Kata tilka (تِلْكَ) adalah isim isyarah yang berarti : itu, umumnya digunakan untuk sesuatu yang jauh. Penggunaan kata ini memberi kesan bahwa negeri-negeri yang dimaksud adalah umat-umat terdahulu yang telah berlalu dan tidak lagi ada di hadapan manusia sekarang. Namun meskipun secara waktu mereka jauh, kisah mereka justru dihadirkan kembali agar menjadi pelajaran.
Kata al-qura (الْقُرَىٰ) berarti negeri-negeri atau perkampungan. Yang dimaksud bukan hanya satu tempat, tetapi banyak negeri yang memiliki kisah serupa: mereka didatangi para rasul, menolak, lalu dibinasakan.
Fakruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tilkal-qura (تِلْكَ الْقُرَىٰ) alias ’negeri-negeri itu’ adalah negeri dari lima kaum yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu kaum Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib. Allah menceritakan sebagian berita tentang mereka, yaitu bagaimana mereka dibinasakan.
Jika kita telurusi kembali ayat-ayat yang sudah kita lewati khusus hanya dalam surat Al-A’raf ini saja, maka sudah ada beberapa yang Allah SWT ceritakan, yaitu :
1. Kaum Nabi Nuh (Ayat 59–64)
Dakwah dilakukan dengan penuh kesabaran, namun kaum tetap mendustakan. Akhirnya dibinasakan dengan banjir besar
2. Kaum ‘Ad – Umat Nabi Hud (Ayat 65–72)
Mereka dikenal sebagai bangsa yang kuat dan maju, namun bersikap sombong dan menolak kebenaran. Akhirnya mereka dihancurkan oleh azab yang memusnahkan mereka
3. Kaum Tsamud – Umat Nabi Shalih (Ayat 73–79)
Mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam membangun dan memahat gunung. Namun mendustakan mukjizat unta dan akhirnya dibinasakan
4. Kaum Nabi Luth (Ayat 80–84)
Mereka mengalami kerusakan moral yang sangat parah, selain juga menolak peringatan nabi mereka. Maka mereka dihancurkan dengan azab yang keras
5. Penduduk Madyan – Umat Nabi Syu’aib (Ayat 85–93)
Mereka terkenal dengan kecurangan dalam muamalah selain juga mengabaikan dakwah Nabi Syu’aib. Akhirnya ditimpa kebinasaan.
Adapun kisah kaum-kaum selain mereka tidak diceritakan. Allah secara khusus menyebutkan berita tentang negeri-negeri ini karena mereka tertipu oleh lamanya penangguhan azab dan banyaknya nikmat yang mereka terima, sehingga mereka menyangka bahwa mereka berada di atas kebenaran.
Maka Allah menyebutkan kisah mereka sebagai peringatan bagi kaum Nabi Muhammad SAW agar berhati-hati dan tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan seperti itu.
Kata naqushshu (نَقُصُّ) berasal dari akar kata (ق ص ص) yang berarti menceritakan secara runtut. Kata ‘alaika (عَلَيْكَ) berarti kepadamu, yaitu kepada Nabi SAW.
Kata min anba’iha (مِنْ أَنْبَائِهَا) berarti sebagian dari berita-beritanya. Kata anba’ (أَنْبَاء) berasal dari akar kata (ن ب أ) yang menunjukkan berita penting, bukan sekadar kabar biasa. Dan penggunaan kata min (sebagian) memberi isyarat bahwa yang disampaikan hanyalah sebagian kecil saja dari keseluruhan kisah yang sebenarnya jauh lebih besar.
Sebenarnya ada beberapa istilah lain yang juga berdekatan dalam Al-Quran, namun beda-beda penekanannya, yaitu antara qashsash, naba’ dan hadits.
1. Qashash (قصص)
Istilah ini digunakan untuk menunjukkan penyampaian kisah secara runtut dan berjejak, bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi menghadirkan alur peristiwa yang tersusun.
Dengan qashash, pembaca diajak mengikuti jejak kejadian dari satu tahap ke tahap berikutnya sehingga pesan yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara utuh. Contohnya ada di ayat berikut :
نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ
Ayat ini terdapat di awal surat Yusuf yang ternyata ininya pejalanan kehidupan alias kisah Nabi Yusuf dalam satu surat penuh. Dari mimpi kecil, konflik keluarga, sumur, istana, penjara, sampai akhirnya berkuasa, semua tersusun rapi.
Bandingkan dengan kisah Nabi Musa yang tidak disampaikan utuh di satu tempat, tapi tersebar. Namun ketika bagian tertentu diambil, tetap terasa ada “alur”. Jadi qashash itu seperti kamera yang mengikuti perjalanan kejadian.
