Kemenag RI 2019:Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” ) Prof. Quraish Shihab:Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang, lalu berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bintang itu tenggelam, dia berkata, “Aku tidak suka kepada sesuatu yang tenggelam.” Prof. HAMKA:Maka tatkala telah gelap baginya malam, melihatlah dia akan sebuah bintang. Dia pun berkata, "Inikah Tuhanku?" Maka sesudah bintang itu hilang, dia pun berkata, "Aku tidak suka kepada segala yang hilang."
Nabi Ibrahim kemudian mengkritisi alur logika sesat kaumnya, yang mana sebagian dari mereka ada yang menyembah Planet Venus. Padahal Venus itu tidak selalu nampak menyala. Ada waktunya Venus itu kemudian hilang tak nampak di mata.
Dengan menggunakan permisalan ini, nampaknya Nabi Ibrahim berhasil mempengaruhi sebagian dari kaumnya, sehingga mereka jadi berpikir ulang karena menyadari kebodohannya.
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ
Kata falamma (فَلَمَّا) artinya : maka tatkala. Kata janna (جَنَّ) artinya : menutupi. Kata ‘alaihi (عَلَيْهِ) artinya : atasnya. Kata al-lailu (اللَّيْلُ) artinya : malam.
Kata janna ‘alaihi (جَنَّ عَلَيْهِ) berarti : menutupi. Dalam bahasa Arab, kebun disebut jannah (جَنَّة) karena pepohonannya menutupinya. Makhluk halus yaitu al-jin (الجِن) dinamakan demikian karena mereka tersembunyi dari pandangan mata. Kegilaan disebut junun (جنون) karena menutupi akal. Calon bayi disebut janin (جنين) karena ia tertutup di dalam perut.
Maka ungkapan janna ‘alaihil-lailu (جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ) menarik sekali, yaitu malam menutupi dirinya, menggambarkan suasana ketika siang yang terang telah berlalu, lalu gelap malam datang menyelimuti.
Secara ilmu astronomi modern, kita hari ini mengetahui bahwa bintang itu tidak pernah menghilang di siang hari. Semua ada disana, hanya saja karena siang hari angkasa kita sedemikian terangnya kena cahaya matahari yang teramat menyilaukan atmosfer Bumi, sampai menutupi cahaya bintang-bintang yang jauh lebih redup. Itulah sebabnya pada siang hari mata kita tidak dapat melihat bintang-bintang, kecuali satu saja yang paling dekat dan paling terang: Matahari.
Namun ketika malam tiba, cahaya Matahari tidak lagi mendominasi langit kita. Gelap malam membuat cahaya redup dari benda-benda langit itu tampak kembali. Maka Ibrahim dalam ayat ini, melihat sebuah bintang (كَوْكَبًا), yaitu benda langit bercahaya yang menghiasi angkasa malam.
Secara tidak langsung, ayat ini mengandung isyarat ilmiah. Al-Qur’an tidak berbicara dalam bahasa sains modern, tetapi bahasanya sesuai dengan pengamatan manusia pada zamannya dan tetap relevan sepanjang masa. Jika dulu orang mengira bintang muncul hanya pada malam, kini kita tahu hakikatnya bintang selalu ada, tetapi pandangan manusia terhalang oleh cahaya siang.
رَأَىٰ كَوْكَبًا
Kata ra’a (رَأَىٰ) artinya : ia melihat. Kata kaukaban (كَوْكَبًا) oleh tiga sumber terjemah kita diartikan sebagai sebuah bintang. Padahal bintang itu bukan kaukab (كَوْكَب) melainkan najm (نَجْم). Surat ke-53 dari Al-Quran bernama surat An-Najm yang artinya bintang. Ayatnya berbunyi :
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ
Demi bintang ketika terbenam. (QS. An-Najm : 1)
Yang lebih tepat kaukab itu adalah planet, yaitu benda langit yang beredar mengelilingi sebuah bintang, salah satunya adalah Matahari kita dengan lintasan tertentu yang disebut orbit. Planet memiliki massa cukup besar sehingga gravitasinya membuatnya berbentuk bulat atau hampir bulat, namun planet tidak memancarkan cahaya sendiri. Meski nampak seperti bintang, bahkan nampak lebih terang dari bintang yang lain, planet hanya memantulkan cahaya dari matahari.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] meriwayatkan pendapat Mujahid yang berkata bahwa bintang yang dilihat oleh Nabi Ibrahim itu memang bintang amat amat terang, jauh melebihi terangnya semua bintang yang lain. Orang-orang Arab menyebutnya az-zuhrah (الزُّهْرَة) yang nampak amat sangat terang di langit, terutama menjelang senja. Makanya sering disebut bintang senja atau menjelang fajar sehingga sering juga disebut bintang fajar. Bangsa Indonesia menyebutnya : bintang kejora.
