Kemenag RI 2019:(Ingatlah) tatkala Kami kumpulkan mereka semua kemudian Kami berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan Kami, “Manakah sekutu-sekutumu yang kamu sangkakan?” Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah kebohongan mereka terhadap Allah swt. di dunia ini) pada hari (ketika) Kami mengumpulkan mereka semua, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang menyekutukan (Allah swt.): "Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu anggap (sekutu-sekutu Kami)?" Prof. HAMKA:Dan pada hari Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan, "Di manakah sekutu-sekutu kamu yang dahulunya kamu duga?"
Ayat ke-22 dari surat Al-An’am ini sangat erat terkait dengan ayat sebelumnya, yang menegaskan bahwa orang yang zhalim itu tidak beruntung. Lalu macam apa ketidak-beruntungannya, maka kemudian Allah SWT memvisualisasikan secara nyata bagaimana wujud vonis tersebut nanti di Hari Kiamat.
Disini Allah menyebut peristiwa pengumpulan seluruh manusia pada hari kiamat, dimana tidak ada satu pun manusia yang akan luput dari hari perhitungan, termasuk mereka yang dahulu berbuat kebohongan atas nama Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya.
Lalu fokus pembicaraan diarahkan secara khusus kepada kaum musyrikin, dengan pertanyaan yang mengguncang: “Di manakah sekutu-sekutu kalian yang dahulu kalian sangka (sebagai tandingan Allah)?” .
Pertanyaan ini bukan bertujuan untuk mendapatkan jawaban informatif, melainkan untuk membuka aib, mempermalukan, dan menunjukkan betapa kosongnya keyakinan mereka.
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا
Kata wa yauma (وَيَوْمَ) artinya : dan (ingatlah) hari. Kata nahsyuruhum (نَحْشُرُهُمْ) artinya : Kami kumpulkan mereka. Kata jamii‘an (جَمِيعًا) artinya : semuanya.
Para ulama sepakat bahwa ungkapan bahwa Allah SWT akan mengumpulkan mereka semua nanti pada hari kiamat, sebenarnya kejadiannya bukan pada saat alam semesta dihancurkan. Pada saat yang disebut dengan istilah kiamat kubra, mereka tidak dikumpulkan, tetapi malah disiksa dan keadaan mereka berlarian kocar-kacir kesana kemari, sebagaimana dikisahkan dalam ayat lain :
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran. (QS. Al-Qari’ah : 4)
Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya,dari istri dan anak-anaknya. (QS. Abasa : 34-36)
Semua ini menunjukkan bahwa saat kiamat pertama kali terjadi, suasananya penuh kekacauan dan ketakutan.
Peristiwa pengumpulan semua manusia itu terjadinya pasca kiamat, yaitu setelah alam semesta hancur dan semua makhluk dicabut nyawanya. Kemudian entah berapa lama, barulah kemudian Allah SWT menghidupkan semua manusia dari sejak manusia pertama hingga pada saat kiamat terjadi. Pada saat itulah mereka dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk dimintai pertanggung-jawaban.
Maka sesungguhnya itu hanya satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka hidup kembali di permukaan bumi. (QS. An-Nāzi‘āt : 13–14)
ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا
Kata aina (أَيْنَ) artinya : di mana. Kata syurakaa-ukum (شُرَكَاؤُكُمُ) artinya : sekutu-sekutu kalian. Maksudnya adalah tuhan-tuhan sembahan selain Allah yang mereka jadikan tandingan dan tempat bergantung, baik itu berupa patung, berhala, jin, atau orang saleh yang sudah wafat.
Kata alladziina (الَّذِينَ) artinya : yang. Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya : dahulu kalian. Kata taz‘umuun (تَزْعُمُونَ) artinya : menyangka, mengira, atau mengklaim. Maksudnya yang dahulu kalian klaim atau kalian sangka sebagai sekutu-sekutu Allah.
Penggalan ini menggambarkan peristiwa Hari Kiamat, dimana Allah akan menghardik atau menginterogasi orang-orang musyrik atas kesyirikan mereka, yang akan dilanjutkan dengan pertanyaan tajam: “Di mana sekutu-sekutumu itu?”
Apa yang diceritakan disini sebenarnya juga diceritakan pada ayat lain :
Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?" Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka; "Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami". (QS. Al-Qashash : 62-63)
Dikatakan (kepada mereka) "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu", lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka, dan mereka melihat azab. (Mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash : 64-66)
Dalam konteks ayat ini, Allah SWT mencela orang-orang musyrik yang di dunia dahulu menganggap bahwa sembahan-sembahan mereka bisa memberi syafa’at atau menolong mereka, padahal pada hari kiamat semuanya terbukti tidak berdaya.
Kata aina (أَيْنَ) artinya : di mana. Kata syurakaa-ukum (شُرَكَاؤُكُمُ) artinya : sekutu-sekutu kalian. Maksudnya adalah tuhan-tuhan sembahan selain Allah yang mereka jadikan tandingan dan tempat bergantung, baik itu berupa patung, berhala, jin, atau orang saleh yang sudah wafat.
Kata alladziina (الَّذِينَ) artinya : yang. Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya : dahulu kalian. Kata taz‘umuun (تَزْعُمُونَ) artinya : menyangka, mengira, atau mengklaim. Maksudnya yang dahulu kalian klaim atau kalian sangka sebagai sekutu-sekutu Allah.
Penggalan ini menggambarkan peristiwa Hari Kiamat, dimana Allah akan menghardik atau menginterogasi orang-orang musyrik atas kesyirikan mereka, yang akan dilanjutkan dengan pertanyaan tajam: “Di mana sekutu-sekutumu itu?”
Apa yang diceritakan disini sebenarnya juga diceritakan pada ayat lain :
Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dahulu kamu katakan?" Berkatalah orang-orang yang telah tetap hukuman atas mereka; "Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami". (QS. Al-Qashash : 62-63)
Dikatakan (kepada mereka) "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu", lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka, dan mereka melihat azab. (Mereka ketika itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash : 64-66)
Dalam konteks ayat ini, Allah SWT mencela orang-orang musyrik yang di dunia dahulu menganggap bahwa sembahan-sembahan mereka bisa memberi syafa’at atau menolong mereka, padahal pada hari kiamat semuanya terbukti tidak berdaya.