Jilid : 11 Juz : 6 | Al-Maidah : 10 | ▶ |
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Kemenag RI 2019: Adapun orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni (neraka) Jahim.| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Ayat ke-9 ini tentunya masih sambungan dari ayat sebelumnya yang menyebutkan tentang orang beriman dan beramal shaleh, bahwa Allah SWT telah menjanjikan kepada mereka mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.
Maka ayat ini menjadi antitesis atau kebalikannya, yaitu bahwa orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Allah SWT, dijanjikan mereka itu sebagai penghuni neraka Jahim nanti setelah hari kiamat.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا
Kata walladzhina (وَالَّذِينَ) artinya : dan orang-orang yang. Kata kafaru (كَفَرُوا) artinya : kafir.
Orang-orang kafir di masa kenabian seringkali dibedakan menjadi dua macam, yaitu ahli kitab dan orang-orang musyrikin. Yang ahli kitab terbagi lagi menjadi dua, yaitu Yahudi dan Nasrani.
1. Musyrikin
Kaum musyrikin itu adalah nama yang disematkan untuk menyebut orang kafir non ahli kitab, yaitu agama-agama yang tidak mengenal kitab suci samawi, seperti agama yang dianut oleh kebanyakan penduduk negeri Arab, ataupun yang dipeluk oleh bangsa Persia di masa itu, yaitu orang-orang Majusi penyembah api.
Mungkin yang lebih tepatnya sebutan mereka adalah kafir non ahli kitab, tetapi Al-Quran lebih sering menyebut mereka sebagai musyrikin saja. Karena yang paling menonjol dari mereka adalah kemusyrikan mereka, yaitu selain menyembah Allah, ternyata mereka juga menyembah berhala.
Bangsa Arab di masa pra kenabian Muhammad memang sedang dilanda dengan paham paganisme, yaitu paham keberhalaan yang mereka sembah dan mereka sucikan sampai dijadikan tuhan-tuhan tempat menggantungkan diri.
Padahal kalau kita lihat alur sejarah keberhalaan, Arab sendiri bukan bangsa yang pertama kali menyembah berhala. Mereka menyembah berhala karena ikut-ikutan saja dengan banyak peradaban lain di sekitarannya yang sudah lebih dahulu menyembah berhala dan punya tuhan yang banyak.
Bangsa Arab di masa pra-Islam memang terjerumus dalam paganisme, tetapi awalnya mereka adalah penganut monoteisme. Jika ditelusuri, keberhalaan masuk ke Jazirah Arab melalui pengaruh eksternal.
Menurut riwayat, orang pertama yang membawa berhala ke Arab adalah Amr bin Luhay, seorang pemimpin suku Khuza’ah. Ia terpengaruh oleh budaya penyembahan berhala yang ia lihat di Syam (wilayah Suriah dan sekitarnya) dan membawa berhala bernama Hubal ke Mekah. Dari sanalah praktik keberhalaan mulai menyebar luas.
Sebelumnya, orang-orang Arab mengenal ajaran tauhid yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Ka’bah sendiri awalnya adalah tempat ibadah kepada Allah, tetapi kemudian dikotori dengan ratusan berhala.
Jadi, penyembahan berhala di Arab bukanlah sesuatu yang berasal dari mereka sendiri, melainkan hasil dari asimilasi budaya dengan peradaban lain, seperti Mesopotamia, Yunani, dan Persia, yang sudah lebih dulu mengenal politeisme.
2. Ahli Kitab
Adapun kafir ahli kitab di masa kenabian Muhammad, yaitu Yahudi dan Nasrani sebenarnya juga banyak yang menyembah berhala juga. Namun begitu berhala mereka tidak seekstrim orang-orang Arab.
a. Yahudi
Kaum Yahudi di masa itu tidak secara teknis menyembah berhala seperti orang-orang Arab penyembah berhala (musyrikin). Yahudi dikenal sebagai pemeluk monoteisme yang sangat ketat, mengikuti ajaran Taurat yang menegaskan larangan penyembahan selain kepada Allah.
