Kemenag RI 2019:Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan-kegelapan dan cahaya. Sungguhpun demikian, orang-orang yang kufur mempersamakan tuhan mereka (dengan sesuatu yang lain). Prof. Quraish Shihab:Segala puji hanya bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan aneka gelap dan terang, kemudian orang-orang yang kafir menyekutukan (sesuatu) dengan Tuhan Pemelihara mereka. Prof. HAMKA:Segala puji-pujian untuk Allah yang telah menjadikan semua langit dan bumi dan telah mengadakan yang gelap-gelap dan cahaya. Kemudian, orang-orang yang kafir itu adalah mereka dengan Tuhan mereka, mempersekutukan.
Makna qaulun (قَوْلٌ) secara bahasa adalah perkataan, sedangkan makna ma’ruf (مَعْرُوفٌ) adalah : baik. Maka makna qaulun ma’rufun bisa diartikan sebagai perkataan yang baik.
Namun apakah yang dimaksud dengan perkataan yang baik dalam konteks ayat ini?
Kalau kita kaitkan dengan konteks ayat ini dengan ayat sebelumnya yang sedang membicarakan orang yang bersedekah tetapi mengungkit-ungkit amalnya serta menyakiti hati penerimanya, maka perkataan yang baik itu maksudnya sebagai lawan dari sikap kurang pantas itu. Sehingga boleh kita maknai menjadi : perkataan yang santun, pantas, tidak menyakiti serta tidak menjatuhkan.
Hal itulah yang juga dikatakan oleh Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun :[1]
Qaulun ma’rufun bermakna perkataan yang baik sebagai lawan dari al-manni (mengungkit-ungkit) dan al-adza (menyakiti). Dan bentuknya bisa dengan cara mendekat ketika memberi atau mendoakan bila tidak memberi.
Fakhiruddin Ar-Razi menuliskan dalam Mafatih Al-Ghaib bahwa yang dimaksud dengan qaulun ma’ruf adalah :[2]
القَوْلُ الَّذِي تَقْبَلُهُ القُلُوبُ ولا تُنْكِرُهُ
Perkataan yang bisa diterima oleh rasa hati dan tidak menyalahi.
Namun dalam konteks ayat ini, perkataan yang baik itu dikaitkan dengan sikap ketika menolak dengan halus kepada orang yang meminta-minta, yaitu menolak tanpa harus menyakiti pihak yang meminta, ketika memang tidak mampu untuk bersedekah. Bukannya menolak dengan jalan menyakiti.
Sebagian mufassir mengatakan bahwa makna qaulun ma’ruf adalah doa.
Dalam bahasa Arab, pengertian qaul (قول) itu didefinisikan sebagai berikut :
Kata yang mengungkapkan makna, baik berupa kata tunggal maupun kata majemuk, dan baik berupa susunan yang bermakna maupun susunan yang tidak bermakna.
Secara ruang lingkup, qaul (قول) itu lebih luas cakupannya dari kalam (كلام). Kalam itu adalah qaul yang sudah menjadi lafazh yang bermakna atau berfaidah (مُفِيْد) dan tidak menyisakan pertanyaan lagi (يحسن السكوت عليها).
Di dalam Al-Quran, kata qaul (قول) ini muncul dalam banyak ayat dengan berbagai macam makna, tergantung konteksnya. Kadang bisa bermakna pemberitahuan, pengumuman, ungkapan sikap, doa, perintah, larangan, pertanyaan dan lainnya.
§ Pemberitahuan : contohnya pada surat Al-Haqqah ayat 40 ini (إنه لقول رسول كريم). Maksudnya, Al-Qur'an adalah firman Allah, dan Rasulullah hanya menyampaikannya kepada manusia. Jadi, makna (قول) di sini adalah : "pemberitahuan".
Contoh lain pada Surat al-Baqarah ayat 68, yaitu (قال إنه يقول إنها بقرة لا فارض ولا بكر عوان بين ذٰلك). Maksudnya bahwa Nabi Musa memberitahukan kepada Bani Israil tentang perintah Allah yang disampaikan kepadanya.
· Pengumuman : contohnya pada Surat al-Kafirun (قل يا أيها الكافرون). Maksudnya bahwa Nabi Muhammad SAW mengumumkan kepada orang-orang kafir bahwa dirinya dan para pengikutnya berlepas diri dari mereka.
Contoh lain dalam Surat al-Ikhlas (قل هو الله أحد). Maksudnya bahwa Nabi Muhammad SAW mengumumkan bahwa Allah adalah Esa.
§ Ungkapan sikap : contohnya dalam Surat al-Baqarah ayat 121 (إذ قال له ربه أسلم قال أسلمت لرب العالمين). Maksudnya bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Maka Beliau pun tunduk dan patuh kepada Allah tanpa ragu-ragu.
