Kata faliq (فَالِقُ) artinya : yang membelah. Kata al-ishbah (الْإِصْبَاحِ) artinya : waktu subuh atau fajar. Kata al-ishbah (الإِصْبَاحِ) menunjuk kepada fenomena alam, yaitu saat fajar mulai membelah kegelapan malam. Agak sedikit beda konteks dengan istilah shubuh (الصُبْح) yang menunjukkan waktu, yaitu dimana terjadinya ishbah. Dengan kata lain, ishbah menunjukkan kejadian alam, sementara shubuh menunjukkan waktu shalat.
Jika kita hubungkan dengan ayat sebelumnya yaitu Allah SWT Allah yang membelah butiran tanaman dan biji buah (إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ), kemudian di ayat ini Allah SWT Allah juga membelah fajar (فَالِقُ الْإِصْبَاح), maka kedua ayat ini saling berhubungan erat pada kata faliq (فَالِقُ) yaitu membelah.
Kata ’membelah’ ini menghadirkan gambar malam yang gelap itu seolah-olah tersobek, terbelah, dan cahaya fajar menembus gelap. Atau seolah-olah ada pisau cahaya Allah yang membelah kegelapan.
Dalam ungkapan bahasa Indonesia, kita menggunakan ungkapan : merekah, yaitu fajar yang merekah. Sedangkan dalam bahasa Inggris, ada ungkapan : morning has broken.
Kata wa (وَ) merupakan harfu a’thf yang menghubungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya, menunjukkan kesinambungan kuasa Allah. artinya : dan
Kata ja’ala (جَعَلَ) artinya : menjadikan. Kata al-laila (اللَّيْلَ) artinya : malam. Kata sakanan (سَكَنًا) artinya : waktu tenang atau istirahat.
Ketika disebut bahwa Allah SWT menjadikan malam, sebenarnya bukan dalam artian mengadakan malam dari yang tidak ada menjadi ada. Pengertian dari kata ja’ala (جَعَلَ) adalah memfungsikan atau menjadikan sesuatu berfungsi sesuai tujuan.
Memang sebenarnya Allah tidak menciptakan malam dari ketiadaan, karena yang namanya malam itu sendiri justru merupakan bagian dari pergantian siang-malam yang sudah menjadi fenomena alam. Disini ayatnya menjelaskan bahwa Allah memfungsikan malam sebagai waktu tenang atau istirahat bagi makhluk hidup.
Di masa modern ketika umat manusia sudah banyak mengenal lebih jauh ilmu pengetahuan, terkuak juga hikmah di balik apa yang Allah SWT utarakan di ayat ini. Secara ilmiah dan kesehatan mengapa aktivitas lebih baik dilakukan pada siang hari dibanding malam hari, antara lain karena ada hal-hal berikut ini.
1. Ritme Sirkadian
Tubuh manusia memiliki jam biologis internal yang disebut ritme sirkadian, kira-kira 24 jam. Ritme ini mengatur tidur, bangun, metabolisme, hormon, dan suhu tubuh. Pada siang hari, tubuh dalam fase aktif, hormon seperti kortisol meningkat, meningkatkan kewaspadaan, energi, dan kemampuan kognitif.
Sedangkan pada malam hari, tubuh memasuki fase istirahat, hormon melatonin meningkat, menurunkan suhu tubuh dan membuat tubuh siap tidur.
2. Fungsi otak
Dari sisi kognitif, berbagai aktifitas seperti belajar, bekerja, konsentrasi terbukti paling optimal pada siang hari. Sedangkan pada malam hari otak akan lebih lambat memproses informasi, sulit fokus, dan reaksi tubuh melambat.
Selain itu aktivitas di malam juga meningkatkan risiko kelelahan mental, stres, dan gangguan memori.
3. Metabolisme Dan Pencernaan
Sistem pencernaan bekerja lebih efisien saat siang karena metabolisme tubuh tinggi. Aktivitas makan dan olahraga malam metabolisme menurun, meningkatkan risiko gangguan pencernaan, obesitas, dan kadar gula tidak stabil.
