Kemenag RI 2019:Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya (hidangan itu) kepadamu. Siapa yang kufur di antaramu setelah (turun hidangan) itu, sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara (manusia) seluruh alam.” Prof. Quraish Shihab:Allah berfirman: “Sesungguhnya
Aku akan menurunkannya (hidangan)
itu kepada kamu; maka barang siapa
kafir di antara kamu sesudah (turun-
nya hidangan) itu, maka sesungguh-
nya Aku akan mengazabnya dengan
azab yang tidak pernah Aku timpakan
kepada seorang pun di antara umat
manusia.” Prof. HAMKA:Berkata-lah Allah, “Sesungguhnya, Aku akan menurunkannya kepada kamu. Barang siapa yang kufur sesudah itu dari antara kamu maka sesungguhnya akan Aku adzab ia dengan suatu adzab yang belum pernah Aku adzabkan kepada seseorang pun daripada isi alam.”
Namun begitu sekalian juga diingatkan bahwa setelah diturunkan hidangan itu, sudah tidak boleh lagi yang kufur. Dasanya karena setelah itu Allah SWT akan turunkan azab kepada yang kufur dengan jenis azab yang sangat berat, bahkan sampai disebutkan sebagai azab yang tidak pernah ditimpakan kepada seorang pun di antara manusia seluruh alam.
قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ
Kata qaala (قَالَ) artinya : berfirman. Kata allaahu (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata innii (إِنِّي) artinya : sesungguhnya Aku. Kata munazziluhaa (مُنَزِّلُهَا) artinya : akan menurunkannya. Kata ‘alaikum (عَلَيْكُمْ) artinya : kepada kalian.
Yang menarik perhatian dalam ayat ini adalah penggunaan kata munazziluha (مُنَزِّلُهَا) dan bukan unziluha(أُنْزِلُهَا). Ungkapan innimunazziluha (إِنِّي مُنَزِّلُهَا) bermakna sebagai pelaku, menjadi : Aku penurun makanan itu. Sedangkan jika disebut inni unziluha(إِنِّي أُنْزِلُهَا) barulah Aku menurunkannya.
Secara semantik, kata unziluha berarti Aku akan menurunkannya, dan merupakan kata kerja biasa yang mengandung makna peristiwa atau tindakan yang akan dilakukan. Namun ketika Allah menggunakan bentuk munazzil, yang merupakan ism fa’il dari kata kerja nazzala, maka maknanya menjadi lebih kuat dan lebih bergema secara retoris.
Ini bukan sekadar menyatakan bahwa Allah akan menurunkannya, tetapi lebih kepada pernyataan yang menunjukkan kemantapan, kepastian, dan kepenguasaan mutlak Allah atas tindakan itu. Seolah-olah Allah berkata, Akulah Sang Penurun hidangan itu, bukan hanya Aku akan menurunkannya.
Ungkapan innimunazziluha (إِنِّي مُنَزِّلُهَا) juga mengisyaratkan kesinambungan atau kekonsistenan tindakan. Allah dalam menurunkan hidangan itu bukan hanya sekali, tetapi terus menerus.
Dari sisi gaya bahasa, penggunaan bentuk munazziluha memberikan nuansa keagungan dan ketegasan, yang memperkuat kesan bahwa ini bukan sekadar pemberian biasa, melainkan pemberian ilahi yang memiliki syarat dan tanggung jawab besar.
Maka tidak heran jika setelah itu Allah memberikan peringatan keras: bahwa siapa pun yang mengingkari atau menyalahgunakan nikmat ini akan mendapatkan azab yang belum pernah ditimpakan kepada siapa pun di dunia.
Wujud Hidangan
Para ulama dan ahli tafsir berbeda pendapat mengenai wujud hidangan dari langit yang dimohon oleh Nabi ‘Isa atas permintaan para hawariyyun pengikut setianya. Ibnu ‘Abbas menyebutkan bahwa hidangan itu berupa sebuah nampan atau talam besar (خوان) berisikan roti dan ikan. Athiyyah Al-‘Awfi menambahkan bahwa ikan tersebut memiliki rasa seluruh jenis makanan, sebuah gambaran tentang kelezatan dan keajaiban makanan surga.
Menurut Wahb bin Munabbih, hidangan tersebut turun setiap hari dari buah-buahan surga, dan yang duduk menikmati hidangan itu bisa mencapai empat ribu orang. Setiap kali mereka makan, Allah mengganti dengan hidangan yang serupa bagi kelompok berikutnya. Peristiwa ini berlangsung selama waktu yang dikehendaki Allah.
Riwayat lain dari Wahb menyebutkan bahwa Allah menurunkan sepotong roti dari gandum kasar yang biasa disebut dengan sya‘ir dan beberapa ikan kecil, dan Allah penuhi berkah di antara makanan itu, sehingga orang-orang makan bergantian hingga semuanya kenyang dan masih tersisa.
