Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Milik Allah.” Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. ) Sungguh, Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman. Prof. Quraish Shihab:Katakanlah (Nabi Muhammad saw.): "Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?" Katakanlah: "Milik Allah." Dia telah menetapkan atas Diri-Nya (untuk melimpahkan) rahmat (kepada seluruh alam). Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang merugikan dirinya, maka mereka itu tidak beriman. Prof. HAMKA:Katakanlah, “Kepunyaan siapakah yang ada di semua langit dan bumi?” Katakanlah, “Kepunyaan Allah!” Dia telah mewajibkan diri-Nya akan memberi rahmat. Sesungguhnya, akan dikumpulkan-Nya kamu pada hari Kiamat yang tidak ada ragu-ragu tentang itu lagi. Orang-orang yang telah merugikan diri sendiri maka mereka itu tidaklah orang-orang yang beriman.
Ayat ke-12 dari surat Al-An’am berisi seruan tegas untuk mengakui bahwa segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah semata. Penegasan tauhid ini sejalan dengan ayat-ayat sebelumnya, di mana Allah menyeru manusia agar tidak mempersekutukan-Nya dan mengingatkan mereka tentang hujjah keesaan-Nya yang tampak dalam ciptaan-Nya.
Allah menetapkan kasih sayang atas diri-Nya, yang menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah kepada makhluk-Nya, meski mereka membangkang.
Selain itu ayat ini juga menegaskan bahwa seluruh manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat, hari yang tidak ada keraguan padanya. Ini merupakan ancaman dan peringatan bagi mereka yang telah merugikan diri mereka sendiri karena tidak beriman. Mereka telah kehilangan potensi untuk memperoleh keselamatan dan kasih sayang Ilahi karena menolak kebenaran.
قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Kata qul (قُلْ) diartikan menjadi : katakanlah. Ini adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang kafir.
Kata liman (لِمَنْ) artinya : milik siapa. Kata mafis-samawati (مَا فِي السَّمَاوَاتِ) artinya : segala apa yang ada di banyak langit. Al-Quran lebih sering menyebut langit dalam bentuk jamak, meskipun tetap ada juga sesekali menyebut dengan bentuk tunggal yaitu as-sama’ (السماء).
Dalam banyak penafsiran klasik maupun kontemporer, bentuk tunggal as-sama’ sering ditafsirkan sebagai langit yang tampak oleh manusia, yang terkait langsung dengan fenomena cuaca dan atmosfer. Inilah yang bisa kita sebut sebagai langit atmosfer, langit yang menjadi ’atap bumi’ tempat awan, angin, dan hujan.
Sedangkan ketika berbentuk jamak as-samawat (السَّمَاوَاتِ) mengacu kepada langit yang banyak, bukan langit dalam arti atmosfer, melainkan langit yang lebih jauh lagi, tempat adanya bulan, planet lain, atau matahari atau bahkan bintang-bintang yang boleh jadi jaraknya ribuan tahun cahaya.
Pandangan ini sejalan apa yang disebutkan para mufassir, seperti Fakhurddin Ar-Razi (w. 606 H), Al-Qurthubi (w. 671 H) dan Ibn Katsir (w. 774 H). Mereka menjelaskan bahwa as-sama’ bisa berarti lapisan langit terdekat, sementara as-samawat adalah seluruh tingkatan langit yang mencakup semua alam atas.
Kata wal-ardhi (وَالْأَرْضِ) artinya : dan yang ada di bumi.
Pesan itu dalam hal ini berupa kalimat tanya, yaitu :”milik siapakah segala yang ada di langit dan di bumi”. Meskipun nampak seperti sebuah pertanyaan, namun sifatnya hanya sekedar pertanyaan retorika saja.
Tujuan dari pertanyaan ini bukan ingin jawaban dari ketidak-tahuan, melainkan untuk menegaskan bahwa segala apa yang ada di langit dan bumi itu semuanya milik Allah.
قُلْ لِلَّهِ
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Kata lillah (لِلَّهِ) artinya : milik Allah. Bukti bahwa pertanyaan ini hanya bersifat retoris adalah jawaban ini. Yang bertanya kemudian menjawab sendiri. Dalam hal ini Nabi SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk melontarkan pertanyaan kepada orang kafir tentang siapakah Tuhan yang memiliki apa saja yang ada di langit dan di bumi. Belum lagi dijawab dan bahkan memang belum disampaikan pertanyaan itu, langsung Allah SWT perintahkan untuk menjawabnya. Jawablah : “Semua itu milik Allah”.
Maka kita jadi paham bahwa sejak ini kalimat ini bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, melainkan sebuah pernyataan tegas, namun disampaikan dalam format kalimat retorika. Tujuannya agar mendapatkan tanbih atau perhatian.
كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ
Kata kataba (كَتَبَ) punya makna asli menulis, namun disini diartikan menjadi : menetapkan. Secara teknis, berbagai ketetapan dan keputusan penting itu biasanya juga dituliskan secara formal. Biasanya, apa yang tertulis itu menandakan keseriusan dan kepastian, ketimbang hanya sekedar diucapkan.
