Kemenag RI 2019:Isa putra Maryam berdoa, “Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang sekarang bersama kami maupun yang datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan-Mu. Berilah kami rezeki. Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” Prof. Quraish Shihab:‘Isa putra Maryam berdoa:
“Allahumna, (Ya Allah), Tuhan
Pemelihara kami, turunkanlah kepada
kami suatu hidangan dari langit yang
akan menjadi hari raya bagi kami, bagi
orang-orang yang bersama kami dan
yang datang sesudah kami, dan menjadi
bukti dari-Mu (tentang kekuasaan-
Mu); anugerahkanlah rezeki untuk
kami, dan Engkau-lah sebaik-baik
Pemberi rezeki.”
Prof. HAMKA:Berkata Isa anak Maryam, “Ya Allah, ya Tuhan kami! Turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit, supaya dia menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang yang permulaan kami dan yang di akhir kami, dan sebagai suatu tanda dari Engkau, dan berilah rezeki akan kami, karena Engkaulah adalah yang sebaik-baik pemberi rezeki.”
Sebagai tanggapan atas permintaan para pengikutnya, Beliau kemudian menyampaikan doa yang tulus kepada Allah SWT dengan melafazkan sapaan allahumma rabbana “Ya Allah SWT Tuhan kami”. Ini bisa dipahami sebagai bentuk rasa tawakkal dan penyerahan total kepada kehendak-Nya.
Isi doanya mencakup tiga permohonan utama. Pertama, agar diturunkan hidangan dari langit sebagai hari raya. Kedua, agar menjadi bukti kekuasaan Allah. Ketiga, agar mereka diberi rezeki oleh Zat yang Maha Pemberi.
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا
Kata qaala (قَالَ) artinya : berkata. Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : ‘berdoa’ untuk menjelaskan konteks ucapan, sedangkan Buya HAMKA memakai “berkata”, lebih mendekati arti literal qaala, lalu kalimat doanya menyusul dengan tanda kutip—gaya naratif klasik.
Kata ‘isa (عِيسَى) artinya : Isa. Kata ibnu (ابْنُ) artinya : anak laki-laki. Kata maryama (مَرْيَمَ) artinya : Maryam.
Kata allaahumma (اللَّهُمَّ) artinya : ya Allah. Kata rabbanaa (رَبَّنَا) artinya : Tuhan kami. Kemenag RI menyederhanakan tanpa mempertahankan kata : allahumma, agar lebih mudah dipahami khalayak umum. Sementara Prof. Quraish Shihab mempertahankan kata allahumma sebagai bagian asli doa, memberi catatan terjemahan di dalam kurung, teknik semi-literal yang edukatif. Adapun Buya HAMKA mengulang “Ya Allah, ya Tuhan kami” sebagai ekspresi spiritual yang dalam, lengkap dengan tanda seru—membangkitkan rasa religius.
أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ
Kata anzil (أَنْزِلْ) artinya : turunkanlah. Kata ‘alainaa (عَلَيْنَا) artinya : kepada kami. Kata maa-idatan (مَائِدَةً) artinya : hidangan. Kata minas-samaai (مِنَ السَّمَاءِ) artinya : dari langit.
Sekilas dalam tradisi Kristen kita mengenal ada istilah ‘perjamuan’ yang dilakukan Yesus Kristus bersama murid-murid-Nya sebelum penyaliban, yang kemudian dikenal sebagai Perjamuan Kudus atau Ekaristi. Ini dikenal sebagai simbol pengorbanan dan persekutuan rohani. Lukisan terkenal karya Leonardo da Vinci menggambarkan momen ini secara dramatis.
Apakah ini ada hubungannya dengan ayat ini, yaitu permintaan turunnya makanan dari langit?
Jawabannya sama sekali tidak. Memang seperti ada kesamaan tema, yaitu kedua kisah sama-sama melibatkan makanan sebagai simbol makanan yang menjadi tanda dan sarana penguatan iman dan hubungan dengan Tuhan.
Namun kedua punya perbedaan secara konteks dan tujuan. Perjamuan Terakhir di Kristen adalah momen khusus yang menandai pengorbanan dan perjanjian baru antara Allah dan manusia, serta menjadi ritual keagamaan yang terus dirayakan. Sementara kisah makanan dari langit dalam Al-Qur’an adalah mukjizat yang diminta oleh para pengikut Nabi Isa sebagai tanda nyata kebesaran Allah dan penguat iman mereka di masa itu.
Tidak ada bukti bahwa Perjamuan Terakhir secara khusus terkait dengan permintaan turunnya makanan dari langit yang disebut dalam Al-Qur’an. Namun, keduanya menunjukkan bagaimana makanan dan perjamuan dipakai dalam konteks spiritual dan keagamaan di dua tradisi yang berbeda.
