Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang sesuatu yang lebih buruk pembalasannya daripada itu ) di sisi Allah? (Yaitu balasan) orang yang dilaknat dan dimurkai Allah (yang) di antara mereka Dia jadikan kera dan babi. ) (Di antara mereka ada pula yang) menyembah Tagut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad
saw.): “Apakah akan aku beritahukan
kepada kamu tentang (orang-orang)
yang lebih buruk pembalasannya dari
(orang-orang fasik) itu di sisi Allah?
Yaitu, orang-orang yang dilaknat dan
dimurkai Allah. Di antara mereka ada
yang Dia jadikan kera-kera dan babi-
babi; dan (orang) yang menyembah
thaghnt?l5b Mereka itu lebih buruk
kedudukan-(nya) dan lebih tersesat
dari jalan yang lurus. Prof. HAMKA:Katakanlah, "Maukah aku beritakan kepada kalian sesuatu yang lebih buruk balasannya di sisi Allah daripada yang demikian itu?" Yaitu orang-orang yang telah dilaknat oleh Allah, yang dimurkai-Nya, dan yang Dia jadikan kera-kera serta babi-babi, serta penyembah thagut. Mereka itulah orang-orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat dari jalan yang lurus.
Ayat ke-60 ini merupakan peringatan dan teguran keras dari Allah kepada kaum yang menolak kebenaran. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengatakan kepada mereka bahwa ada golongan manusia yang lebih buruk balasannya di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah dilaknat oleh Allah, yaitu dijauhkan dari rahmat-Nya dan mendapatkan kemurkaan-Nya. Sebagian dari mereka bahkan dihukum secara fisik oleh Allah dengan diubah bentuknya menjadi kera dan babi, sebagai akibat dari pelanggaran terhadap perintah Allah, seperti kisah mereka yang melanggar larangan berburu di hari Sabtu.
Selain itu, ada pula di antara mereka yang menyembah thaghut, yaitu segala sesuatu yang disembah selain Allah, termasuk setan, berhala, dan pemimpin-pemimpin yang menyeru kepada kesesatan. Mereka semua disebut sebagai golongan yang lebih buruk tempatnya, baik di dunia maupun di akhirat, dan lebih tersesat dari jalan yang lurus, yaitu jalan Islam yang hanif. Ayat ini sekaligus menjadi bantahan terhadap mereka yang merendahkan atau mengolok-olok agama Islam, padahal merekalah sebenarnya yang jauh lebih sesat dan hina di sisi Allah.
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ
Kata qul (قُلْ) artinya : Katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar berkata kepada orang-orang Yahudi.
Kata hal (هَلْ) artinya : apakah, atau bisa juga dimaknai menjadi : maukah. Kata unabbi’ukum (أُنَبِّئُكُمْ) artinya : aku beritakan -atau ceritakan- kepada kalian. Kata bisyarrin (بِشَرٍّ) artinya : dengan sesuatu yang lebih buruk. Kata mindzalika (مِنْذَٰلِكَ) artinya : dari itu.
Kisah yang buruk dari sejarah para leluhur Bani Israil tentu saja tidak pernah mereka ceritakan, sengaja ditutup rapat-rapat karena merupakan aib dan cacat cela yang amat menjatuhkan wibawa orang-orang Yahudi di Madinah.
Namanya orang membanggakan para leluhur, pasti isinya semua berupa kehebatan, kemuliaan, serta ketinggian derajat mereka di hadapan Allah SWT. Dan dengan semua kisah itu mereka membanggakan diri sebagai keturunan dari orang-orang yang punya kedudukan tersendiri di hadapan Allah SWT.
Sayangnya, Al-Quran ini ternyata malah membeberkan cacat dan aib para leluhur mereka di masa lalu. Dan kalau semua aib itu dibongkar, habislah wibawa orang Yahudi. Tamatlah kisah kehebatan mereka. Semua orang akan tahu ternyata leluhur mereka tidak seluhur yang mereka bangga-banggakan setiap saat. Ternyata nenek moyang mereka itu penjahat, orang yang salah jalan, banyak yang mati kena hukuman, bahkan sebelum mati pun sempat dihina terlebih dahulu dengan cara dikutuk jadi monyet atau jadi babi.
مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ
Kata matsubatan (مَثُوبَةً) artinya : sebagai balasan. Kata ‘indallah (عِندَاللَّهِ) artinya : di sisi Allah.
Sebagai balasan dari tindakan orang-orang Yahudi yang mencela dan mentertawakan syariat adzan sebelumnya. Sikap yang sangat tidak terpuji itulah yang kemudian menyebabkan Allah SWT melakukan pembalasan. Dan pembalasannya adalah dengan cara turunnya ayat-ayat Al-Quran yang menceritakan betapa bejatnya leluhur mereka di masa lalu.
Menarik untuk kita kaji, dalam hal ini ketika Nabi SAW dan para shahabat dihina oleh orang Yahudi, khususnya hinaan itu ditujukan kepada tata cara peribadatan yang Allah SWT turunkan, ternyata Allah SWT sendiri yang melakukan pembalasan alias matsubah.
Nabi SAW dan para shahabat sendiri sebenarnya hanya diam saja dan bersabar, tidak balas menghina orang Yahudi. Walaupun ada berjuta rasa sakit di dalam hati atas perilaku yahudi yang amat merendahkan itu, namun hinaan itu sebenarnya ditujukan kepada Allah SWT. Yang mereka hina bukan Nabi Muhammad SAW, juga bukan para shahabat. Yang mereka hina adalah Allah SWT, sebagai Tuhan yang menurunkan perintah adzan.
Maka Nabi SAW dan para shahabat tidak perlu berurusan dengan para Yahudi itu. Biar Allah SWT saja yang akan bertindak. Dan kalau Allah SWT yang bertindak, maka tindakan Allah SWT amat sangat di luar dugaan. Dibeberkannya aib nenek moyang yang selama ini mereka agung-agungkan, adalah pembalasan Allah SWT yang amat sangat menohok, sampai mereka terdiam seribu bahasa. Tidak tahu harus bicara apa. Rasanya lutut mereka bergetar, kaki mereka tidak bisa menapak, wajah mereka serasa dilumuri lumpur kotor dan bau.
Mitos tentang leluhur mereka yang selama ini dengan rajin mereka bangun, hanya dengan satu ayat turun, tiba-tiba runtuh dan berantakan.
Muncul pertanyaan, bukankah seharusnya kalau orang jahat sudah mati, tidak boleh lagi diungkit-ungkit cela dan aibnya?
Jawabannya memang benar. Orang yang sudah mati, silahkan dikubur semua cacat dan cela serta aib-aibnya. Itu memang perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan kita umatnya. Tapi kalau yang membongkar aib mereka justru Allah SWT sendiri, tentu bukan urusan kita. Dan itulah yang terjadi, aib para leluhur mereka memang tidak ada yang membongkarnya, kecuali Allah SWT sendiri yang melakukannya.
مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ
Kata man (مَنْ) artinya : orang yang. Kata la‘anahullah (لَعَنَهُ اللَّهُ) artinya : Allah melaknatnya. Asal kata laknat itu adalah dijauhi (الإِبْعَاد) dan terbuang (الطَّرْد). Maka orang yang dilaknat Allah SWT itu dijauhkan dari rahmat-Nya, juga dijauhkan dari taufik dan nikmat-Nya, bahkan dijauhkan dari segala macam kebaikan.
Secara teknis yang dimaksud dengan laknatullah sebagai balasan nanti di akhirat adalah :
Dijauhkan mereka dari surga dan diturunkan hukuman dan siksaan di dalam neraka.
Intinya kalau ada orang yang dilaknat oleh Allah SWT, berarti nanti di akhirat dia akan masuk neraka dan tidak akan masuk surga. Berbeda dengan orang beriman yang matinya boleh jadi masih berada dalam status keislaman. Mereka mungkin saja masuk neraka, tetapi hanya sementara saja. Setelah semua doanya ditebus, maka akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Dan tidak demikian yang terjadi bila status seseorang di dunia ini sudah terlaknat, maka tempatnya hanya di neraka saja. Surga sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk memasukinya.