Kata ‘ala nafsihi (عَلَىٰ نَفْسِهِ) artinya : diri-Nya sendiri. Kita selama ini paham bahwa Allah SWT yang menuliskan segala sesuatu kepada para hamba dan makhluk-makhluk-Nya. Alam semesta dengan segala penghuninya ini semua bergantung kepada ketetapan Allah.
Namun bagaimana kita memahami konsep bahwa Allah SWT menetapkan sesuatu atas dirinya sendiri.
Sudah pasti banyak kalangan mufassir yang melarikan ungkapan ini kepada pernyataan yang bersifat majaz, simbolis dan sekedar bahasa gaya belaka, bukan hal yang sesunguhnya. Dan gaya bahasa simbolis ini sudah terbiasa diungkapkan dalam Al-Quran.
Salah satunya ketika menyebutkan betapa mulianya tangan para mujahidin yang melempar anak panah dalam perang, sampai disebutkan bahwa yang melempar itu bukan mereka tetapi yang melemparkan anak panah itu langsung Allah SWT.
Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS. Al-Anfal : 17)
Ketika para shahabat berba’iat kepada Nabi SAW, saking ingin memuji betapa luhurnya perbuatan mereka, sampai disebutkan bahwa di atas tangan-tangan yang sedang berba’iat itu ada tangan Allah.
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. (QS. Al-Fath : 10)
Begitu juga ketika orang-orang Yahudi menuduh bahwa tangan Allah SWT terbelanggu, sebagai ungkapan kikir dan tidak mau memberi harta kepada para shahabat yang hidup miskin, ternyata Allah SWT menjawab bahwa tangan Allah SWT terjulur dua-duanya ke depan, sebagai simbol dari kemurahan-Nya.
Tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (QS. Al-Maidah : 64)
Kata ar-raḥmah (الرَّحْمَةَ) artinya : kasih sayang. Sifat kasih sayang disini menjadi karakteristik sosok Allah SWT yang paling utama, ketimbang karakter-karekter lainnya. Biasanya menonjolnya sebuah karakter itu terjadi karena seringnya kemunculan dari karakter itu dalam alam nyata.
Maksudnya ketimbang Allah SWT tampil dalam wujud sebagai Tuhan yang menghukum hamba-Nya yang berdosa, maka kita lebih banyak menyaksikan di alam kenyataan bahwa Allah SWT justru malah mengampuni hamba-Nya.
Kadang malah sudah dilakukan sejak dari hulunya, yaitu apa-apa yang seharus haram, sejak awal sudah Allah SWT halalkan. Begitu juga, apa-apa yang dahulu awalnya merupakan kewajiban, lalu Allah SWT turunkan menjadi tidak wajib. Semua itu adalah bentuk bagaimana sifat rahmah atau kasih sayang itu menjadi sifat yang paling dominan pada diri-Nya.
لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Kata layajma‘annakum (لَيَجْمَعَنَّكُمْ) artinya : sungguh Dia akan mengumpulkan kalian. Kata ila (إِلَىٰ) artinya : sampai. Kata yaumi (يَوْمِ) artinya : hari. Kata al-qiyamah (الْقِيَامَةِ) artinya : kiamat.
Apa yang dimaksud dengan penggalan ini oleh para ulama ahli tafsir dimaknai sebagai kejadian di Padang Mahsyar, setelah alam semesta dihancurkan, semua makhluk hidup dimatikan, lalu kemudian mereka dihidupkan kembali.
Padang Mahsyar adalah tempat manusia dikumpulkan setelah dibangkitkan dari kubur untuk menjalani hisab (perhitungan amal). Di sinilah keadilan Allah ditegakkan. Seluruh umat manusia dari zaman Nabi Adam hingga manusia terakhir akan berdiri bersama.
1. Keadaan Alam: Datar, Kosong, dan Mengerikan
Al-Quran menyebutkan bahwa Padang Mahsyar itu datar, kosong dan mengerikan.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: ‘Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya.’ Lalu Dia menjadikannya tanah datar yang rata. Engkau tidak akan melihat padanya tempat yang rendah maupun yang tinggi.” (QS. Thaha : 105–107)
Dari petikan ayat ini kita memaham bahwa semua bentuk topografi lenyap, tidak ada gunung, lembah, pohon, atau tempat bersembunyi.
2. Semua Makhluk Dikumpulkan Tanpa Terkecuali
Al-Quran menyebutkan bahwa semua makhluk nanti akan dikumpulkan semua, sejak dari masa Nabi Adam alaihissalam hingga kiamat kubra terjadi.