Sa‘id bin Jubair menyampaikan bahwa semua jenis makanan diturunkan kecuali daging. Ikrimah menyebutkan bahwa roti yang disajikan di atas meja itu terbuat dari beras, bukan gandum sebagaimana umumnya makanan pokok di daerah itu.
فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ
Kata faman (فَمَنْ) artinya : maka siapa. Kata yakfur (يَكْفُرْ) artinya : yang kafir. Kata ba’du (بَعْدُ) artinya : sesudah itu. Kata minkum (مِنْكُمْ) artinya : dari kalian.
Ini adalah mukjizat yang kesekian kalinya dari seluruh rangkaian mukjizat yang diperlihatkan. Maka ini merupakan titik paling akhir, siapa saja yang masih kafir dan ingkar ketika melihat mukjizat terakhir ini, maka ada siksaan yang menanti.
Sekilas kita membaca penggalan ini, ada terkesan ancaman ini ditujukan kepada mereka yang bakalannya memang kafir. Agak sedikit janggal apabila ancaman ini ditujukan kepada para pengikut setia, khususnya hawariyun. Sebab mereka justru dikenal sebagai pengikut setia, sudah banyak berkorban bahkan termasuk mengorbankan nyawa sekalipun.
Secara logika dan nalar, kurang tepat bila kepada mereka masih saja Allah SWT ancam dengan akan menjadi kafir bahkan setelah melihat mukjizat berkali-kali. Kemungkinan ancaman ini ditujukan kepada selain mereka, yaitu Bani Israil yang seharusnya beriman kepada kenabian Isa alaihissalam. Sehingga akan lebih tepat dan mengena, sebab sudah berkali-kali mereka melihat sendiri berbagai macam mukjizat Nabi Isa, logikanya sudah tidak ada lagi celah untuk tidak beriman. Dan kalau dalam kenyataannya masih saja ada yang tidak beriman, maka mereka pantas disiksa.
فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَاباً
Kata fa-innii (فَإِنِّي) artinya : maka sesungguhnya Aku. Kata u‘adzdzib-hu (أُعَذِّبُهُ) artinya : akan mengazabnya. Kata ‘adzaaban (عَذَابًا) artinya : azab.
Inilah salah satu contoh ayat yang membedakan secara filosofis antar umat terdahulu dengan umat Nabi Muhammad SAW, yaitu langsung diturunkan azab ketika mereka kafir dan ingkar. Hukuman yang bersifat instan ini memang selalu kita temukan pada umat terdahulu, namun tidak kita temukan pada umat Nabi Muhammad SAW.
Perbedaan perlakuan Allah terhadap umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan umat-umat terdahulu, khususnya dalam hal penangguhan azab, secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga ditegaskan dalam beberapa hadits. Ayat yang paling sering dijadikan landasan adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Anfal:
"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka memohon ampun."
(QS. Al-Anfal: 33)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah umatnya menjadi salah satu sebab tertundanya azab dari Allah, berbeda dengan umat terdahulu yang segera dihukum bila melakukan kekufuran atau pembangkangan terhadap perintah Allah.
Bahkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat, alasan penangguhan azab itu masih tetap berlaku selama umat ini masih ada yang memohon ampun dan kembali kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa umat Nabi Muhammad SAW mendapatkan bentuk rahmat yang sangat luas, yaitu diberi kesempatan untuk bertaubat dan tidak langsung dihukum meski dalam keadaan durhaka.
Rasulullah SAW juga pernah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, doakan keburukan atas orang-orang musyrik!” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai pelaknat. Aku diutus hanya sebagai rahmat. (HR. Muslim)
Dari ‘Aisyah RA, beliau berkata kepada Nabi SAW, “Apakah pernah engkau mengalami hari yang lebih berat daripada hari Perang Uhud?” Beliau menjawab: Sungguh aku telah mengalami penderitaan dari kaummu, dan yang paling berat aku alami dari mereka adalah ketika di hari 'Aqabah, saat aku menawarkan diriku kepada Ibn ‘Abdi Yālail bin ‘Abdi Kulāl, namun ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan penuh kesedihan, tanpa aku sadari aku sudah berada di Qarnu ats-Tsa'ālib. Saat aku mengangkat kepalaku, aku melihat ada awan menaungiku. Di dalamnya ada Jibril. Ia memanggilku dan berkata, 'Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu dan bagaimana mereka menolakmu. Allah telah mengutus Malaikat Penjaga Gunung kepadamu agar engkau perintahkan sesuai kehendakmu atas mereka.'” Lalu Malaikat Gunung memanggilku, memberi salam kepadaku, dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mengutusku kepadamu agar aku melaksanakan perintahmu. Jika engkau mau, aku akan timpakan kedua gunung (yang mengapit kota) kepada mereka.” Namun Nabi SAW bersabda: ”Tidak, bahkan aku berharap Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Hadits ini makin memperjelas bahwa umat Nabi Muhammad SAW tidak langsung menerima azab seperti umat-umat terdahulu. Hukuman atau cobaan yang datang lebih berupa ujian duniawi yang masih membuka peluang untuk bertobat dan memperbaiki diri, bukan berupa azab pemusnahan total sebagaimana yang menimpa kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, dan lainnya.