Namun, meskipun mereka tidak menyembah berhala, tetapi mereka berlebihan dalam mengagungkan para ulama dan pendeta mereka, bahkan ada yang sampai mengikuti mereka secara buta dalam mengubah hukum-hukum agama. Hal ini ditegur dalam Al-Quran:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah (QS. At-Taubah: 31)
Beberapa kelompok Yahudi di masa itu lebih cenderung menolak kebenaran karena kesombongan dan fanatisme terhadap ras dan keturunan mereka. Mereka menunggu seorang nabi dari kalangan mereka sendiri, tetapi ketika Nabi Muhammad berasal dari bangsa Arab, mereka menolaknya, meskipun mereka tahu kebenaran ajarannya.
Jadi, meskipun kaum Yahudi di Jazirah Arab tidak menyembah berhala seperti bangsa Arab musyrik, mereka tetap memiliki penyimpangan dalam akidah dan praktik keagamaan mereka, terutama dalam fanatisme terhadap tokoh agama dan sikap keras kepala terhadap wahyu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.
b. Nasrani
Pada masa itu, kepercayaan Nasrani memang sudah mengalami berbagai perbedaan pemahaman tentang Nabi Isa. Sebagian kelompok sudah sampai pada tahap menyembah Nabi Isa, sementara sebagian lainnya hanya meyakini bahwa beliau adalah anak Tuhan tanpa benar-benar menyembahnya secara langsung.
Kepercayaan bahwa Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan berkembang dari berbagai faktor, termasuk pengaruh filsafat Yunani dan Romawi. Sebelum masa Nabi Muhammad, ajaran Kristen sudah mengalami perpecahan teologis, dengan beberapa sekte memiliki pandangan berbeda:
Beberapa kelompok Kristen, terutama yang mengikuti doktrin Trinitas (seperti yang dirumuskan dalam Konsili Nicea tahun 325 M), sudah menganggap Isa sebagai Tuhan dalam bentuk inkarnasi. Mereka percaya bahwa Yesus adalah "Firman Tuhan" yang menjelma menjadi manusia dan layak disembah.
Ada juga kelompok yang menganggap Isa sebagai anak Tuhan dalam arti figuratif, bukan dalam arti literal sebagai Tuhan itu sendiri. Mereka lebih menekankan bahwa Isa memiliki hubungan khusus dengan Tuhan, tetapi mereka tidak sampai menyembahnya sebagai Tuhan.
Beberapa kelompok kecil, seperti kaum Arianisme (pengikut Arius), masih memegang keyakinan bahwa Isa adalah seorang nabi dan utusan Tuhan, bukan Tuhan atau anak Tuhan dalam makna ilahiah.
Di Jazirah Arab sendiri, terdapat komunitas Nasrani seperti di Najran yang sudah menerima paham Trinitas dan menganggap Isa sebagai Tuhan. Namun, masih ada kelompok Nasrani yang berpegang pada ajaran tauhid murni.
Jadi, pada masa Nabi Muhammad, sudah ada kaum Nasrani yang menyembah Nabi Isa, tetapi ada juga yang hanya menganggapnya sebagai anak Tuhan dalam arti kehormatan tanpa benar-benar menyembahnya.
وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
Kata wa kadzdzabu (وَكَذَّبُوا) artinya : dan mendustakan. Kata bi ayaatina (بِآيَاتِنَا) artinya : dengan ayat-ayat Kami.
Yang dimaksud dengan ayat-ayat Kami disini adalah Al-Quran Al-Karim. Baik kaum musyrikin ataupun ahli kitab, sama-sama mengingkari Al-Quran.
1. Kaum Musyrikin Ingkari Al-Quran
Kalau kaum musyrikin, keingkaran mereka kepada Al-Quran karena memang sejak awal mereka tidak percaya kepada adanya konsep kitab suci samawi yang turun dari langit. Jadi mereka bukan hanya tidak percaya Al-Quran, tetapi semua kitab suci samawi mereka ingkari. Taurat, Injil, Zabur dan lain-lainnya, semua mereka ingkari.