Venus adalah planet yang paling dekat dengan Bumi, bahkan disebut sebagai planet kembaran Bumi karena ukurannya hampir sama. Jarak Venus ke Bumi hanya sekitar 41 juta km. Sebagai perbandingan, planet Mars berjarak sekitar 78 juta km pada posisi terdekat, padahal ukurannya hanya setengah dari Venus. Maka dilihat dari bumi, Mars nampak kecil sekali.
Negeri tempat dimana Nabi Ibrahim dilahirkan dan dibesarkan dikenal sebagai Mesopotamia. Kadang disebut juga Sumeria, Akkadia, Babilonia, atau Asyur. Pada waktu itu merupakan pusat kota dan kerajaan besar, bahkan dikenal sebagai pusat peradaban dan ilmu pengetahuan.
Namun begitu ternyata bangsa ini masih berkubang dalam lumpur kebodohan, justru ketika bicara tentang konsep Ketuhanan. Sebagian dari mereka ada yang menyembah benda-benda langit yang diyakini punya kekuatan tertentu. Mereka menyembah Planet Venus, yang dalam tradisi Sumeria dinamakan sebagai Inanna. Sedangkan dalam tradisi orang Babilonia-Asyur, namanya adalah Ishtar.
Inanna atau Ishtar dalam kedua peradaban itu dikenal sebagai dewi cinta, seksualitas, kesuburan, sekaligus perang. Di Babilonia khususnya, gerakan muncul-hilangnya Venus dijadikan dasar mitologi turunnya Ishtar ke dunia bawah.
Rupanya memang Planet Venus ini punya banyak penggemar di berbagai peradaban. Mereka rata-rata menjadikannya sebagai dewa. Berikut ini sebuah tabel berisikan data peradaban yang menjadikan Planet Venus sebagai sesembahan.
PERADABAN
SEBUTAN
PERAN
PERKIRAAN ZAMAN
Mesopotamia (Sumeria, Akkadia, Babilonia, Asyur)
Inanna / Ishtar
Dewi cinta, seksualitas, kesuburan, perang. Gerakan Venus dijadikan dasar mitologi turunnya Ishtar ke dunia bawah.
Dewi kesuburan, cinta, peperangan. Disebut sebagai “Ratu Surga” dalam Alkitab.
±1500–300 SM
Yunani Kuno
Aphrodite
Dewi cinta dan kecantikan. Diidentifikasi dengan bintang fajar/senja.
±800 SM – 300 M
Romawi Kuno
Venus
Dewi cinta, keindahan, kesuburan. Sangat dipuja; Julius Caesar mengklaim keturunan Venus.
±500 SM – 400 M
Bangsa Maya (Mesoamerika)
Kukulcan / Quetzalcoatl (terkait Venus)
Dewa ular berbulu. Peredaran Venus dipakai menentukan waktu pengorbanan manusia.
±2000 SM – 1500 M
Aztec (Meksiko Kuno)
Tlahuizcalpantecuhtli (“Penguasa Fajar”)
Dewa fajar yang ditakuti; kemunculan Venus sering dianggap tanda malapetaka.
±1300 – 1521 M
Bangsa Inka (Andes, Amerika Selatan)
Chasca / Chaska Qoyllur
Dewi bintang fajar & senja. Dikaitkan dengan keindahan, cinta, pelindung perawan.
±1200 – 1533 M
India Kuno (Veda)
Shukra
Dewa cinta, kesuburan, seni, kenikmatan; guru bagi para Asura.
Tradisi Veda sejak ±1500 SM, berlanjut dalam Hindu klasik
Bangsa Arab Pra-Islam
al-Zuhara
Dihubungkan dengan dewi kecantikan. Ada kultus penyembahan bersama Syams (Matahari) dan Qamar (Bulan).
