Ayat ke-23 dari Surat Al-An’am ini secara redaksi agak sulit dipahami secara sambil lalu, karena struktur bahasanya padat dan penuh makna. Maka kita harus tahu terlebih dahulu konteks dan latar belakang pesan yang mau Allah SWT sampaikan.
Ayat ini mengabarkan kejadian yang akan dialami oleh orang-orang musyrik ketika nanti setelah kiamat, mereka akan dibangkitkan dan dihadapkan ke hadapan Allah. Rupanya nanti mereka berusaha mengelak dan membela diri, dengan sumpah palsu :
“Demi Allah, kami tidak pernah mempersekutukan Engkau, ya Tuhan kami!”
Padahal Allah Maha Mengetahui, dan seluruh amal mereka selama di dunia sudah dicatat dan akan ditampakkan pada hari itu. Ini menunjukkan kedustaan dan rasa malu mereka yang sangat besar, sampai-sampai mereka mengingkari dosa syirik yang nyata-nyata pernah mereka lakukan.
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Kata ini berfungsi untuk menunjukkan kelanjutan dari peristiwa sebelumnya, yakni hari kiamat ketika orang-orang musyrik dikumpulkan di hadapan Allah.
Kata lam takun (لَمْ تَكُنْ) artinya : tidak ada. Kata fitnatuhum (فِتْنَتُهُمْ) diterjemahkan secara berbeda-beda. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : ”jawaban atas kebohongan mereka”. Sedangkan Buya HAMKA nampak memilih untuk tidak menerjemahkan kata fitnah ini sehingga dalam terjemah Beliau tuliskan aslinya secara apa adanya.
Adapun Prof. Quraish Shihab meski tetap menggunakan kata fitnah secara apa adanya, namun Beliau langsung menuliskan maknanya pada terjemahan : (ucapan dan jawaban yang tidak berdasar).
Kata fitnah dalam Al-Quran punya begitu banyak aneka ragam makna. Ar-Raghib Al-Ashfahani mengataan asal katanya dari al-fatan (الفتن) yaitu memasukkan emas ke dalam api untuk mengetahui kualitasnya, baik atau buruk. Kemudian kata tersebut digunakan dalam berbagai makna lain seperti: azab, ujian, bencana, musibah, kekufuran, dosa, kesesatan, dan alasan pembelaan atau al-ma‘dzirah.
Untuk koneks ayat ini nampaknya lebih tepat dimaknai sebagai pembelaan, makanya diterjemahkan sebagai jawaban untuk membela diri di hadapan Allah.
Di luar makna ini kata fitnah punya banyak makna, Penuliskan sebutkan sebagiannya saja dalam format tabel :
|
1. Ujian
|
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
|
Al-Anbiyā’ : 35
|
|
2. Siksaan
|
مِن بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ
|
An-Naḥl : 110
|
|
3. Syirik
|
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ
|
Al-Baqarah : 191
|
|
4. Azab
|
ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَٰذَا الَّذِي كُنتُم بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ
|
Adh-Dhāriyāt : 14
|
|
5. Godaan
|
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
|
At-Taghābun : 15
|
|
6. Kekacauan
|
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ
|
Al-Baqarah : 193
|
|
7. Alasan Palsu
|
ثُمَّ لَمْ تَكُن فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَن قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا
|
Al-An‘ām : 23
|
|
8. Kemurtadan
|
فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ
|
Al-‘Ankabūt : 10
|
|
9. Bisikan Setan
|
نُّفْسِدَ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيدُ فِتْنَةً وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
|
(Makna kiasan)
|
Daftar ini masih sebagian saja dari beragam makna kata ‘fitnah’ yang ada dalam Al-Quran.
Kata illaa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata an qaaluu (أَنْ قَالُوا) artinya : bahwa mereka berkata.
Tidak ada satupun yang bisa mereka jawab kenapa mereka melakukan itu, kecuali malah tidak mengakui kalau diri mereka telah berbuat syirik. Inilah satu-satunya hal yang mereka bisa katakan sebagai pembelaan.