Kata wa ghadhiba ‘alaihi (وَغَضِبَ عَلَيْهِ) artinya : dan Allah murka kepadanya. Bahwa orang-orang Yahudi pernah atau malah seringkali mendapatkan murka (ghadhab) dari Allah SWT, juga kita temukan dalam beberapa ayat Al-Quran yang lain, misalnya :
Mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (QS. Al-Baqarah : 61)
Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan. (QS. Al-Araf : 152)
وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ
Kata wa ja‘ala minhum (وَجَعَلَ مِنْهُمُ) artinya : Dan Dia jadikan di antara mereka. Kata al-qiradata (الْقِرَدَةَ) artinya : kera-kera. Apa yang Allah SWT kemukakan disini amat erat kaitannya dengan ayat dalam surat Al-Baqarah :
Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”
Dikisahkan terdapat sebuah kaum dari Bani Israil yang tinggal di sebuah desa pesisir, sebagian riwayat menyebut desa itu bernama Aylah di tepi Laut Merah. Allah SWT menguji mereka dengan perintah untuk menghormati hari Sabat alias hari Sabtu, dimana mereka dilarang bekerja dan tidak boleh mencari nafkah, termasuk menangkap ikan pada hari itu. Ini adalah bentuk penghormatan dan ibadah khusus untuk hari Sabat.
Namun sebagai ujian, Allah membuat ikan-ikan sangat banyak muncul ke permukaan pada hari Sabtu, dan pada hari-hari lain ikan-ikan itu justru menghilang. Melihat hal ini, sebagian dari mereka tergoda oleh keuntungan duniawi, lalu mereka membuat siasat licik. Mereka memasang atau membuat jebakan ikan pada hari Jumat, seharisebelum Sabat. Ketika ikan masuk perangkap pada hari Sabtu, mereka tidak langsung mengambilnya. Barulah pada hari Minggu, mereka mengambil ikan-ikan yang sudah terperangkap itu.
Secara lahiriah mereka tidak melanggar Sabat karena tidak memegang alat atau menjala pada hari Sabtu. Tapi secara hakikat mereka telah mempermainkan aturan Allah, mencoba menipu syariat dengan akal mereka. Akibatnya Allah sangat murka atas kelicikan dan pembangkangan mereka. Maka turunlah azab. Allah mengutuk mereka:
كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
"Jadilah kalian kera yang hina!"
Mereka pun berubah bentuk menjadi kera yang hina dan terasing, sebagai bentuk hukuman langsung dari Allah. Mayoritas ulama termasuk di antaranya Ibnu Abbas radhiyallahuanhu mengatakan bahwa tubuh mereka benar-benar diubah dari wujud manusia menjadi beruwujud kera lengkap dengan ekor, bulu dan ukurannya.
Namun secara status mereka tetap manusia, yaitu tetap akan dihisab nanti di hari kiamat untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya. Jadi yang berubah itu hanya tubuh biologisnya saja, sedangkan isi dan jiwanya tetap jiwa manusia. Boleh dibilang mereka itu manusia berpenampilan kera.
Kalau dalam budaya kita mungkin akan dikatakan mereka itu adalah siluman, setengah manusia dan setengah hewan. Namun tanpa kesaktian atau kekuasan apapun, sebab mereka pada dasarnya sedang menjalani hukuman sementara sebelum Allah SWT matikan mereka semuanya.
وَالْخَنَازِيرَ
Kata wal-khanazir (وَالْخَنَازِيرَ) artinya : dan babi-babi.
Pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil, hiduplah seorang wanita salehah yang tinggal di sebuah desa. Di masa itu, penduduk desa, termasuk rajanya, telah jauh menyimpang dari ajaran yang benar. Mereka hidup dalam kemaksiatan dan kesesatan, hingga nyaris tidak ada lagi yang memegang ajaran agama. Namun wanita ini berbeda—ia masih teguh memegang ajaran tauhid dan menyeru kaumnya untuk kembali kepada jalan Allah.
