Kata wa’adallahu (وَعَدَ اللَّهُ) artinya : Allah telah menjanjikan. Kata alladzina amanu (الَّذِينَ آمَنُوا) artinya : orang-orang yang beriman.
Ada dua hal yang Allah SWT sebutkan agar seseorang bisa masuk surga dan abadi di dalamnya. Yang pertama adalah iman dan yang kedua adalah amal shalih.
Lafazh aamanu (آمَنُوا) maknanya mereka beriman. Maksudnya bahwa beriman kepada Allah SWT itu adalah dasar pijakan untuk mendapatkan janji Allah. Orang tidak beriman pastinya tidak mendapatkan janji Allah berupa ampunan dan pahala.
Karena orang-orang kafir itu di sisi Allah dianggap tidak pernah punya amal yang melahirkan pahala. Secara bahasa fiqih, amalan-amalan orang kafir itu tidak sah. Artinya tidak diterima oleh Allah SWT, bahkan juga dianggap masih belum mengerjakan.
Orang kafir meskipun sepanjang bulan Ramadhan dia berpuasa tanpa pernah absen, di akhirat nanti dia tetap akan disiksa atas dasar tidak puasa. Karena puasanya itu tidak sah, karena tidak dilandasi oleh iman kepada Allah SWT.
Kata lahum (لَهُم) artinya : bagi mereka. Kata maghfiratun (مَغْفِرَةٌ) artinya adalah ampunan.
Ampunan itu umumnya diberikan setelah seseorang berdosa besar, seperti mencuri, mabuk, berzina, makan riba bahkan mungkin saja pernah menyekutukan Allah, menyembah Tuhan yang lain.
Isyarat yang bisa kita terima bahwa orang yang beriman itu mungkin-mungkin saja dahulu pernah tidak beriman. Bukankah para shahabat mulia yang Allah SWT ridhai, dahulu pada awalnya adalah orang-orang yang sempat memusuhi Nabi Muhammad SAW.
Sebagian dari mereka bahkan pernah berperang sebagai orang kafir yang menjadi lawan dari kaum muslimin. Mereka memang ikut dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan perang-perang lainnya, tapi posisinya justru jadi musuh Allah dan Rasul-Nya.
Abu Sufyan bin Harb, Khalid bin Walid, Amr bin Al-Ash radhiyallahuanhum adalah contoh sosok yang semacam itu. Mereka kita kenal sebagai para shahabat yang mulia, tetapi masa lalu mereka sempat kelam dan jadi musuh Allah.
Namun ketika Allah SWT memberi mereka hidayah, lalu mereka masuk Islam bertaubat, maka Allah SWT menerima taubat mereka dan mengampuni mereka.
Salah satu dalilnya adalah hadits dari Amr bin Al-‘Ash radhiyallahuanhu ketika ia hendak masuk Islam dan menemui Rasulullah SAW.
لَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الْإِسْلَامَ فِي قَلْبِي أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقُلْتُ: ابْسُطْ يَدَكَ فَلَأُبَايِعْكَ. فَبَسَطَ يَدَهُ، قَالَ: فَقَبَضْتُ يَدِي. قَالَ: «مَا لَكَ يَا عَمْرُو؟» قَالَ: قُلْتُ: أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ. قَالَ: «تَشْتَرِطُ بِمَاذَا؟» قُلْتُ: أَنْ يُغْفَرَ لِي. قَالَ: «أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟»
Ketika Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, aku datang kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Ulurkan tanganmu, aku ingin berbaiat kepadamu.’ Maka beliau mengulurkan tangannya, lalu aku menarik tanganku. Beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Amr?’ Aku menjawab, ‘Aku ingin mengajukan syarat.’ Beliau bertanya, ‘Apa syaratmu?’ Aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka beliau bersabda, ‘Tidakkah kamu tahu bahwa Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya, hijrah menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji juga menghapus dosa-dosa sebelumnya?’" (HR. Muslim).
Bahkan termasuk dosa syirik, yaitu menyembah Tuhan yang lain bersamaan dengan menyembah Allah, tetap saja masih mungkin diampuni.