Jadi, meskipun tidak identik atau langsung terkait, keduanya bisa dilihat sebagai manifestasi penggunaan simbol makanan dalam memperkuat ikatan manusia dengan Tuhan dan menegaskan iman mereka. Ada unsur kesamaan makna simbolis, tapi dengan latar belakang dan makna ritual yang berbeda dalam Islam dan Kristen.
تَكُونُ لَنَا عِيدًا
Kata takuunu (تَكُونُ) artinya : yang menjadi. Kata lanaa (لَنَا) artinya : bagi kami. Kata ‘iidan (عِيدًا) artinya : hari raya.
Kemenag RI dalam terjemahan menambahkan penjelasan "(yang hari turunnya)", sebagai interpretasi kontekstual untuk menjelaskan maksud ‘hari raya’. Sementara Prof. Quraish Shihab tetap ringkas, tidak menambahkan keterangan tambahan. Adapun Buya HAMKA menggunakan bentuk klasik “supaya dia menjadi…”, dengan personifikasi pada “dia” yaitu hidangan.
Ibnu Asyur dalam At-Thahrir wa At-Tanwir[1] menuliskan bahwa hari raya yang disebutkan dalam ayat ini pada kenyataannya justru tidak dikenal oleh orang-orang Nasrani, khususnya di masa sekarang ini.
Namun Ibnu Asyur menduga bahwa hari raya yang dimaksud boleh jadi adalah peristiwa makan bersama para hawariyyin pada malam hari yang dikenal sebagai hari raya Paskah, yaitu malam yang mereka yakini sebagai malam sebelum hari di mana Isa disalib pagi harinya.
Alasannya karena malam itu dijadikan sebagai hari raya pada hari Paskah dalam agama Kristen sebagaimana hari raya juga ada dalam agama Yahudi. Jadi, itu memang sudah menjadi hari raya, meskipun dengan perbedaan penilaian dan cara pandang, walaupun sebenarnya hanya satu hari. Karena orang-orang Kristen menyelaraskan hari-hari raya Yahudi dengan perayaan lain yang lebih sesuai dengan ajaran Kristen, sebagai bentuk pelepasan dari pengaruh tradisi Yahudi.
Kata ’ied (عيد) yang berarti hari raya atau perayaan, sebenarnya berasal dari kata dasar yang memiliki makna “kembali” atau “berulang”, yaitu (عَادَ يَعُودُ عِوْدٌ), kemudian huruf wawu pada (عِوْدٌ) diubah ke huruf ya’ sehingga menjadi (عيد).
Proses perubahan ini juga terjadi pada kata seperti mizan (ميزان) yang asalnya dari wazan (وزن) alias timbangan. Juga pada kata miqat (ميقات) yang asalnya dari waqt (وقت) yaitu waktu tertentu.
Jadi, hari raya disebut demikian karena perayaannya dilakukan secara berulang, biasanya setiap tahun, seperti Idul Fitri dan Idul Adha yang selalu kembali setiap tahunnya.
Para ahli bahasa menjelaskan bahwa hari raya adalah hari yang dikumpulkan dan dipersaksikan oleh banyak orang, sebagai waktu yang diulang untuk berkumpul dan merayakan bersama. Ada pula yang mengatakan bahwa ’ied berarti hari di mana orang-orang merasa kembali kepada kebahagiaan, kegembiraan, dan keceriaan bersama.
لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا
Kata li-awwalinaa (لِأَوَّلِنَا) artinya : bagi orang pertama dari kami. Kata wa-aakhirinaa (وَآخِرِنَا) artinya : dan orang terakhir dari kami.
Kemenag Ri dalam terjemahan memakai diksi kontemporer: “sekarang” dan “setelah”. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menulis “yang datang sesudah”, terasa lebih natural dan komunikatif. Adapun Buya HAMKA mempertahankan struktur klasik: “permulaan kami dan yang di akhir kami”. Ini terasa puitis dan agak arkais.
Menarik untuk dibandingkan antara syariat Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW, khususnya pada cara masing-masing merayakan hari besar. Ternyata tehniknya berbeda-beda. Nabi Musa dan umatnya merayakan hari besar dengan menahan diri. Tradisi puasa mereka lakukan setiap hari besar 10 Muharram. Begitu juga setiap hari Sabat mereka dilarang untuk bekerja mencari rejeki.
Sementara Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW, pada hari besar justru dirayakan dengan makan-makan. Ayat ini menjelaskan bagaimana Nabi Isa menjadikan makan-makan sebagai perayaan. Dan kita sebagai kaum muslimin, pada Idul Fithri pun merayakannya dengan makan-makan serta berbagi makanan kepada fakir miskin, yaitu zakat al-fithr.