§ Doa : contohnya dalam surat Al-Hasyr ayat 10 (يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ). Tertulis bahwa mereka berkata, tetapi ternyata maksudnya mereka berdoa. Karena pada dasarnya doa itu memang harus berupa perkataan dan bukan sekedar rasa tertentu yang terbersit dalam hati.
§ Perintah : contohnya dalam surat An-Nur ayat 30 (قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ). Tertulisnya katakan kepada orang-orang mukmin, tetapi maksudnya perintahkan kepada mereka.
§ Larangan : contohnya pada surat (قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَ). Tertulisnya katakanlah wahai orang beriman, namun maksudnya laranganlah orang-orang beriman itu dari mengharamkan yang halal.
§ Pertanyaan : contohnya pada surat Al-Mulk ayat 30 berikut : (قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ). Tertulisnya katakanlah, namun maksudnya pertanyakanlah.
Ayat pertama dari surat Al-An’am ini berisi pujian kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menjadikan kegelapan-kegelapan dan cahaya.
Namun begitu, ternyata tetap saja banyak orang yang tidak mau beriman kepada Allah SWT, mereka kufur dengan cara
الْحَمْدُ لِلَّهِ
Kata al-hamdu (الْحَمْدُ) artinya : segala puji. Kata lillahi (لِلَّهِ) artinya : bagi Allah. Lafaz ini, yang berarti segala puji bagi Allah, menjadi pembuka yang sangat kuat dan penuh makna dalam surat-surat tersebut.
Surat Al-An’am ini diawali dengan tahmid alias pujian kepada Allah SWT, salah satu dari kebiasaan Allah SWT dalam mengawali surat tertentu. Dalam Al-Quran terdapat lima surat yang diawali dengan lafaz alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ). Meskipun tidak ada riwayat langsung dari Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa ada lima surat yang dibuka dengan lafaz tersebut, para ulama tafsir dan pakar ilmu Al-Qur’an dari generasi terdahulu telah menaruh perhatian khusus terhadap fenomena ini.
Salah satu ulama besar yang mencatat hal ini adalah Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) dalam karyanya yang terkenal Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, beliau menuliskan :
Al-Biqa’i dalam kitabnya Nazm ad-Durar juga menunjukkan keterkaitan antara kelima surat tersebut. Menurutnya, seluruh surat yang dimulai dengan ‘alhamdulillah’ memiliki kandungan yang berkaitan erat dengan pengakuan terhadap keesaan dan kebesaran Allah, baik dalam penciptaan alam semesta, pengaturan makhluk, maupun dalam penyampaian wahyu kepada para hamba-Nya. Ia menyebutkan adanya pola hubungan tematik antara surat-surat itu yang menunjukkan kesinambungan pesan tauhid dan syukur dalam berbagai konteks.
Fakhruddin ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib pun menaruh perhatian pada lafaz pujian ini. Beliau jelaskan bahwa lafazh ‘alhamdulillah’ di awal surat bukan hanya sekadar pengantar, melainkan juga sebagai fondasi pemahaman terhadap isi surat yang mengikutinya.
Setiap kali lafaz yang muncul di awal surat memberikan arah bagi pembaca untuk menyadari bahwa semua isi yang akan dibahas bersumber dari kemurahan dan kebesaran Allah yang layak dipuji.
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
Kata alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata khalaqa (خَلَقَ) artinya : telah menciptakan. Kata as-samawati (السَّمَاوَاتِ) artinya : banyak langit. Kata wal-ardha (وَالْأَرْضَ) artinya : dan bumi.
Di antara alasan paling logis kenapa kita perlu dan harus memuji Allah SWT adalah karena Dia adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, tempat bersemayamnya manusia dan berbagai makhluk ciptaannya.
Umumnya para ulama menyebutkan bahwa perbedaan antara kata khalaqa (خَلَقَ) dengan ja’ala (جَعلَ) adalah bahwa mencipta itu bisa saja dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Istilah sononya adalah creatio ex nihilo.
Pandangan ini bukan sekadar dugaan linguistik, melainkan ditegaskan oleh tokoh-tokoh besar seperti Al-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mufradat Alfazh Al-Quran, yang menjelaskan bahwa khalaqa mencerminkan penciptaan sesuai takaran dan ukuran tertentu, biasanya dari ketiadaan.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya juga menguatkan pembedaan ini, dan menjelaskan bahwa ja‘ala sering digunakan untuk menyatakan pemberian fungsi atau kedudukan, bukan dalam arti penciptaan dari nol.
Senada dengan itu, Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya al-Taḥrir wa at-Tanwir juga menekankan bahwa ja‘ala kerap kali bersifat metaforis, berbeda dari khalaqa yang menunjuk pada penciptaan hakiki.
وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ
Kata waja'ala (وَجَعَلَ) artinya : dan Dia menjadikan. Kata azh-zhulumati (الظُّلُمَاتِ) artinya : kegelapan-kegelapan. Kata wan-nura (وَالنُّورَ) artinya : dan cahaya.
Ketika menyebutkan penggalan ini yang membicarakan kegelapan dan cahaya, Allah SWT tidak lagi menggunakan khalaqa melainkan ja’ala. Boleh jadi karena gelap dan terang itu bukan objek asli dari suatu makhluk ciptaan dasar, melainkan apa yang dapat diterima oleh indera penglihatan.
Ini menunjukkan bahwa kegelapan dan cahaya bukan objek yang berdiri sendiri secara zat, melainkan hasil dari kondisi tertentu atau relasi tertentu yang dialami oleh indera penglihatan.
Dalam kajian ilmiah modern pun, cahaya adalah gelombang elektromagnetik, dan gelap adalah ketiadaan cahaya. Maka, bisa dipahami bahwa keduanya bukan entitas yang berdiri sendiri sebagai makhluk terpisah, melainkan fenomena atau keadaan yang Allah ciptakan untuk memberi efek, pengaruh, dan fungsi tertentu dalam alam semesta.
Dengan demikian, penggunaan kata ja‘ala dalam konteks ini menunjukkan bahwa gelap dan terang adalah penataan keadaan atau penciptaan fungsi dalam sistem alam, bukan penciptaan zat secara independen.
Ini sejalan dengan pemahaman banyak mufassir, seperti al-Razi dan al-Biqa’i, yang menyatakan bahwa ja‘ala sering digunakan untuk menyatakan penyusunan keadaan, pemberian fungsi, atau pengaturan kondisi, sedangkan khalaqa untuk penciptaan hakiki yang substansial.
Secara kasat mata dan subjektifitas pemahaman kita, keberadaan sebuah objek akan sangat tergantung dari keberadaan cahaya yang bisa ditangkap oleh mata kita. Entah cahaya itu bersumber dari benda itu, seperti matahari dan bintang-bintang, ataupun cahaya itu hanya berupa pantulan cahaya yang datang dari dari sumber lain.
Boleh jadi keduanya di mata kita sama saja. Sementara bila suatu objek tidak mengeluarkan cahaya dan sama sekali tidak menerima cahaya yang bisa dipantulkan, maka di mata kita objek itu dianggap tidak ada. Padahal boleh jadi objek itu ada dan nyata, hanya tidak bisa ditangkap oleh indera penglihatan.
Itulah esensi pembahasan antara konsep gelap dan terang. Sebenarnya ini adalah konsep dasar yang bertumpu pada kemampuan indera penglihatan mata semata.
Hakikat Cahaya
Secara ilmu fisika, cahaya adalah gelombang elektromagnetik (GM) yang terpancarkan dari segala macam benda, baik itu benda mati ataupun benda hidup. Tubuh manusia, hewan, tumbuhan, tanah, batu, pasir, air, dan semua benda, secara fisika memancarkan gelombang elektromagnetik.
Secara fisika, semua benda memancarkan gelombang elektromagnetik (GM) karena setiap benda tersusun atas atom-atom yang mengandung partikel bermuatan, seperti elektron dan proton. Ketika benda memiliki suhu di atas nol mutlak (0 Kelvin), partikel-partikel di dalamnya senantiasa bergerak, bergetar, dan mengalami percepatan. Gerakan partikel bermuatan inilah yang menyebabkan timbulnya medan listrik dan medan magnet yang berubah-ubah, dan dari perubahan itu terbentuklah gelombang elektromagnetik (GM) yang terpancar ke luar.
Besarnya dan jenis gelombang yang dipancarkan tergantung pada suhu dan sifat fisik benda tersebut. Misalnya, tubuh manusia memancarkan gelombang inframerah karena suhu tubuh berada pada sekitar 37°C. Logam yang dipanaskan hingga berpijar akan memancarkan cahaya tampak, yang merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik. Jadi, karena semua benda memiliki suhu dan mengandung partikel bermuatan yang terus bergerak, maka secara alamiah semua benda pasti memancarkan gelombang elektromagnetik.
Jadi semua benda itu mengeluarkan gelombang elektromagnetik (GM), namun belum tentu bisa diterima oleh mata kita. Hanya GM yang punya spektrum tertentu saja, yaitu pada rentang panjang gelombang sekitar 380 hingga 750 nanometer (nm) saja. Jika di bawah itu atau di atas itu, maka gelombang eletromagnetik itu tidak bisa diterima oleh mata kita.
Pada rentang 380 hingga 750, mata kita bisa menangkapnya bahkan terpetakan menjadi warna-warni yang berbeda.