Umar bin Khattab radhiyallahunahu pernah mengenang masa jahiliah ketika masih menyembah berhala, Beliau cerita bahwa berhala itu kalau lapar malah dimakan.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، قَالَ: "لَقَدْ كُنَّا فِي الْجَاهِلِيَّةِ نَعْبُدُ الْأَصْنَامَ، فَنَصْنَعُ الصَّنَمَ مِنَ الْحَلْوَى، فَإِذَا جُعْنَا أَكَلْنَاهُ."
Dari Umar bin Khattab, ia berkata: "Dahulu kami di masa jahiliah menyembah berhala, lalu kami membuat berhala dari makanan manis. Jika kami lapar, kami pun memakannya." (HR. Al-Baihaqi)
Hadits lain dari Abu Raja’ al-‘Ataridi juga mengisahkan hal yang kurang lebih sama.
ُنَّا نَعْبُدُ الْحَجَرَ، فَإِذَا وَجَدْنَا حَجَرًا خَيْرًا مِنْهُ أَلْقَيْنَاهُ وَأَخَذْنَا الْآخَرَ، فَإِذَا لَمْ نَجِدْ حَجَرًا جَمَعْنَا جُثْوَةً مِنْ تُرَابٍ، ثُمَّ جِئْنَا بِالشَّاةِ فَحَلَبْنَاهَا عَلَيْهِ، ثُمَّ طُفْنَا بِهِ."
Kami dahulu menyembah batu. Jika kami menemukan batu yang lebih baik darinya, kami membuangnya dan mengambil yang baru. Jika kami tidak menemukan batu, kami mengumpulkan tanah, lalu kami membawa seekor kambing, kami perah susunya di atas tanah itu, kemudian kami thawaf mengelilinginya." (HR. Al-Bukhari).
Namun kita mengenal mereka kemudian sebagai orang-orang yang paling tinggi derajatnya di antara seluruh kaum muslimin. Nabi SAW sendiri yang membanggakan mereka dengan sabdanya :
Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu meriwayatkan sebuah hadits yang dishahihkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ، وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku (generasiku), kemudian yang setelah mereka, lalu yang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang di antara mereka mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Baihaqi, Sunan al-Kubra.
Kata ajrun (أَجْرٌ) secara harfiyah bermakna : balasan, bisa juga diterjemahkan menjadi pahala. Kata azhim (عَظِيمٌ) artinya : besar atau agung. Bukan sekedar besar tetapi besar sekali.
Kaitan antara ampunan dan pahala yang besar itu saling mempengaruhi. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa punya pahala yang besar, kalau dosa-dosa besarnya masih banyak. Seberapa banyak amal ibadah yang dia kumpulkan, dengan susah payah, semua akan jadi seakan percuma kalau dosa-dosa besarnya belum diampuni.
Oleh karena itu jurus utama dari memperbanyak pahala adalah mendapatkan dulu ampunan, biar tidak terjadi kebocoran dari kotak amal kita.
Kalau dosa besar sudah tidak ada, maka tidak perlu lagi pahala digunakan untuk menghapus dosa-dosa di akhirat. Pahala akan berfungsi untuk menaikkan kualitas nikmat di surga.
Sementara para ahli ibadah yang belum lagi mendapatkan ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa masa lalunya, boleh jadi semua tabungan pahala yang dibawanya selama di dunia, akan habis diporoti untuk membayar semua dosa-dosa miliknya yang teramat banyak itu.
Selain itu yang juga tersirat dari ungkapan ini, yaitu pahala yang banyak, yaitu ketika Allah SWT menggelembungkan pahala bagi orang yang beriman dan beramal shalih. Dan itu menjadi hak pregroratif Allah SWT kepada hamba-Nya yang beriman. Meski amalnya tidak terlalu besar, tetapi di sisi Allah SWT bisa saja digelembungkan nilainya.
Kita menemukan banyak kasus penggelembungan pahala yang Allah lakukan, misalnya pahala ibadah pada even lailatul qadar. Allah SWT berfirman.
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. Al-Qadar : 3)
Di ayat lain Allah SWT juga menjanjikan orang yang bersedekah bisa mendapatkan pahala berlipat ganda, yang diumpamakan seperti biji atau benih yang ditanam.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. (QS. Al-Baqarah : 261)