2. Naba’ (نبأ)
Istilah naba’ tidak fokus pada alur, tapi pada fakta bahwa ini berita besar, maka jangan dianggap remeh. Contohnya dalam kisah kisah Bal‘am.
نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا
Kisahnya tidak panjang, bahkan sangat singkat. Tapi disebut naba’ karena nilai bahayanya besar: orang berilmu tapi tersesat. Jadi naba’ itu bukan panjangnya cerita, tapi beratnya makna.
3. Hadits (حديث)
Hadits itu bukan cerita berurutan sebagaimana istilah qashash, tapi hadits itu adalah : sesuatu yang disampaikan, kadang berupa kisah, kadang berupa ucapan, tergantung konteksnya.
Di dalam Al-Quran ada istilah ’hadits’ yang sering diterjemahkan menjadi cerita atau kisah. Misalnya ayat :
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ
Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. (QS. An-Naziat : 15)
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْجُنُودِ
Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (QS. Al-Buruj : 17)
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? (QS. Al-Ghasyiyah : 1)
Namun ada juga kata hadits yang artinya perkataan dan bukan kisah.
فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
Maka kepada perkataan apakah selain Al Quran ini mereka akan beriman? (QS. Al-Mursalat : 50)
Gaya Bercerita Al-Quran Terkait Umat Terdahulu
Menarik untuk sedikit bicara tentang gaya pendekatan Al-Qur’an ketika mengisahkan umat-umat terdahulu itu. Ada teknik yang sangat khas, bahkan bisa dibilang berbeda total dengan gaya penulisan sejarah manusia. Ada beberapa ciri yang spesifik, unik, dan justru penting untuk dipahami:
Pertama, Al-Qur’an tidak pernah menceritakan kisah secara lengkap dari awal sampai akhir dalam satu tempat. Kisah Nabi Nuh, ‘Ad, Tsamud, dan lainnya tersebar di banyak surat. Di satu tempat ditekankan dakwahnya, di tempat lain penolakannya, di tempat lain lagi azabnya.
Ini menunjukkan bahwa tujuan Al-Qur’an bukan menyusun kronologi sejarah, tetapi menyoroti bagian yang relevan dengan pesan yang ingin disampaikan.
Kedua, ada pola berulang alias repetition yang sangat kuat. Kisah yang sama diulang berkali-kali, tetapi dengan sudut pandang berbeda.
Misalnya, kisah Musa muncul puluhan kali, namun tidak pernah terasa identik. Setiap pengulangan selalu membawa nuansa baru, penekanan baru, dan konteks baru. Ini bukan pengulangan biasa, tapi penguatan makna secara bertahap.
Ketiga, fokus utama bukan pada detail peristiwa, tetapi pada sikap manusia. Al-Qur’an hampir tidak pernah menjelaskan detail teknis seperti lokasi pasti, jumlah korban, atau kronologi rinci.
Yang ditekankan justru bagaimana reaksi manusia: mendustakan, sombong, lalai, atau beriman. Artinya, yang ingin dibentuk adalah cara berpikir dan sikap, bukan sekadar pengetahuan sejarah.
Keempat, penggunaan dialog sangat dominan. Banyak kisah disampaikan dalam bentuk percakapan antara nabi dan kaumnya. Ini membuat kisah terasa hidup dan langsung.
Pembaca seakan-akan ikut mendengar langsung perdebatan itu. Bahkan sering kali argumen-argumen kaum kafir ditampilkan apa adanya, tanpa disensor, lalu dijawab oleh para nabi.
Kelima, ada teknik loncatan adegan, biasa dikenal dalam dunia film dengan istilah scene shifting yang cepat. Al-Qur’an bisa langsung berpindah dari dakwah ke penolakan, lalu ke azab, tanpa penjelasan transisi panjang.
Ini membuat kisah terasa padat dan fokus. Tidak ada bagian yang “mengalir santai” seperti dalam novel, semuanya langsung menuju inti.
Keenam, dalam berkisah Al-Quran seringkali menyisipkan pertanyaan retoris alias istifham inkari untuk menggugah. Seperti “Apakah mereka merasa aman…?” atau “Tidakkah mereka memperhatikan…?”.
Ini bukan pertanyaan yang butuh jawaban, tapi untuk mengguncang kesadaran pembaca. Seakan-akan pembaca dipaksa berhenti dan berpikir.
Ketujuh, sering ada penutup berupa kaidah umum. Setelah satu kisah selesai, biasanya ditutup dengan kalimat seperti “Demikianlah Kami membalas…” atau “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran…”.
Ini penting, karena menunjukkan bahwa kisah itu bukan hanya milik masa lalu, tetapi berlaku sebagai hukum yang terus berulang.