Hanya saja kaum musyrikin yang dominan orang Arab di Mekkah saat itu sulit untuk mengingkari kebenaran Al-Quran. Sebab Al-Quran turun dalam format sastra Arab yang tinggi, dimana para pujangga Arab bertekuk lutut tidak mampu menghasilkan karya yang seindah Al-Quran.
Maka terjadilah dilemma, di satu sisi mereka tidak percaya dengan adanya wahyu samawi, namun di sisi lain, logika mereka mengatakan bahwa Al-Quran itu pastilah datang dari sisi Tuhan yang Maha Kuasa.
Al-Quran memiliki struktur bahasa yang tidak sama dengan syair maupun prosa Arab pada masa itu. Bahkan para penyair dan ahli sastra Quraisy seperti Al-Walid bin Al-Mughirah mengakui bahwa Al-Quran bukan buatan manusia. Namun, karena keangkuhan dan kepentingan politik, mereka enggan mengakuinya sebagai wahyu dari Allah.
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
"Dan jika kamu meragukan (Al-Quran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisalnya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS. Al-Baqarah: 23)
Karena tidak mampu membantah kebenaran Al-Quran secara rasional, mereka mulai menyebarkan tuduhan seperti Al-Quran adalah sihir, atau Nabi Muhammad adalah penyair atau dukun, atau Al-Quran hanya dongeng orang-orang terdahulu.
Lucunya sebagian pemuka Quraisy, seperti Abu Sufyan dan Al-Akhnas bin Syariq, sering diam-diam mendengarkan bacaan Al-Quran karena mereka tahu keindahan dan kebenarannya. Namun, mereka tetap menolak beriman karena gengsi dan kekhawatiran kehilangan status sosial mereka.
2. Yahudi Ingkari Al-Quran
Sebenarnya orang-orang Yahudi adalah kaum yang paling potensial untuk beriman kepada Al-Quran. Sebab mereka itu sebenarnya ahli kitab, yaitu sangat berpegang teguh kepada kitab suci samawi, khususnya Taurat yang turun kepada Nabi Musa.
Di dalam Taurat sudah jelas sekali berita kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan kitab suci terakhir yaitu Al-Quran. Apalagi di awal-awal perjumpaan kalangan Yahudi, Nabi SAW sendiri masih banyak menggunakan Taurat sebagai kitab suci dan dasar hukum dalam memerintah Madinah.
Di dalam ayat ke-44 nanti, Allah SWT menegaskan bahwa siapa yang tidak mau berhukum dengan apa yang telah Allah SWT turunkan, maka mereka itu orang kafir. Dan yang dimaksud dengan ‘apa yang Allah turunkan’ tidak lain adalah Taurat. Hukum potong tangan pencuri, hukum rajam buat pelaku zina sampai hukum qishash yang dijalankan Nabi SAW, di masa awal itu bukan perintah Al-Quran, melainkan perintah Taurat.
Sementara Al-Quran sendiri belum lagi turun ayat-ayat hukumnya kala itu. Ayat-ayat yang turun masih ayat-ayat Makkiyah saja, yang sangat minim kandungan hukumnya. Kalau pun ada ayat-ayat hukum turun di Mekkah, cenderung nantinya akan dihapus atau dinasakh oleh ayat-ayat Madaniyah. Salah satunya ayat halalnya khamar yang turun di Mekkah.
وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا
Dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.(QS. An-Nahl : 67)
Ketika kemudian ayat-ayat hukum di Madinah mulai turun, disitulah terjadi plot-twist yang mengubah jalan cerita secara ekstrim. Ternyata ayat-ayat hukum yang turun di Madinah banyak sekali merevisi ayat-ayat yang ada di dalam Taurat. Meskipun sama-sama masih bicara hukum, tetapi hukumnya unik dan berbeda.
Contoh yang paling mendasar adalah ketika Allah SWT perintahkan Nabi SAW untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke arah Masjid Al-Haram di Mekkah.
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. (QS. Al-Baqarah : 144)
Turunnya ayat itu membuat Yahudi geger dan tidak bisa terima. Mereka marah besar kepada Nabi Muhammad SAW yang dianggap telah menyimpang dari Taurat dan sunnah para nabi dan rasul sebelum mereka.