Kata wallaahi (وَاللَّهِ) artinya : demi Allah. Kata rabbinaa (رَبِّنَا) artinya : Tuhan kami. Kata maa kunnaa (مَا كُنَّا) artinya : tidaklah kami pernah. Kata musyrikiin (مُشْرِكِينَ) artinya : mempersekutukan Allah.
Mereka bersumpah dusta, mengingkari bahwa mereka pernah menyekutukan Allah, padahal itu jelas-jelas dilakukan selama hidup mereka.
Memang pesan dalam ayat ini sedikit agak janggal dan sukar dipahami. Sebab bagaimana mungkin mereka berdusta di akhirat dengan mengingkari kemusyrikan, padahal dusta itu tidak mungkin terjadi dari mereka di akhirat.
Ada sebagian kalangan yang berasumsi bahwa maksud ucapan mereka itu karena mereka tidak paham bahwa peribadatan kepada patung dan berhala itu pada dasarnya perbuatan terlarang karena telah menyekutukan Allah SWT.
Makanya mereka sampai bersumpah karena tidak merasa telah menyekutukan Allah. “Demi Allah, kami tidak pernah mempersekutukan Engkau, ya Tuhan kami!”. Salah satu yang punya pendapat seperti ini adalah Quthrub, walaupun menurut hemat Penulis, pendapat ini masih bisa dikritisi dari sisi yang lain.
Kebanyakan ulama memandang bahwa orang-orang musyrik itu pastinya sudah tahu semua kesalahan mereka ketika menyembah berhala itu salah, keliru dan batil. Hanya saja mereka itu keras kepala, istilahnya ’tambeng’, sudah diberitahu tapi tetap ’ngeyel’, tidak mau diberi peringatan dan memang percuma saja diberi peringatan.
Lalu bahwa mereka bersumpah tidak menyekutukan Allah ketika sudah di akhirat, itu seratus persen adalah upaya mereka biar tidak disiksa. Upaya yang sudah pasti sia-sia. Sebab semua rekam jejak mereka akan jadi barang bukti tak terbantahkan.
Asumsinya kenapa mereka keras kepala tidak mau mengakui kesalahan mereka sewaktu di dunia, ini merupakan sebuah pengibaratan bahwa jangankan di dunia, bahkan nanti di akhirat sekalipun, mereka tidak tidak mengakui kalau mereka telah menyekutukan Allah.
Az-Zajjaj menjelaskan bahwa ayat ini perlu dipahami dengan bahasa Arab yang dalam, karena tidak akan bisa dimengerti kecuali oleh orang yang tahu bagaimana cara orang Arab menyusun makna. Menurutnya bahwa orang-orang musyrik itu dulunya amat tergila-gila dengan kemusyrikan mereka. Mereka mencintai sesembahan-sesembahan mereka dan fanatik terhadapnya.
Tapi di akhirat, ketika mereka melihat akibat dari syirik itu, mereka justru berlepas diri dan bersumpah bahwa mereka bukan orang musyrik. Maka Allah menyebut bahwa fitnah mereka tidak lain hanyalah ketika mereka akhirnya berlepas diri dari syirik itu. Artinya akhir dari keterfitnahan mereka justru berujung pada penyangkalan dan penolakan terhadap syirik.
Az-Zajjaj membuat perumpamaan seperti seseorang yang sangat cinta kepada orang yang buruk perangainya. Tapi setelah kena masalah, segera berlepas diri. Lalu orang-orang berkata padanya: “Cintamu kepada si Fulan itu ternyata cuma sebatas akhirnya kamu tinggalkan dia juga, kan?”
Tapi ungkapan dalam ayat itu disusun dengan gaya lugas Arab, di mana ada kata yang sengaja dihilangkan, yang dalam ilmu balaghah disebut hadzful-mudhaf. Seharusnya berbunyi : Tidaklah ada akibat dari keterfitnahan mereka selain berlepas diri. Seolah Allah menyindir: "Fitnah kalian terhadap syirik itu pada akhirnya cuma berujung pada pengingkaran juga, kan?"