وَآيَةً مِنْكَ
Kata wa-aayatan (وَآيَةً) artinya : dan sebagai tanda. Kemenag menafsirkan “tanda” secara langsung sebagai “tanda kekuasaan”. Prof. Quraish Shihab memilih kata “bukti”, menyisipkan catatan makna dalam tanda kurung, menjelaskan konteks kekuasaan Allah. Sedang HAMKA tetap pada terjemahan literal: “tanda dari Engkau”, dengan nuansa yang lembut.
Kata minka (مِنْكَ) artinya : dari-Mu. Dalam konteks suatu tanda datang dari Allah SWT, maka umumnya para ulama memaknainya dengan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, yaitu mukjizat.
Bila kata ’ayatan’ disini dimaknai sebagai mukjizat Nabi Isa ’alaihissalam, maka ini adalah mukjizat yang kesekian kalinya, setelah sebelumnya ada begitu banyak rangkaian mukjizat bertabur. Dalam ayat ke-110 surat Al-Maidah yang sudah kita bahas sebelumnya disebutkan tujuh mukjizat lain, yaitu :
1. Berbicara saat masih bayi dalam buaian (تُكَلِّمُ ٱلنَّاسَ فِى ٱلْمَهْدِ وَكَهْلًا)
3. Menciptakan burung dari tanah liat lalu meniupnya dan menjadi burung hidup (تَخْلُقُ مِنَ ٱلطِّينِ كَهَيْـَٔةِ ٱلطَّيْرِ... فَتَكُونُ طَيْرًۭا بِإِذْنِى)
4. Menyembuhkan orang buta sejak lahir (وَتُبْرِئُ ٱلْأَكْمَهَ)
5. Menyembuhkan orang yang berpenyakit lepra (وَٱلْأبْرَصَ)
6. Menghidupkan orang mati (تُخْرِجُ ٱلْمَوْتَىٰ بِإِذْنِى)
7. Dilindungi dari upaya pembunuhan oleh Bani Israil (وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَنكَ)
وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Penggalan yang menjadi penutup ayat ini sangat kuat secara makna maupun struktur bahasa. Meski secara lahiriah ayat ini tampak sederhana, yaitu hanya terdiri dari dua bagian utama: permohonan dan pujian, namun susunan kata-katanya mengandung kekuatan sastra yang luar biasa.
Kata kerja warzuqna (وارزقنا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il amr yang secara langsung berarti : ’berilah kami rezeki’. Namun begitu permintaan ini diajukan dengan nada penuh harap namun tetap sopan, karena bentuk kata perintah dalam bahasa Arab ketika ditujukan kepada Allah tidak berarti menyuruh, melainkan menunjukkan kerendahan diri dan kebutuhan mutlak.
Kata ganti -na yang merupakan dhamir pada akhir kata kerja menunjukkan bahwa doa ini bersifat kolektif, bukan sekadar untuk individu, tetapi mewakili harapan dan kebutuhan banyak orang. Ini memberikan nuansa kebersamaan dalam memohon limpahan rahmat.
Kata warzuqnaa (وَارْزُقْنَا) artinya : dan berilah kami rezeki. Kemenag RI mengutamakan kalimat pendek dan lugas, terbagi dua kalimat. Prof. Quraish Shihab menggunakan kata “anugerahkanlah” untuk memberi rasa kelembutan dan rahmat. HAMKA memakai susunan lama: “berilah rezeki akan kami”, dengan frasa “karena Engkaulah adalah…” — khas sastra Indonesia klasik.
Kata wa anta khairurraziqin (وأنت خير الرازقين) berarti : ’Dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki’. Di sini terdapat penguatan dari permohonan sebelumnya, dimana sang pemohon tidak hanya meminta, tetapi juga menegaskan keyakinan bahwa hanya Allah yang terbaik dalam memberi.
Di sisi lain pujian ini bukan sekadar bentuk sanjungan, melainkan juga pernyataan iman yang kokoh bahwa tidak ada pemberi rezeki yang lebih baik daripada Allah.
Kata khair (خير) artinya : ’yang terbaik’ adalah bentuk tafdil alias superlatif dalam bahasa Arab, yang menegaskan keunggulan absolut.
Dan kata ar-raziqin (الرازقين) adalah bentuk jamak dari raziq (رازق) yang artinya : pemberi rezeki. Maka dalam struktur ini, Allah dibandingkan dengan semua makhluk lain yang bisa memberi, dan ditegaskan bahwa tak ada yang sebanding dengan-Nya.
[1] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)