Dengan penuh semangat dan keberanian, ia mulai berdakwah, mengajak orang-orang di sekitarnya agar kembali kepada Tuhan. Usahanya tidak sia-sia. Beberapa orang mulai mendengar dan menerima seruannya. Ketika mereka telah siap, wanita itu berkata, “Kita tidak cukup hanya duduk diam. Kita harus bangkit dan memperjuangkan agama Allah. Mari kita keluar dan serukan ini kepada kaum kita!”
Mereka pun keluar bersama, tetapi usaha pertama itu berakhir tragis. Raja bersama tentaranya menghadang dan membunuh semua pengikut wanita itu. Hanya dia seorang yang berhasil lolos.
Namun, ia tidak menyerah. Ia terus berdakwah, mengumpulkan kembali orang-orang yang mau beriman. Setelah merasa cukup kuat, ia kembali mengajak mereka berjuang. Tapi lagi-lagi, semua pengikutnya gugur di tangan musuh, dan hanya dia yang selamat.
Untuk ketiga kalinya, hal yang sama terjadi. Ia mengumpulkan pasukan kecil orang-orang beriman, keluar untuk memperjuangkan kebenaran, tapi semuanya tewas, kecuali dia. Kali ini, hatinya mulai gundah. Ia merasa putus asa dan berkata, “Subhanallah, seandainya agama ini punya pelindung dan penolong yang sejati, pasti Allah sudah menolong dan memenangkan perjuangan ini!”
Malam itu ia tidur dalam keadaan sedih dan kecewa. Tapi saat pagi tiba, ia dikejutkan oleh pemandangan yang menggetarkan hati—semua penduduk desa, termasuk rajanya, telah berubah menjadi babi! Mereka dikutuk dan diubah rupa oleh Allah karena kekufuran dan penolakan mereka terhadap dakwah yang datang kepada mereka.
Ketika menyaksikan hal itu, wanita tersebut berkata, “Hari ini aku benar-benar yakin bahwa Allah telah memuliakan agama ini dan membela kebenaran!”
Dan dari peristiwa inilah dikenal bahwa perubahan rupa menjadi babi yang terjadi di kalangan Bani Israil adalah akibat langsung dari penolakan mereka terhadap ajakan wanita yang gigih memperjuangkan agamanya itu.
وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ
Kata wa ‘abada (وَعَبَدَ) artinya : Dan menyembah. Kata thaghut (الطَّاغُوتِ) oleh tiga sumber kita sama sekali tidak diterjemahkan, yang tercantum hanya : taghut saja.
Secara bahasa, kata ini terambil dari akar kata yang berarti melampaui batas. Biasanya digunakan untuk yang melampaui batas dalam keburukan. Fir’aun ketika melampaui batas kemudian disebut telah berlaku thagha
اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
Pergilah kepada Fir´aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas". (QS. Thaha : 24)
Boleh jadi dari sanalah kemudian istilah thaghut itu dilekatkan kepada para penguasa atau pemimpin yang tidak disukai oleh kelompok-kelompok penentangnya. Walaupun alasannya sama sekali tidak lagi seperti Firaun yang memang kafir dan menjadi musuh Nabi Musa alaihissalam.
Thaghut adalah kata bahasa Arab yang memiliki makna yang kompleks.. Secara umum, thaghut diartikan sebagai sesuatu atau siapa saja yang disembah atau ditaati selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dapat mencakup berhala, tuhan palsu, tiran, dan bahkan hawa nafsu dan hasrat seseorang jika diikuti dengan mengabaikan kehendak Allah.
Kata thaghut (الطَّاغُوتِ) disebutkan beberapa kali dalam Al-Quran, seringkali bersamaan dengan peringatan terhadap penyembahan berhala dan bentuk-bentuk syirik (menyekutukan Allah) lainnya. Di beberapa tempat, thaghut secara khusus diidentifikasi dengan setan atau roh jahat lainnya.
Fakruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] mengutipkan beberapa pendapat para mufassir terkait dengan apa yang dimaksud dengan thaghut, yaitu :
§Setan : ini adalah pendapat Umar, Mujahid, dan Qatadah.