±500 SM – abad ke-6 M
قَالَ هَٰذَا رَبِّي
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata, maksudnya Nabi Ibrahim berpura-pura dan memerankan seolah dia menjadi bagian kaumnya yang menyembah Planet Venus. Kata hadza (هَٰذَا) artinya : ini, maksudnya Planet Venus yang nampak terang benderang menggantung sendirian di atas langit luas. Kata rabbi (رَبِّي) artinya : Tuhanku.
Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang ucapan Nabi Ibrahim ketika menyebut bintang, bulan, dan matahari sebagai “Tuhannya”. Sebagian ulama memahami itu secara lahiriah. Mereka mengatakan bahwa pada waktu itu Ibrahim masih dalam tahap mencari kebenaran, sedang berusaha menemukan jalan menuju tauhid.
Hingga akhirnya Allah memberikan petunjuk kepadanya dan meneguhkan hatinya, sehingga apa yang ia ucapkan sebelumnya tidak merugikan dirinya karena masih dalam proses pencarian. Lagi pula, peristiwa itu terjadi pada masa kecilnya, sebelum adanya kewajiban dan hujjah yang jelas, sehingga tidak dianggap sebagai kekafiran.
Namun, sebagian ulama lain menolak pendapat tersebut. Mereka berpendapat tidak mungkin ada seorang rasul Allah yang pada satu waktu tidak mengenal tauhid. Seorang rasul sejak awal sudah pasti mengenal Allah, mentauhidkan-Nya, serta berlepas diri dari semua sesembahan selain-Nya. Bagaimana mungkin kita berprasangka bahwa seorang nabi yang Allah telah jaga, sucikan, dan anugerahi petunjuk sejak awal justru sempat menyekutukan-Nya? Bukankah Allah sendiri menyatakan tentang Ibrahim:
إذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang bersih” (As-Saffat: 84).
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi”.
Maka tidak masuk akal jika dikatakan bahwa Ibrahim diperlihatkan kerajaan langit dan bumi untuk meyakinkan dirinya, lalu setelah itu ia malah melihat sebuah bintang dan menganggapnya sebagai Tuhan dengan keyakinan sungguh-sungguh. Hal itu sama sekali mustahil terjadi.
Para ahli tafsir kemudian menjelaskan bahwa ucapan Nabi Ibrahim ketika berkata tentang bintang, bulan, dan matahari sebagai tuhan, memiliki beberapa penafsiran.
1. Penafsiran Pertama
Nabi Ibrahim bermaksud untuk menarik kaumnya secara perlahan melalui ucapannya itu, agar mereka sadar akan kesalahan dan kebodohan mereka dalam mengagungkan benda-benda langit.
Kaumnya saat itu sangat memuliakan bintang-bintang, bahkan menyembahnya, dan meyakini bahwa segala urusan berada di tangan bintang-bintang itu. Karena itu Ibrahim menampakkan diri seolah-olah ia juga mengagungkan apa yang mereka agungkan dan mencari petunjuk dari jalan yang mereka tempuh.
Namun, ketika bintang itu terbenam, ia menunjukkan kelemahan yang ada pada bintang-bintang itu, untuk membuktikan bahwa kepercayaan mereka adalah keliru.
Kisah ini diibaratkan seperti seorang hawari yaitu pengikut setia para nabi yang mendatangi suatu kaum penyembah berhala. Ia pura-pura memuliakan berhala itu, sehingga kaumnya menghormatinya dan menjadikan pendapatnya sebagai rujukan dalam banyak hal. Hingga suatu hari, musuh menyerang mereka, lalu mereka meminta pendapatnya.
Ia berkata, “Pendapatku, mari kita berdoa kepada berhala ini agar menolong kita.”
Mereka pun berkumpul dan merendahkan diri di hadapan berhala itu. Namun, ketika jelas bagi mereka bahwa berhala itu tidak mampu menolong atau menolak bahaya, hawari itu lalu mengajak mereka untuk berdoa kepada Allah. Mereka pun berdoa kepada Allah, dan Allah menyelamatkan mereka dari musuh yang mereka takutkan. Akhirnya mereka masuk Islam. Demikianlah strategi Nabi Ibrahim dalam menghadapi kaumnya.