Kedelapan, ada keseimbangan antara kisah dan peringatan langsung. Kadang Al-Qur’an bercerita tentang umat terdahulu, lalu tiba-tiba beralih langsung menegur mukhathab (مخاطب) yaitu orang yang diajak bicara, seolah-olah mengatakan: “Jangan merasa ini hanya cerita orang lain, ini juga tentang kalian.”
Kesembilan, pemilihan kata sangat padat tapi sarat makna. Satu kata bisa membawa nuansa yang luas. Misalnya penggunaan kata jaa’a (جاء) yang berarti ’datang’ untuk azab memberi kesan tiba-tiba dan dekat. Ini berbeda jika menggunakan kata anzala (أنزل) yang artinya ’diturunkan’. Ini menunjukkan bahwa gaya bahasa Al-Qur’an sangat presisi, tidak ada kata yang kebetulan.
Kesepuluh, kisah selalu berujung pada pesan tauhid. Apapun bentuk ceritanya, apakah tentang banjir, angin, gempa, atau kehancuran moral, endingnya selalu kembali kepada satu hal: menerima atau menolak kebenaran yang datang dari Allah.
Kalau disederhanakan, maka kisah dalam Al-Qur’an itu bukan cerita masa lalu, tapi cermin pola berulang dalam sejarah manusia. Dan justru di situlah letak kekuatannya: bukan sekadar memberi tahu apa yang terjadi, tapi menunjukkan mengapa itu terjadi, dan bagaimana pola itu bisa terulang lagi.
Kata kadzalika (كَذَٰلِكَ) berarti demikianlah, yaitu seperti itulah pola yang terjadi. Kata yathba’ullahu (يَطْبَعُ اللَّهُ) berasal dari akar kata (ط ب ع) yang berarti menutup atau mencap. Pelakunya memang Allah SWT sendiri. Dalam hal ini Allah SWT bukan sekadar menutup biasa, tetapi mengunci sesuatu sehingga tidak bisa dibuka lagi.
Kata ‘ala quluub (عَلَىٰ قُلُوبِ) berarti atas hati-hati. Dalam Al-Qur’an, hati (qalb) adalah pusat kesadaran, pemahaman, dan penerimaan kebenaran. Kata al-kaafirin (الْكَافِرِينَ) berarti orang-orang yang kafir, yaitu mereka yang menutup diri dari kebenaran.
Namun untuk bisa memahami ayat ini jangan terlalu gegabah. Ayat ini harus kita letakkan secara tepat dalam konteksnya. Perhatikan bahwa ayat ini tidak sedang berbicara secara umum tanpa batas, tetapi jelas berada dalam rangkaian kisah umat-umat terdahulu yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, dan Madyan.
Semua mereka memiliki satu pola yang sama: didatangi rasul, didakwahi dalam waktu yang panjang, ditunjukkan bukti-bukti yang nyata, tetapi tetap membangkang hingga mencapai titik akhir.
Di titik itulah terjadi apa yang disebut dalam ayat ini sebagai : penutupan hati. Artinya, ini adalah fase akhir dari sebuah proses panjang, bukan kondisi awal. Bahkan lebih dari itu, ini adalah tanda bahwa masa dakwah telah selesai dan keputusan Allah telah jatuh. Setelah itu, yang tersisa bukan lagi peluang hidayah, tetapi datangnya azab.
Kalau kita perhatikan seluruh kisah umat terdahulu dalam Al-Qur’an, hampir semuanya berakhir dengan pola yang sama:
dakwah - penolakan - peringatan berulang - pembangkangan total → - keputusan ilahi - penutupan hati - kebinasaan.
Disini letak perbedaan yang sangat penting: pola ini tidak berlaku pada dakwah Nabi Muhammad SAW. Pada dakwah Nabi SAW, tidak ada fase ’penutupan kolektif’ seperti itu. Tidak ada satu kaum yang langsung dibinasakan secara total seperti umat-umat sebelumnya. Bahkan orang-orang yang sangat keras memusuhi Islam di awal, pada akhirnya banyak yang masuk Islam.
Dakwah Nabi Muhammad SAW tidak mengenal fase penghentian seperti pada umat terdahulu. Pintu hidayah tetap terbuka sepanjang hayat manusia. Tidak ada titik di mana dikatakan: “sudah selesai, tidak perlu didakwahi lagi.” Nabi SAW terus berdakwah tanpa henti, bahkan kepada orang-orang yang tampaknya paling keras sekalipun. Bahkan menjelang akhir hayat beliau, masih saja terjadi gelombang masuk Islam yang besar. Janganlah ayat ini dijadikan dalil untuk mengatakan bahwa ada manusia yang boleh “dibiarkan saja” tanpa dakwah. Alasannya karena ayat ini lagi bicara sunnatullah para umat terdahulu.