Dengan demikian, kita memahami bahwa salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada umat ini adalah diberikannya tenggang waktu dan peluang untuk kembali ke jalan-Nya, tanpa langsung ditimpa azab yang membinasakan. Namun tentu saja kemurahan ini tidak boleh disalahgunakan, karena kelak di akhirat, pengadilan Allah tetap berlaku dengan sangat adil dan teliti.
لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ
Kata laa (لَا) artinya : yang tidak. Kata u‘adzdzibuhu (أُعَذِّبُهُ) artinya : Aku mengazab dengannya. Kata ahadan (أَحَدًا) artinya : seorang pun. Kata minal-‘aalamiin (مِنَ الْعَالَمِينَ) artinya : dari (semua) alam.
Ayat ini sama sekali tidak menjelaskan secara spesifik seperti apa bentuk azab tersebut. Sebagian mufassir ada yang menyebutkan mereka dikutuk menjadi babi dan kera. Namun kita belum menemukan riwayat yang valid dan menkonfimasi hal itu.
Disisi lain, jika kita menelusuri sejarah mereka, kita bisa melihat jejak-jejak azab yang sangat mungkin merupakan perwujudan dari ancaman tersebut.
1. Penindasan
Dalam sejarah awal kekristenan, mereka yang beriman secara tulus kepada Nabi Isa mengalami penindasan, penyiksaan, bahkan diburu dan dibunuh oleh penguasa Romawi.
Namun setelah kekuasaan berubah, ajaran itu justru dibelokkan oleh orang-orang yang mengklaim membelanya. Ironisnya, ketika kekristenan menjadi agama resmi, justru saat itulah ajaran yang paling menyimpang disebarluaskan, seperti doktrin ketuhanan Isa dan trinitas. Ini adalah bentuk lain dari azab: ketika jalan lurus tertutup, dan jalan kebatilan diberi nama suci.
2. Kehilangan Originalitas
Konsekuensi logis agar mereka masih bisa eksis adalah kompromi dalam fundemantal keimanan agama. Dari yang awalnya monoteis mutlak menjadi politeis total.
Mereka menjadikan Nabi yang mereka ikuti sebagai Tuhan, bukan sebagai utusan. Ini adalah bentuk pengingkaran terhadap mukjizat yang telah Allah tunjukkan kepada mereka, dan inilah yang bisa dianggap sebagai puncak dari penyimpangan setelah kebenaran diperlihatkan secara nyata.
3. Perpecahan Sekte dan Gereja
Selain ditindas, diobrak-abrik fundamental aqidahnya, kehilangan kitab asli, nampaknya ini yang paling parah, yaitu mereka mengalami perpecahan luar biasa di antara sesama pemeluknya. Dari satu ajaran yang dibawa oleh satu Nabi, terbentuklah begitu banyak sekte dengan pandangan dan doktrin yang saling bertentangan, bahkan menjadi beberapa agama yang berbeda.
Setidaknya ada enam hingga delapan agama yang kini berdiri sendiri, bukan lagi sekadar cabang Kristen, yang semuanya berakar dari satu figur Nabi Isa alaihissalam. Agama-agama yang kini berdiri sendiri dan berakar dari ajaran Nabi Isa antara lain adalah Kristen Katolik, Kristen Ortodoks, Kristen Protestan, Mormonisme, Saksi Yehova, Unitarianisme, Gnostisisme modern, dan Yahudi Mesianik.
Uniknya masing-masing memiliki kitab suci, doktrin ketuhanan, konsep keselamatan, dan bentuk ibadah yang berbeda. Ini adalah bentuk perpecahan teologis paling ekstrem dalam sejarah umat beragama.
Perpecahan ini bukan sekadar fenomena biasa, tetapi mencerminkan bahwa mereka telah kehilangan tali pengikat utama dalam agama: wahyu yang terjaga dan pemahaman yang lurus.
Mereka menjadi umat yang hidup dalam kebingungan, saling mencurigai, bahkan saling membunuh atas nama agama yang sama. Jika ini bukan azab, maka apa lagi yang lebih pantas menyandang nama itu?