Ayat ke-13 dari Surah Al-An'am melanjutkan penegasan tentang keesaan dan kekuasaan Allah. Allah menyatakan bahwa segala hewan malam dan hewan siang adalah milik-Nya.
Allah SWT juga menegaskan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui yang menjadi penutup yang sarat makna. Allah bukan hanya menciptakan dan memiliki semua makhluk, tetapi juga mengetahui dan mendengar segala sesuatu yang terjadi dalam ciptaan-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Kata wa (وَ) artinya : dan. Kata lahu (لَهُ) artinya : bagi-Nya. Kata ma (مَا) artinya : apa. Kata sakana (سَكَنَ) diterjemahkan secara berbeda-beda. Kemenag RI menuliskan : ‘sesuatu yang ada’. Begitu juga Prof. Quraish Shihab menuliskan : ‘segala yang ada’. Namun yang agak berbeda adalah Buya HAMKA, versi beliau adalah : ’apa yang tenang’.
Namun umumnya para mufassir klasik sepakat bahwa sakana (سَكَنَ) yang sedang dibicarakan di ayat ini terkait dengan perilaku hewan dalam arti sedang tenang, atau sedang tidur atau sedang beristirahat atau sedang tidak melakukan aktifitas.
Kata fil-laili (فِي اللَّيْلِ) artinya : pada malam hari. Kata wan-nahari (والنَّهَارِ) artinya : dan pada siang hari.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa penyebutan malam dan siang hari disini jika dikaitkan dengan konteks istirahatnya hewan-hewan, maka Allah SWT sedang bicara tentang perbedaan antara dua jenis hewan :
Pertama, hewan yang istirahatnya di malam hari dan aktifnya di siang hari. Ini adalah sifat dan kecenderungan kebanyakan hewan. Sebutannya adalah diurnal, yaitu hewan yang aktif di siang hari dan tidur di malam hari. Burung, ayam, rusa dan nyaris kebanyakan hewan secara naluri akan masuk ke sarang mereka begitu matahari terbenam.
Kedua, hewan yang istirahatnya di siang hari dan lebih banyak beraktifitas di malam hari. Dalam istilah biologi disebut dengan hewan nokturnal, yaitu hewan yang aktif di malam hari dan tidur atau berdiam diri di siang hari. Contohnya seperti musang, burung hantu, kelelawar, kucing besar seperti harimau dan macan tutul.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran menjelaskan bahwa kata sakana (سَكَنَ) secara bahasa berarti tenang (هَدَأَ) dan menetap (اِسْتَقَرَّ). Namun menurut Beliau sebenarnya secara alur logika, penggalan ini ada yang di-mahdzuf-kan, padahal lengkapnya adalah : (وَلَهُ مَا سَكَنَ وَمَا تَحَرَّكَ) : Dan milik-Nya segala yang diam dan bergerak.
Namun ada juga pendapat yang berbeda, sebagaimana juga disebutkan Al-Qurthubi, yaitu bahwa yang dimaksud dengan maa sakana (مَا سَكَنَ) di sini bukan hewan yang istirahat, melainkan justru maksudnya adalah : ’segala sesuatu yang ada’, yaitu segala makhluk yang diciptakan oleh Allah. Kata maa sakana (مَا سَكَنَ) di sini tidak bermakna sebagai lawan dari bergerak, melainkan merupakan ungkapan untuk merujuk pada seluruh makhluk ciptaan Allah, baik yang diam maupun yang bergerak, karena seluruhnya berada di bawah pengaturan siang dan malam.
Penafsiran ini dianggap paling kuat karena mampu menggabungkan berbagai pendapat yang ada menjadi satu makna yang komprehensif dan utuh. Oleh karena itulah pendapat ini yang kemudian digunakan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab ketika menerjemahkan.
Kata wa (وَ) artinya : dan. Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia. Kata as-sami‘u (السَّمِيعُ) artinya : Yang Maha Mendengar. Kata al-‘alimu (الْعَلِيمُ) artinya : Maha Mengetahui.
Ada hubungan yang sangat kuat antara dua bagian ayat ini. Ketika Allah menyatakan bahwa segala yang diam di malam dan siang adalah milik-Nya, itu menegaskan kekuasaan dan kepemilikan-Nya yang absolut.
Lalu ketika ditutup dengan penonjolan dua sifat Allah SWT dari begitu banyak sifat-sifat Allah SWT.
§ Pertama bahwa Allah SWT itu bersifat as-sami’ (السَّمِيعُ) yaitu Maha Mendengar. Berarti bahwa Allah SWT itu punya sumber informasi langsung yang masih berupa fakta aslinya, walaupun data ini masih berupa data mentah.
§ Kedua, disebutkan bahwa Allah SWT bersifat al-‘alim (الْعَلِيمُ) yaitu Maha Mengetahui. Maka sumber informasi yang masih mentah di atas itu kemudian dianalisa sedemikian rupa dan menjadi sesuatu yang bisa diketahui makna dan maksudnya. Maka disebutlah Allah SWT itu Maha Mengetahui alias al-‘alim
Maka terjadilah hubungan yang saling terkait dan melengkapi satu sama lain antara sifat Maha Mendengar dan sifat Maha Mengetahui. Allah SWT bukan hanya tahu pada bagian akhirnya saja, melainkan juga tahu sumber data informasi itu sejak masih menjadi data mentahannya.
Semua ini menunjukkan bahwa Allah aktif dalam mendengar dan mengetahui seluruh kondisi ciptaan-Nya, termasuk mereka yang tersembunyi di malam sunyi, atau yang diam dalam keheningan siang.