Huruf wawu (وَ) di awal merupakan harfu ‘atfh yang menyambungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Kata rabbuka (وَرَبُّكَ) artinya: dan Tuhanmu, maksudnya Allah SWT. Ketika Allah SWT membahasakan diri-Nya sebagai ‘Tuhanmu’, kita merasakan adanya hubungan khusus ketimbang sekedar menyebut Aku ataupun menyebut nama sendiri. Dalam bahasa Indonesia, seolah-olah seperti kita berkata,”Dan Tuhanmu ini”.
Kata al-ghaniyyu () artinya: Yang Maha Kaya. Berasal dari akar kata (غ ن ي) yang makna aslinya bukan kaya melainkan Maha cukup dalam arti tidak membutuhkan apa pun. Karena itu Allah itu terbebas dari ketergantungan pada sesuatu. Maksudnya adalah bahwa Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya, tidak memerlukan ibadah mereka, dan tidak berkurang sedikit pun kekuasaan-Nya bila manusia membangkang.
Sedangkan kaya dalam artian banyak harta, dalam bahasa Arab ada ungkapannya sendiri, misalnya tsariyy (ثَرِيّ) yang berasal dari akar (ث ر و). Akar kata ini bermakna kekayaan materi, harta benda, dan kelimpahan kepemilikan. Inilah kata yang tepat untuk menggambarkan seseorang yang kaya secara duniawi.
Sebenarnya, menerjemahkan al-ghani (الْغَنِيُّ) menjadi Maha Kaya adalah bentuk penyederhanaan bahasa yang dilakukan oleh para penerjemah agar mudah dipahami orang awam. Dalam tradisi penerjemahan, padanan kata kaya lebih akrab di telinga masyarakat daripada istilah : ‘Maha Cukup‘ atau ‘Maha Tidak Membutuhkan’.
Menerjemahan kata al-ghani (الْغَنِيُّ) menjadi ‘Maha Kaya’ sebenarnya kurang tepat, karena kata kaya dalam bahasa Indonesia biasanya identik dengan harta benda, sementara Allah Mahasuci dari sifat-sifat materi.
Makna asli al-ghani bukanlah kaya harta, melainkan kesempurnaan kemandirian, yakni tidak membutuhkan siapa pun dan tidak bergantung pada apa pun. Adapun manusia yang disebut kaya, kekayaannya terbatas, relatif, dan tetap bergantung pada banyak hal, sehingga dalam bahasa Arab modern sekalipun, kata yang tepat untuk kaya materi adalah tsariyy bukan ghani.
Karena itu, sebagian ulama tafsir menyarankan agar sifat al-ghani dipahami dan dijelaskan kepada umat sebagai “Yang Maha Cukup dan tidak membutuhkan apa pun”, meskipun dalam terjemahan populer tetap ditulis “Maha Kaya”. Istilah Maha Kaya hanyalah jembatan bahasa, sedangkan makna hakikinya adalah kesempurnaan kemandirian, bukan kelimpahan harta.
Kata dzur-rahmah (ذُو الرَّحْمَةِ) artinya: pemilik rahmat. Lafazh dzu (ذو) sendiri disebut sebagai ism al-milkiyyah. Kata ini menunjukkan kepemilikan hakiki dan bukan kepemilikan sementara atau nisbi. Karena itu, ketika disandarkan kepada Allah, maknanya adalah pemilik secara mutlak, bukan sekadar memiliki dalam arti penguasaan harta seperti manusia. Ketika digunakan untuk Allah, maknanya adalah pemilik mutlak bukan kepemilikan relatif seperti manusia.
Kata ar-rahmah (الرَّحْمَةِ) berasal dari akar kata (ر ح م) yang bermakna kelembutan, kasih sayang, dan pemberian kebaikan tanpa imbalan. Akar kata ini juga melahirkan kata rahim, yaitu rahim seorang ibu tempat bayi tumbuh dalam perlindungan dan penjagaan penuh kelembutan. sehingga para ahli bahasa menyatakan bahwa makna dasar rahmah adalah kelembutan yang melahirkan kebaikan dan penjagaan terhadap yang lemah. Karena itu, rahmah bukan hanya rasa emosional, tetapi tindakan untuk menghadirkan kebaikan dan menghindarkan bahaya.
Menurut para mufassir, kata ar-rahmah (الرَّحْمَةِ) ketika dinisbatkan kepada Allah SWT, maknanya bukan perasaan kasih sayang sebagaimana sesama makhluk, sebab Allah Mahasuci dari perubahan perasaan dan emosi. Rahmat Allah adalah iradah al-khair atau kehendak untuk memberikan kebaikan kepada makhluk, serta limpahan nikmat, petunjuk, ampunan, dan perlindungan. Maka rahmat Allah berarti munculnya berbagai bentuk kebaikan nyata dari-Nya, baik berupa nikmat dunia, hidayah iman, maupun penundaan hukuman bagi orang yang berdosa.
Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Azhim [1] menjelaskan bahwa rahmat Allah mencakup pemberian nikmat di dunia kepada seluruh makhluk dan pemberian petunjuk serta ampunan bagi orang beriman.
Al-Qurthubi di dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2] juga menegaskan bahwa rahmat Allah bukan sifat pasif berupa rasa iba, tetapi tindakan aktif memberi karunia dan membuka pintu tobat. Sedangkan Fakhruddin ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib [3] menyatakan bahwa rahmat Allah adalah perbuatan Allah yang menghasilkan kebaikan dan menghilangkan bahaya dari makhluk.
Dan ketika kata ar-rahmah (الرَّحْمَةِ) dipasangkan dengan al-ghaniyyu (الْغَنِيُّ), yang muncul adalah pesan indah bahwa Allah memberi rahmat bukan karena membutuhkan makhluk, tetapi karena kemurahan dan keluhuran-Nya yang sempurna.
Kata in yasya’ (إِنْ يَشَأْ) artinya: jika Dia menghendaki. Dia yang dimaksud disini adalah Allah SWT. Jika disebutkan kehendak Allah, maka itu menunjukkan keabsolutan Allah yang tidak bisa dipertanyakan apalagi diganggu-gugat.
Kata yuzhib-kum (يُذْهِبْكُمْ) artinya: Dia akan melenyapkan kalian, memusnahkan kalian, atau menghilangkan kalian dari muka bumi. Asalnya dari (ذهب) yang maknanya pergi atau hilang. Ketika ketambahan huruf alif di awal menjadi (أَذْهَبَ - يُذْهِبُ) maknanya bergeser menjadi : mem-pergi-kan, atau membuat pergi.
Dalam konteks ini bermakna menghabisi keberadaan suatu kaum tanpa tersisa, biasanya dengan cara menghukum mereka dengan bencana alam yang membuat satu kaum musnah mati semua.
Kata wa yastakhlif (وَيَسْتَخْلِفْ) berasal dari akar kata (خ ل ف) yang makna dasarnya antara ‘datang kemudian’, atau ‘berada di belakang’, atau ‘menjadi penerus’. Dari makna inilah lahir kata khalfa, khalf, dan khalaf, yang semuanya menunjukkan konsep generasi berikutnya atau pengganti setelah pendahulu.
Ketika akar kata ini ditambah tiga huruf yaitu alif, sin, dan ta’, maknanya bergeser yaitu : menjadikan seseorang sebagai pengganti, atau mengangkat menjadi khalifah, atau menetapkan sebagai penerus setelah orang sebelumnya tiada. Artinya bukan sekadar ada pergantian secara alami, tetapi tindakan aktif menempatkan pihak lain untuk mengambil alih posisi atau amanah.
Kata min ba’di-kum (مِنْ بَعْدِكُمْ) artinya: setelah kalian. Kata maa yasyaa’u (مَا يَشَاءُ) artinya: siapa saja yang Dia kehendaki.
Kata kama (كَمَا) artinya: sebagaimana. Kata ansya’a-kum (أَنْشَأَكُمْ) berasal dari akar (ن ش أ) yang bermakna memunculkan, menumbuhkan, dan mengembangkan. Maksudnya bahwa Allah SWT telah membangkitkan kalian, menumbuhkan kalian menjadi umat dan generasi baru. Kata min dzurriyati (مِنْ ذُرِّيَّةِ) artinya: dari keturunan. Kata qaumin akharin (قَوْمٍ آخَرِينَ) artinya: kaum-kaum yang lain.
Ibnu Katsir menyebut dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[4] bahwa risalah terakhir ditutup dengan Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk istikhlaf setelah Bani Israil menyia-nyiakan amanah kenabian.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani[5] menjelaskan bahwa ayat ini tidak hanya berbicara tentang kehancuran kaum-kaum terdahulu seperti ‘Ad, Tsamud, dan umat Nuh, tetapi juga dapat dipahami sebagai sindiran halus terhadap Bani Israil pada masa Rasulullah SAW. Mereka dahulu adalah pembawa kitab, namun ketika mereka kufur terhadap risalah Nabi Muhammad SAW, Allah memilih umat yang lain, yaitu bangsa Arab sebagai pewaris terakhir risalah.
Asy-Syaukani menyebut dalam tafsir Fath Al-Qadir[6] bahwa ayat ini jelas menunjukkan perpindahan hak kenabian dan kepemimpinan agama dari Bani Israil kepada umat Muhammad SAW yang notabene adalah bangsa Arab.