Kemenag RI 2019:Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Prof. Quraish Shihab:Dan janganlah kamu (wahai kaum Muslimin) memaki sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan indah bagi setiap umat perbuatan mereka. Kemudian kepada Tuhanlah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. Prof. HAMKA:Dan janganlah kamu maki apa yang mereka seru selain Allah karena mereka akan memaki Allah (pula) dengan sebab tak ada ilmu. Seperti demikianlah, telah Kami hiasi bagi tiap-tiap umat akan amalan mereka kemudian itu kepada Tuhan merekalah mereka mengembalikan mereka. Maka, Dia akan menerangkan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan itu.
Allah juga menjelaskan bahwa setiap umat telah menganggap perbuatan mereka sendiri sebagai sesuatu yang baik, karena begitu fitrah manusia yang cenderung membenarkan keyakinannya masing-masing. Namun, pada akhirnya semua akan kembali kepada Tuhan mereka, dan di sanalah kebenaran sejati akan terungkap. Allah akan memberitahukan dan membalas setiap amal perbuatan yang telah dilakukan oleh masing-masing manusia sesuai dengan kebenaran dan keadilan-Nya.
Kata wa la (وَلَا) artinya : dan janganlah. Larangan ini datang dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, tentunya juga buat para shahabat dan kaum muslimin secara keseluruhan.
Kata tasubbu (تَسُبُّوا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il nahiyah, asalnya dari akar kata (س ب ب) kemudian menjadi (سَبَّ – يَسُبُّ – سَبًّا). Makna dasarnya adalah mencaci, menghina, berkata kasar atau memaki seseorang dengan ucapan buruk. Dalam bahasa Arab klasik, kata ini digunakan untuk menunjukkan ucapan yang mengandung penghinaan, celaan, atau perkataan kotor terhadap orang lain.
Dalam bahasa Arab, ada beberapa istilah berdekatan terkait dengan berbicara buruk tentang seseorang, namun tetap ada perbedaannya.
§ سَبَّ : memaki dengan kata-kata hina.
§ شَتَمَ : memaki dengan kata-kata kotor dan kasar.
§ لَعَنَ : mengutuk agar orang itu dijauhkan dari rahmat Allah.
§ طَعَنَ : menuduh kehormatannya seperti menjelekkan asal-usulnya.
§ قَدَحَ : menyebar omongan buruk untuk menjatuhkan nama baiknya.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : yang atau orang-orang yang. Namun karena yang dimaksud adalah sesembahan, biasanya bukan berupa manusia, melainkan benda mati. Uniknya Allah SWT malah menggunakan kata sambung : alladzina (الَّذِينَ) yang biasanya terkait dengan manusia : “orang-orang yang”.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani[1] mengatakan digunakanna karena alladzina ang seakan itu menunjukkan mansia, karena mengikuti cara pandang orang musyrik sendiri yang menganggap sesembahan mereka hidup dan mendengar doa. Alasannya karena berhala mereka dianggap dapat memberi manfaat atau menolak mudarat, seolah-olah berakal dan berilmu.
Namun ada juga pandangan lain bahwa memang ada sebagian dari sesembahan itu yang merupakan makhluk berakal, bukan hanya batu dan patung. Bukankah ada juga yang menyembah malaikat, Nabi Isa, Nabi Uzair dan lainnya. Dalam bahasa Arab, jika suatu kelompok campuran antara yang berakal dan tidak berakal, maka bentuk mufrad atau jamak yang digunakan adalah bentuk berakal. Inilah yang disebut mengunggulkan bentuk gramatikal untuk yang berakal (تغليب العقلاء).
Pandangan ketiga menyebutkan bahwa mencaci berhala bukan sekadar menghina batu, tetapi juga secara tidak langsung menghina pemujanya. Maka, bila mereka membalas dengan mencaci Allah, itu menjadi fitnah timbal-balik yang menodai kehormatan nama Allah.
Kata yad‘una (يَدْعُونَ) merupakan kata kerja yang berasal dari akar kata (د – ع – و) dan setelah menjadi fi’il madhi dan mudhari’ adalah (دَعَا – يَدْعُو – دَعْوًا / دُعَاءً). Makna dasar akar ini adalah memanggil, menyeru, mengundang, atau memohon. Kata min (مِنْ) artinya : dari. Kata dunillah (دُونِ الله) artinya : selain Allah.