§Dukun : ini adalah pendapat Sa'id bin Jubair.
§Tukang Sihir : ini adalah pendapat Abu al-'Aliyah.
Kata ula’ika (أُولَٰئِكَ) artinya : Mereka itulah. Kata syarrun (شَرٌّ) artinya : seburuk-buruk atau paling buruk. Kata makanan (مَكَانًا) artinya : tempat.
Ungkapan “mereka itu paling buruk tempatnya” adalah gaya bahasa Arab yang unik. Sebenarnya yang buruk itu mereka, tetapi justru disebutkan tempat mereka buruk.
Gaya bahasa ini digunakan justru untuk memperkuat makna dan kesan mendalam bahwa saking buruknya, sampai tempatnya pun ikut jadi buruk. Padahal sebenarnya mereka sendirilah yang sangat buruk. Ini semacam gaya bahasa: seolah-olah keburukan mereka begitu kuat hingga memengaruhi tempat yang mereka tempati, atau bahkan seolah keburukannya itu sampai bisa “terlihat” secara fisik—saking besar dan jelasnya.
Contohnya seperti ketika orang Arab mengatakan, “Salam untuk majelis yang agung” — sebenarnya yang dimuliakan bukan tempatnya, tapi orang-orang yang duduk di situ. Ini bentuk ungkapan kiasan. Maka, ketika Allah menyebut “lebih buruk tempatnya”, maksud sebenarnya adalah menunjukkan betapa buruknya orang-orang itu, bukan cuma tempat tinggal mereka.
Ada juga penafsiran lain yang mengatakan bahwa “tempat” di sini maksudnya adalah tempat akhir yang akan mereka tempati, yaitu neraka.
Jadi maknanya: mereka adalah seburuk-buruknya makhluk, dan tempat kembali mereka pun adalah yang paling buruk, yaitu neraka. Ini bukan hanya pernyataan informasi biasa, tapi merupakan kesaksian dari Allah sendiri tentang kejahatan dan kesesatan mereka—untuk menegaskan kecaman dan memperkuat hujjah atas mereka.
وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Kata wa adhallu (وَأَضَلُّ) artinya : Dan lebih sesat. Kata ‘an (عَنْ) artinya : dari. Kata sawa’is-sabil (سَوَاءِ السَّبِيلِ) artinya : lurusnya jalan.
Mereka lebih jauh tersesat dari jalan kebenaran, yaitu agama yang lurus seperti Islam dan ajaran hanif (tauhid murni). Kalimat ini disambungkan dengan kata sebelumnya "lebih buruk" (شَرٌّ), yang semakin menegaskan bahwa mereka benar-benar buruk dan sesat.
Kenapa demikian?
Karena agama yang mereka anut sebenarnya adalah jalan hidup mereka. Kalau jalan hidup mereka itu sesat, berarti agama yang mereka pegang juga merupakan kesesatan murni, tidak ada kebenaran sedikit pun di dalamnya. Tidak ada yang lebih sesat dari mereka. Ini semacam ungkapan hiperbola (penegasan berlebih) untuk menunjukkan betapa buruknya kondisi mereka.
Dijelaskan juga bahwa bentuk kata lebih sesat dan lebih buruk itu bukan untuk dibandingkan secara matematis (bukan karena ada yang sedikit lebih baik), tapi untuk menunjukkan seberapa ekstrem buruk dan sesatnya mereka—meskipun mereka sendiri mungkin menganggap diri mereka di atas kebenaran. Bahkan ada yang menafsirkan, perbandingan ini juga bisa dibandingkan dengan orang kafir jenis lain—bahwa mereka ini yang paling parah.
Sebagian ulama juga menambahkan penjelasan menarik: tidak masalah kalau kita mengatakan bahwa tempat orang-orang ini di akhirat lebih buruk dibandingkan tempat orang-orang beriman di dunia. Karena di dunia, orang-orang beriman memang mendapat ujian, seperti hinaan, tekanan dari musuh, dan kesulitan hidup. Tapi semua itu masih lebih baik dibandingkan nasib akhirat orang-orang sesat tersebut.