4. Kesehatan Jantung Dan Sirkulasi
Denyut jantung, tekanan darah, dan aliran darah paling stabil siang hari, mendukung aktivitas fisik. Pada aktivitas malam sistem kardiovaskular bekerja saat seharusnya beristirahat akan lebih berisiko hipertensi atau gangguan jantung meningkat.
Oleh karena itu semua orang sepakat bahwa begadang di malam hari pada dasarnya tidak sehat, karena bertentangan dengan ritme alami tubuh yang Allah tetapkan. Hal itu karena secara ilmiah hormon tubuh terganggu, produksi melatonin sebagai hormon tidur dan kortisol sebagai hormon energi ikut menjadi tidak seimbang.
Orang yang sering begadang akan merasakan bahwa sistem imun pada dirinya akan jauh menurun. Hal itu karena tubuh tidak punya waktu cukup untuk memperbaiki sel-sel yang rusak saat malam. Selain itu juga ada risiko penyakit meningkat seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, dan gangguan jantung. Tubuh akan mengalami apa yang disebut dengan ’kelelahan kronis, dimana tubuh terasa letih terus-menerus walau tidur di siang hari, karena tidur siang tidak menggantikan kualitas tidur malam.
Jadi begadang itu sama saja melawan sistem alami ciptaan Allah, yang menjadikan malam untuk sakanan yaitu untuk ketenangan dan istirahat. Sedangkan siang memang untuk aktivitas dan kehidupan.
Ironi Kebiasaan Negeri Arab
Membaca ayat ini mengingatkan kita pada fenomena sosial yang menarik sekaligus ironis bila dilihat dari sudut pandang Al-Qur’an, sunnah, dan ilmu kesehatan.
Di banyak negara Arab, terutama di kawasan Teluk, aktivitas malam hari justru lebih ramai dibanding siang. Pusat-pusat perbelanjaan, restoran, dan bahkan pertemuan sosial sering baru hidup setelah Isya’ hingga larut malam. Sementara siang hari menjadi waktu tidur, terutama karena suhu udara siang yang sangat panas.
Bahkan kegiatan ibadah umrah yang terdiri dari thawaf dan sa’i, umumnya rata-rata dikerjakan di malam hari. Entah kenapa, tetapi rata-rata travel haji umrah jika bikin itenerari punya kebiasaan menyelenggarakannya di malam hari, khususnya umrah yang dilakukan pas awal kedatangan. Thawaf tujuh kali putaran ditambah sa’i juga tujuh putaran itu dimulai jauh selepas shalat Isya dan baru akan selesai menjelang terbit fajar shubuh. Entah apa yang menyebabkan kebiasaan semacam ini.
Jika memang alasannya untuk menghindari panas matahari siang, bukankah waktu setelah Subuh atau setelah Ashar justru jauh lebih ideal. Selepas Subuh udara masih segar, oksigen melimpah, dan tubuh baru saja beristirahat semalaman sehingga lebih siap untuk beraktivitas fisik. Demikian juga setelah Ashar, suhu udara mulai turun dan cahaya matahari tidak lagi menyengat, sehingga juga sangat nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan.
Namun kenyataannya, banyak orang di wilayah Arab lebih memilih malam hari karena sudah menjadi kebiasaan sosial dan budaya. Rupanya gaya hidup modern, cahaya lampu kota yang terang benderang, serta jam buka pusat perbelanjaan yang panjang nampaknya turut memperkuat kebiasaan begadang ini. Padahal Nabi SAW sendiri sejak 1400-an tahun yang lalu sudah punya kebiasaan yang amat sehat, sebagaimana tertuang dalam hadits shahih berikut ini.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ e لَا يَنَامُ قَبْلَ العِشَاءِ وَلَا يَتَحَدَّثُ بَعْدَهَا.
Rasulullah tidak menyukai tidur sebelum Isya’ dan berbincang-bincang setelahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)