Memang kebanyakan nabi dan rasul itu dari garis keturunan mereka. Pensucian atas Baitul Maqdis itu sudah mendarah daging dan menurun secara tradisi dalam sikap dan perilaku mereka. Kalau sampai tiba-tiba arah shalat pindah ke negeri lain, mereka tidak bisa terima.
Disitulah terjadi apa yang Allah SWT tegaskan di ayat ini, bahwa mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami. Perintah untuk shalat menghadap ke Masjid Al-Haram itu adalah perintah Allah. Bahwa dahulu Allah SWT perintahkan mereka shalat menghadap Baitul Maqdis memang benar, tetapi ketika Allah SWT yang punya kehendak dan punya kuasa berkeinginan agar semua hamba untuk pindah kiblat, maka itu adalah perintah yang harus dijalani.
Tidak boleh melawan apa yang jadi perintah Allah. Namun begitulah sikap mental orang-orang Yahudi, mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mau shalat menghadap ke Masjid Al-Haram.
أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Kata ulaaika (أُولَٰئِكَ) artinya : mereka itu. Kata ashhabu (أَصْحَابُ) artinya : penghuni. Kata al-jahim (الْجَحِيمِ) artinya : neraka Jahim.
Baik kaum musyrikin maupun ahli kitab, jika mereka tidak mau beriman dan beramal shalih, atau dengan kata lain, jika mereka tidak mau memeluk agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, maka tempat mereka nanti di akhirat adalah di dalam neraka Jahim.
Pernyataan ini menolak pernyataan banyak kalangan yang suka mengatakan bahwa semua agama sama, bahwa yang berlaku baik kepada sesama, meskipun lewat agama manapun dia, pastinya nanti akan masuk surga semua.
Dalam ajaran Islam, keimanan kepada Allah dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW adalah syarat utama keselamatan di akhirat. Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa siapa saja yang menolak iman dan menolak risalah Nabi Muhammad SAW, maka tempat kembalinya adalah neraka, terlepas dari seberapa baik amal perbuatannya di dunia.
Allah berfirman dalam Al-Quran:
وَمَن يَبتَغِ غَيرَ ٱلإِسلَـٰمِ دِينا فَلَن يُقبَلَ مِنهُ وَهُوَ فِي ٱلأٓخِرَةِ مِنَ ٱلخَٰسِرِينَ
"Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85)
Selain itu, Allah juga menegaskan bahwa syirik adalah dosa yang tidak akan diampuni, sementara dosa selain itu masih bisa mendapatkan ampunan jika Allah menghendaki. Allah berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغفِرُ أَن يُشرَكَ بِهِۦ وَيَغفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشرِك بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفتَرَىٰٓ إِثمًا عَظِيما
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar." (QS. An-Nisa: 48)
Rasulullah SAW juga menegaskan dalam haditsnya bahwa siapa pun dari umat manusia yang mendengar tentang risalah Islam tetapi tidak mau beriman kepadanya, maka tempatnya di akhirat adalah neraka. Nabi SAW bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
"Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentangku, lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, melainkan ia termasuk penghuni neraka." (HR. Muslim)
Banyak orang beranggapan bahwa semua agama sama dan semua orang baik akan masuk surga, terlepas dari agama yang mereka anut. Namun, Islam menolak konsep ini. Dalam pandangan Islam, kebaikan tanpa iman tidak cukup untuk keselamatan di akhirat. Amal saleh yang tidak didasari oleh iman kepada Allah dan risalah Nabi Muhammad SAW tidak akan diterima sebagai bekal ke surga. Setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, syariat Islam menjadi satu-satunya jalan yang benar, dan siapa saja yang menolaknya berarti menolak kebenaran yang datang dari Allah.
Dengan demikian, Islam tidak membenarkan pandangan bahwa semua agama sama dan semua orang baik akan masuk surga tanpa iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Al-Quran dan hadits dengan jelas menyatakan bahwa keselamatan hanya bagi mereka yang beriman kepada Allah dan mengikuti petunjuk yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW.