Kata wa kadzalika (وَكَذَٰلِكَ) artinya : dan demikianlah. Kata nuri (نُرِي) artinya : Kami perlihatkan. Kata ibrahima (إِبْرَاهِيمَ) artinya : Ibrahim.
Peristiwa ini dikisahkan ketika Nabi Ibrahim berdiri di atas sebuah batu, lalu Allah membukakan pandangannya sehingga ia bisa melihat langit dan bumi, bahkan sampai ke Arasy yang tinggi dan lapisan bumi yang paling bawah. Ia juga diperlihatkan tempat tinggalnya kelak di surga.
Diberi karunia penglihatan seperti itu bukan sekadar bisa melihat pemandangan indah, melainkan menjadi sebuah pelajaran besar, agar dapat melihat dengan mata hatinya, bahwa semua makhluk ini, yaitu bintang, bulan, matahari, gunung, pepohonan, hingga lautan, semuanya hanyalah ciptaan yang tunduk kepada perintah Allah. Tidak ada satupun yang pantas disembah.
Dari pengalaman inilah Ibrahim mendapatkan keyakinan yang sempurna. Dengan bekal itu, Beliau berdiri di hadapan kaumnya, berdebat dengan hujjah yang sangat kuat. Beliau bisa menunjukkan bahwa apa yang mereka sembah hanyalah makhluk yang bisa hilang dan tenggelam, sedangkan Tuhan yang sejati adalah Allah Yang Maha Kekal dan tidak pernah sirna.
Kata malakuta (مَلَكُوتَ) artinya : kerajaan atau kekuasaan Allah. Bentuk kata ini dibuat lebih agung, mirip dengan istilah seperti jabarut (جبروت) yang berarti keperkasaan, atau rahmut (رحموت) yang berarti kasih sayang yang sangat luas.
Kata as-samawati (السَّمَاوَاتِ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu as-sama’ (السَّمَاء) yang artinya : banyak langit. Kata wal-ardh (وَالْأَرْضِ) artinya : dan bumi.
Al-Baghawi dalam tafsir Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Quran[1] mengutip pandangan Ibnu Abbas yang menegaskan bahwa malakut as-samawati wal-ardhi (مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) maksudnya adalah seluruh ciptaan langit dan bumi. Sedangkan menurut Mujahid dan Sa‘id bin Jubair, yang dimaksud adalah tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan bumi.
Sedangkan menurut Qatadah, yang dimaksud dengan kerajaan langit adalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Adapun kerajaan bumi adalah gunung-gunung, pepohonan, dan lautan.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[2] berhasil mengumpulkan banyak pendapat ulama terkait pengertian istilah malakut as-samawati wal-ardhi (مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) yang dibaginya menjadi lima pendapat yang berbeda.
1. Bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas.
2. Kerajaan langit dan bumi. Para ulama yang berpendapat demikian berbeda menjadi dua sisi. Pertama, Mujahid menyebutkan bahwa al-malakut artinya kerajaan dalam bahasa Nabath. Kedua, Al-Akhfasy menyebutkan bahwa al-malakut adalah kerajaan dalam bahasa Arab.
3. Tanda-tanda (ayat) langit dan bumi. Pendapat ini dikatakan oleh Muqatil.
4. Maksudnya adalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Pendapat ini dikatakan oleh Ad-Dhahhak.
5. Bahwa malakut langit adalah bulan, bintang-bintang, dan matahari, sedangkan malakut bumi adalah gunung-gunung, pepohonan, dan lautan. Pendapat ini dikatakan oleh Qatadah.
Dalam sebuah riwayat dari Salman dari Ali diceritakan bahwa ketika Nabi Ibrahim diperlihatkan kerajaan langit dan bumi, ia melihat seorang laki-laki yang sedang berbuat keji. Ibrahim pun mendoakan kebinasaan atasnya, lalu orang itu benar-benar binasa. Ia kemudian melihat orang lain melakukan hal serupa, lalu berdoa lagi, dan orang itu pun binasa. Setelah melihat orang ketiga, Ibrahim hendak berdoa lagi, namun Allah menegurnya.
Allah berfirman, “Wahai Ibrahim, engkau adalah seorang yang doanya mustajab. Janganlah engkau mendoakan keburukan bagi hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya Aku memperlakukan mereka dengan tiga cara: bisa jadi ia bertobat lalu Aku menerima tobatnya; atau Aku menjadikan darinya keturunan yang akan menyembah-Ku; atau kelak ia dibangkitkan kembali kepada-Ku, lalu jika Aku kehendaki Aku ampuni, dan jika Aku kehendaki Aku hukum.”
Dalam riwayat lain disebutkan, “Atau jika ia berpaling, maka neraka Jahanam menantinya.”
Kata waliyakuna (وَلِيَكُونَ) artinya : dan agar dia menjadi. Kata minal-muqinin (مِنَ الْمُوقِنِينَ) artinya : termasuk orang-orang yang meyakini.
Penggalan akhir yang menjadi penutup ayat ini lumayan menggelitik kita, sebab Allah SWT menjelaskan bahwa tujuan dari diperlihatkannya kerajaan langit dan bumi kepada Nabi Ibrahim adalah agar termasuk dari kalangan orang-orang yang meyakini.
Disinilah kita jadi bertanya-nyata, apakah hal ini disebabkan karena Nabi Ibrahim pada saat itu masih belum benar-benar beriman? Apakah keyakinannya masih bermasalah?
Jawabannya tentu saja tidak, Nabi Ibrahim sudah beriman, bahkan punya keyakinan yang amat kuat. Namun rupanya Allah SWT berkeinginan untuk meninggikan lagi derajat keyakinannya. Mengingat keyakinan itu bertingkat-tingkat dan ada levelnya sendiri-sendiri. Yang paling dasar adalah ‘ilmul-yaqin, yaitu keyakinan yang didasarkan teori dan logika. Di atasnya ada ‘ainul-yaqin, yaitu keyakinan yang didasarkan pada penglihatan secara melihat langsung. Di atasnya lagi ada haqqul-yaqin, yaitu keyakinan yang paling tinggi dari semuanya.
Para ulama menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim sebelumnya sudah berada pada posisi ‘ilmul-yaqin. Namun kemudian Allah SWT berkehendak untuk mengangkatnya satu tingkat di atasnya yaitu ‘ainul-yaqin. Caranya dengan diperlihatkan langsung tanda-tanda kerajaan langit dan bumi, sebagaimana disebutkan dalam penggalan yang jadi penutup ayat ini.