Kemenag RI 2019:Hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang ada di dalamnya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya (yakni di dalam dan permukaan langit dan bumi); dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. HAMKA:Bagi Allah-lah kerajaan semua langit dan bumi dan apa jua pun yang ada pada semuanya. Dan Dia, atas segala sesuatu adalah Mahakuasa.
Maka untuk bagian paling akhir dari surat Al-Maidah, sangat erat kaitannya dengan pernyataan bahwa hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang ada di dalamnya. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Kata lillaahi (لِلَّهِ) artinya : milik Allah. Kata mulk (مُلْكُ) artinya : kerajaan. Kata as-samaawaati (السَّمَاوَاتِ) artinya : banyak langit. Kata wal-ardhi (وَالْأَرْضِ) artinya : dan bumi.
Ayat ini diawali dengan huruf waw (وَ) disebut dengan ‘athaf atau penyambung, maksudnya menyambungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Sedangkan kata lillahi (لِلَّهِ) yang maknanya milik Allah, struktur ilmu Nahwu merupakan khabar muqaddam.
Yang menjadi mubtada’nya adalah ism maushul yaitu maa (مَا) yang diartikan menjadi : “apa-apa”. Lalu huruf fi (في) artinya : yang ada di.
Lafazh as-samawati (السَمَوَات) adalah bentuk jamak dari langit, sehingga makna sesungguhnya adalah : banyak langit. Di dalam Al-Quran, kita menemukan kata ini terulang hingga 183 kali. Sedangkan dalam bentuk tunggal yaitu as-sama’ (السماء) juga banyak kita temukan dalam Al-Quran, yaitu terulang hingga 115 kali. Namun dalam semua versi terjemahan, keduanya sama-sama diterjemahkan sebagai langit saja.
Kalau ayat ini dan di banyak ayat lainnya menggunakan bentuk jama’, maka timbul pertanyaan menggelitik : apakah maknanya menjadi : “langit yang banyak jumlahnya”, ataukah maksudnya : “langit yang luas ukurannya”.
Dan juga menjadi pertanyaan, kerajaan apa yang adanya di langit yang banyak atau langit yang luas?
Jawabannya pasti bukan kerajaan manusia, melainkan kerajaan yang secara umum kita akan memahaminya sebagai kerajaan makhluk ghaib, entah itu kerajaan para malaikat, atau boleh jadi kerajaan para jin dan entah apa nama makhluk yang menghuni langit.
Sebagian kalangan penggemar cerita fiksi luar angkasa ada yang mencoba mengaitkan ayat ini dengan isyarat tentang adanya kehidupan makhluk cerdas (extra terresterial) di luar angkasa. Dikesankan seolah-olah Al-Quran mengakui adanya alien dengan segala kemajuan teknologinya.
Padahal secara ilmiyah, sampai hari ini masih terlalu dini untuk memperkirakan adanya kehidupan makhluk cerdas di luar bumi, bahkan untuk sekedar makhluk hidup yang paling sederhana pun masih menjadi asumsi dan spekulasi.
Belum ada bukti pasti tentang keberadaan makhluk cerdas di luar angkasa. Meskipun ada beberapa laporan tentang penampakan UFO atau benda terbang aneh lainnya yang tidak dapat dijelaskan, namun sampai saat ini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi secara ilmiah.
Dalam kesimpulannya, asumsi tentang kemungkinan adanya makhluk cerdas di luar angkasa didasarkan pada bukti dan teori ilmiah yang ada, namun sampai saat ini belum ada bukti pasti yang dapat diandalkan.
وَالْأَرْضِ
Adapun wal-ardhi (والأَرْضُ) artinya bisa tanah atau bisa juga bumi, tergantung konteksnya. Kadang dalam satu ayat, lebih pas diterjemahkan menjadi tanah, seperti pada ayat berikut :
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah. (QS. Al-Baqarah :71)
Menerjemahkan ayat di atas pastinya tidak pas kalau sapi digunakan untuk membajak bumi, yang lebih tepat membajak tanah atau sawah. Namun kadang lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi bumi dalam arti sebuah benda raksasa yang berputar pada porosnya di ruang angkasa, sembari juga bergerak mengelilingi matahari.
Namun penerjemahan sebagai planet bumi adalah penerjemahan yang hanya cocok di masa kini saja. Adapun sepanjang sejarah, lebih tepat diterjemahkan menjadi : tanah, atau negeri.
Lepas dari perbedaan penerjemahannya, yang jelas penyebutannya berbentuk tunggal, sehingga pengertiannya pasti tidak banyak, hanya satu saja. Dan tidak keliru kalau dimaknai sebagai isyarat luasnya lebih kecil dari luasnya langit.
وَمَا فِيهِنَّ
Kata wamaa (وَمَا) artinya : dan apa saja. Kata fihinna (فِيهِنَّ) artinya : yang ada di dalamnya.
Apa yang ada di dalam keduanya itu berarti yang ada di langit dan yang ada di bumi. Maksudnya bahwa umat manusia pernah punya banyak kerajaan di muka bumi yang pernah ada dalam timeline sejarah.
Namun semua itu sudah tumbang dan lenyap tergilas oleh roda zaman. Tidak ada kerajaan yang abadi, oleh karena itu semua itu pada dasarnya bukan kerajaan yang sesunguhnya.
Namun kerajaan Allah SWT itu adalah kerajaan yang sesugguhnya, tidak ada yang bisa menyainginya, bahkan meskipun itu kerajaan yang ada di atas langit sekalipun, semua sudah tumbang dan datang silih berganti.
وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Kata wahuwa (وَهُوَ) artinya : dan Dia. Kata ‘alaa (عَلَىٰ) artinya : atas. Kata kulli (كُلِّ) artinya : segala. Kata syay’in (شَيْءٍ) artinya : sesuatu. Kata qadiir (قَدِيرٌ) artinya : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Maka pernyataan bahwa Allah SWT Maha Kuasa tentunya menjawab semua rasa ragu dan ketidak-yakinan itu. Kita tidak usah merasa susah apalagi merasa lemah, sebab buat Allah tidak ada yang berat dan sulit. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk ketika harus memberikan kekuasaan atau kerajaan Persia dan kerajaan Romawi.
Ketika semua ada dalam genggaman kekuasan-Nya, maka tidak ada yang susah bagi Allah. Dan selama kita bersama Allah, maka Allah SWT akan lakukan yang terbaik buat kita.