380–450 nm → ungu kebiruan
450–495 nm → biru
495–570 nm → hijau
570–590 nm → kuning
590–620 nm → jingga
620–750 nm → merah
Cahaya Tak Nampak
Contoh yang berada pada rentang di bawah 380 nm misalnya sinar X atau X-ray. Kita tidak bisa melihatnya karena gelombang elektromagnetik-nya lebih pendek daripada cahaya tampak. Tapi sinar x ini punya energi tinggi yang bisa menembus banyak jenis materi, termasuk tubuh manusia.
Ketika sinar-X ditembakkan ke tubuh, ia akan menembus jaringan-jaringan di dalam—namun tidak semua jaringan bisa ditembus dengan mudah. Jaringan lunak seperti kulit, otot, dan organ dalam relatif lebih transparan terhadap sinar-X, sehingga sinarnya bisa menembus dan terus melaju. Tapi jaringan yang padat seperti tulang menyerap lebih banyak sinar itu, sehingga hanya sedikit sinar-X yang bisa lolos melewatinya.
Setelah sinar-X itu keluar dari tubuh di sisi seberangnya, dia akan ditangkap oleh alat penangkap yang di masa lalu masih berupa film khusus seperti kamera analog, sekarang biasanya berupa detektor digital. Detektor ini tidak menangkap bayangan tubuh, tapi menangkap “sisa” sinar-X yang berhasil lolos.
Jadi kalau banyak sinar-X yang lolos, berarti area itu adalah jaringan lunak (dan hasilnya tampak gelap di gambar), sedangkan kalau sedikit sinar yang lolos (misalnya karena ada tulang), maka hasilnya tampak putih.
ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata kafaru (كَفَرُوا) artinya : kafir.Kata birabbihim (بِرَبِّهِمْ) artinya : terhadap Tuhan mereka. Kata ya'dilun (يَعْدِلُونَ) artinya : mempersekutukan.
Setelah menyelam terlalu dalam ke lautan fisika dasar, mari kita kembali lagi ke kajian tafsir. Ayat ini memang unik, meski diawali dengan pujian kepada Allah SWT sebagai pencipta langit dan bumi, juga menimbulkan kegelapan dan cahaya, kemudian kembali lagi menyampaikan inti dari pesan utama, yaitu bahwa orang-orang kafir itu tetap menyekutukannya.
Yang menarik adalah ketika Allah SWT menyebutkan bahwa orang-orang kafir itu ya’dilun (يَعْدِلُونَ), lalu hampir semua vesi terjemahan menerjemahkannya menjadi : mempersekutukan. Padahal kita tahu bahwa menyekutukan itu seharusnya yusyrikun (يشركون) artinya melakukan kesyirikan yaitu menyekutukan Allah.
Lantas kata ya’dilun (يَعْدِلُونَ) itu sendiri apa makna aslinya?
Sebenarnya kata ini berasal dari kata adil yang artinya seimbang. Maka makna ya’dilun (يَعْدِلُونَ) artinya : menyeimbangkannya, ataumembuat sesuatu menjadi seimbang atau setara. Dalam konteks ayat ini maksudnya menyamakan sesuatu dengan Allah, baik secara keyakinan, cinta, ketundukan, atau ibadah. Kira-kira maksudnya adalah : menyetarakan Allah SWT dengan tuhan-tuhan sembahan yang lain.
Sayangnya kita dalam bahasa Indonesia tidak punya sebutan khusus untuk itu, maka nampaknya para penerjemah terpaksa menggunakan kata yang agak sedikit dekat, yaitu mempersekutukan. Padahal sebenarnya bukan itu maksudnya. Mungkin akan lebih tepat jika kita gunakan kata : mensejajarkannya dengan yang lain.
Bedanya dengan syirik atau yusyrikun adalah sangat tegas dan langsung menunjukkan bentuk kesyirikan ritual, seperti menyembah berhala, meminta kepada selain Allah, atau meyakini bahwa ada kekuatan lain yang sebanding dengan-Nya.
Sedangkan ya’dilun hanya sebatas sikap atau pandangan yang mensejajarkan sesuatu dengan Allah, tidak harus dalam ritual ibadah, bisa saja dari sisi ketergantungan, cinta, atau nilai hidup.
Contoh dari ya’dilun adalah suami yang menikah lagi, maka tindakan itu lebih tepat disebut ya’dilun dan bukan yusyrikun. Sebab suami yang membagi cinta atau perhatian kepada istri pertamanya dan istri keduanya secara setara atau sejajar, maka dalam bahasa Arab umum, itu bisa disebut ya'dil, yaitu bersikap adil di antara keduanya, seperti dalam ayat:
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
"Jika kamu takut tidak bisa berlaku adil (ta‘dilū) maka (nikahilah) satu orang saja..." (QS. An-Nisa: 3)