Rasulullah SAW bersabda: "Kalian akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan." Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain?" Rasulullah bersabda: "Perkaranya terlalu dahsyat untuk membuat mereka memikirkan hal itu." (HR. Muslim)
Matahari didekatkan kepada makhluk pada hari kiamat, lalu manusia berkeringat sesuai kadar amal mereka. Ada yang keringatnya sampai mata kaki, ada yang sampai lutut, sampai pinggang, dan ada pula yang tenggelam oleh keringatnya.” (HR. Muslim)
Dan setiap manusia telah Kami pasangkan catatan amal perbuatannya di lehernya, dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya kitab yang terbuka: 'Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung terhadap dirimu.'” Al-Isrā’ ayat 13–14:
“Adapun orang yang diberikan catatannya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia kembali kepada keluarganya (di surga) dengan gembira. Tetapi barang siapa yang diberikan catatannya dari belakang...” (QS. Al-Insyiqāq ayat 7–10)
Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barang siapa berat timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri.” (QS. Al-A‘raf ayat 8–9)
Tidakkah mereka mengira bahwa mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar? (yaitu) hari ketika semua manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Mutaffifīn : 4–6)
Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata-mata mereka terbelalak. Mereka datang tergesa-gesa, kepala mereka menengadah, pandangan mereka tidak berkedip dan hati mereka kosong.” Ibrāhīm ayat 42–43:
Pada hari ketika Ruh (Jibril) dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berbicara kecuali yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pemurah dan ia mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Naba’ : 38)
لَا رَيْبَ فِيهِ
Kata la raiba (لَا رَيْبَ) artinya : tidak ada keraguan. Kata fihi (فِيهِ) artinya : di dalamnya.
Buat kalangan kaum musyrikin Arab di masa kenabian, konsep adanya hari kiamat dianggap tidak masuk akal. Menurut mereka, tidak masul logika yang manapun ketika manusia sudah mati ribuan tahun, jasadnya semua sudah jadi tanah, kemudian mereka dibangkitkan kembali dan bisa hidup lagi.
Namun kenapa ayat ini malah menyebutkan bahwa hari kiamat itu sesuatu yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya?
Jawabannya yang paling utama bahwa pernyataan ini bukan mewakili pendapat manusia, melainkan bahwa kiamat itu tidak perlu diragukan adalah seratus persen pernyataan dari Allah SWT.
Jadi tidak peduli orang musyrikin Arab mau percaya atau tidak percaya kepada kiamat, itu urusan mereka sendiri. Yang pasti, Allah SWT sudah menyatakan disini bahwa kiamat itu sesuatu yang pasti, tidak ada keraguan di dalamnya.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata khasiru (خَسِرُوا) artinya : merugi. Kata anfusahum (أَنْفُسَهُمْ) artinya : diri mereka sendiri. Kata fahum (فَهُمْ) artinya : maka mereka. Kata la yu'minun (لَا يُؤْمِنُونَ) artinya : tidak beriman.
Penggalan yang jadi penutup ini sebenarnya merupakan kelanjutan dan cabang dari pernyataan sebelumnya yang berbunyi:
لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Sungguh (Allah) akan mengumpulkan kalian pada hari kiamat.”
Menurut para mufassir, penggunaan huruf fa dalam frasa fa-hum la yu’minun mengisyaratkan adanya hubungan sebab-akibat yang kuat antara kondisi yang disebut sebelumnya dengan akibat yang ditimbulkan.
Secara struktur susunan dasar kalimat ini sebetulnya bisa saja berbunyi:
فَأنْتُمْ لا تُؤْمِنُونَ لِأنَّكم خَسِرْتُمْ أنْفُسَكم في يَوْمِ القِيامَةِ
Maka kalian tidak beriman karena kalian telah merugikan diri kalian sendiri pada hari kiamat.”
Namun alih-alih menggunakan bentuk kata ganti : kalian, Al-Qur’an secara indah dan penuh makna mengalihkannya ke bentuk : ‘orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri’.
Perpindahan dari kata ganti ke bentuk isim maushul yaitu kata sandang : “yang”, seperti “alladzina khasiru anfusahum” bukan tanpa tujuan. Dalam retorika bahasa Arab atau balaghah, gaya ini digunakan untuk memperkuat makna, memperluas pemahaman, sekaligus menyampaikan kecaman secara tidak langsung.
Dengan menyebut ‘orang-orang yang telah merugikan diri mereka sendiri’, Allah tidak hanya menunjukkan kondisi mereka yang tidak beriman, tetapi juga menjelaskan penyebab dari kekafiran itu. Mereka tidak beriman karena mereka sendiri telah menjerumuskan diri mereka dalam kerugian, baik di dunia maupun di akhirat. Kerugian itu bukanlah akibat dari faktor eksternal, melainkan berasal dari pilihan dan tindakan mereka sendiri.
Pilihan untuk menggunakan isim maushul ini juga memiliki kehalusan sastra tersendiri. Alih-alih menegur secara langsung dengan kata “kalian tidak beriman”, Allah menggunakan bentuk tidak langsung untuk menyindir mereka.
Gaya bahasa ini bukan hanya lebih halus, tetapi juga lebih menghujam dalam hati, karena membiarkan pendengar merenungi siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “orang-orang yang telah merugikan diri mereka sendiri”.