2. Penafsiran Kedua
Ucapan Nabi Ibrahim itu sebenarnya berbentuk pertanyaan. Maksudnya bukan pernyataan, tetapi seolah berkata: “Apakah ini Tuhanku?” Contohnya seperti firman Allah:
أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
Maka apakah jika engkau mati, mereka itu kekal? (QS. Al-Anbiya: 34).
Jadi Ibrahim berkata demikian dalam rangka menegur dan menyalahkan kaumnya, seakan-akan menyindir: “Apakah seperti ini pantas menjadi Tuhan? Tentu bukan, ini bukan Tuhanku.”
3. Penafsiran Ketiga
Ucapannya dimaksudkan sebagai bentuk hujjah atau bantahan kepada mereka. Seakan ia berkata, “Inilah Tuhan menurut anggapan kalian.”
Namun ketika bintang itu terbenam, Ibrahim menunjukkan kelemahannya dengan berkata, “Kalau benar ini Tuhan, tentu ia tidak akan lenyap.” Seperti firman Allah kepada penghuni neraka:
ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ
Rasakanlah, sesungguhnya engkaulah yang perkasa lagi mulia” (QS. Ad-Dukhan: 49)
Maksud ungkapan : ’engkau yang perkasa’ disini adalah menurut anggapanmu sendiri. Juga seperti ucapan Nabi Musa ketika menegur kaumnya:
“Lihatlah Tuhanmu yang selalu engkau sembah, sungguh kami akan membakarnya” (QS. Thaha: 97)
Yang dimaksud adalah Tuhanmu menurut persangkaanmu sendiri
4. Penafsiran Keempat
Dalam ucapan itu ada kata-kata Nabi Ibrahim yang mahdzuf, yaitu kata yaquluna (يَقُولُونَ) yang berarti : mereka orang kafir berkata. sehingga maknanya adalah:
قَالَ (يَقُولُونَ( هَٰذَا رَبِّي
“Ibrahim berkata bahwa mereka berkata, ini Tuhanku.”
Sebagaimana dalam ayat lain terkait pendirian Ka’bah oleh Nabi Ibrahim.
Dan ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, (mereka berkata) Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. (QS. Al-Baqarah: 127).
Maksudnya bukan Ibrahim dan Ismail menyebut nama Tuhan tanpa kata pengantar, tetapi sebenarnya “mereka berkata: Ya Tuhan kami, terimalah dari kami.” Begitu pula ucapan Ibrahim tentang bintang, bulan, dan matahari; maksudnya adalah menukil ucapan kaumnya, bukan keyakinan pribadinya.
فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Kata falamma (فَلَمَّا) artinya : maka tatkala. Kata afala (أَفَلَ) diterjemahkan berbeda-beda. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : terbenam. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : tenggelam. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya jadi : hilang.
Kalau mengacu kepada istilah bahasa, kata afala (أَفَلَ) memberi kesan pada sesuatu yang sirna atau lenyap dari pandangan mata. Bisa berlaku pada bintang, bulan, matahari, bahkan apa saja yang awalnya nampak jelas di mata kemudian lalu lenyap dari pandangan mata.
Sedangkan terbenam sendiri berbeda konteksnya. Dalam bahasa Arab terbenam itu biasa disebut dengan kata gharaba (غَرَبَ). Kata ini mengandung makna arah Barat, karena fenomena terbenam itu ketika matahari bergerak ke Barat lalu tenggelam di balik horizon. Jadi terbenam itu fenomena astronomis matahari atau bulan yang tenggelam di ufuk barat. Jadi, nuansanya lebih geografis dan arahannya jelas: ke barat.
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata. Kata laa (لَا) artinya : tidak. Kata uhibbu (أُحِبُّ) artinya : aku suka. Kata al-afilin (الْآفِلِينَ) artinya : segala yang menghilang dari pandangan mata.
Fenomena hilangnya penampakan benda langit, yaitu dalam hal ini planet Venus bukan disebabkan dia menghilang di balik horizon, melainkan karena cahaya Matahari yang mulai menerangi langit pagi atau senja sehingga Venus tertutupi oleh kecerahan langit.
Dengan kata lain, Venus sebenarnya masih ada di langit, tetapi tidak lagi terlihat oleh mata manusia karena kontrasnya dengan cahaya siang atau senja. Inilah yang dimaksud dalam ayat: benda itu afala (أَفَلَ) alias menghilang dari pandangan, bukan lenyap secara fisik.