Yang dimaksud dengan menyeru selain Allah adalah bentuk-bentuk ibadah dan pengagungan yang dilakukan kaum musyrik terhadap sesembahan mereka. Seperti berdoa kepada berhala-berhala, memohon pertolongan atau rezeki melalui patung-patung sambil berkata di depan berhala, “Ya Lat! Ya ‘Uzza! Tolonglah kami.”
Kadang bisa juga dengan cara menyembelih untuknya hewan persembahan. Selain itu sering juga mereka memohon syafaat perantaraan kepada berhala, malaikat, atau tokoh yang mereka anggap dekat dengan Tuhan. Dalam doa dan sumpah, mereka sering mengagungkan dan menyebut namanya, seperti bersumpah demi Laat, ‘Uzza, dan Manat.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran [2]menegaskan bahwa ayat ini adalah contoh nyata dari sumber hukum syariah saddu adz-dzara-i’ (سدّ الذرائع), yang pada intinya menutup segala jalan yang dapat membawa kepada keburukan. Mencela berhala memang benar secara akidah, karena berhala itu batil, namun jika tindakan benar itu justru memicu reaksi yang lebih buruk yaitu penghinaan terhadap Allah, maka hukum perbuatannya menjadi haram. Inilah prinsip keseimbangan syariah bahwa tidak semua yang benar boleh diucapkan di setiap tempat dan waktu.
Dalam konteks modern, prinsip ini sangat relevan, yaitu tidak boleh menghina simbol agama lain di media sosial, forum publik, atau khutbah, walaupun kita meyakini keyakinan mereka salah.
Dakwah harus fokus pada penerangan kebenaran, bukan penghinaan terhadap lawan. Bila pembicaraan tentang kekafiran atau kesesatan suatu ajaran disampaikan dengan dalil, argumentasi ilmiah, dan bahasa santun, maka itu termasuk tabligh bil-hikmah yaitu menyampaikan dengan hikmah. Allah berfirman:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik. (QS. An-Naḥl: 125)
فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
Kata fa yasubbu (فَيَسُبُّوا) artinya : maka mereka memaki. Kata allaha (اللَّهَ) artinya : Allah. Ini adalah konsekuensi ketika kita mencaci tuhan mereka, maka otomatis mereka akan membalas dengan cara memaki tuhan kita.
Makna mereka mencaci Allah adalah bahwa ucapan mereka menjurus kepada Allah, sebagaimana mereka memaki Rasulullah SAW dan orang yang memerintahkan mereka yakni kaum muslimin. Bentuknya tidak harus berarti mereka memaki langsung nama Allah, tetapi ucapan mereka yang menghina Rasulullah SAW dan kaum muslimin secara tidak langsung tertuju kepada Allah, karena Rasul membawa perintah-Nya.
Kata ‘adwan (عَدْوًا) artinya : dengan permusuhan. Kata bi ghairi (بِغَيْرِ) artinya : tanpa. Kata ‘ilmin (عِلْمٍ) artinya : pengetahuan. Maksudnya bahwa mereka mencaci Allah tanpa tahu bahwa mereka sedang mencaci-Nya. Mereka tidak sadar bahwa makian terhadap Nabi dan kaum beriman sama dengan penghinaan terhadap Allah, karena mereka tidak mengerti hakikat hubungan antara Allah dan Rasul-Nya.
Padahal kaum musyrikin itu sebenarnya mengakui adanya Allah dan keagungan-Nya, dan mereka menyembah berhala-berhala itu hanya agar berhala-berhala itu menjadi perantara bagi mereka di sisi Allah. Maka bagaimana mungkin mereka mencaci Allah secara sadar?
Kaum musyrik tidak menolak keberadaan dan kebesaran Allah, mereka hanya tersesat dalam cara beribadahnya. Jadi, mustahil mereka sengaja mencaci Allah. Kalau pun ada ucapan yang menghina, itu karena ketidaktahuan dan kemarahan, bukan kesengajaan.
Namun bisa juga dimaksudkan bahwa mereka benar-benar mencaci Allah secara terang-terangan, dan hal itu tidak mustahil, karena kemarahan dan amarah bisa mendorong mereka berbuat seperti itu.
Di sini Al-Alusi membuka kemungkinan kedua yaitu kadang amarah membuat seseorang berkata kufur, meskipun sebelumnya ia masih mengakui Allah.
كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ
Kata kadzalika (كَذَٰلِكَ) artinya : demikianlah. Kata ini menunjukkan adanya keserupaan atau pola yang sama, yaitu sebagaimana Kami telah menjadikan terasa indah bagi umat-umat terdahulu amal perbuatan mereka, demikian pula Kami menjadikan bagi kalian seperti itu.
Kata zayyanna (زَيَّنَّا) artinya : Kami jadikan indah. Merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi dimana asalnya dari akar kata (ز ي ن) yang berarti perhiasan, keindahan, sesuatu yang membuat tampak menarik. Dalam Al-Qur’an, kata ini sering digunakan untuk menggambarkan dua hal. Kadang maksudnya keindahan yang hakiki seperti iman dan amal saleh, namun kadang keindahan juga digunakan untuk hal yang sifatnya menipu, ilusi, manipulatif, seperti menganggap dosa itu baik atau kesesatan itu nampak indah di mata mereka.
Perhatikan ayat berikut yang mana kata indah itu dikonotasikan sebagai hal yang positif.
Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menjadikannya indah dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat:7)
Tapi jika kita baca ayat lain, misalnya ayat berikut ini, maka ’keindahan’ itu dikaitkan dengan hal yang negatif, menipu dan manipulatif.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
Dijadikan indah bagi manusia cinta kepada syahwat. (QS. Ali ‘Imran :14)
Maka kata zayyanna (زَيَّنَّا) dalam ayat ini dapat bermakna dua sisi yang berlawanan. Bisa dimaknai bahwa Allah menghiasi amal kebaikan bagi orang beriman agar mereka mencintainya. Namun bisa juga dimaknai bahwa Allah menghiasi amal keburukan bagi orang sesat sebagai ujian dan konsekuensi pilihan mereka.
Kata li kulli (لِكُلِّ) artinya : bagi setiap. Kata ini menegaskan cakupan yang universal bahwa tidak ada satu pun umat yang dikecualikan. Setiap bangsa, setiap kelompok, setiap komunitas, bahkan setiap individu di dalamnya, semua diberi ujian dalam bentuk yang sama bahwa mereka akan menganggap sesuatu sebagai indah, benar, dan baik menurut keyakinannya.
Di sini tampak keadilan Allah dan juga ketelitian ujian-Nya. Tidak ada umat yang dibiarkan tanpa petunjuk, tapi juga tidak ada umat yang luput dari ujian.
Kata ummatin (أُمَّةٍ) artinya : umat. Kata ini secara bahasa berarti kelompok manusia yang dihimpun oleh satu kesamaan, baik dalam keyakinan, syariat, waktu, maupun tempat. Dalam konteks ayat ini, ummah tidak hanya menunjuk pada umat para nabi, tetapi mencakup setiap golongan manusia yang memiliki sistem keyakinan dan cara hidup sendiri.
Kata ‘amaluhum (عَمَلَهُمْ) artinya : amal mereka. Kata ini berarti segala perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan kehendak, berbeda dengan fi‘l yang bisa juga berarti gerakan tanpa niat. Jadi, ‘amaluhum menegaskan bahwa yang dijadikan tampak indah adalah perbuatan yang mereka pilih dan yakini.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[3] menyebutkan ada tiga pendapat yang berbeda terkait dengan tafsiran dalam memahami penggalan ini.
1. Pendapat Pertama
Menurut Al-Hasan, maksud ayat ini adalah bahwa Allah menghiasi amal ketaatan bagi orang beriman, sehingga mereka merasa senang dan ringan untuk melakukannya. Fokusnya positif, yaitu pada taufik dan rahmat Allah yang menumbuhkan kecintaan kepada ketaatan.
Maka yang dimaksud dengan perhiasan disini berarti dorongan ilahi untuk mencintai kebenaran dan amal saleh. Umat beriman di setiap zaman sama-sama diberi karunia oleh Allah berupa rasa nikmat dalam berbuat baik. Intinya Allah menghiasi amal yang benar agar tampak indah di mata orang yang beriman.
2. Pendapat Kedua
Pendapat ini memandang dari sisi lain. Allah membiarkan setiap kelompok manusia termasuk yang sesat untuk menganggap baik perbuatan mereka, padahal salah. Maka dalam tafsiran ini, kata perhiasan di sini dipahami sebagai tertipu memandang amal-amal buruk seolah amal baik. Mereka dibutakan dan tersesat, tetapi meyakini bahwa yang mereka lakukan sudah benar.
Allah menghiasi amal yang salah sehingga tampak benar di mata orang yang sesat sebagai bentuk ujian.
3. Pendapat Ketiga
Al-Mawardi menambahkan yang ketiga dan berbeda dari dua sebelumnya. Kata zayyanna (زَيَّنَّا) tidak diartikan sebagai membuat tampak indah di mata manusia, tetapi sebagai penjelasan dan penerangan dari Allah tentang kebenaran.
Perhiasan amal di sini berupa penjelasan yang memperindah kebenaran itu sendiri, bukan perasaan manusia terhadapnya.
ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Kata ini mengandung makna peralihan dari urusan dunia menuju urusan akhirat, dari masa ujian menuju masa pembalasan. Seolah Allah SWT berkata : “Setelah mereka hidup di dunia dengan segala amal dan kesesatan atau petunjuknya, maka pada akhirnya | kemudian | mereka semua akan dikembalikan kepada Tuhan mereka.”
Kata ila rabbihim (إِلَىٰ رَبِّهِمْ) artinya : kepada Tuhan mereka. Ungkapan ini menunjukkan arah atau tujuan, yaitu arah kepulangan, bukan sekadar tempat berpindah. Sedangkan kata rabbihim (رَبِّهِمْ) berasal dari kata rabb, yang maknanya luas, yaitu Pencipta, Pemelihara, Pengatur, dan Penguasa.
Jadi, ungkapan ila rabbihim (إِلَىٰ رَبِّهِمْ) menegaskan bahwa manusia tidak akan kembali kepada sembarang tempat, melainkan kembali kepada Dzat yang dulu menciptakan, mengatur, dan menguji mereka.
Kata marji‘uhum (مَرْجِعُهُمْ) artinya : tempat kembali mereka. Kata ini berasal dari akar kata (ر ج ع) yang berarti kembali, berbalik, atau pulang ke asal. Secara morfologis, bentuk marji‘ adalah ism makan yaitu kata benda yang menunjukkan tempat atau arah kembalinya sesuatu.
Dengan demikian, marji‘uhum (مَرْجِعُهُمْ) berarti tempat atau arah di mana mereka akan kembali. Makna ini tidak sekadar kembali secara fisik, melainkan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala amal di hadapan Allah.
فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Kata fa yunabbi’uhum (فَيُنَبِّئُهُمْ) artinya : maka Dia akan memberitahukan kepada mereka. Huruf fa (فَ) adalah huruf sambung (harfu a’thf) yang berarti “maka”, menunjukkan akibat langsung dari sesuatu yang telah disebut sebelumnya.
Kata yunabbi’uhum (يُنَبِّئُهُمْ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari yang berasal dari akar kata (ن ب أ). Maknanya memberitakan sesuatu yang penting dan pasti benar. Berbeda dengan kata akhbara (أخبر) yang berarti ‘sekadar memberi tahu’, kata nabba’a memiliki makna lebih tegas dan serius, yakni menyampaikan berita besar yang tak mungkin salah, biasanya menyangkut perkara akhirat atau kebenaran besar.
Maka ungkapan kata fa yunabbi’uhum (فَيُنَبِّئُهُمْ) berarti: Maka Allah akan memberitakan kepada mereka dengan berita yang pasti benar dan tidak bisa disangkal, tentang amal yang telah mereka lakukan.”
Kata bima (بِمَا) artinya : tentang apa yang. Kata kanu (كَانُوا) artinya : mereka telah. Kata ya‘malun (يَعْمَلُونَ) artinya : berbuat.
Maka setelah mereka kembali kepada Tuhan mereka, Allah akan memberitakan kepada mereka dengan sebenar-benarnya tentang segala amal yang telah mereka lakukan di dunia, baik yang mereka sadari maupun yang mereka lupakan.
Ayat ini menegaskan bahwa di hadapan Allah, tidak ada amal yang hilang, tidak ada dusta yang tersembunyi, dan tidak ada kebenaran yang tertutup. Semua akan diberitakan kembali dan Allah akan membuka seluruh catatan amal dengan kejelasan yang membuat manusia tidak bisa lagi membantah.
Bagi orang beriman, berita ini akan menjadi kabar gembira, sedangkan bagi orang yang lalai dan berdosa, ia menjadi pembukaan aib dan penyesalan abadi.